#30 tag 24jam
Flu Burung Menyebar Cepat pada Unggas di Uni Eropa, Kekhawatiran Krisis Meningkat
Wabah flu burung menyebar cepat pada unggas di Uni Eropa musim ini. Hal tersebut meningkatkan kekhawatiran terulangnya krisis kematian unggas. [361] url asal
#flu-burung #hongaria #polandia #uni-eropa #organisasi-kesehatan-hewan-dunia #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #peristiwa
(Kontan - Terbaru) 31/10/24 20:34
v/17275272/
Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -PARIS. Wabah flu burung menyebar dengan cepat di antara unggas di Uni Eropa musim ini. Hal tersebut meningkatkan kekhawatiran terulangnya krisis yang menyebabkan kematian puluhan juta unggas di Uni Eropa dan kekhawatiran penularannya terhadap manusia.
Mengutip Reuters, Kamis (31/10), Influenza burung yang sangat patogen, yang biasa disebut flu burung, telah membunuh ratusan juta burung di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Penyebarannya ke manusia dan spesies mamalia lainnya, termasuk sapi perah dan babi AS, meningkatkan kekhawatiran bahwa virus tersebut dapat bermutasi menjadi virus yang mudah menular antarmanusia dan memicu pandemi.
Data Organisasi Kesehatan Hewan Dunia menyebutkan, antara awal musim migrasi pada 1 Agustus dan akhir minggu lalu, negara-negara UE telah melaporkan total 62 wabah flu burung di peternakan unggas, sebagian besar di bagian timur Uni Eropa.
Jumlah tersebut sebanding dengan tujuh wabah flu burung yang dilaporkan di peternakan Uni Eropa pada tahap yang sama pada tahun 2023, tetapi masih jauh di bawah 112 wabah yang dilaporkan pada akhir Oktober 2022.
Namun, flu burung belum terdeteksi pada manusia atau sapi di Uni Eropa, tidak seperti AS, di mana virus tersebut telah menyebar ke hampir 400 peternakan sapi perah di 14 negara bagian tahun ini, dan telah terdeteksi pada 36 orang sejak April.
Empat dari mereka telah bekerja di peternakan telur komersial yang terinfeksi virus tersebut.
Flu burung adalah penyakit musiman pada unggas, yang sebagian besar menyebar melalui kotoran burung liar yang terinfeksi dan pengangkutan bahan yang terinfeksi. Penyakit ini biasanya muncul pada musim gugur bersama burung yang bermigrasi dan menurun pada musim semi.
Menurut data Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, pada musim lalu, Hongaria mencatat jumlah wabah terbesar sejauh ini sejak dimulainya musim pada 1 Agustus, dengan jumlah yang meningkat pesat dalam beberapa minggu terakhir.
Di Polandia, yang merupakan produsen unggas terbesar di Uni Eropa, virus tersebut menyebabkan pemusnahan 1,8 juta unggas, yang hampir 1,4 juta di antaranya berada di satu peternakan di kota Sroda Wielkopolska.
Prancis, yang mengalami kerugian paling parah pada tahun 2022/2023, memperkuat langkah-langkah biosekuriti di sekitar peternakan unggas pada pertengahan Oktober, dengan alasan peningkatan jumlah kasus flu burung di beberapa negara tetangga.
Ilmuwan AS Khawatir Penyebaran Flu Burung Jadi Pandemi Baru
Virus flu burung A H5N1 telah menyebar ke 129 kelompok sapi di 12 negara bagian di Amerika Serikat. [660] url asal
#flu-burung #pandemi #as #divert-me
(Katadata - BERITA) 11/07/24 07:36
v/10390871/
Para ilmuwan yang mempelajari penyebaran flu burung di Amerika Serikat (AS) mengatakan mereka khawatir akan kurangnya data dalam melacak virus flu burung tipe A H5N1. Dalam beberapa bulan terakhir, penyakit ini telah menyebar ke 129 kelompok sapi di 12 negara bagian.
