JAKARTA, investor.id – Saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), bergerak rally selama sepekan terakhir dengan penguatan mencapai 31,50%, sesuai data RTI. Kini, harga saham maskapai penerbangan nasional itu menanjak ke posisi Rp 64, naik 8,47% sampai pukul 11.36 WIB. Kenaikan ini cukup mengejutkan setelah sekian lama GIAA menjadi penghuni area saham gocap.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra membeberkan bahwa pergerakan harga saham GIAA di market bukanlah sesuatu yang bisa dikontrol manajemen. Yang bisa manajemen kontrol adalah memastikan laporan keuangan dan kinerja operasional Garuda menunjukkan perbaikan dari waktu ke waktu.
Dengan cara seperti itu, dirinya yakin, para pemegang saham GIAA baik ritel maupun institusi akan bisa menilai Garuda mempunyai masa depan yang cerah. “Tugas kami selanjutnya adalah mengomunikasikan optimisme itu baik kepada publik maupun market,” ujar Irfan kepada Investor Daily dikutip, Selasa (23/7/2024).
Posisi saham GIAA yang bertahan cukup lama di area gocap dan sekarang pelan-pelan menguat, bagi Irfan, hal itu sekali lagi menunjukkan pemulihan Garuda yang semakin membaik dan perbaikan tentunya tidak bisa dicapai secara instan, melainkan membutuhkan banyak waktu.
“Jadi tugas kami adalah meyakinkan para pemegang saham siapapun itu baik mayoritas maupun minoritas bahwa hak-hak mereka terjamin dengan transparansi yang kami lakukan,” sambung Irfan.
Mengingat, jumlah saham GIAA yang beredar di pasar bukanlah sedikit. Tetapi, jutaan bahkan miliaran saham. Adapun, jika terdapat pihak-pihak yang katakanlah “memainkan” harga saham GIAA, Irfan menegaskan, hal itu bukan menjadi otoritas manajemen.
“Kami hanya ingin memastikan bahwa kami transparan,” tegas Irfan.
Polemik Harga Tiket
Sebelumnya, emiten bersandi saham GIAA ini kembali diterpa isu harga tiket perseroan yang dinilai premium dan diminta untuk melakukan penyesuaian. Merespons kabar tersebut, Irfan menyetujui jika skenario efisiensi harga tiket itu dimaksudkan untuk mengurangi beban masyarakat.
“Saya sih oke-oke saja harga tiket dikurangi dan tarif batas atas (TBA) dinaikkan. Jadi, masyarakat bayar lebih murah dan maskapai bisa bernapas lega,” tandasnya.
Dia menerangkan, harga tiket itu memiliki banyak komponen mulai dari airport tax, pajak-pajak, dan lain-lain yang berada di luar domain Garuda. “Jangan pernah berasumsi, 100% harga tiket itu menjadi urusan maskapai seperti yang selama ini ditudingkan ke Garuda,” ucap Irfan.
Padahal, di dalam komponen pembentuk harga tiket itu terdapat airport tax yang selama dua tahun terakhir mengalami kenaikan dan barangkali publik tidak pernah mengetahui.
Karenanya, jika saat ini Garuda kemudian diminta melakukan efisiensi, sekali lagi, dia menyatakan setuju agar semuanya bisa dikaji secara bersama-sama dan transparan.
“Saya setuju supaya bisa dibuka bersama. Biar tahu biaya operasional airlines mahal itu kenapa walaupun itu sebetulnya bisa dibaca di laporan keuangan. Saya sudah mengurangi 5000 karyawan atau 48%, mau dikurangi lagi? Mari kita bicara. Gaji Direktur Utama (Dirut) dipotong? Mari bicara. Mobil Dirut kemahalan? Mari kita bicara. Kalau itu sudah dilakukan, dampak terhadap biaya seperti apa?” tanya Irfan.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News