#30 tag 24jam
Sumut dan Bali Jadi Provinsi dengan Pekerja Komuter Terbanyak di Luar Jawa - kumparan.com
Sumut dan Bali Jadi Provinsi dengan Pekerja Komuter Terbanyak di Luar Jawa. [541] url asal
#jurnalisme-data #medan #sumut #bali #komuter
(Kumparan.com) 06/10/24 10:17
v/16050767/
Ni Putu Septiani tinggal di Ubung Kaja, Denpasar Utana, Bali. Tiap harinya, perempuan usia 26 tahun itu berangkat ke Gatot Subroto untuk bekerja sebagai pustakawan di sebuah perusahaan website. Jarak tempuh 12 km ia lalui dengan menggunakan sepeda motor. Setiap minggunya, ia menghabiskan Rp 30 ribu untuk ongkos.
Per harinya, ia mesti menyisihkan total satu jam untuk berpindah dari rumah-kantor dan sebaliknya. Berangkat dari rumah pukul 07.30 dan sampai kantor pukul 08.00. Kemudian ia bekerja hingga pukul 17.00. Dilanjut pulang dan sampai rumah pukul 17.30.
Ia memilih untuk menggunakan sepeda motor untuk menghindari kemacetan. Di Bali, Trans Metro Dewata memiliki 6 rute yang tersebar di Ubud, Tabanan, Denpasar, hingga Kuta Selatan.
Namun, banyaknya rute ini ternyata tidak sesuai dengan letak tempat tinggal dan kantor Septi. Jarak halte terdekat dengan rumahnya adalah 5 km. Ia memilih untuk langsung bepergian dengan motor dibanding menggunakan bus.
Meskipun sudah rutin menggunakan motor selama satu tahun, Septi sangat tertarik menggunakan transportasi umum jika sudah mumpuni karena ia bisa lebih berhemat, dan lebih nyaman. Ia pun ingin menggunakan transportasi umum karena ingin mengurangi emisi karbon.
Menurutnya, saat ini transportasi umum di Bali masih membutuhkan banyak perbaikan, apalagi Bali merupakan destinasi wisata internasional.
“Aku berharap di Bali ini ada pengenalan transportasi karena Bali sebagai pariwisata sudah semakin ramai. Cuma kondisi yang seperti ini tidak mungkin semua orang punya transportasi pribadi. Makanya, perlu kolaborasi dari segala pihak dari pemerintah, swasta, sama masyarakat itu sendiri. Tentu transportasi umum seperti TemanBus ini perlu ditingkatkan lagi kenyamanannya, efisiensinya, dan juga rasa percaya masyarakat menggunakan transportasi," kata dia, Jumat (27/9).
Sama seperti Septi, Febiola (25) pun setiap harinya bepergian menggunakan sepeda motor. Bedanya, ia tidak pergi ke kantor. Karena setiap hari ia pergi liputan, ia langsung berangkat ke lokasi liputan.
Jika tidak ada liputan di hari itu, Febi tetap pergi menuju kantor Wali Kota Medan agar jika dibutuhkan untuk meliput peristiwa, ia bisa dengan cepat sampai di tempat.
Jarak yang ia tempuh dari rumah sampai kantor wali kota adalah 10 km yang ia lalui selama 30 menit perjalanan. Sama dengan Septi, Febi menggunakan sepeda motor. Febi menghabiskan Rp 10 ribu per harinya untuk ongkos. Setiap harinya, ia keluar dari rumah pukul 09.00 pagi dan kembali pukul 07.00 malam.
Di Medan juga sudah tersedia TransMetro Deli, tetapi Vosa tetap memilih menggunakan sepeda motor karena bus itu tidak menjangkau daerah rumahnya, serta dirinya memang jarang menjangkau lokasi yang biasa ia kunjungi untuk liputan.
Statistik Pekerja Komuter di Indonesia
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, jumlah komuter di Indonesia berada di angka 7,4 juta orang. Tren ini menurun dibandingkan tahun 2022 yang mencapai 8,1 juta orang.
Dari 10 provinsi dengan komuter terbanyak, 5 di antaranya berada di Pulau Jawa. Posisi keenam ditempati provinsi pemilik kota metropolitan Medan, yaitu Sumatera Utara.
Jenis pekerjaan yang meraup banyak pekerja komuter adalah sektor jasa dan penjualan, sebanyak 1.731.600 orang merupakan pekerja komuter untuk sektor ini. Sedangkan sektor pekerjaan paling sedikit pekerja komuternya adalah TNI-Polri dengan 96.200 orang.