Para ahli telah mengidentifikasi penyakit ini pada mamalia lain, dari alpaka hingga kucing rumahan. Para ilmuwan prihatin dengan meningkatnya kasus flu burung pada sapi. Mereka mengatakan bahwa peningkatan tersebut kemungkinan menunjukkan bahwa virus telah berubah (bermutasi). Perubahan semacam itu dapat membuat virus lebih mudah menyebar dari hewan ke manusia.
Tiga orang di AS telah dites positif mengidap flu burung H5N1 sejak akhir Maret lalu. Mereka terinfeksi setelah melakukan kontak dekat dengan sapi.
Scott Hensley, seorang profesor mikrobiologi di Universitas Pennsylvania, mengatakan bahwa ancaman pandemi saat ini masih rendah, namun dapat meningkat dengan cepat.
Para pejabat kesehatan mengatakan bahwa semakin dini mereka mengetahui tentang kasus-kasus infeksi pada manusia, semakin cepat mereka dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi penyebarannya.
Pemerintah AS melakukan tes terhadap sapi-sapi untuk mengetahui adanya virus ini. Namun, tes-tes tersebut saat ini masih terbatas pada sapi-sapi yang melintasi perbatasan negara bagian.
Pejabat kesehatan pemerintah dan pakar flu pandemi mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa hanya ada sedikit sekali pengujian terhadap orang-orang yang melakukan kontak dengan sapi yang sakit.
Risiko terhadap Kesehatan Manusia Masih Rendah
Lembaga kesehatan manusia dan hewan terkadang berbeda dalam cara mereka menangani flu. Para ahli mengatakan bahwa perbedaan-perbedaan ini dapat mempersulit upaya untuk merespons wabah dengan cepat.
Meski begitu, juru bicara Departemen Pertanian AS mengatakan bahwa badan tersebut bekerja sepanjang waktu dengan Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC). Juru bicara tersebut menambahkan penelitian menunjukkan bahwa pasokan makanan Amerika tetap aman. Sapi yang sakit umumnya sembuh setelah beberapa minggu, dan risiko terhadap kesehatan manusia tetap rendah.
Beberapa pandemi, termasuk COVID-19, datang dengan sedikit peringatan. "Pada pandemi flu terakhir, yang disebabkan oleh H1N1 pada tahun 2009, virus ini pertama kali menyebar di antara hewan selama beberapa tahun," kata Hensley seperti dikutip VoA, Rabu (10/7). Namun, pelacakan lebih lanjut terhadap virus ini akan membantu para petugas kesehatan untuk mempersiapkan diri.
CDC memperkirakan bahwa sekitar 150.000 hingga setengah juta orang meninggal di seluruh dunia selama pandemi 2009.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa tidak ada bukti penyebaran H5N1 dari manusia ke manusia. Oleh karena itu, WHO mengatakan bahwa risiko terhadap manusia saat ini masih rendah.
Wenqing Zhang adalah Kepala Badan Kesiapsiagaan Influenza Global WHO. Ia mengatakan bahwa organisasi-organisasi kesehatan memiliki cara untuk meluncurkan produksi tes, perawatan, dan vaksin dalam jumlah besar jika diperlukan.
Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Oslo, Norwegia. Organisasi ini bekerja untuk mengembangkan vaksin dan cara lain untuk melawan pandemi.
CEPI bertujuan untuk membuat koleksi vaksin untuk virus yang dapat menyebabkan pandemi. Hal ini akan membantu para pembuat obat untuk memulai produksi dalam jumlah besar dan mengirimkan obat jika diperlukan dalam waktu 100 hari setelah wabah.
Beberapa negara telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi masyarakatnya dari H5N1. Amerika Serikat dan Eropa sedang mengumpulkan vaksin flu "pra-pandemi" yang dapat digunakan untuk kelompok-kelompok berisiko tinggi, termasuk para pekerja pertanian atau laboratorium.
Zhang mengatakan bahwa memperluas vaksin ke lebih banyak orang merupakan hal yang kompleks. "Para pembuat vaksin flu pandemi membuat vaksin flu musiman dan tidak dapat memproduksi keduanya sekaligus," ujarnya.
