JAKARTA, investor.id - PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mengumumkan kinerja keuangan dan operasional selama sembilan bulan tahun ini. Beberapa poin penting di antaranya meliputi laba bersih MEDC yang naik sebesar 12,75% dari US$ 242 juta, menjadi US$ 273 juta atau setara Rp 4,28 triliun dan pembayaran dividen interim sebesar Rp 15,75/saham pada (1/11/2024) dari total dividen yang disebar tahun ini sebesar US$ 70 juta atau ekuivalen Rp 1 triliun.
Direktur Utama Medco Energi Hilmi Panigoro mengaku bersyukur dengan hasil operasional dan keuangan perseroan. “Upaya berkelanjutan MedcoEnergi untuk mendukung masa depan energi yang berkelanjutan, dikombinasikan dengan dedikasi kami untuk mematuhi praktik terbaik ESG internasional, telah mendapatkan pengakuan positif dari para investor dan lembaga pemeringkat,” ujar Hilmi dalam keterangan resminya dikutip, Jumat (1/11/2024).
Mengacu pada ikhtisar keuangan perseroan, hingga kuartal III-2024, emiten dengan kode saham MEDC tersebut berhasil mencatatkan Ebitda sebesar US$ 979 juta dan laba bersih sebesar US$ 273 juta dengan Return on Equity (RoE) salah satu yang terbaik di industri sebesar 16%.
“Kontribusi laba bersih dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar US$ 129 juta, meningkat US$ 116 juta dari tahun sebelumnya,” tulis Manajemen MEDC dikutip, Jumat (1/11/2024).
Untuk AMMN sendiri, Manajemen MedcoEnergi menyebut, anak usahanya itu telah memproduksi tembaga sebanyak 335 Mlbs sampai kuartal III-2024, atau 68% lebih tinggi ketimbang tahun lalu dengan harga tembaga saat ini sebesar US$ 4,2/lbs. Bukan hanya produksi tembaga yang naik, produksi emas AMMN bahkan melonjak sebesar 173% menjadi 708 Koz dibanding tahun lalu.
Kemudian, utang bersih MEDC terhadap Ebitda sebesar 1,7x, serta kas dan setara kas mencapai US$ 672 juta. Adapun, dari sisi produksi minyak dan gas (migas) MEDC sudah berada di atas panduan sebesar 153 mboepd dengan harga minyak rata-rata terealisasi sebesar US$ 80/bbl.
Dari sisi capex, Manajemen MEDC bilang, perseroan sudah merealisasikan sebesar US$ 300 juta sampai kuartal III-2024 terutama dialokasikan untuk pengembangan baru di Natuna, Corridor, Oman 60 dan Ijen.
MEDC juga melaporkan keberhasilannya melunasi utang restricted group sebesar US$ 2,8 miliar dengan US$ 107 juta dalam sembilan bulan tahun ini, di mana sebagian diimbangi dengan revaluasi mata uang sebesar US$ 42 juta. Tak kalah penting, Manajemen MEDC juga menyatakan, lembaga pemeringkat kredit, Moody's, telah merevisi outlook menjadi B1 positif mengikuti peningkatan serupa dari S&P dan Fitch Credit Ratings menjadi BB-.
Ikhtisar Operasional
Sementara pada ikhtisar operasional, MEDC melaporkan telah memproduksi migas 153 mboepd. Capaian ini lebih rendah ketimbang produksi migas pada 2023. Penurunan produksi tersebut, ujar manajemen, akibat berkurangnya hak kelola corridor dan divestasi Vietnam. Meski demikian, perseroan megimbangi kekurangan tersebut dengan mengakuisisi Oman.
Manajemen MEDC menyebut, produksi perseroan terdiri dari 27% minyak dan 73% gas. Biaya unit produksi sebesar US$ 7,7 per boe dan capex sebesar US$ 249 juta.
Lebih jauh, manajemen melaporkan, MEDC sudah mulai mengoperasikan beberapa proyek baru pada kuartal III-2024 dengan Corridor Suban 27, Madura Meliwis, dan platform Natuna West Belut yang mendukung pengiriman gas pertama di bawah kontrak baru.
Ditambah lagi, MedcoEnergi sudah mendapatkan blok eksplorasi baru yaitu PSC Amanah yang berlokasi di lepas pantai Sumatra Selatan, berdekatan dengan PSC Corridor dan South Sumatra yang sudah beroperasi.
Dari sisi operasi bisnis ketenagalistrikan, Medco Power menyampaikan, perseroan telah menghasilkan penjualan sebesar 2.961 GWh, yang mana sebesar 21% berasal dari sumber energi terbarukan (EBT). Penjualan bisnis ketenagalistrikan MEDC tergerus dari tahun ke tahun akibat shutdown operasi PLTGU Riau pada Agustus lalu.
Capex listrik mencapai US$ 51 juta sampai kuartal III-2024. Capex tersebut digunakan untuk melanjutkan pengembangan tahap pertama Panas Bumi Ijen, proyek PLTS Bali Timur 25 MWp dan ekspansi ELB Batam menjadi CCPP.
Realisasi lainnya, konsorsium Pacific Medco Solar Energy sudah menerima Conditional License dari Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) untuk mengimpor 600 MW tenaga surya ke Singapura. Termasuk, Medco Power sudah mengantongi izin eksplorasi panas bumi (PSPE) di Samosir, Sumatra Utara, yang berlokasi dekat dengan operasi Sarulla yang eksisting.
Panduan 2025
Tahun depan, MEDC berencana memproduksi migas sebesar 145-150 mboepd sesuai panduan. Berikutnya, penjualan ketenagalistrikan sebesar 4.500 GWh, biaya produksi migas di bawah US$ 10/boe dan capex migas sebesar US$ 400 juta dan ketenagalistrikan sebesar US$ 30 juta.
Chief Executive Officer MedcoEnergi Roberto Lorato, mengaku senang mengumumkan kinerja operasional dan keuangan perseroan yang solid pada kuartal III-2024. Ini tidak lepas dari keberhasilan MEDC menuntaskan proyek-proyek utama di Suban, Meliwis, dan West Belut.
“Kami juga melanjutkan pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi Ijen dan PLTS Bali, serta mendapatkan Conditional License untuk mengimpor 600 MW tenaga surya melalui konsorsium Pacific Medco Solar Energy,” tandas Roberto.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News