Komuter adalah istilah bagi orang yang melakukan perjalanan lintas kabupaten/kota dalam kurun waktu kurang dari 24 jam untuk bekerja, sekolah, atau aktivitas lainnya. Kebanyakan dari pekerja komuter mengandalkan kendaraan pribadi untuk pergi dari rumah ke tempat aktivitasnya.
Tren Pekerja Komuter di RI Turun, Pekerja Sirkuler dan Migran Risen Meningkat - kumparan.com
Tren Pekerja Komuter di RI Turun, Pekerja Sirkuler dan Migran Risen Meningkat [1,187] url asal
#jurnalisme-data #komuter #pekerja
(Kumparan.com) 06/10/24 10:01
v/16050773/
Rinaya (21) dan Fauzan (22) adalah dua orang di antara 4 juta warga Jabodetabek yang menjalankan hari-harinya sebagai seorang komuter. Sejak Februari hingga Juni lalu, mereka aktif berkomuter dari Kota Bogor dan Kabupaten Bogor ke kantor mereka di daerah Karet.
Tiap harinya, Rinaya harus menempuh 56 km dari rumahnya di Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur. Sedangkan Fauzan, harus menempuh jarak 41 km dari Metland Cileungsi. Keduanya mengandalkan KRL sebagai alat transportasinya ke kantor.
Mereka menghabiskan waktu rata-rata 2,5 jam untuk satu kali perjalanan. Ongkos yang harus dikeluarkan Rinaya untuk sekali perjalanan berkisar 25-30 ribu. Ongkos itu termasuk ongkos ojek online sekitar 20 ribu dari rumah hingga stasiun KRL terdekatnya, yaitu Stasiun Bogor. Sisanya adalah ongkos yang harus dikeluarkan untuk KRL atau TransJakarta menuju kantornya.
Saat berangkat ke kantor, Rinaya tidak menemukan kendala yang berarti di KRL karena jam masuk kantornya di sekitar jam 1 siang. Namun, saat pulang pada pukul 7 malam, ia harus berhadapan dengan lautan manusia di Stasiun Manggarai.
“Kadang, kalau misalkan gue udah enggak sanggup gitu, gue udah pengen duduk banget di kereta gitu aja. Jadi gue naik kereta ke arah Jakarta Kota. Terus, sampai Jakarta Kota, yaudah gue di situ aja, sampai keretanya jalan lagi ke Bogor, jadi gue nggak turun kereta,” tutur Rinaya, Jumat (27/9).
Fauzan yang tinggal di Cileungsi terkadang pergi ke kantor menggunakan KRL ataupun LRT. Menurutnya, LRT sangat membantu aktivitas bepergiannya. Dari rumah, ia naik motor ke stasiun LRT Harjamukti dan bisa langsung turun di stasiun akhir Dukuh Atas.
“Sekarang alhamdulillah sudah ada LRT di Cibubur. Jadi dari Cileungsi, gue kan naik motor dulu tuh ke Harjamukti. Baru gue bisa naik LRT. Kalau gak ada LRT, gue dari Cileungsi tuh naik bus ke Tanah Abang dulu. Itu naik bus 20 ribu. 20 ribu apa 30 ribu gitu. Kalau nggak ada LRT itu lebih mahal lagi, karena memang susah transportasi umumnya,” tutur Fauzan.
Sama-sama tinggal di daerah Bogor, Khairunnisa (22) memilih jalan yang berbeda dengan Rinaya dan Fauzan. Ia memilih untuk menetap di indekos di daerah Cawang UKI untuk mencapai tempatnya beraktivitas tiap harinya.
Menurutnya, Cawang UKI menjadi pilihan yang tepat karena letaknya yang mudah diakses dari mana pun. Tiap harinya ia pergi ke kantor di Tendean atau tempat liputannya menggunakan TransJakarta.
Sejak awal diterima magang pada Februari lalu, ia sudah mantap untuk memilih tinggal di indekos di Jakarta dibanding harus pulang-pergi Bogor-Jakarta. Jarak rumah ke kantornya adalah 72 km. Stasiun terdekat dari rumahnya adalah stasiun Bogor, tetapi itupun jaraknya 12 km.
Satu bulannya, ongkos yang ia keluarkan untuk TransJakarta dari halte Cawang Central ke kantornya berkisar Rp200-300 ribu. Ia telah mengkalkulasi ongkos yang harus ia keluarkan jika tidak menetap di Jakarta. Berdasarkan perhitungannya, jika ia memilih untuk PP, ongkos yang harus ia keluarkan per harinya adalah Rp87 ribu.