Sebagian besar vaksin flu dibuat dengan menggunakan virus yang ditumbuhkan di dalam telur. Itu berarti dibutuhkan waktu hingga enam bulan untuk memproduksi vaksin pandemi. Namun, vaksin mRNA dapat diproduksi lebih cepat.
Pada tanggal 2 Juli, pemerintah AS memberikan dana sebesar US$176 juta (Rp 2,88 triliun) kepada produsen obat Moderna untuk menyelesaikan pengembangan dan pengujian vaksin mRNA melawan H5N1.
Para ahli juga mengatakan bahwa ada kebutuhan untuk menyeimbangkan antara tindakan cepat dengan reaksi yang terlalu kuat terhadap ancaman virus.
Wendy Barcla, seorang ahli virus di Imperial College London dan penasihat Badan Keamanan Kesehatan Inggris mengenai flu burung, mengatakan bahwa para pejabat kesehatan ingin memberikan peringatan tanpa mengatakan bahwa dunia akan kiamat.
OPINI: Mengantisipasi Ancaman Pandemi Berikutnya
Dunia dihadapkan pada kesulitan memprediksi pandemi. Namun, terdapat beberapa hal yang dapat diperhatikan, sebagai faktor tempat pandemi lahir [1,747] url asal
#pandemi #pandemi-covid-19 #kesehatan #penyakit #pandemi-penyakit #flu-burung #penyebab-pandemim
(Bisnis.Com - Teknologi) 06/07/24 18:30
v/9876537/
Bisnis.com, JAKARTA - Dunia dihadapkan pada tantangan memprediksi sifat, asal-usul, dan waktu pasti pandemi pada masa depan karena interaksi kompleks berbagai faktor. Meski demikian, terdapat tren dan indikator tertentu yang dapat membantu dalam meramalkan potensi pandemi.
Salah satu faktor utama dalam memprediksi pandemi adalah fenomena lompatan zoonosis. Banyak pandemi yang bermula dari hewan, terutama spesies liar. Patogen seperti virus dapat melompat dari hewan ke manusia, yang sering kali difasilitasi oleh perambahan manusia ke habitat satwa liar dan perdagangan satwa liar.
Hotspot zoonosis umumnya ditemukan di wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi dan interaksi manusia-hewan yang ekstensif, seperti sebagian Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan.
Perubahan lingkungan juga berperan penting dalam munculnya pandemi. Deforestasi, urbanisasi, dan perubahan iklim dapat mengubah habitat hewan, sehingga meningkatkan kemungkinan lompatan zoonosis.
Daerah yang mengalami perubahan lingkungan yang cepat lebih mungkin melihat munculnya patogen baru. Misalnya, penebangan hutan yang masif dapat memaksa hewan liar mendekati pemukiman manusia, yang meningkatkan risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia.
Perdagangan Global
Selain itu, perjalanan dan perdagangan global yang makin meningkat mempercepat penyebaran penyakit dari satu wilayah ke wilayah lain. Konektivitas global membuat penyakit dapat menyebar dengan cepat, dan pusat transportasi utama seperti kota dengan bandara internasional adalah titik kritis untuk memantau dan mengendalikan wabah. Oleh karena itu, pemantauan ketat di titik-titik ini sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit secara luas.
Kepadatan penduduk dan urbanisasi merupakan faktor signifikan dalam penyebaran penyakit. Kepadatan penduduk yang tinggi di daerah perkotaan dapat memfasilitasi penyebaran cepat penyakit menular.
Tren urbanisasi di Asia, yang merupakan wilayah dengan pertumbuhan perkotaan tercepat, berpotensi menjadi titik fokus penyebaran pandemi. Kota-kota besar dengan populasi padat sangat rentan terhadap wabah penyakit, terutama jika infrastruktur kesehatan tidak memadai.

Perubahan iklim juga dapat mempengaruhi pola penyebaran penyakit dengan mengubah distribusi vektor penyakit seperti nyamuk yang menyebarkan malaria atau demam berdarah.
