#30 tag 24jam
Hari Kebaya Nasional 24 Juli, Ketahui 9 Faktanya
Salah satunya adalah sejarah kebaya Encim yang berkaitan dengan budaya peranakan yang berkembang di Indonesia. [1,110] url asal
#sejarah-kebaya-kartini #kebaya-kutu-baru #hari-kebaya-nasional #jenis-jenis-kebaya #asal-usul-kebaya #perkembangan-kebaya #kebaya #hari-kebaya-nasional-2024
(Kompas.com) 24/07/24 09:13
v/11899934/
JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia resmi memiliki Hari Kebaya Nasional yang jatuh setiap tanggal 24 Juli usai ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2023.
Tahun ini, masyarakat untuk pertama kalinya merayakan Hari Kebaya Nasional.
Ada beragam fakta seputar kebaya dan penetapan Hari Kebaya Nasional. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut Kompas.com rangkum, Rabu (24/7/2024).
1. Merupakan identitas nasional
Ada sejumlah pertimbangan dalam menetapkan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional. Disadur dari salinan Keppres Nomor 19 Tahun 2023, pertimbangan pertama adalah kebaya merupakan identitas nasional.
Kebaya adalah perekat bangsa yang bersifat lintas etnis, dan telah berkembang menjadi aset budaya yang sangat berharga. Dalam artian, kebaya harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya.
2. Busana untuk berbagai kegiatan
Masih mengutip Keppres Nomor 19 Tahun 2023, pertimbangan lainnya dalam penetapan Hari Kebaya Nasional adalah kebaya sudah berkembang menjadi busana yang digunakan secara nasional.
Kebaya dapat digunakan dalam berbagai kegiatan, baik yang berskala nasional maupun internasional.
3. Terlibatnya perempuan dalam revolusi Indonesia
Pertimbangan terakhir dalam penetapan Hari Kebaya Nasional adalah terlibatnya perempuan dalam revolusi Indonesia. Tanpa keterlibatan perempuan, revolusi Indonesia tidak dapat berjalan.
Ini dinyatakan oleh Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno saat menghadiri Kongres Wanita Indonesia X, yang mana seluruh perempuan yang hadir dalam Kongres memakai kebaya.
dok. Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Ilustrasi wanita sedang mengenakan kebaya.4. Ada campur tangan budaya negara lain
Pegiat kebaya Atie Nitiasmoro mengungkapkan, ada campur tangan budaya negara lain dalam kehadiran kebaya di Indonesia alias telah terjadi proses persilangan budaya yang panjang.
“Kita memang tidak bisa klaim kebaya asli dari Indonesia. Ada (campur tangan budaya) dari Portugis, Cina, Belanda, India, Arab, Persia, dan banyak negara,” ujar dia kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Sebab, dahulu Indonesia merupakan salah satu pusat perdagangan di dunia. Inilah mengapa banyak budaya masuk ke Nusantara, termasuk kebaya.
Lebih lanjut, kata “kebaya” juga bermula dari kata “Cabai”, “Qaba”, “Cambay”, dan “Cambaia”.
“Bentuk awal kebaya pun bukan seperti yang sekarang,” kata Atie.
Semula, kebaya berbentuk blus dengan kerah V. Kemudian, berkembang menjadi baju luaran seperti jaket yang panjangnya hampir menyentuh mata kaki.
Dalam perkembangannya, model kebaya beragam mengikuti karakteristik masing-masing daerah di indonesia.
“Kemudian, beradaptasi selama ratusan tahun sehingga menjadi kebaya seperti saat ini. Nama ‘kebaya’ pun tidak sama di masing-masing daerah. Ada di Aceh namanya khusus, di Padang dan Bali juga,” Atie berujar.
5. Ada peran dari peradaban Islam
Sebelum peradaban Islam memasuki Indonesia, busana perempuan pada umumnya adalah kemben biasa untuk menutup bagian dada. Lalu, kemben dipadukan dengan lilitan kain.
Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Bogor Sitawati Ken Utami menuturkan, busana perempuan mulai lebih tertutup seiring masuknya peradaban Islam.
Mereka tidak lagi hanya menggunakan kemben, tetapi juga melapisi kemben dan menutup bagian tubuh lainnya dengan selendang.
Akan tetapi, selendang kemudian dikreasikan dan dimodifikasi sampai menjadi busana, yakni kebaya.
