KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menandatangani Perjanjian Perdagangan Preferensial (PTA) antara Iran dan Indonesia setelah disetujui oleh parlemen Iran.
Mengutip Kantor Berita IRNA, Presiden Pezeshkian telah menerbitkan kesepakatan tersebut pada hari Minggu (13/10) dan mengeluarkan directive kepada kementerian industri dan luar negeri untuk mengimplementasikannya.
Kesepakatan ini disetujui oleh Parlemen Iran pada 24 September dan dikonfirmasi oleh Dewan Wali Iran pada 2 Oktober 2024. Pimpinan Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, pada 8 Oktober, secara resmi memberitahukan Presiden Pezeshkian tentang persetujuan undang-undang PTA antara pemerintah Iran dan Indonesia, setelah disetujui oleh para anggota parlemen.
Kesepakatan ini, yang awalnya ditandatangani di Tehran pada 20 Juni 2005, bertujuan untuk memperkuat hubungan perdagangan antara kedua negara dengan mengurangi tarif dan menghapus hambatan non-tarif.
Lalu dalam kunjungan Presiden Iran Seyyed Ebrahim Raisi ke Indonesia pada 2023, perjanjian ini ditandatangani oleh kedua negara, di Istana Bogor, Jawa Barat.
Sebelumnya, Komisi VI DPR Indonesia juga telah menyetujui ratifikasi Undang-Undang tentang Persetujuan Perjanjian Preferensial Perdagangan (II-PTA) antara Indonesia dan Republik Islam Iran. Kesepakatan ini dibahas dalam rapat kerja antara Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Komisi VI DPR di Jakarta.
"Kami ucapkan terima kasih atas kerja sama dan kontribusi positif dari Pimpinan dan Anggota Komisi VI DPR-RI. Kami optimistis ratifikasi II-PTA akan membawa dampak positif bagi perdagangan dan perekonomian kedua negara," ungkap Menteri Perdagangan Indonesia, Zulkifli Hasan.
Zulkifli menjelaskan bahwa Iran merupakan negara strategis dengan potensi besar menjadi hub perdagangan Indonesia ke kawasan Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan, dan Eropa.
“Dengan penduduk 88 juta jiwa, Iran menjadi pasar potensial bagi Indonesia. Preferensi tarif II-PTA untuk sejumlah produk ekspor utama akan meningkatkan ekspor Indonesia ke Iran dan kawasan sekitarnya. Ini berpotensi meningkatkan surplus neraca perdagangan Indonesia,” jelas Zulkifli.
Persetujuan II-PTA ditandatangani pada 23 Mei 2023 di Istana Bogor oleh Menteri Perdagangan kedua negara, yang disaksikan oleh Presiden RI dan Presiden Iran.
Sebagai persetujuan dagang kedua Indonesia dengan negara di kawasan Timur Tengah, II-PTA juga merupakan yang pertama bagi Indonesia dengan pengaturan imbal dagang (Counter Trade) sebagai alternatif transaksi perdagangan.
Melalui persetujuan ini, Indonesia memperoleh penghapusan dan penurunan tarif atas 239 pos tarif (PT) yang mencakup produk mineral, industri, pertanian, dan perikanan.
Ditegaskan Zulkifli, setelah diberlakukan, ekspor Indonesia ke Iran diproyeksikan mencapai US$ 494 juta pada 2030 dengan surplus sebesar US$ 468 juta.
"II-PTA juga akan mendukung pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19 dan meningkatkan kinerja makroekonomi Indonesia. Diharapkan, II-PTA dapat diimplementasikan pada awal 2025,” tambah Zulkifli.
Komisi VI DPR RI menyetujui ratifikasi II-PTA melalui mekanisme Peraturan Presiden (Perpres). Dalam rapat tersebut, Komisi VI juga meminta Kemendag untuk mengantisipasi dan memperhatikan aspek geopolitik, hambatan tarif dan nontarif, serta besaran pasar kedua negara.
Berdasarkan data, neraca perdagangan Indonesia dengan Iran selama lima tahun terakhir (2019-2023) selalu mencatat surplus. Pada 2023, total perdagangan kedua negara mencapai US$ 206,9 juta, dengan ekspor Indonesia mencapai US$ 195,1 juta dan impor sebesar US$ 11,7 juta.
Produk ekspor utama Indonesia ke Iran meliputi kacang lainnya, sepeda motor, asam lemak monokarbosiklat industri, papan fiber dari kayu, dan bagian dari aksesori kendaraan.
Sedangkan produk impor utama Indonesia dari Iran meliputi kurma, buah ara, dan buah lainnya; alkaloid alami atau sintesis; anggur segar atau kering; instrumen dan peralatan yang digunakan dalam ilmu medis; serta carboy, botol, dan kemasan lainnya.
