JAKARTA, investor.id – Laba bersih PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) sampai kuartal III-2024 ambruk masing-masing sebesar 16,67% untuk INTP dan 58% untuk SMGR. Penyusutan laba ini imbas dari meningkatnya sejumlah beban yang diderita kedua perusahaan semen terbesar di Indonesia tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang dipublikasi INTP, produsen semen merek Tiga Roda ini membukukan pendapatan bersih (neto) sebesar Rp 13,32 triliun sepanjang sembilan bulan 2024, naik 3,03% dibanding pendapatan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 12,92 triliun.
Peningkatan penjualan INTP sepanjang Januari-September 2024 tidak lepas dari melejitnya penjualan perseroan kepada pihak ketiga yang mencapai Rp 13,19 triliun. Angkat tersebut menguat 3,91% daripada penjualan kepada pihak ketiga pada periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 12,70 triliun.
Kontributor pendukung penjualan INTP kepada pihak ketiga pada 9M24 berasal dari penjualan semen dan penjualan beton siap pakai yang masing-masing bertumbuh menjadi Rp 12 triliun dan Rp 1,12 triliun.
Sedangkan penjualan semen INTP kepada pihak berelasi ambles 45,95% dari Rp 226 miliar pada 9M23, menjadi Rp 122 miliar pada 9M24. Beberapa pihak yang menjadi relasi INTP adalah HC Trading Malta Ltd., HC Green Trading Ltd., HM Trading Global APAC Pte Ltd., dan Heidelberg Materials AG.
Koreksi pendapatan juga terjadi pada segmen penjualan agregat INTP kepada pihak ketiga yang sampai kuartal III-2024 terkikis dari sebelumnya mencetak penjualan sebesar Rp 57,90 miliar, menjadi Rp 49,77 miliar.
Kenaikan pendapatan INTP sebesar 3,91% tadi diikuti dengan kenaikan beban pokok pendapatan yang lebih besar mencapai 4,5%. Penyebabnya, datang dari kenaikan beban pabrikasi, beban pokok produksi, dan beban pokok penjualan sebelum beban pengepakan yang semuanya membengkak. Sementara, beban pengepakan turun dari Rp 741 miliar menjadi Rp 671 miliar.
Diperparah lagi dari meningkatnya beban lain seperti beban usaha dan biaya keuangan. Di sisi lain, pendapatan keuangan perseroan justru lebih kecil dari Rp 134 miliar menjadi Rp 85,29 miliar.
Sekretaris Perusahaan INTP, Dani Handajani, menjelaskan beban usaha yang lebih tinggi sebesar 5,4% menjadi Rp 2,77 triliun berasal dari volume penjualan yang lebih tinggi dari usaha operasi yang diperluas (Grobogan).
“Beban operasional lain sebesar Rp 19,6 triliun, lebih tinggi 115,8% disebabkan oleh kecenderungan valas pada 2024 dibandingkan kerugian valas tahun lalu, termasuk beberapa penjualan barang scrap pada tahun ini. Hal ini mengakibatkan margin laba usaha sebesar 10,4% dan Ebitda sebesar 19,0% untuk ytd September 2024,” jelas Dani dalam keterangan resminya dikutip, Selasa (5/11/2024).
Di samping beban, biang kerok penurunan laba INTP pada 9M24 juga diakibatkan oleh pendapatan keuangan yang lebih rendah sebesar -Rp70,4 miliar atau -201,5%. Menurut Dani, hal disebabkan oleh beban bunga dari utang yang dikeluarkan INTP untuk mengakuisisi PT Semen Grobogan. Beban Pajak Penghasilan - Neto menurun menjadi -Rp274,1 miliar atau lebih rendah -18,6% karena laba yang lebih rendah.
Hasilnya, berkaca dari performa tersebut laba sebelum pajak penghasilan INTP sampai kuartal III-2024 terkoreksi sebesar 17% menjadi Rp 1,32 triliun, sehingga turut menggerus laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 16,67% menjadi Rp 1 triliun, dibanding sebelumnya Rp 1,26 triliun.
