JAKARTA, KOMPAS.com - Yayasan Alzheimer Indonesia (Alzi) mengimbau agar pemerintah, melalui pusat-pusat kesehatan, lebih aktif membantu masyarakat dalam proses diagnosa hingga pendampingan bagi pasien dan keluarga yang menghadapi penyakit alzheimer.
Ketua Yayasan Alzi, DY Suharya, menyatakan bahwa Puskesmas seharusnya memberikan layanan primer yang mencakup diagnosa awal serta dukungan bagi keluarga pasien setelah diagnosa diberikan.
"Kalau Puskesmas atau layanan primer itu, mestinya ada layanan diagnosa, dukungan pasca-diagnosa, yaitu keluarga diberikan dukungan untuk konseling," kata DY saat dihubungi, Rabu (25/9/2024).
Menurut DY, peran pusat kesehatan yang proaktif dalam membantu diagnosa dan memberikan layanan pasca-diagnosa sangat penting, khususnya bagi keluarga yang merawat orang dengan alzheimer.
DY juga membagikan pengalamannya dalam merawat sang ibu yang menderita alzheimer. Setiap bulan, ia harus mengeluarkan biaya antara Rp 1.000.000 hingga Rp 30 juta untuk perawatan ibunya. Selain itu, ia harus tinggal di rumah dan tidak bisa bekerja.
"Jadi kalau mereka dibekali bahwa ini 10 gejala alzheimer, lalu mereka tahu apa yang mesti dilakukan dengan tata laksananya."
"Jadi enggak keburu menciptakan keonaran atau tidak adanya damai sejahtera di rumah karena percekcokan banyak terjadi karena sebenarnya otaknya yang menurun fungsinya, tapi keluarga pikir ini orang hanya merepotkan dan sebagainya," ujar DY.