JAKARTA, investor.id – PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) membuka faktor penentu harga batu bara tetap stabil ke depan. Tak lain dan tak bukan, faktor itu adalah tingginya permintaan batu bara dari China dan India.
Pantas saja, sepanjang semester I-2024, ITMG telah mengekspor batu bara ke China mencapai 40%, Jepang sebesar 17%, Filipina sebesar 6%, Thailand 5%, dan India sebesar 5%. Sedangkan, penjualan batu bara di pasar domestik menyentuh 22%.
Direktur ITMG Julius K. Gozali mengungkapkan, tingginya permintaan batu bara dari China dan India membuat harga batu bara global akan tetap bertahan di level yang kurang lebih sama seperti semester I-2024 sekitar US$ 125-145 per ton.
Perkiraan melonjaknya permintaan batu bara di pasar China ini, kata Julius, karena Negeri Tirai Bambu tersebut bakal memasuki musim dingin dalam waktu dekat. Sementara India, perekonomian negara itu sedang berkembang pesat.
Faktor-faktor inilah yang menurut ITMG membuat harga batu bara stabil, bukan hanya sampai pengujung 2024, tetapi juga hingga tahun depan. “Jadi, untuk 2025, kami perkirakan harga batu bara stabil di level US$ 125-150 per ton. Kami lihat, US$ 125 di sisi downside dan US$ 150 di sisi upside,” ucap Julius.
Faktor lain yang membuat harga batu bara ke depan stabil adalah dari sisi suplai. Julius bilang, saat ini pasokan produksi batu bara dari Indonesia cukup tinggi didukung oleh cuaca yang bagus. Begitupun dengan suplai produksi dari Australia menuju pasar China yang stabil.
Sebaliknya, faktor yang berpotensi menyebabkan harga batu bara global terkoreksi di antaranya situasi-situasi insidental seperti konflik geopolitik yang mengakibatkan suplai batu bara menurun drastis.
Namun bila mengamati situasi terkini, ITMG rupanya cukup optimistis. Tak heran, pada tahun ini, emiten bersandi saham ITMG ini menargetkan penjualan batu bara naik berkisar 24,9 juta ton sampai 25,6 juta ton ketimbang tahun lalu di kisaran 21,5-22,2 juta ton.
Dua Tambang Baru
Sepanjang semester I-2024, volume penjualan batu bara ITMG tercatat sebanyak 10,8 juta ton dan hingga kuartal III-2024, perseroan membukukan penjualan batu bara sebanyak 44%. Dalam proses pengiriman sebesar 35%, dan sebanyak 21% belum terjual.
ITMG membidik target produksi pada kuartal III-2024 ini sebesar 5,6 juta ton. Target tersebut mayoritas akan dikontribusikan dari tambang Bharinto Ekatama yang memproduksi sebanyak 2 juta ton. Sisanya berasal dari Indominco Mandiri sebesar 1,9 juta ton, serta kontribusi dari dua tambang yang baru beroperasi yaitu Graha Panca Karsa (GPK) dan Tepian Indah Sukses (TIS).
Di sisi lain, cadangan batu bara ITMG bertambah sebanyak 93 juta ton dari 281 juta ton, menjadi 375 juta ton. Sumber daya ITMG juga melambung sekitar 60% atau setara 817 juta ton menjadi 2,130 juta ton dari sebelumnya 1,313 juta ton. Pertumbuhan cadangan dan sumber daya ini sekaligus menggarisbawahi keberlanjutan operasional perseroan di masa mendatang.
ITMG membukukan pendapatan sebesar $1.050 juta pada semester-I 2024, terkoreksi 19% secara yoy, akibat harga jual rata-rata batubara (ASP) yang turun 27% sejalan dengan normalisasi harga batu bara global.
Dalam kondisi tersebut, ITMG mencetak laba bersih untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2024 sebesar $129 juta dan mempertahankan neraca keuangan yang sehat dengan posisi kas tetap kuat di angka $877 juta.
Direktur ITMG Junius Prakasa Darmawan menambahkan, sampai akhir Juni 2024, ITMG mencatatkan posisi kas sebesar US$ 877 juta. IMTG bisa dibilang bebas utang karena debt-to-equity ratio (DER) sebesar 0,01x kendati ada kewajiban sebesar US$ 15 juta.
“Jadi, secara kas terhadap aset secara persentase sebesar 41%. Bisa dibilang, dengan mempertimbangkan kas saja, kami dalam posisi yang liquid. Jadi, posisi keuangan ITMG terkait investasi belanja modal (capital expenditure/capex) sampai saat ini masih cukup untuk self-funded,” ungkap Junius.
Sementara untuk menunjang aksi korporasi seperti merger dan akuisisi, Junius menegaskan, hal tersebut bergantung pada aset yang akan dieksekusi. Karena itu, perseroan juga pastinya terbuka terhadap opsi-opsi pendanaan perbankan di luar self-funded.
“Tapi, saya pikir dari sisi perusahaan secara overall posisi keuangan dalam keadaan baik untuk memberikan value terbaik guna mengimbangi strategi strategi dan aksi korporasi ke depan,” tutup Junius.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News