JAKARTA, investor.id – PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) atau BFI Finance melaporkan laba bersih mencapai Rp 685,79 miliar atau menyusut 19,16% year on year (yoy) pada semester I-2024. Hasil ini tidak terlepas dari keputusan perusahaan menjadi lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan.
Mengacu laporan keuangan BFI Finance yang dirilis pada Jumat (26/7/2024), piutang pembiayaan bruto tercatat stagnan atau hanya bertumbuh 0,06% (yoy) menjadi Rp 28,20 triliun pada semester I-2024.
Secara neto, piutang pembiayaan dari emiten multifinance bersandi BFIN ini bahkan turun 0,48% (yoy) menjadi Rp 20,88 triliun. Angka ini jauh tertinggal dari rata-rata piutang pembiayaan industri multifinance yang tumbuh dalam kisaran tinggi yakni 11,21% (yoy), diperti laporan terakhir dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kinerja pembiayaan tersebut tak lepas dari kebijakan perusahaan untuk lebih selektif dan terukur dalam menyalurkan pembiayaan baru (new booking). Adapun pembiayaan baru yang disalurkan dilaporkan mencapai Rp 9 triliun pada semester I-2024.
Realisasi nilai pembiayaan baru lebih rendah sekitar 12% dari semester I-2023 yang mencapai Rp 10,3 triliun. Padahal sebelumnya pada semester I-2022 lalu, pembiayaan baru BFIN melompat tinggi hingga 40%.
Keputusan lebih selektif ini bukan tanpa hasil. BFI Finance berhasil memperkuat kualitas pembiayaan, dimana pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) turun secara bruto dari 1,94% menjadi 1,47%, serta secara neto dari 0,79% menjadi 0,29%. Adapun cakupan penyisihan tercatat sebesar 2,6 kali NPF bruto perusahaan
Ini juga menjadi penanda portofolio pembiayaan perusahaan menjadi semakin sehat dan berkualitas. Apalagi jika dibandingkan dengan rata-rata industri multifinance yang punya NPF bruto sebesar 2,77% dan NPF neto 0,84% pada Mei 2024.
Direktur Keuangan BFI Finance, Sudjono menyatakan, beragam faktor mewarnai tengah tahun pertama 2024. Momentum pemilu, Ramadan dan hari-hari besar tanggal merah, sampai faktor geopolitik ikut memengaruhi daya beli dan sedikit banyak ikut memengaruhi pencapaian kinerja kami selama semester I-2024.
“Dalam menyiasati hal tersebut, penyaluran pembiayaan dilakukan dengan lebih selektif serta melakukan diversifikasi produk guna menjaga kualitas portofolio kredit,” ungkap Sudjono melalui keterangan tertulis, Jumat (26/7/2024).
Pendapatan Kena Imbas
Dari perkembangan perkembangan bisnis pembiayaan tersebut, BFI Finance hanya menerima jumlah pendapatan mencapai Rp 3,10 triliun. Angka ini sedikit lebih rendah 2,84% (yoy) pada semester I-2024.
Sedangkan beban bunga dan keuangan mampu dikelola cukup memadai dengan pertumbuhan tipis 1,26% (yoy) menjadi Rp 470,62 miliar. Ini jadi pencapaian tersendiri di tengah rezim suku bunga tinggi dengan jangka waktu lama (higher for longer).
Keuntungan perusahaan ikut terpangkas imbas provisi yang meningkat. Tercermin dari beban cadangan kerugian penurunan nilai dari piutang pembiayaan yang naik 8,18% (yoy) menjadi Rp 482,28 miliar.
Dengan demikian, laba bersih BFIN dibukukan turun 19,16% (yoy) pada semester I-2024, dari Rp 848,39 miliar menjadi Rp 685,79. Ini membuat nilai laba per saham dasar sebesar Rp 46.
Dilihat dari managed receivables, porsi pembiayaan kendaraan bermotor masih menempati komposisi terbanyak, yakni 76,3% untuk pembiayaan kendaraan roda dua dan empat.
Lainnya, pembiayaan alat berat dan mesin mengambil porsi 14,9%, pembiayaan beragun sertifikat properti 4,4%, serta pembiayaan lainnya 4,3% termasuk pembiayaan syariah yang menorehkan pertumbuhan impresif sebesar 39,2% (yoy).
Di sisi lain, BFI Finance mencatat financing to asset ratio (FAR) sebesar 86,32%. Dengan net gearing ratio masih menunjukkan tren positif, yakni 1,2 kali atau jauh di bawah batas maksimum 10 kali.
Editor: Prisma Ardianto (redaksi@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News