“Gue lebih mending ngekos Rp 2 juta 2 ratus ribu per bulannya dibanding harus PP 3 jam 40 menit ke kantor,” kata Khairunnisa kepada kumparan, Rabu (02/10).
Statistik Mobilitas Tenaga Kerja di Indonesia
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), status mobilitas spasial pekerja di Indonesia dapat dibedakan menjadi mobilitas permanen dan nonpermanen. Mobilitas permanen adalah perpindahan pekerja ke tempat lain dengan tujuan menetap dalam waktu satu tahun atau lebih.
Dalam mobilitas permanen dikenal istilah migran risen. Migran risen adalah sebutan bagi penduduk bekerja berusia 15 tahun ke atas yang 5 tahun sebelum pendataan tinggal di luar kabupaten/kota tempat tinggal sekarang.
Migran risen di Indonesia meningkat dari tahun 2022 ke 2023. Semula tercatat sebesar 2,8 persen dari seluruh penduduk yang bekerja. Pada 2023, angka ini meningkat menjadi 3,1 persen. Peningkatan terbesar pekerja migran risen terjadi di Provinsi Sumatra Barat. Sedangkan, provinsi dengan persentase migran risen terendah adalah Provinsi Papua.
Provinsi dengan pekerja migran risen terbesar adalah Jawa Tengah. Setidaknya, satu dari lima pekerja migran risen di Indonesia tercatat berada di Provinsi Jawa Tengah. Angka ini diikuti oleh Jawa Barat dan Jawa Timur. Dari data ini, dapat disimpulkan bahwa Pulau Jawa masih menjadi tujuan utama para pekerja migran risen dari Jawa maupun pulau lainnya.
Pada 2023, terdapat kurang lebih 4.357.300 pekerja migran risen. Sebanyak 27,7 persen di antaranya bekerja pada sektor jasa dan penjualan. Kemudian disusul oleh pekerja kasar. Bidang pekerjaan yang paling sedikit digeluti pekerja migran risen adalah TNI-POLRI dengan angka 1,2 persen.
Mobilitas nonpermanen dibedakan menjadi mobilitas komuter dan sirkuler. Komuter adalah perpindahan pekerja dari rumah ke tempat kerja, lalu kembali ke rumah dalam waktu kurang dari satu hari.
Sedangkan sirkuler adalah perpindahan pekerja dari rumah ke tempat kerja, tetapi kembali ke rumah lebih dari satu hari. Pekerja komuter dan sirkuler termasuk ke dalam kelompok movers. Sedangkan pekerja yang tidak melakukan perpindahan antarkota untuk mencapai tempat bekerjanya dinamakan stayers.
Per 2023, total terdapat 139,85 juta orang yang bekerja di Indonesia. Mayoritas dari pekerja itu merupakan stayers dengan persentase 92,5 persentase dari total pekerja di Indonesia. Kelompok movers didominasi oleh komuter dan paling sedikit adalah kelompok sirkuler.
Meski demikian, kelompok sirkuler faktanya mengalami kenaikan dibanding tahun 2022. Uniknya, komuter justru berkurang dari tahun sebelumnya. Tren kenaikan jumlah pekerja sirkuler erat kaitannya dengan keberadaan pusat ekonomi regional.
Pekerja sirkuler cenderung bergerak menuju peluang ekonomi yang lebih besar. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan lapangan kerja yang lebih beragam, peluang pertumbuhan karier yang lebih baik, dan infrastruktur yang lebih baik.
Alasan lainnya adalah pendapatan yang lebih tinggi, akses ke layanan pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial yang lebih dinamis juga memegaruhi keputusan pekerja berpindah ke daerah pusat ekonomi.
Dari total 3.151.900 pekerja yang merupakan pekerja sirkuler, provinsi yang memiliki jumlah pekerja sirkuler terbanyak adalah Jawa Barat. Sebanyak 27,5 persen pekerja sirkuler tinggal di sana. Setengah dari 10 posisi terbanyak pekerja sirkulernya berasal dari provinsi di Pulau Jawa. Sisanya dari Sumatra dan Sulawesi.
Sebanyak 25,3 persen pekerja sirkuler di Indonesia bekerja sebagai pekerja kasar. Diikuti dengan sektor usaha dan penjualan. Sama dengan pekerja migran risen, TNI-POLRI menduduki peringkat terakhir dengan hanya 31.519 orang pekerja sirkuler.