“Awalnya dari hanya menggunakan kemben itu, diberilah selendang untuk menutupi pundak dan lengan. Lama-kelamaan, selendang ini menjelma menjadi sebuah busana yang kita kenal sekarang sebagai kebaya,” ucap Sita dalam acara Remaja Berkebaya dan Berkain Nusantara di Jakarta Selatan, Sabtu (20/7/2024).
6. Latar belakang kebaya Encim yang unik
Indonesia memiliki beberapa jenis kebaya Nusantara. Masing-masing memiliki ciri khas dan sejarah terciptanya sendiri.
Untuk kebaya Encim sendiri, latar belakangnya cukup unik dan berkaitan dengan budaya peranakan yang berkembang di Indoneia.
Sita menuturkan, dahulu para perempuan keturunan Tionghoa sering melihat para perempuan asli Indonesia, dahulu disebut pribumi, menggunakan kebaya setiap harinya.
Lantaran menjadi tren, mereka juga ingin ikut menggunakannya. Inilah yang melatarbelakangi munculnya kebaya Encim. Bahkan, kata “Encim” sendiri berasal dari bahasa orang peranakan yang artinya “Tante”.
Sebab, kala itu para tante atau orang dewasalah yang mulai terpikat menggunakan kebaya, tetapi dengan ciri khasnya sendiri.
Mereka menyukai warna-warna kain yang cerah dengan hiasan bordir yang ramai. Oleh karena itu, dua hal tersebut menjadi begitu identik dengan kebaya Encim.
“Mereka sukanya warna-warna yang cerah dengan bordir. Jadi, pengaruh Tionghoa, dan dulu disebutnya pribumi ya. Nah, kekhasannya adalah ramai bordir-bordir warna-warni seperti ini,” jelas Sita.
Dok. Instagram @maudyayunda Artis peran dan penyanyi Maudy Ayunda, mengenakan kebaya kutu baru warna merah saat acara kelulusan dari Stanford University, Stanford, California, AS.7. Kebaya Noni dan keturunan Belanda
Para noni keturunan Belanda juga tertarik menggunakan kebaya. Akan tetapi, mereka enggan menggunakan kain dan hiasan kebaya yang sama dengan orang pribumi.
Sebab, saat itu penerapan kasta antara para pribumi dan orang-orang keturunan Belanda masih sangat kuat.
Jadi, mereka memilih menggunakan kebaya putih dengan hiasan renda yang menempel di sekeliling kebaya. Kebaya ini dikenal dengan kebaya Noni.
Menurut Sita, busana para noni Belanda identik dengan renda-renda yang cantik nan mewah. Mereka gemar mengekspresikan kekayaannya melalui busana yang dikenakan setiap hari.
“Kalau dulu, rendanya itu mewah, bahan dasarnya pun mewah ya. Jadi, orang-orang Belanda kan pasti pengin berkebaya juga, dan kelasnya mereka pengin tinggilah ya,” kata dia.
8. Punya ciri khas tersendiri
Beberapa jenis kebaya yang hadir di Nusantara adalah kebaya Kutubaru, Kartini, Encim, Noni, Sunda, dan Labuh. Untuk kebaya Encim dan Noni, ciri khasnya seperti yang telah disebutkan.
Untuk Kutubaru, ciri khasnya adalah lipatan kiri dan kanan yang terhubung dengan bef atau kain kotak tambahan di bagian dada.
Sementara kebaya Kartini, konon katanya terinspirasi dari Raden Ajeng Kartini, memiliki dua lipatan di sisi kanan dan kiri yang disatukan dan tidak memiliki bef lagi.
Kebaya Kartini memberi kesan yang lebih sopan dan tertutup, khususnya di bagian dada.
Sedangkan kebaya Sunda, ciri khasnya tidak menggunakan kerah. Biasanya, kebaya ini memiliki bentuk leher segi lima. Bagian leher dikenal dengan istilah Surawe.
Untuk kebaya Labuh, mereka berbahan songket dan identik dengan panjangnya yang menjuntai sampai lutut.
Instagram.com/therealdisastr Akrtis Dian Sastrowardoyo menggunakan Kebaya Kutubaru saat menjadi dosen tamu di UI.9. Ada kebaya dress untuk Muslimah
Dikutip dari situs resmi Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, saat ini juga ada model kebaya modifikasi. Salah satunya adalah kebaya dress.
Kebaya dress biasanya digunakan oleh para Muslimah. Jadi, desainnya lebih longgar. Bahan yang digunakan juga lebih tebal, sehingga tidak transparan di bagian lengan.