Ekses lebih lanjut, penurunan laba bersih INTP ini berdampak pada laba per saham dasar INTP yang tertekan dari sebelumnya Rp 369,35 per saham, menjadi Rp 309,86 per saham dasar.
Semen Indonesia
Nasib yang kurang lebih sama juga dialami emiten semen BUMN, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) atau SIG. Performa keuangan SMGR mengalami tantangan akibat kondisi industri domestik yang belum menunjukkan perbaikan signifikan sepanjang Januari-September 2024.
Rinciannya, laba bersih emiten semen BUMN tersebut jeblok sebesar 58% dari semula Rp 1,71 triliun, menjadi Rp 719 miliar imbas dari menurunnya pendapatan SMGR yang semula menghasilkan Rp 27,66 triliun, tapi pada 9M24 hanya mencetak pendapatan sejumlah Rp 26,29 triliun.
Sama seperti INTP, beban pokok pendapatan dan beban lain SMGR seperti beban penjualan juga menjadi penyebab laba perseroan turun pada 9M204 ini. Merujuk pada laporan konsolidasian, beban pokok pendapatan SMGR bertambah menjadi -Rp 20,27 triliun dibanding sebelumnya -Rp 20,22 triliun, sehingga laba kotor SMGR tergelincir menjadi Rp 6 triliun. Diikuti lagi, peningkatan dari beban penjualan sebesar 4,43% menjadi Rp 1,86 triliun.
Sedangkan, dari sisi beban umum dan administrasi, SMGR mampu melakukan sedikit efisiensi dari sebelumnya tekor -Rp 2,28 triliun, menjadi -Rp 2,26 triliun. Termasuk beban keuangan yang pada periode Januari-September 2024 ini lebih kecil menjadi Rp 938 miliar dari sebelumnya Rp 1 triliun. Ditopang dengan penghasilan keuangan yang lebih tinggi menjadi Rp 161 miliar, ketimbang sebelumnya Rp 136 miliar.
Yang membuat laba sebelum pajak SMGR pada sembilan bulan tahun ini lebih rendah menjadi Rp 1 triliun, salah satunya juga bersumber dari beban operasi sebesar Rp 30,41 miliar. Padahal, pada periode sama tahun lalu, perseroan berhasil mencetak pendapatan operasi sebesar Rp 85 miliar.
Sebagai akumulasi dari peningkatan beban tersebut, laba periode berjalan SMGR akhirnya drop sebesar 58% menjadi Rp 741 miliar dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,79 triliun. Sejalan dengan itu, maka laba per saham dasar SMGR turun menjadi Rp 107 per saham dibanding laba per saham dasar sebelumnya Rp 254.
Menurut Sekretaris Perusahaan SMGR, Vita Mahreyni, kondisi industri semen yang belum berdampak pada menurunnya volume penjualan SIG khususnya pada segmen semen kantong. Namun demikian, SIG berhasil mengamankan penjualan di segmen curah sehingga mengalami kenaikan sebesar 3% yoy.
“Di tengah kondisi industri semen domestik yang menantang, SIG mampu mempertahankan capaian kinerja profitabilitas yang positif,” ujar Vita dalam keterangan resminya dikutip, Selasa (5/11/2024).
SMGR optimistis, industri semen domestik masih prospektif didukung oleh komitmen pemerintah melanjutkan proyek IKN dan program tiga juta rumah per tahun. “Program ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan semen yang berkontribusi terhadap pertumbuhan kinerja perusahaan,” tambahnya.
Tidak sampai di situ, Vita melanjutkan, SMGR juga terus fokus mendorong segmen hijau dan produk turunannya yang inovatif dan ramah lingkungan sebagai katalis pertumbuhan kinerja berkelanjutan.
“SIG siap berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk perbankan dalam pembangunan rumah ramah lingkungan melalui fasilitas permodalan bagi para pengembangan properti serta fasilitas pembiayaan (kredit pemilikan rumah/KPR) bagi masyarakat untuk memiliki rumah,” tutup Vita.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News