Kelompok movers terakhir adalah komuter. Tahun 2023 tercatat ada 7.384.300 orang yang merupakan pekerja komuter. Secara umum, jumlah pekerja komuter di Indonesia menurun. Tahun 2022 komuter di Indonesia berjumlah 8,1 juta orang yang terpusat di Pulau Jawa.
Tetapi, jika dibandingkan dengan 2022, hanya 5 dari 34 provinsi di Indonesia mengalami penurunan jumlah komuter.
Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah komuter terbesar dengan 1,9 juta orang atau 26,5 persen mengalami penurunan yang paling signifikan. Penurunan jumlah komuter ini sebanyak 2,5 persen atau 385 ribu orang.
Selain Pulau Jawa, kegiatan komuter terbesar ada di Provinsi Sumatra Utara, Lampung, Bali, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Sebanyak 1.731.600 pekerja komuter bekerja di sektor jasa dan penjualan. Sama dengan migran risen dan sirkuler, pada pekerja komuter sektor pekerjaan paling sedikit adalah TNI-POLRI dengan hanya hanya 96.200 orang di dalamnya.
Secara garis besar, persentase pekerja migran risen, sirkuler, maupun komuter paling sedikit ada di kawasan timur Indonesia. Pekerja di Indonesia terpusat di Pulau Jawa karena 55,9 persen penduduk Indonesia bertempat tinggal di Pulau Jawa. Selain itu, 57,8 persen Produk Domestik Bruto (PDRB) juga dihasilkan dari Pulau Jawa.
Reporter: Aliya R Putri
Balada Pekerja Komuter Jabodetabek: Pergi Gelap Pulang Gelap, Badan Pegal-pegal - kumparan.com
Perjuangan Pekerja Komuter di Jakarta: Pergi Gelap Pulang Gelap [511] url asal
#jurnalisme-data #komuter #jabodetabek
(Kumparan.com) 06/10/24 09:30
v/16050779/
Riri (21) adalah satu dari 4 juta warga Jabodetabek yang menjalani hari-hari sebagai komuter. Komuter merupakan seseorang yang melakukan pergerakan penduduk harian dengan melewati batas administrasi kabupaten/kota tempat tinggalnya.
Mahasiswi asal Tangerang Selatan itu kini magang di Cakung, Jakarta Timur. Sehari-hari, dia berangkat naik KRL sejak pukul 05.00 pagi supaya bisa sampai kantor pukul 07.30 WIB. Begitu pun saat pulang, dia sampai rumah pukul 19.30 WIB setelah jalan pukul 16.30 WIB.
Total jarak yang dia tempuh selama pulang pergi mencapai 70 km. Sementara itu, total ongkos yang perlu dikeluarkannya mencapai Rp 60 ribu dalam sehari. Rutenya dari Stasiun Rawa Buntu ke Stasiun Buaran. Belum lagi ojek online dari rumah ke stasiun dan dari stasiun ke kantor.
“Jujur, kalau capek, capek, cuma kayaknya cuma minggu-minggu pertama deh tadi, yang Minggu misalnya pas gue on-boarding itu kan kaget banget ya. Dari yang gue liburan, tiba-tiba gue bangun pagi itu kerasa capeknya. Cuman kesini sih, makin kesini nggak kerasa. Ya udah, kayak udah jadi rutinitas aja gitu,” jelas Riri kepada kumparan, Jumat (27/9).
Data Pekerja Komuter di Jabodetabek
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, jumlah penduduk yang melakukan komuter di Jabodetabek hampir 4,5 juta penduduk. Angka ini terdiri dari 3,6 juta komuter yang bekerja dan 800 ribu komuter yang bersekolah.
Adapun wilayah dengan persentase komuter terbanyak di Jabodetabek adalah Kota Depok (24,5%) dengan total penduduk yang melakukan perjalanan komuter sebanyak 485.355 orang. Disusul oleh Kota Bekasi (19,2%) dengan total komuter sebanyak 466.260 orang. Wilayah dengan komuter paling sedikit di Jabodetabek adalah Kabupaten Tangerang (9%) yang setara dengan 279.111 orang.
Komuter di Jabodetabek memiliki tujuan yang berbeda-beda untuk sampai di tujuan kegiatannya. Namun, didominasi oleh komuter yang bekerja.