Daerah dengan perubahan iklim ekstrem mungkin melihat perubahan dalam pola penyakit, yang menambah kompleksitas dalam memprediksi pandemi di masa depan.
Selanjutnya, kesehatan dan infrastruktur publik memainkan peran kunci dalam mengendalikan pandemi. Sistem kesehatan yang lemah dan kurangnya infrastruktur kesehatan dapat memperburuk dampak pandemi. Negara dengan infrastruktur kesehatan yang lebih baik cenderung lebih mampu mengendalikan penyebaran penyakit dan merawat pasien yang terinfeksi.
Kemajuan dalam penelitian dan pengawasan juga penting dalam deteksi dini patogen baru. Teknologi genomik dan pemantauan penyakit yang canggih dapat membantu dalam mendeteksi patogen lebih cepat, sementara kolaborasi internasional dalam penelitian dan pertukaran data sangat penting untuk meramalkan dan merespons pandemi secara efektif.
Perilaku Manusia
Akhirnya, perilaku manusia seperti kebiasaan kebersihan tangan, pemakaian masker, dan perilaku sosial memainkan peran penting dalam penyebaran penyakit.
Edukasi masyarakat tentang langkah-langkah pencegahan penyakit dapat mengurangi risiko penyebaran pandemi. Kampanye kesehatan publik yang efektif dan kebijakan pemerintah yang mendukung dapat membuat perbedaan besar dalam mencegah dan mengendalikan pandemi.
Dengan memahami dan mempertimbangkan semua faktor ini, kita dapat meningkatkan kemampuan kita untuk mendeteksi, mencegah, dan merespons pandemi di masa depan. Hal ini memerlukan pendekatan yang holistik dan kerjasama global untuk menciptakan sistem yang lebih siap dan tangguh menghadapi tantangan pandemi yang akan datang.
Virus yang Berpotensi Menyebabkan Pandemi
Virus yang Berpotensi Menyebabkan Pandemi
Memprediksi sifat dan waktu tepat dari pandemi di masa depan adalah tantangan besar, namun ada beberapa virus utama dan faktor yang diawasi ketat oleh para ahli.
Coronavirus merupakan salah satu kelompok virus yang berpotensi besar menyebabkan pandemi. Dua contoh utama dari coronavirus yang perlu mendapat perhatian khusus adalah MERS-CoV dan SARS-CoV-2.
MERS-CoV, yang menyebabkan Middle East Respiratory Syndrome, memiliki tingkat kematian yang tinggi dan menyebar melalui kontak dekat. Meskipun belum menyebar luas secara global, virus ini memiliki potensi untuk bermutasi dan menyebar lebih mudah di antara manusia. Hal ini membuatnya tetap menjadi perhatian besar bagi organisasi kesehatan dunia seperti WHO (WHO, 2023).
Sementara itu, SARS-CoV-2, yang bertanggung jawab atas pandemi COVID-19, terus berevolusi. Varian baru yang muncul dapat menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan di masa depan. Institut untuk Metrik dan Evaluasi Kesehatan (IHME) terus memantau perkembangan dan dampak virus ini secara global (IHME, 2023).

Selain coronavirus, virus influenza juga memiliki potensi besar untuk menyebabkan pandemi. Strain seperti H5N1 dan H7N9 dari avian influenza (flu burung) dapat menginfeksi manusia dan memiliki tingkat kematian yang tinggi.
Virus ini diawasi ketat oleh komunitas ilmiah dan kesehatan global untuk mendeteksi mutasi yang dapat memfasilitasi penularan antar manusia. Nature mencatat bahwa pengawasan ketat diperlukan untuk mencegah pandemi potensial dari virus ini (Nature, 2024).
Influenza musiman juga memerlukan perhatian terus-menerus karena perubahan genetik yang terjadi secara berkala pada virus ini. Oleh karena itu, vaksin influenza harus terus diperbarui untuk memastikan efektivitasnya dalam melawan strain baru yang muncul (CDC, 2023).
