JAKARTA, KOMPAS.com - Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka telah resmi menjadi Presiden dan Wakil Presiden 2024-2029.
Peresmian keduanya ditandai dengan pengucapan sumpah jabatan dalam Sidang Paripurna MPR RI.
Pembacaan sumpah ini merupakan bagian dari acara pelantikan berlangsung di Gedung Nusantara DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, pada Minggu (20/10/2024).
Mungkin Anda bertanya-tanya bagaimana awal mula dibangunnya Gedung DPR/MPR RI? Berikut ini ulasannya.
Gedung DPR/MPR RI mulai dibangun pada 8 Maret 1965 melalui Surat Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 48 Tahun 1965.
Melalui surat tersebut, Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno menugaskan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga untuk melaksanakan pembangunan proyek political venues (tempat politik).
Menurut Keppres inilah political venues diperlukan untuk kepentingan penyelenggaraan konferensi-konferensi internasional di bidang politik dalam rangka penggalangan persatuan bangsa-bangsa.
Gedung DPR/MPR ini dibangun berawal dari gagasan Presiden Pertama RI Ir Soekarno untuk menyelenggarakan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO) di Jakarta.
CONEFO adalah konferensi internasional yang mendukung gagasan pembentukan tatanan dunia baru.
Anggota CONEFO berasal dari negara-negara sosialis, komunis, dan kekuatan progresif kapitalis, yang akan bersaing dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam upaya tersebut, lokasi yang dipilih untuk pembangunan proyek political venues bersebelahan dengan sport venues di Gelanggang Olahraga Senayan.
Keppres 48 Tahun 1965 juga memuat ketentuan-ketentuan tambahan, bahwa proyek political venues harus sesuai dengan kepribadian Indonesia dan harus selesai sebelum 17 Agustus 1966.
Dilansir dari artikel Kompas.com edisi 6 Desember 2022, pembangunan baru dilanjutkan kembali setelah Soekarno lengser dan Soeharto menjadi Presiden RI.
Akan tetapi, lengsernya Soekarno turut membuat tujuan pembangunan berubah.
Berdasarkan Surat Keputusan Presidium Kabinet Ampera Nomor 79/U/Kep/11/1966 9 November 1966, peruntukan pembangunan telah diubah menjadi Gedung MPR/DPR RI.
Gedung MPR/DPR RI diharapkan dapat digunakan sebagai tempat persidangan para wakil rakyat untuk menjunjung tinggi prinsip kedaulatan rakyat.
Bentuk Gedung MPR/DPR RI sebagaimana terlihat saat ini memiliki struktur dan konstruksi yang khas.
Arsitektur gedung merupakan hasil rancangan karya Soejoedi Wirjoatmodjo, Dpl.Ing. yang ditetapkan dan disahkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 22 Februari 1965.
Struktur atap, yang sering dianggap menyerupai tempurung kura-kura, melambangkan kepakan sayap burung yang akan lepas landas.
Kompleks Gedung DPR/MPR terdiri dari beberapa gedung yang awalnya dinamai dengan nama bahasa Inggris, misalnya seperti Main Conference Building.
Setelah itu, sempat diubah dengan menggunakan nama dari bahasa Sansekerta, misalnya Grahatama, Pustaloka, dan Lokawirasabha.
Adapun Gedung DPR/MPR RI terdiri dari beberapa gedung yakni Gedung Nusantara yang merupakan gedung utama dalam komplek MPR/DPR/DPD yang berbentuk kubah dengan bentuk setengah lingkaran yang melambangkan kepakan sayap burung yang akan lepas landas.
Lalu, Gedung Nusantara I setinggi 100 meter dengan 24 lantai yang diresmikan, Gedung Nusantara II, Gedung Nusantara III, Gedung Nusantara IV, Gedung Nusantara V, Gedung Bharana Graha, Gedung Sekretariat Jenderal MPR/DPR/DPD, Gedung Mekanik, dan Masjid Baiturrahman.
Dilansir dari laman resmi MPR, Gedung DPR/MPR RI memiliki kolam air mancur dengan patung Elemen Estetik.
Diapit oleh tiang bendera berjumlah 35 buah dan gedung dengan tulisan besar Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dengan titik pandang utama tangga yang besar dan tinggi masuk Gedung Nusantara.
Wujud Patung Elemen pada dasarnya berupa tiga bulatan yang saling berhubungan dan berkesinambungan.
Patung Elemen Estetik ini adalah karya Drs But Mochtar dari Departemen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung.
Teknik pembuatan Patung Elemen Estetik adalah dibuat dari konstruksi rangka besi dengan lapisan sheet tembaga ditanamkan pada pondasi beton. Pembuatannya pun selesai pada tahun 1977.