Festival Terang Jakarta merupakan bagian dari upaya Yayasan Indonesia Sejahtera Barokah untuk mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia. - Halaman all [390] url asal
JAKARTA, investor.id - Dalam rangka merayakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak di sekolah-sekolah yang tergabung dalam Program Lampu Belajar, Yayasan Indonesia Sejahtera Barokah (YISB) menggelar Festival Terang Jakarta pada Sabtu (26/10/2024) di Balai Sarbini, Jakarta. Acara yang dihadiri sekitar 1.400 peserta ini, terdiri dari siswa dan guru dari 10 sekolah di Jakarta dan sekitarnya, dipenuhi semangat belajar, inspirasi, serta kebersamaan dalam suasana yang penuh keceriaan.
Festival Terang Jakarta merupakan bagian dari upaya Yayasan Indonesia Sejahtera Barokah untuk mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia melalui kegiatan edukatif yang dikemas secara menarik. Acara ini turut menggandeng Yayasan Hang Tuah, UBS Gold, dan Bakmi GM dalam penyelenggaraannya, sebagai bentuk komitmen bersama terhadap peningkatan kualitas pendidikan.
Ketua Pengawas Yayasan Hang Tuah, Ketty Erwin S. Aldedharma, menyampaikan apresiasinya terhadap Festival Terang Jakarta yang tahun ini berkolaborasi dengan berbagai pihak.
“Festival Terang Jakarta ini merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh Yayasan Indonesia Sejahtera Barokah. Tahun ini, kerja sama juga dilakukan dengan Hang Tuah, UBS Gold, dan Bakmi GM. Kegiatan ini tidak hanya berunsur edukasi, tetapi juga dibungkus dengan cara yang fun dan menarik, sehingga anak-anak sangat menikmati kegiatan hari ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ketty megatakan sebagai bagian dari program pendidikan Lampu Belajar, kegiatan ini diharapkan dapat memperluas cakupan serta memberikan dampak positif bagi siswa sekolah dasar, terutama dalam pengajaran Matematika. Saat ini, program Lampu Belajar telah diimplementasikan di delapan sekolah dasar di bawah Yayasan Hang Tuah di wilayah Jakarta, dengan fokus pada siswa kelas 1, 2, dan 3. Rencananya, kerja sama ini akan diperluas ke sekolah-sekolah lain di luar Jakarta, termasuk Surabaya dan kota-kota lainnya.
“Program Lampu Belajar ini dirancang untuk anak-anak usia sekolah dasar, dengan materi khusus Matematika yang diadopsi dari kurikulum Singapura. Program ini sangat bagus karena tidak hanya mengajarkan materi belajar, tetapi juga meningkatkan kemampuan berpikir kritis anak-anak. Ini penting agar mereka siap menghadapi masa depan yang lebih baik,” tambahnya.
Ketty berharap bahwa kolaborasi dari semua pihak melalui acara ini terus berlanjut.
“Harapannya kerja sama ini bisa terus berlanjut, mudah-mudahan dapat diimplementasikan di sekolah Hang Tuah lainnya, tidak hanya di delapan sekolah. Semoga ini bisa mendukung pengajaran di Yayasan Hang Tuah maupun sekolah-sekolah lain, untuk mendukung tercapainya Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyampaikan konsumsi protein ikan dalam negeri kalah dibandingkan China, Malaysia, hingga Thailand. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Budi Sulistyo.
Budi mengatakan konsumsi protein menjadi salah satu upaya Indonesia mencapai generasi emas. Berdasarkan paparan yang disajikan, disebutkan saat ini konsumsi protein Indonesia berada di level 62,3 gram. Padahal standar protein seharusnya 100 gram.
Konsumsi protein ini kalah dari konsumsi protein negara-negara tetangga, seperti Thailand sebesar 66,5 gram, Filipina sebesar 73,1 gram, Myanmar sebanyak 78,3 gram, dan Vietnam sebesar 94,4 gram.
"Kita masih di belakang Kamboja. Maka kita harus berani menyatakan merdeka protein 100%," kata Budi dalam acara Komitmen PDSPKP bersama Mitra Kerja Sama, di kantor KKP, Jumat (4/10/2024).
Saat ditanya mengenai lebih lanjut penyebab konsumsi protein tak naik, Budi mengatakan hal tersebut terjadi karena pola makan. Dengan program makan bergizi gratis (MBG), dia menyebut dapat mendorong pola asupan gizi masyarakat Indonesia.
Dia berharap dengan susu ikan masuk dalam program MBG menjadi satu pemicu momentum untuk meningkatkan itu, asupan proteinnya.
