#30 tag 24jam
Agenda Grand Syekh Al Azhar Selama di Indonesia, Isi Kuliah Umum di UIN Jakarta Selasa | Republika Online
Syekh Al Tayeb akan berada di Indonesia selama empat hari. [437] url asal
#grand-syekh-al-azhar #grand-syekh-al-azhar-ke-indonesia #kuliah-umum #uin-jakarta #kunjungan-grand-syekh-al-azhar #umat-islam-indonesia
(Republika - Khazanah) 09/07/24 00:03
v/10151225/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Grand Syekh Al Azhar Imam Akbar Ahmed Al Tayeb tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Senin (8/7/2024) sore. Ia disambut langsung oleh Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas serta sejumlah tokoh ulama dan pejabat Kemenag.
Gus Men, panggilan akrabnya, menilai kedatangan Grand Syekh Al Azhar ini akan menjadi kunjungan yang penuh makna bagi Indonesia. Menurut dia, Syekh Al Tayeb akan berada di Indonesia selama empat hari.
"Meski singkat, saya rasa kunjungan ini sangat bermakna bagi kita di Indonesia, terutama umat Islam Indonesia," ujar Gus Men dalam siaran persnya, Senin (8/7/2024).
Kedatangan Syekh Al Tayeb juga disambut oleh tokoh alumni Al Azhar Indonesia Prof M Quraish Shihab. Hadir juga Plt Dirjen Pendidikan Islam Abu Rokhmad, Kepala Balitbang Diklat Kemenag Suyitno, serta Staf Khusus Menteri Agama, Abdul Rochman dan Wibowo Prasetyo.
Hadir juga Duta Besar Mesir HE Yaser Asheemy serta beberapa tokoh Mesir, antara lain Sahar Nasr (Penasihat Grand Syeikh dan CEO Bayt Zakat Al-Azhar), Nahla al-Shaedi (Kepala Markaz Tathwir dan Penasihat GSA Urusan Mahasiswa Asing).
Syekh Al Tayeb tercatat sudah tiga kali berkunjung ke Indonesia dalam satu dekade terakhir. Dua kunjungan pertama berlangsung pada 2016 dan 2018. Pada kunjungan kali ketiga ini, Syekh Al Tayeb dijadwalkan akan berada di Indonesia selama empat hari pada 8-11 Juli 2024.
Selama di Indonesia, Ketua Majelis Hukama Muslimin (MHM) ini dijadwalkan akan bertemu Presiden RI di Istana Negara. Setelah itu, Ketua MHM ini dijadwalkan mengisi Kuliah Umum di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada Selasa siang.
Imam Akbar Ahmed Al Tayeb juga akan mengadakan diskusi bersama para tokoh lintas agama, serta bertemu dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dan Pusat Studi Al-Qur’an.
Gus Men berharap, kunjungan Grand Syekh Al Azhar akan memberi inspirasi tentang pemahaman, pengamalan, dan pengalaman terkait moderasi beragama yang selama ini memjadi fokus dari Universitas Al Azhar.
"Kita tahu bahwa Al Azhar selama ini sangat konsern pada moderasi beragama. Saya kira kedatangan ini juga akan sangat menginspirasi bagi kita semua, dalam berbangsa dan juga beragama," ucap Gus Men.
"Karena kita tahu wasathiyah atau moderasi beragama itu sangat penting bagi kehidupan beragama serta kesatuan bangsa kita," kata dia.
Gus Men menambahkan, Indonesia adalah negara yang sangat majemuk, memiliki latar belakang warga yang sangat beragam. Jika tidak dikelola dengan baik, keragaman ini juga rentan akan gesekan. "Moderasi beragama sangat penting, karena kita ini sangat beragam baik agama, suku, maupun kulturnya," kata dia.
“Saya berharap pemikiran-pemikiran yang dibawa Grand Syekh Al-Azhar ke Indonesia mampu menginspirasi dalam pemerapan moderasi beragama,” kata Gus Men.
n/Muhyiddin
Al-Azhar Mesir, Grand Syekh, dan Koeksistensi Umat Beragama | Republika Online
Al-Azhar berperan penting dalam Moderatisme beragama [1,046] url asal
#grand-syekh-al-azhar #grand-syekh-al-azhar-mesir #grand-syekh-al-azhar-kunjungi-indonesia #grand-syekh-al-azhar-ke-indonesia #al-azhar-mesir-moderatisme
(Republika - News) 07/07/24 09:09
v/9947358/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Universitas Al-Azhar merupakah salah satu perguruan tinggi terkemuka dan tertua di dunia. Universitas Al-Azhar berdiri pada 7 Ramadhan 361 H, bertepatan dengan 22 Juni pada 972 M, kini telah memasuki ke-1052 tahun, atau berusia 1084 tahun jika dihitung dari kalender Hijriyah.
