JAKARTA, Investor.id - Mayoritas saham kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) IV mulai bangkit dari titik terendahnya dan kembali mengangkat indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga menembus level psikologis 7.300-an.
Dari saham lima bank raksasa, hanya ada dua saham yang terkoreksi pada perdagangan Jumat (19/7), mengikuti IHSG yang kembali turun 0,36% ke level 7.294.
Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBNI) tercatat naik paling signifikan dibandingkan saham bank lainnya, meningkat 0,49% ke posisi 5.100. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat naik 0,2% ke level 4.900 per saham dan BBCA naik 0,25% ke 10.125.
Di sisi lain, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi dua saham yang terkoreksi mengikuti arah IHSG. Saham BMRI terkoreksi 0,38% menjadi 6.525 dan BRIS 1,61% menjadi 2.450.
Dalam satu bulan terakhir, BBNI juga menjadi salah satu bank KBMI IV dengan kenaikan paling masif, setelah menembus titik terendahnya pada 20 Juni di level Rp 4.400. Hanya dalam satu bulan, BBNI melesat hampir 16% ke level 5.100 per saham.
Kencangnya laju saham BBNI menjadikannya salah satu penggerak indeks. Penguatan saham BBNI juga sejalan dengan fundamentalnya yang apik, membuatnya dilirik analis dalam rekomendasi saham.
Dalam risetnya, analis Binaartha Sekuritas Achmadi Hangradhika menyebutkan BBNI masih prospektif dengan kredit yang tumbuh kuat dan ditopang oleh segmen korporasi. BBNI juga mencatat perbaikan signifikan pada kualitas aset yang tercermin dari turunnya NPL bank only menjadi 2% pada Maret 2024, atau turun 80 bps dibandingkan Maret 2023.
Selain itu, BBNI berkomitmen kuat pada penerapan ESG yang dibuktikan dengan portofolio keberlanjutannya, khususnya pinjaman atau kredit berkelanjutan.
Achmadi menambahkan, laba bersih BBNI tumbuh 2,03% secara yoy menjadi Rp 5,03 triliun pada kuartal I-2024. BBNI berhasil mempertahankan pertumbuhan laba bersih didukung oleh peningkatan pendapatan operasional lainnya sebesar 14,51%.
"Hingga akhir tahun 2024, kami memperkirakan BBNI akan melanjutkan pertumbuhan, dengan laba bersih diproyeksikan meningkat sebesar 11,51% menjadi Rp 23,315 triliun," ujar Achmadi.
Binaartha pun merekomendasikan BUY dengan target harga Rp 5.925. Artinya, saham BBNI masih memiliki ruang kenaikan 16% dari posisi saat ini di 5.100.
Dengan PBV 1,31 kali, saham BBNI masih undervalue atau lebih rendah dari nilai bukunya. Seperti diketahui, PBV atau price to book value di atas dua kali mengartikan harga sahamnya sudah dua kali lipat dibandingkan kekayaan bersih suatu perusahaan.
Artinya, PBV dua kali berarti harga saham sudah dua kali lipat lebih mahal dibandingkan modal bersihnya. Saat ini, PBV BNI tercatat 1,3 kali dan menjadi yang 'paling murah' dibandingkan peers di segmen KBMI IV yang sahamnya ditransaksikan di atas 2 kali PBV.
Editor: Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News