"Ya pastinya karena pola makan. Nah, dengan program makan berisi, Ini kan sebenarnya pemerintah mendesain Pola asupan gizinya, Kemudian juga membiayai kan, dengan program gratis itu," terangnya.
Dia menekankan konsumsi protein yang kalah dengan negara-negara tetangga bukan karena masyarakat Indonesia malas konsumsi makan. Dia bilang beberapa daerah ada yang ketersediaan ikan.
"Bukan malas makan juga, mungkin karena juga di beberapa daerah kan kebutuhan dari kondisi ekonomi juga di sini," kelasnya.
Mendukung hal tersebut, pihaknya telah menggandeng mitra-mitra strategis, mulai dari kementerian/lembaga (k/l), asosiasi, hingga komunitas. Kemitraan ini sebagai salah satu upaya agar meningkatkan konsumsi protein di Indonesia.
"Hari ini kan kita punya mitra, 35 mitra, mulai dari penyedia bahan baku, kemudian para ibu-ibu dari Forikan, Forum peningkatan konsumsi ikan. Kemudian dari KAI, Kadin, kementerian, BKKBN, Bapanas. Jadi itu adalah mitra kami," imbuhnya.
Saat ini, pemerintah aktif mengentaskan stunting dengan melakukan intervensi melalui produk protein hewani yakni susu sapi, daging ayam, dan telur. [1,198] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Langkah kaki Mimin berjalan perlahan, sambil menggendong bayinya berusia 2 tahun dan sandalnya karetnye mulai menipis pada bagian tumit. Ada aroma pesing yang menyengat saat dia berhenti sejenak di warung sembako.
Bobot tubuh Mimin (36) sekitar 40 kg, padahal dia sudah memiliki 6 orang anak. Rambutnya megar, seperti jarang disisir, karena dia lebih banyak menjaga anak-anaknya bermain di teras rumah tetangga. Sesekali dia menarik bagian belakang rambutnya dan menggaruk bagian kepala yang gatal, sambil menggendong bayinya yang berusia 2 tahun.
Dia memiliki anak berusia 18 tahun, 12 tahun, 8 tahun, 6 tahun, 3 tahun, dan 2 tahun. Suaminya hanya buruh lepas harian yang gajian tiap Sabtu, bila menjadi kuli bangunan.
"Susah, punya anak banyak. Kalau kata orang tua dulu, banyak anak, banyak rejeki," ucapnya sambil nyengir. Tampak juga tubuhnya lebih condong ke kiri, karena sambil menggendong bayinya.
Kondisi fisik anak-anak Mimin terlihat lebih kurus dibandingkan anak sebayanya. Dia tidak paham apa itu stunting, baginya anak-anaknya hanya malas makan, meskipun dia terkadang sering menggabungkan sarapan dan jam makan siang anaknya.
Mimin juga menceritakan bahwa anak ketiga dan keempat mendapatkan ASI eksklusif, tetapi badan tetap kurus. Maklum saja, kondisi keuangan Mimin sangat terbatas dan cukup sering makan mi instan, kadang pakai telur, kadang tidak.
Saat ke Posyandu, Mimin juga mengakui sering mendapatkan bantuan susu bubuk 1 kg dari posyandu dan juga biskuit susu dari Kemenkes untuk meningkatkan berat badan anak-anaknya.
Kewalahan mengurus bocaoh, dia mengaku ogah untuk hamil lagi. Namun, kebobolan dan melahirkan anak kelima. Bidan tempat Mimin melahirkan pun iba melihat kondisi keluarganya dan menyarankan agar melakukan steril. Namun, suaminya tidak setuju.
Alhasil, bidan pun memberikan biaya persalinan secara cuma-cuma kepada Mimin saat melahirkan anak kelimanya. Faktor ekonomi yang sulit, membuatnya harus menitipkan anaknya ke rumah mertua, karena dia masih mengemong 2 balita saat itu.
Selang setahun kemudian, Mimin kebobolan lagi. Untuk persalinan anak pertama hingga kelima berjalan lancar dan normal, tetapi untuk persalinan anak keenam, tubuh Mimin melemah dan kekurangan nutrisi. Tidak teratur makan dan kelelahan menjaga anak, sangat nyata dialaminya.
Nyawa Mimin hampir melayang saat melahirkan anak keenam. Pihak keluarga sempat bernegosiasi agar melakukan persalinan normal, tetapi kekuatan Mimin hampir habis dan dokter menyarankan untuk segera melakukan operasi caesar demi menyelamatkan nyawa bayi dan ibu.