Sebelumnya universitas Zaitunah di Tunisia menjadi pemegang rekor universitas tertua di dunia yang berdiri 737 M disusul universitas Al-Qarawiyyin di Maroko yang berdiri tahun 859 M. Ketiga universitas di dunia Arab ini lebih senior dari university of Oxford di Inggris yang berdiri tahun 1096 M, Stanford University berdiri 1885 M, dan Cambridge university 1534 M.
Universitas Al-Azhar didirikan oleh Dinasti Fatimiyah (penganut Syiah Ismailiyah) dipandang sebagai kiblat ilmu dan referensi utama wacana keislaman global. Di Universitas Al Azhar, tidak hanya ilmu agama Islam yang diajarkan melainkan berbagai ilmu lainnya, seperti Filosofy, Science and Technology, Management and Business Administration, Arts, Languages and Humanities, Agriculture, Dentistry and Medicine. Universitas ini memiliki 81 fakultas, 9 institut, 359 jurusan, 42 pusat studi, 6 rumah sakit akademik, dan 27 unit administrasi. Ia juga menjadi pusat studi utama pada ilmu literatur arab dan ilmu keislaman dunia.
Perpustakaannya menjadi yang terpenting karena memuat berbagai buku yang diterbitkan ratusan tahun lalu. Pada setiap tahunnya Universitas Al-Azhar menerima sekitar 30 ribu mahasiswa asing yang datang dari berbagai negara.
Dilihat dari jumlah mahasiswa full-time yang berdasarkan survai Times Higher Education tahun 2022 dari 1799 universitas di 104 negara di dunia jumlah mahasiswa Al-Azhar berjumlah 425.977 mahasiwa sebagai kampus dengan jumlah mahasiswa terbanyak ketiga setelah Tribhuvan University di Nepal dengan 460.632 mahasiwa, dan Payame Noor University di Iran yang menampung 454.155 mahasiswa.
Salah satu kontribusi penting universitas Al-Azhar adalah perspektif moderatisme (wasatiyah) yang diusung, dimana Al-Azhar tidak menyeleksi calon mahasiswa berdasarkan latar belakang paham keagamaan tertentu. Semua bisa diterima secara terbuka, selama memenuhi persyaratan akademik, seperti kemampuan bahasa Arab dan hafalan Alquran. Mahasiswa dari berbagai mazhab dan aliran keagamaan, seperti Sunni, Syiah, Ikhwanul Muslimin, Salafi, dan lain-lain.
Pun keragaman dalam identitas agama, cara berpikir, berperilaku dan cara berpakaian yang berbeda. Data dari koran al-Wathan pada 5 Mei 1916 menyebutkan, Universitas Al-Azhar menerima mahasiswa dari Kristen Koptik, yang merupakan entitas Kristen tertua di Timur Tengah.
Para pelajar Kristen Koptik tersebut bahkan memiliki pojok komunitas tersendiri yang difasilitasi al-Azhar yang disebut Ruwaq al-Aqbath. Beberapa nama alumni Al-Azhar dari penganut Kristen dan tokoh penting antara lain Al-As’ad bin Mamat, yang menjabat Menteri pada era Shalahuddin Al-Ayubi, Jundi Ibrahim Syahatah, pemilik Media Al-Wathan, dan Makram Abid, tokoh Kristen Koptik yang berteman dekat dengan Hassan Al-Banna.
Konstruksi pemikiran moderatisme Al-Azhar mendapat momentumnya melalui sentuhan pemikiran Grand Syekh Ahmed Mohamed Ahmed El-Tayeb. Syekh Agung Al-Azhar As-Syarif ke-44 ini menggantikan pendahulunya, yaitu Syeikh Muhammad Sayyid al-Thanthawi. Lahir di Qena, Mesir bagian selatan pada 6 Januari 1946, dengan nasab bersambung kepada Rasulullah SAW melalui Imam Hasan bin Ali Abi Thalib.
Grand Syekh El-Tayeb dikenal sebagai penganut Asy’ariyah dalam mazhab aqidah, Maliki dalam mazhab fiqih, dan Khalwati sebagai tarekat sufinya. Pengaruh ilmiahnya sebagai intelektual terkemuka Sunni Islam mencakup seluruh dunia sebagai ulama moderat yang selalu menyerukan ukhuwah (pesatuan), insâniyah (kemanusiaan), dan tegas mengkritik Zionisme.