Pegiat Kebaya Sampaikan 3 Nilai Penting Lewat Buku “Kebaya Kaya Gaya”
Melalui buku 'Kebaya Kaya Gaya', para pegiat kebaya mengajak perempuan Indonesia kembali menggunakan kebaya sehari-hari. [563] url asal
#berkebaya #kebaya-modern #kebaya-kutu-baru #hari-kebaya-nasional #kebaya #kebaya-sehari-hari #kebaya-untuk-sehari-hari
(Kompas.com) 22/07/24 20:05
v/11699973/
JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo resmi menetapkan 24 Juli 2024 sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2023.
Menjelang Hari Kebaya Nasional pada Rabu (24/7/2024), sejumlah pegiat kebaya bakal menerbitkan buku setebal 200 halaman bertajuk “Kebaya Kaya Gaya” pada Selasa (23/7/2024).
Adapun, para pegiat kebaya yang terlibat dalam penyusunan buku ini adalah Atie Nitiasmoro, Indiah Marsaban, Rini Kusumawati, Tingka Adiati, dan Elvy Yusanti.
Beberapa waktu lalu, Kompas.com sempat mengobrol dengan Atie mengenai buku tersebut.
Ia mengungkapkan, ada sejumlah nilai yang ingin disampaikan oleh para pegiat kebaya Nusantara kepada masyarakat melalui “Kebaya Kaya Gaya”. Berikut rangkumannya, Senin (22/7/2024).
1. Perjalanan penetapan Hari Kebaya Nasional
Perjalanan menjadikan hari berkebaya sebagai perayaan nasional rupanya cukup panjang.
Bagi Atie sendiri, perjalanan dimulai pada akhir 2014 ketika ia diajak berkumpul dengan pegiat kebaya lainnya.
“Ketika teman saya ajak ikut mereka bikin gerakan berkebaya, untuk masuk komunitas, itu dengan senang hati saya menyambut ajakan dan berkomitmen sampai sekarang,” ucapnya kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Sejak saat itu, Atie dan kawan-kawannya selalu memberi contoh kepada masyarakat tentang penggunaan kebaya sebagai pakaian sehari-hari.
Melalui proses panjang, kampanye menjadikan kebaya sebagai pakaian sehari-hari masif berkat peran dari ratusan pegiat kebaya di Indonesia.
Menurut Atie, mereka pada awalnya mengenakan kebaya ketika beraktivitas sehari-hari, seperti ke kantor atau sekadar hangout.
Komunitas itu perlahan berkembang pesat, termasuk dengan menonjolkan relevansi kebaya di tengah zaman yang modern.
"Efek teman-teman di komunitas berkebaya itu sangat besar,” ucap Atie.
2. Kebaya menjadi pakaian sehari-hari
dok. Atie Nitiasmoro Pegiat kebaya sekaligus istri Duta Besar Indonesia untuk Takhta Suci (Vatikan), Atie Nitiasmoro, tampil dengan kebaya yang digunakannya sehari-hari.Sejak dahulu kala, perempuan Indonesia sudah menggunakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari.
Karena terkikis oleh zaman, hanya sedikit yang masih menggunakannya saat ini.
Melalui “Kebaya Kaya Gaya” para pegiat kebaya ingin mengajak lebih banyak perempuan Indonesia untuk kembali menggunakan kebaya sehari-hari.
“Kembali pakai kebaya, bersenang-senang,” ucap Atie.
3. Percaya diri menggunakan kebaya
Masyarakat perlu ikut menepis anggapan bahwa menggunakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari tergolong kuno, tidak zaman, dan terlihat seperti “mbok-mbok desa”.
Menurut Atie, perempuan Indonesia justru tidak perlu kehilangan percaya diri saat menggunakan kebaya. Sebab, kebaya lebih dari sekadar identitas nasional.
Kebaya adalah salah satu tradisi dan akar budaya Nusantara.
Menggunakan kebaya sehari-hari sama dengan negara-negara maju yang tidak meninggalkan tradisinya di tengah era yang serba modern saat ini.
“Contohnya India yang sampai sekarang masih bangga memakai kain sari, atau Jepang yang tetap bangga dengan kimononya. Sementara kita tahu, Jepang adalah negara yang tingkat kemajuannya lebih dari kita. Itu yang kita harapkan,” Atie berujar.
Sieh dir diesen Beitrag auf Instagram anEin Beitrag geteilt von KOMPAS Lifestyle (@kompas.lifestyle)