Dokter yang menangani operasi Mimin, meminta kepada suami agar menyetujui dilakukan steril kepada Mimin, mengingat masalah kesehatan Mimin saat melahirkan anak keenam. Lantas, suaminya pun setuju.
Ada hal yang berbeda dari anak Mimin yang keenam. Kelima anak Mimin selalu mendapatkan ASI, selalu memiliki bobot badan yang kurang bahkan ada pula anaknya yang berusia 12 tahun, tetapi tingginya sama dengan anak-anak umur 7 tahun. Namun, untuk anak keenam ini, memiliki bobot yang proporsional.
"Anak terakhir ini, enggak ASI. Air susunya saya enggak ada, karena habis operasi. Jadinya, minum susu sapi," ungkapnya.
Dalam kesempatan terpisah, Kader Posyandu Bina Warga 3A di Kaliputih, Desa Citayam, Suryama mengatakan saat ibu-ibu membawa anak-anak ke Posyandu maka pihaknya melakukan pemeriksaan kondisi fisik dan melihat kecukupan nutrisi. Sering sekali, ibu-ibu tidak paham kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan balita.
"Kalau ada anak yang sangat kurang atau masuk dalam kategori pemantauan, maka akan diberikan intervensi seperti susu sapi, roti, telur, dan daging ayam. Faktor jumlah anak dan jarak kehamilan juga menjadi salah satu faktor untuk pemenuhan gizi," kata Suryama.
Menurutnya, saat orang tua melakukan program dalam melahirkan, maka akan lebih mudah dalam mengatur kondisi keuangan dan membagi makanan bergizi di meja makan. Namun, jika jarak kelahiran tidak diatur, maka akan menyebabkan anak kurang mendapatkan perhatian, gizi, dan bisa menyebabkan stunting.
Untuk mencegah stunting, dia memberikan edukasi agar para ibu bisa memberikan telur ayam ke anak yang berusia 6-8 bulan, supaya kebutuhan protein terpenuhi. Caranya, memasak beras menjadi bubur, lalu memasukan 10gram wortel yang sudah diparut, dan telur, lalu diaduk-aduk, masak sampai kental.
Suryama mengungkapkan protein hewani sangat dibutuhkan oleh bayi yang sudah mpasi. Saat di posyandu, dia juga selalu mengedukasi, makanan sehat tidak harus mahal tetapi bisa rutin memberikan telur, memasukan air rebusan ayam ke bubur anak, atau membuat sup ayam wortel untuk balita, agar kebutuhan gizi anak bisa terpenuhi.
Saat ditemui terpisah, Nunung (44 tahun) yang memiliki anak berusia 4 tahun mendapatkan bantuan pemerintah, untuk meningkatkan gizi anaknya. Dia mengaku baru mendapatkan bantuan telur 1 papan dan 1 ekor ayam, yang dibagi setiap bulan.
"Untungnya, anak saya doyan telur dadar dan ini sangat membantu meningkatkan nafsu makan," ungkapnya.
Selain telur, dia memaksimal bantuan ayam yang diterima ke putrinya yang berusia 4 tahun, agar kebutuhan nutrisi selalu terpenuhi, seperti memasak nasi goreng ayam, memasuk sup ayam wortel, dan terkadang membuat ayam semur agar napsu makan anak bertambah.
Makanan mencegah stunting
Saat ini, pemerintah aktif mengentaskan stunting di Indonesia dengan melakukan intervensi melalui produk pangan protein hewani yakni susu sapi, daging ayam, dan telur.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan stunting bisa dicegah, dengan memenuhi kebutuhan gizi 1.000 hari pertama, sejak bayi tumbuh menjadi janin. Pencegahan stunting juga bisa dilakukan dengan memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil.
Menkes Budi menuturkan bahwa saat kebutuhan ibu hamil tercukupi maka asupan gizi ke janin juga terpenuhi. Namun, saat ibu hamil hanya mengonsumsi mi intan dan karbohidrat, tanpa adanya serat sayuran, protein hewani, maka hal ini harus diwaspadai.
"Stunting bisa dideteksi pada kehidupan 9 bulan di kandungan dan 2 tahun. Namun, deteksi stunting yang perlu diperhatikan adalah 1000 hari," ungkapnya baru-baru ini.
Dia menuturkan bahwa hasil penelitian determinan paling besar dalam stunting untuk usia bayi, paling besar di saat hamil dan saat sudah selesai memberikan ASI 6 bulan. Setelah bayi berusia 6 bulan, lanjutnya, bayi membutuhkan protein hewani.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kemenkes mencatatkan angka stunting di Indonesia masih relatif tinggi yakni 21,5 persen, meskipun sempat turun 0,1 persen dari 2022. Budi menambahkan butuh kerja sama yang baik antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk meminimalisir potensi stunting agar terciptanya generasi emas.