Komuter di Jabodetabek didominasi oleh rentang usia 15 hingga 44 tahun sebanyak 3.178.780 orang. Sisanya adalah komuter berusia di atas 25 tahun. Perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan komuter di Jabodetabek adalah 2:1.
Di Jabodetabek, mayoritas komuter menggunakan kendaraan pribadi untuk pulang dan pergi ke tempat aktivitasnya. BPS menyebut bahwa sebanyak 79 persen atau 3,48 juta warga Jabodetabek memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang transportasi umum.
Sementara itu, komuter yang menggunakan transportasi umum mencapai 19,5 persen atau 861 ribu orang.
Pekerja komuter di Jabodetabek kebanyakan menghabiskan waktu 30 menit hingga 1 jam untuk menuju tempat beraktivitasnya.
Ongkos yang dikeluarkan pekerja komuter tiap harinya dapat diklasifikasikan menjadi 5 kategori. Kategori terbanyak adalah mereka yang mengeluarkan lebih dari Rp 25 ribu per harinya.
Sebanyak 60,2 persen komuter di Jabodetabek menempuh perjalanan kurang dari 20 km dari rumah sampai tempat aktivitasnya. Sisanya harus menempuh lebih dari 20 km untuk sekali perjalanan.
Sebanyak 91,3 persen komuter di Jabodetabek mengeluhkan gangguan kesehatan fisiknya. Kebanyakan komuter mengeluh pegal-pegal dan masuk angin.
Dalam melakukan perjalanan ke tempat aktivitasnya, mayoritas komuter Jabodetabek pernah merasakan ketidaknyamanan. Kebanyakan pernah merasakan kemacetan parah. Sebanyak 2.971.705 komuter pernah merasakan kemacetan parah. Bahkan, 3,8 persen dari total komuter di Jabodetabek pernah mengalami tindak kejahatan dan pelecehan seksual.
Reporter: Aliya R Putri
Isuzu Sebut Bus Komuter Listrik Cocok Buat di Indonesia
Kendaraan niaga yang saat ini paling “masuk akal” untuk beroperasi ialah bus listrik perkotaan atau komuter yang punya rute pasti. Halaman all [375] url asal
#komuter #truk #bus-listrik #bus #truk-listrik #isuzu
(Kompas.com) 21/07/24 08:42
v/11518127/
TANGERANG, KOMPAS.com - Isuzu sudah memperkenalkan truk listrik Isuzu Elf EV di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024. Namun, Isuzu belum menjual untuk umum.
Yusak Kristian Solaeman, Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), mengatakan, pihaknya masih melakukan studi terhadap kebiasaan pemakaian truk listrik di Indonesia.
Menurut Yusak kendaraan niaga yang saat ini paling “masuk akal” untuk beroperasi ialah bus listrik perkotaan atau komuter yang punya rute pasti bukan truk listrik logistik angkut beban.
Dok. PT IAMI PT IAMI menampilkan secara perdana ekosistem konsep kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang dimiliki oleh Isuzu pada ajang GIIAS 2024.“Di Indonesia sebetulnya yang juga sudah kita lihat sekarang itu transportasi publik,” ujar Yusak yang ditemui di ICE BSD CIty, Tangerang, Kamis (18/7/2024).
“Seperti bus kota karena rutenya sudah pasti, dan itu sudah lumayan banyak dan berjalan cukup baik,” katanya.
Alasan Yusak, kuncinya ialah rute yang sudah pasti. Hal ini berbeda dengan truk listrik untuk logistik yang rutenya bisa berubah dan bobot muatannya juga sering berbeda-beda.
“Karena rutenya sudah pasti dan tidak mungkin di titik mana dia mencar-mencar. Jadi dia sudah tahu nanti kapan harus charging, nanti jalan lagi,” ujar Yusak.
KOMPAS.com/Gilang Satria Isuzu menampilkan Isuzu Elf EV di GIIAS 2024“Sebetulnya kuncinya ialah yang rutenya pasti. kalau angkutan kalau muatannya hari ini penuh besok ternyata cuma setengah, itu saja sudah beda untuk konsumsi baterainya,” katanya.
Bus listrik kata Yusak, bisa dihitung kapsitas maksimal dan jarak tempuh per hari. Hal ini memudahkan sopir untuk mempertimbangkan waktu yang tepat untuk isi daya baterai.
“Sedangkan kalau transportasi publik sudah bisa dihitung dari kapasitas maksimal berapa, kemudian rute (jarak tempuhnya) juga bisa dihitung,” ujarnya.