Teheran: Presiden terpilih Iran Masoud Pezeshkian optimistis hubungan negaranya dengan negara-negara Eropa dapat membaik di masa mendatang, meski ia menuduh mereka telah melanggar komitmen untuk mengurangi dampak sanksi Amerika Serikat (AS).
Pezeshkian menang dalam pemilu Iran putaran kedua melawan mantan negosiator nuklir ultrakonservatif Saeed Jalili pekan lalu.
Pria berusia 69 tahun itu menyerukan "hubungan konstruktif" dengan negara-negara Barat untuk "mengeluarkan Iran dari isolasinya," serta mendukung menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 antaradan kekuatan global.
AS secara sepihak menarik diri dari perjanjian tersebut pada 2018, untuk kemudian memberlakukan kembali sanksi yang menyebabkan Iran secara bertahap mengurangi komitmennya terhadap ketentuan kesepakatan tersebut. Perjanjian nuklir Iran 2015, JCPOA, bertujuan mengekang aktivitas nuklir, yang menurut Teheran hanya digunakan untuk tujuan damai.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Jumat malam di surat kabar berbahasa Inggris Tehran Times, Pezeshkian mengatakan bahwa setelah AS menarik diri dari kesepakatan 2015, negara-negara Eropa berkomitmen menyelamatkannya dan mengurangi dampak sanksi AS terhadap Iran.
"Negara-negara Eropa telah mengingkari semua komitmen ini," tulis Pezeshkian, mengutip dari laman The Peninsula, Sabtu, 13 Juli 2024.
"Meski ada pengingkaran ini, saya berharap dapat terlibat dalam dialog konstruktif dengan negara-negara Eropa untuk menempatkan hubungan kita di jalur yang benar, berdasarkan prinsip saling menghormati dan kedudukan yang setara," sambung dia.
Pezeshkian mengatakan kedua pihak dapat mengeksplorasi "banyak bidang kerja sama" jika negara-negara Eropa "menyisihkan supremasi moral yang dibuat-buat yang disertai dengan krisis yang juga dibuat-buat yang telah mengganggu hubungan kita sejak lama."
Juru bicara Uni Eropa Nabila Massrali sebelumnya telah memberi selamat kepada Pezeshkian atas kemenangan dalam pemilu, dengan mengatakan blok yang beranggotakan 27 negara itu "siap terlibat dengan pemerintah baru (Iran) sesuai kebijakan UE tentang keterlibatan kritis."
Meninggalnya presiden ultrakonservatif Iran Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter mengharuskan pemilu pada 6 Juli, yang sebenarnya baru akan dilaksanakan pada 2025.
Dalam pemilu putaran kedua, Pezeshkian memperoleh sekitar 54 persen suara, sedangkan Jalili sekitar 44 persen. Tingkat partisiasi warga kurang dari setengah 61 juta pemilih Iran.
Pezeshkian adalah seorang ahli bedah jantung yang hanya memiliki satu pengalaman pemerintahan sebelumnya, yaitu sebagai menteri kesehatan sekitar dua dekade lalu.
Ia dianggap sebagai seorang "reformis" di Iran, dan merupakan satu-satunya kandidat dari kubu tersebut yang diizinkan maju dalam pemilu, yang mana semua kandidatnya telah disetujui Dewan Wali Iran.
Teheran: Presiden terpilih Iran Masoud Pezeshkian menyambut baik sikap pesaing terdekatnya, Saeed Jalili, yang mengakui kekalahan dalam pemilu Iran dan mengucapkan selamat.
Keduanya kemudian bertemu dan bertukar pandangan mengenai cara memerintah Iran setelah kematian Presiden Ebrahim Raisi.
Dalam pertemuan penuh atmosfer bersahabat, Jalili memberikan pandangannya mengenai berbagai masalah Iran serta beberapa solusinya. Mengutip dari Mehr News Agency, Minggu, 7 Juli 2024, Pezeshkian menyatakan bahwa memiliki banyak rencana bukanlah satu-satunya kunci keberhasilan dalam menjalankan pemerintahan.
Menurutnya, mempekerjakan para ahli di bidang masing-masing merupakan jaminan dari pelaksanaan berbagai rencana.
Selama memerintah nanti, Pezeshkian mengaku siap untuk selalu menerima pendapat dan saran dari Jalili.
Anggota parlemen veteran Masoud Pezeshkian dinyatakan menang dalam pemilu putaran kedua di Iran, lapor kementerian dalam negeri negara tersebut pada Sabtu kemarin.
Seorang ahli bedah jantung, Pezeshkian memperoleh lebih dari 16 juta suara. Sementara mantan negosiator nuklir Iran, Saeed Jalili, mendapat lebih dari 13 juta dari total 30 juta suara yang diberikan para pemilih terdaftar.
"Dengan memperoleh suara mayoritas yang diberikan di hari Jumat, Pezeshkian telah menjadi presiden Iran berikutnya," sebut Kemendagri Iran.