Japfa Bantu Pengentasan Stunting
Mengutip dari laporan berkelanjutan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk., perseroan dikenal sebagai produsen protein hewani dengan pengalaman lebih dari 52 tahun, Japfa ingin berkontribusi dalam menghadapi mengentaskan stunting di Indonesia.
Japfa berkomitmen untuk menyediakan produk pangan berprotein terjangkau di Indonesia berlandaskan kerja sama dan pengalaman teruji, dalam upaya memberikan manfaat bagi seluruh pihak terkait. Perseroan berpegang teguh untuk menyediakan produk pangan berprotein untuk mencegah mal nutrisi pada anak.
Laporan berkelanjutan Japfa mencatatkan bahwa Indonesia menjadi salah satu tingkat negara dengan prevalensi malnutrisi tertinggi di dunia, yakni 3 dari 10 anak mengalami stunting, kondisi kesehatan sebagai akibat kekurangan gizi 2022.
"Sebagai perusahaan penyedia protein hewani, Japfa secara aktif berkontribusi dalam penyediaan pangan yang bergizi dan terjangkau bagi masyarakat dan konsumen," dikutip dari Japfa.
Japfa juga mengentaskan stunting balita melalui program Santosa untuk Anak Nusantara (SAN), khusus anak kurang dari 5 tahun. Perseroan juga berkolaborasi dengan Yayasan Edu Farmers Internasional dalam mengatasi masalah gizi buruk dan gizi kurang.
Melalui program ini, manajemen Japfa bekerja sama dengan pemerintah setempat dan kader Posyandu dalam mendistribusikan telur bersubsidi kepada orang tua yang anaknya mengalami stunting sehingga memudahkan mereka untuk menyediakan telur setiap hari.
Pada tahun 2023, Japfa menaikkan subsidi telur sehingga para orang tua dapat membeli telur dengan harga yang lebih murah. Pada 2023, program SAN telah berhasil menurunkan angka stunting sebesar 17,1 persen di seluruh lokasi SAN beroperasi.
Jakarta: Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kiki Yuliati mengatakan dunia pendidikan vokasi mesti turut dalam menyiapkan generasi emas untuk Indonesia 2045. Lulusan vokasi mesti dibentuk secara matang untuk menghadapi sejumlah tantangan.
"Ada sejumlah tantangan perubahan struktural yang terjadi di masyarakat yang mengubah kebutuhan keterampilan di dunia kerja. Tantangan pertama ada transisi digital yang berdampak besar pada pasar tenaga kerja dalam dekade terakhir," ujar dia Acara Rembuk Pendidikan Indonesia di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Jumat 19 Juli 2024.
Selain itu ada tantangan perihal menyusutnya ketersediaan lapangan kerja. Pada tahun 2030 diprediksi akan ada 23 juta pekerja di Indonesia akan kehilangan pekerjaan karena digantikan teknologi otomasi. "Namun, ada periode yang sama, diperkirakan antara 24 sampai 46 juta lapangan kerja baru akan tercipta (job gain) akibat kemajuan teknologi digital, di mana 10 juta di antaranya berasal dari jenis okupasi baru yang belum pernah ada sebelumnya," tuturnya.
Tantangan kedua adalah adanya transisi masyarakat yang beralih ke pola konsumsi dan produksi yang lebih ramah lingkungan. Untuk itu dibutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan ramah lingkungan.
"Secara global, jumlah lowongan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan ramah lingkungan tumbuh 22,4 persen misal di bidang pemeliharaan dan perbaikan mobil ketika mengerjakan mobil listrik," ungkapnya.
Tantangan ketiga adalah transisi demografi. Generasi muda produktif akan mencapai puncaknya pada tahun 2030. "Tentu saja perlu strategi percepatan untuk menyiapkan tenaga terampil tinggi di tahun-tahun tersebut," ungkapnya.
Tantangan terakhir adalah transisi otonomi daerah. Hal ini beririsan dengan sudah terdesentralisasinya sistem pendidikan di Indonesia. "Karena itu otonomi daerah juga penting untuk menjadi perhatian dalam pemajuan pendidikan vokasi ke depan. Semakin otonom daerah mengembangkan kebijakan pembangunannya, maka penyediaan tenaga terampilnya juga harus tersebar di sektor tenaga kerja," pungkasnya.