Beberapa keutamaan Syekh El-Tayeb, antara lain memperoleh penghargaan dari Sheikh Zayed Book Award tahun 2013 kategori “Cultural Personality of the Year”. Sheikh Zayed Book Award adalah salah satu hadiah paling bergengsi di dunia Arab. Kemudian informasi yang dikutip dari “The Muslim 500: The World’s Most Influential Muslims”, Syekh El-Tayeb dinobatkan sebagai tokoh Muslim pertama yang paling berpengaruh di tahun 2017/2018.
Dia juga dikenal sebagai advokat Muslim tradisonal, pemimpin Universitas al-Azhar, serta pengelola jaringan al-Azhar. Selain piawai dalam berdakwah, Syekh El-Tayeb menulis beberapa buku penting, antara lain Al-Jânib An-Naqdi fi Al-Falsafah Abi Al-Barakat Al-Baghdadi (1981), Mabâhits Al-Wujûd wa Al-Mâhiyah min Kitab Al-Mawâqif (1982), Mafhûm Al-Harakah bayna Al-Falsafah Al-Islâmiyah wa Al-Markisiyah (1982), Mabahits Al-‘Illah wa Al-Ma’lul min Kitab Al-Mawaqif (1982), Madkhal li Dirâsati Al-Manthiq Al-Qadim (1987), riset bidang Filsafat Islam bersama para peneliti lain di Universitas Qatar pada 1993, serta komentar terhadap Bab Ketuhanan dari buku Tahdzib Al-Kalam karya Imam Taftazani (1997).
Dari data buku yang ditulisnya..
Dari data buku yang ditulisnya, Syekh El-Tayeb merupakan pakar bidang keilmuan filsafat Islam, sehingga kepakaran inilah yang mengantarkannya sebagai sosok ulama terbuka, moderat dan inklusif.
Ketokohan Syekh El-Tayeb telah menyita perhatian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Organisasi tertinggi di dunia ini menetapkan tahun 2019 ini sebagai The International Year of Moderation. Penetapan tahun moderasi beragama internasional tersebut didasarkan kepada keberhasilan Syekh El-Tayeb membuat kesepahaman dengan Paus Fransiskus yang tertuang dalam “Watsîqah al-Ikhwah al-Insaniyah min Ajli as-Salaam al-‘Alamî wa al-‘Aisy al-Mustarok.”
Momentum bersejarah ini dipandang sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan perdamaian dunia berbasis agama. Pada sisi ini keterlibatan Syekh El-Tayeb dipandang sebagai tokoh sentral dan lokomotif moderasi beragama di dunia. Pada bagian awal dokumen naskah perjanjian tersebut tertulis kutipan berikut:
“Dengan nama Allah yang telah menciptakan seluruh manusia memiliki kesamaan dalam hak-hak dan kewajiban-kewajiban serta kemuliaan-kemuliaan, dan mengajak mereka untuk hidup bersaudara dalam rangka memakmurkan bumi, menebarkan dan menegakkan kebaikan-kebaikan, kedamaian dan cinta.” Dokumen ini merupakan refresentasi pemikiran Syekh El-Tayeb tentang persaudaraan universal dan inklusivisme dalam beragama.
Konsep persaudaraan dan inklusivisme beragama yang digagas Syekh El-Tayeb kemudian tersebar ke berbagai negara di dunia, antara lain Indonesia, Malaysia, Brune Darussalam dan beberapa negara di Timur Tengah dan Afrika melalui penetrasi keilmuan yang dikembangkan para alumni universitas al-Azhar.
Di Indonesia, misalnya, penetrasi konsep wasathiyah al-ukhuwah al-insaniyah (moderasi, persaudaraan dan kemanusiaan) dilakukan oleh para alumni al-Azhar yang tergabung dalam Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA). Para pengurus OIAA, seperti Zainul Majdi dan Muchlis Hanafi berperan penting dalam penyebaran ide tersebut hingga menyentuh wilayah elit kementerian agama, terutama melaui figur Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin.
Di tangan Menteri Agama konsep moderasi beragama yang bercita rasa persaudaraan dan kemanusiaan ini berubah menjadi kebijakan moderasi beragama secara nasional yang melibatkan institusi Perguruan Iinggi Keagamaan Islam (PTKI) dan berbagai institusi kenegaraan lainnya.