Filovirus, seperti Ebola dan Marburg, juga merupakan ancaman serius dengan potensi pandemi. Virus-virus ini menyebabkan demam berdarah yang parah dan memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi. Wabah yang disebabkan oleh filovirus biasanya terkait dengan kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau cairan tubuh individu yang terinfeksi. WHO terus memantau wabah-wabah ini dan melakukan upaya untuk mengendalikan penyebarannya (WHO, 2023).
Virus Nipah, yang ditemukan di Asia Tenggara, adalah contoh lain dari virus yang memiliki potensi besar untuk menyebabkan pandemi. Virus ini telah menyebabkan wabah dengan tingkat kematian yang tinggi dan dapat ditularkan dari hewan (terutama kelelawar) ke manusia, serta berpotensi menular antar manusia. Gavi mencatat bahwa pengawasan dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami dan mengendalikan penyebaran virus Nipah ini (Gavi, 2023).
Secara keseluruhan, berbagai jenis virus ini menunjukkan betapa pentingnya kesiapsiagaan global dalam menghadapi potensi pandemi. Pemantauan terus-menerus, penelitian, dan pengembangan vaksin serta terapi yang efektif merupakan langkah-langkah kunci untuk mencegah dan mengendalikan wabah yang dapat berdampak luas pada kesehatan global.
Dengan mengawasi virus-virus ini dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran dan mutasi mereka, para ahli kesehatan dapat lebih siap menghadapi potensi pandemi di masa depan. Namun ada dua virus yang saat ini menjadi fokus utama para ilmuwan adalah coronavirus (khususnya SARS-CoV-2 dan variannya) dan avian influenza (seperti H5N1 dan H7N9).
Artikel ini membahas potensi pandemi dari kedua virus tersebut berdasarkan data terbaru dari tahun 2023-2024 serta hasil penelitian ilmiah terkini. Juga dibahas mengapa golongan virus tertentu diprediksi sebagai ancaman yang lebih besar dalam waktu dekat.
Corona dan Flu Burung
Coronavirus (SARS-CoV-2 dan Variannya)
SARS-CoV-2 telah menunjukkan kapasitas signifikan untuk bermutasi, menghasilkan varian baru dengan tingkat penularan, tingkat keparahan, dan potensi lolos dari kekebalan yang bervariasi.
Pada tahun 2023, varian baru seperti XBB.1.5 dan BA.2.75.2 menunjukkan peningkatan penularan dan beberapa kemampuan untuk menghindari respons imun dari vaksin sebelumnya (WHO, 2023; IHME, 2023).
Data terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan bahwa varian Omicron (BA.2.75.2) memiliki tingkat reproduksi (R0) sekitar 6-8, menunjukkan peningkatan penularan dibandingkan varian Delta yang memiliki R0 sekitar 5-6 (IHME, 2023).
Penularan SARS-CoV-2 yang sangat efisien melalui tetesan pernapasan dan aerosol menjadikannya sangat menular. Sebuah studi terbaru dari University of Oxford pada tahun 2024 menunjukkan bahwa varian XBB.1.5 memiliki waktu generasi yang lebih pendek, sekitar 3-4 hari, dibandingkan dengan varian sebelumnya yang berkisar antara 5-6 hari.
Ini berarti virus dapat menyebar lebih cepat dalam populasi, meningkatkan potensi penyebaran global yang lebih luas.
Komunitas ilmiah global secara ketat memantau SARS-CoV-2 dan variannya, memungkinkan deteksi cepat dan respons terhadap strain yang muncul. Pada tahun 2023, lebih dari 100.000 urutan genomik SARS-CoV-2 telah dikumpulkan dan dianalisis melalui jaringan pengawasan global seperti GISAID, yang membantu dalam mengidentifikasi dan melacak varian baru secara real-time (WHO, 2023; IHME, 2023). Tingkat pengawasan yang tinggi ini dapat membantu mengurangi dampak tetapi juga menyoroti risiko yang terus-menerus dari virus ini.
