JAKARTA, investor.id - Saham PT Indo America Seafoods Tbk (ISEA) lagi-lagi menguat 11,21% ke Rp 476 per akhir sesi I perdagangan 18 Juli 2024. Sejumlah 169,99 miliar saham ditransaksikan, frekuensi 11.963 kali, dan nilai transaksi Rp 76,25 miliar.
Indo American Seafoods (ISEA) perdana mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2024. Pada perdagangan 8-11 Juli, saham ini selalu menghijau. Tapi anjlok 24,79% mentok auto reject bawah (ARB) pada 12 Juli. Kemudian pada perdagangan 15-17 kemarin saham ini selalu menghijau.
ISEA menggelar initial public offering (IPO) di Rp 250. Sampai dengan harga Rp 476 per akhir sesi I 18 Juli, saham ISEA telah melompat 90,4%.
Perseroan berdiri sejak tahun 2006 dan memiliki lokasi tambak udang, pabrik, dan kantor di Lampung Selatan. ISEA baru saja melantai di BEI dan langsung membidik lonjakan kinerja keuangan hingga ribuan persen pada 2024.
Direktur Utama Indo American Seafoods, Ibnu Syena Alfitra, menyampaikan bahwa perusahaan akan fokus pada peningkatan utilitas pabrik yang saat ini baru mencapai 20% dari total kapasitas produksi sebesar 70 ton per hari.
"Dengan adanya dana segar hasil IPO sebesar Rp 72,5 miliar, kami akan mengoptimalkan produksi dan memperbaiki performa kami. Sekitar 90% dari dana IPO akan digunakan untuk modal kerja, terutama pembelian bahan baku seperti udang dan bahan baku lainnya. Kami berharap omzet dan performa kami di tahun 2024 akan lebih baik dari sebelumnya," jelasnya usai melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Senin (8/7/2024).
Ibnu menambahkan, utilitas pabrik Indo American Seafoods masih berada di kisaran 20-30%, sementara kapasitas terpasang sudah mencapai 70 ton per hari. Dengan peningkatan modal kerja, perusahaan berharap dapat meningkatkan penggunaan utilitas secara signifikan. Perusahaan juga memiliki lahan seluas 40 hektare yang baru terutilisasi sekitar 20%.
Sedangkan dari segi industrinya, prospek bisnis ekspor udang juga terlihat cerah, terutama dengan pasar utama di Amerika Serikat dan Jepang. Ibnu menyampaikan, selama populasi dunia terus bertambah, permintaan akan protein seperti udang akan terus meningkat.
"Udang Vaname dan Black Tiger adalah produk andalan perseroan karena memiliki densitas tinggi dan tahan terhadap penyakit," tambah Ibnu.
Laba Bersih
Ekspor menyumbang sekitar 80% dari total pendapatan perusahaan, dengan Amerika Serikat sebagai pasar terbesar. Ke depan, perusahaan juga menargetkan ekspansi ke pasar Eropa dan China.
"Kami optimis dengan pertumbuhan konsumsi global dan terus mencari pasar baru. Pasar Amerika Serikat dan Jepang tetap menjadi fokus utama kami, namun kami juga melihat potensi besar di Eropa dan China," jelas Ibnu.
Perusahaan berencana untuk meningkatkan fasilitas produksi dengan menambah kapasitas pembenihan dan pakan. Saat ini, fasilitas tambak berada di Lampung, sementara ruang proses dan kursori berada di Lampung Selatan.
"Dengan kapasitas produksi yang ada, kami berharap dapat memenuhi kebutuhan pasar internasional. Ekspor kami sudah masuk ke pasar Amerika dan Jepang, yang merupakan pasar besar untuk udang," ujar Ibnu.
Dengan strategi tersebut, Ibnu optimistis perseroan mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 360 miliar, melonjak 95,98% dari pendapatan tahun 2023 sebesar Rp 199 miliar.
Sejalan dengan itu, ISEA mengincar laba bersih naik 1,451% menjadi Rp 27 miliar dari sebelumnya hanya Rp 1,74 miliar pada 2023.
Editor: Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News