Pemilu putaran kedua di Iran pada Jumat lalu merupakan kelanjutan dari pemungutan suara dadakan pada 28 Juni dalam mencari pengganti Raisi yang tewas dalam kecelakaan helikopter di bulan Mei. Kecelakaan itu juga menewaskan Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian dan beberapa pejabat lainnya.
Teheran: Presiden terpilih Iran Masoud Pezeshkian menyambut baik sikap pesaing terdekatnya, Saeed Jalili, yang mengakui kekalahan dalam pemilu Iran dan mengucapkan selamat.
Keduanya kemudian bertemu dan bertukar pandangan mengenai cara memerintah Iran setelah kematian Presiden Ebrahim Raisi.
Dalam pertemuan penuh atmosfer bersahabat, Jalili memberikan pandangannya mengenai berbagai masalah Iran serta beberapa solusinya. Mengutip dari Mehr News Agency, Minggu, 7 Juli 2024, Pezeshkian menyatakan bahwa memiliki banyak rencana bukanlah satu-satunya kunci keberhasilan dalam menjalankan pemerintahan.
Menurutnya, mempekerjakan para ahli di bidang masing-masing merupakan jaminan dari pelaksanaan berbagai rencana.
Selama memerintah nanti, Pezeshkian mengaku siap untuk selalu menerima pendapat dan saran dari Jalili.
Anggota parlemen veteran Masoud Pezeshkian dinyatakan menang dalam pemilu putaran kedua di Iran, lapor kementerian dalam negeri negara tersebut pada Sabtu kemarin.
Seorang ahli bedah jantung, Pezeshkian memperoleh lebih dari 16 juta suara. Sementara mantan negosiator nuklir Iran, Saeed Jalili, mendapat lebih dari 13 juta dari total 30 juta suara yang diberikan para pemilih terdaftar.
"Dengan memperoleh suara mayoritas yang diberikan di hari Jumat, Pezeshkian telah menjadi presiden Iran berikutnya," sebut Kemendagri Iran.
Pemilu putaran kedua di Iran pada Jumat lalu merupakan kelanjutan dari pemungutan suara dadakan pada 28 Juni dalam mencari pengganti Raisi yang tewas dalam kecelakaan helikopter di bulan Mei. Kecelakaan itu juga menewaskan Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian dan beberapa pejabat lainnya.
Teheran: Pemilihan umum putaran kedua di Iran telah selesai pada Jumat kemarin, dan hasil sementara menunjukkan perolehan suara Masoud Pezeshkian sedikit lebih unggul atas Saeed Jalili.
Juru bicara Komisi Pemilu Iran Mohsen Eslami melaporkan bahwa Pezeshkian meraup 6.939.955 suara, sedangkan Jalili 6.359.099. Hingga Jumat malam waktu Iran, total 13.550.280 suara telah dihitung di 29.175 tempat pemungutan suara.
Mengutip dari TRT World, Sabtu, 6 Juli 2024, Eslami tidak mengatakan berapa persentase suara yang telah dihitung, atau berapa tingkat partisipasi pemilih di pemilu putaran kedua ini. Ada sekitar 60.000 tempat pemungutan suara dan lebih dari 61 juta pemilih yang memenuhi syarat di negara berpenduduk 85 juta jiwa itu. Pezeshkian dan Jalili telah berjuang meyakinkan publik yang skeptis dalam memberikan suara mereka di pemilu putaran pertama, di mana tingkat partisipasinya mencapai yang terendah dalam sejarah Iran.
Pejabat pemerintah hingga Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperkirakan kenaikan tingkat partisipasi pemilih di pemilu putaran kedua, dengan televisi pemerintah menayangkan gambar antrean di beberapa tempat pemungutan suara di seantero negeri.
Namun, beberapa video daring memperlihatkan kekosongan di sejumlah tempat pemungutan suara kosong. Di ibu kota Iran, Teheran, lalu lintas terpantau sepi di tengah kehadiran pasukan keamanan.
Tempat pemungutan suara ditutup setelah tengah malam, setelah pemungutan suara diperpanjang seperti yang selama ini telah menjadi tradisi di Iran. Televisi pemerintah Iran mengatakan hasil awal diharapkan keluar Sabtu ini.
Baik Pezeshkian dan Jalili berharap dapat menggantikan mendiang Presiden Ebrahim Raisi yang meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter pada 19 Mei. Kecelakaan itu juga menewaskan menteri luar negeri dan beberapa pejabat lain.
Lebih dari 61 juta warga Iran yang berusia di atas 18 tahun memenuhi syarat untuk memilih, dengan sekitar 18 juta berusia antara 18 hingga 30 tahun. Pemungutan suara seharusnya berakhir pada 18.00 waktu setempat, tetapi diperpanjang hingga tengah malam untuk meningkatkan partisipasi warga.