Avian Influenza (Flu Burung)
Avian influenza, khususnya strain seperti H5N1 dan H7N9, memiliki tingkat kematian yang tinggi pada manusia, menjadikannya sangat mengkhawatirkan. Misalnya, H5N1 memiliki tingkat kematian sekitar 60% di antara kasus yang dilaporkan.
Data dari WHO menunjukkan bahwa dari 862 kasus infeksi H5N1 yang dikonfirmasi sejak tahun 2003, 455 di antaranya berakhir dengan kematian (WHO, 2023).
Pada tahun 2023, China melaporkan 56 kasus baru H5N1 dengan tingkat kematian 33 kasus, mengindikasikan potensi kematian yang sangat tinggi jika terjadi wabah yang lebih luas (Gavi, 2023).

Ada kekhawatiran signifikan bahwa virus avian influenza dapat bermutasi untuk memungkinkan penularan antar manusia yang lebih efisien. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Nature pada tahun 2024 menunjukkan bahwa mutasi tertentu pada protein hemagglutinin (HA) dapat meningkatkan afinitas virus terhadap reseptor manusia, yang dapat meningkatkan risiko transmisi antar manusia (Nature, 2024).
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami dinamika ini secara mendalam. Virus avian influenza sering ditularkan dari burung ke manusia. WHO melaporkan bahwa pada tahun 2022, sekitar 150 kasus baru H7N9 dilaporkan di China, sebagian besar terkait dengan kontak dekat dengan unggas yang terinfeksi di pasar unggas hidup. Spillover zoonosis ini sangat terkait dengan praktik peternakan dan perdagangan unggas yang padat (WHO, 2023).
Perbandingan dan Kesimpulan
Dibandingkan dengan avian influenza, coronavirus, terutama SARS-CoV-2, telah menunjukkan efisiensi penularan antar manusia yang tinggi. Hal ini membuat coronavirus lebih mungkin menyebabkan pandemi yang meluas berdasarkan dinamika penularannya.
R0 untuk varian SARS-CoV-2 yang lebih baru seperti Omicron telah menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan avian influenza yang umumnya memiliki R0 < 1 dalam kasus-kasus yang dilaporkan (IHME, 2023; WHO, 2023).
Pengalaman terbaru dengan COVID-19 telah menyebabkan peningkatan kesiapsiagaan global terhadap coronavirus, termasuk vaksin dan perawatan. Pada tahun 2023, lebih dari 13 miliar dosis vaksin COVID-19 telah didistribusikan secara global, yang telah membantu mengurangi keparahan penyakit dan kematian (CDC, 2023).
Kesiapsiagaan ini mungkin membantu mengurangi dampak pandemi coronavirus baru tetapi juga menunjukkan tingkat risiko yang tinggi yang terus dirasakan oleh virus ini.
Berdasarkan data saat ini dan prediksi para ahli, SARS-CoV-2 dan variannya dianggap sebagai penyebab paling mungkin dari pandemi berikutnya karena tingkat mutasinya yang tinggi, efisiensi penularan antar manusia, dan evolusi virus yang terus berlanjut.
Misalnya, sebuah laporan dari Imperial College London pada tahun 2023 memperkirakan bahwa varian Omicron dapat menyebabkan peningkatan 30% dalam jumlah kasus global jika langkah-langkah pencegahan tidak ditingkatkan (Imperial College London, 2023).
Selain itu, studi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS menunjukkan bahwa vaksinasi dan booster yang terus diperbarui memainkan peran penting dalam mengurangi dampak varian baru (CDC, 2023).
Avian influenza tetap menjadi perhatian signifikan, terutama jika mutasi memungkinkan penularan antar manusia yang efisien, tetapi saat ini, coronavirus dianggap sebagai ancaman yang lebih segera. Meskipun avian influenza memiliki potensi untuk menjadi pandemi jika mutasi memungkinkan penularan yang lebih efisien, tingkat kesiapsiagaan dan pengawasan global terhadap SARS-CoV-2 saat ini membuatnya sebagai kandidat utama untuk pandemi berikutnya.