#30 tag 24jam
Anak Asuhnya Raih Perunggu, Ini Saran Rexy Mainaky Agar Malaysia Bisa Dapat Emas Olimpiade
Rexy Mainaky saat ini adalah pelatih bulu tangkis timnas Malaysia. [498] url asal
#malaysia #netizen-malaysia #netizen-malaysia-vs-indonesia #netizen-malaysia-nyinyir #malaysia-vs-indonesia #rexy-mainaky #olimpiade #emas #noordin-m-top
(Republika - News) 16/08/24 11:52
v/14481907/
REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Peraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996, Rexy Mainaky kini menjadi pelatih bulu tangkis Malaysia. Di Olimpiade Paris 2024, anak asuh Rexy, pasangan ganda putra, Aaron Chia-Soh Wooi Yik.
Sepulangnya dari Paris, Rexy dalam konferensi pers di Kuala Lumpur, Malaysia belum lama ini ditanya oleh wartawan apa yang harus dilakukan Malaysia khususnya di badminton agar ke depannya bisa meraih medali emas olimpiade. Rexy pun tak sungkan menyarankan negara jiran itu mencontoh negara tetangga lain seperti Filipina yang sukses maraih emas dengan tidak mengandalkan satu cabang olahraga (cabor) saja.
"Jaid di masa depan, jangan hanya mengandalkan dari badminton. Kenapa kita tidak fokus ke olahraga yang bisa menghasilkan medali emas," kata Rexy, dikutip dari rekaman video wawancara yang beredar luas di media sosial.
Rexy menyebut cabor seperti atletik, renang, hingga senam adalah cabor-cabor yang menyediakan banyak medali emas dalam tiap olimpiade. Di cabang itu, kata Rexy, Malaysia bisa memfokuskan atlet tertentu untuk dilatih secara khusus.
"Satu atlet mungkin, ok renang. Anda anggarkan uang untuk selain badminton, dan anda kirim mereka ke AS untuk berlatih untuk olympics. Satu orang bisa berkompetisi untuk lima medali emas (yang tersedia) mungkin dia bisa raih satu (emas)," kata Rexy.
"Kita hanya mengharapkan badminton (meraih emas) itu yang terjadi sekarang. Kita lihat Filipina, terakhir mereka dapat dari angkat besi, sekarang dari renang."
Sebelumnya, akademisi dari Universitas Teknologi Mara (UiTM) Shah Alam, Mohd Sadek Mustafa juga berpandangan, sudah tiba saatnya bagi Malaysia untuk melirik cabang olahraga lain daripada hanya fokus ke cabang olahraga tertentu yang populer. Ia berpandangan, Malaysia perlu menjadikan negara tetangga seperti Indonesia sebagai contoh, yang mampu meraih emas dari panjat tebing dan angkat besi, saat bulu tangkis tidak bisa meneruskan tradisi emas.
"Kita tak usah pergi jauh dan jadikan Indonesia sebagai contoh. Olimpiade ini (Paris 2024) mereka tak dapat emas dari badminton tapi dapat dari angkat besi dan panjat dinding," kata Mustafa dikutip Bernama, Senin (12/8/2024).
“Kita juga boleh melirik olahraga-olahraga berpotensi meraih emas seperti kano dan kayak, karena kita ada atlet-atlet berbakat dan fasilitas yang bagus. Olahraga itu tidak bertumpu pada aspek fisik tapi juga teknologi alat bantu olahraga itu," ujarnya menambahkan.
Di Olimpiade Paris 2024, Malaysia 'hanya' berhasil meraih dua medali perunggu dari cabang bulu tangkis. Yakni dari tunggal putra Lee Zii Jia dan pasangan ganda putra Aaron Chia-Soh Wooi Yik.
Raihan medali dari tiap olimpiade membuat Malaysia memperpanjang masa paceklik medali emas meski sudah hampir 70 tahun mengikuti pesta olahraga empat tahunan itu. Pencapaian di Paris 2024 bahkan dinilai masih kurang memuaskan dibandingkan edisi Olimpiade Tokyo, di mana Malaysia masih mampu meraih satu perak yang diraih Mohd Azizulhasni dan satu perunggu dari Aaron-Wooi Yik.
Jika Malaysia pulang dari Paris tanpa medali emas, sementara kontingen Indonesia berhasil membawa pulang dua emas dan satu perunggu. Para peraih medali Olimpiade Paris 2024 dari kontingen Indonesia adalah Veddriq Leonardo (panjat tebing) dan Rizki Juniansyah (angkat besi) yang masing-masing membawa satu medali emas dan Gregoria Mariska Tunjung (bulu tangkis) dengan medali perunggu.
Keributan Warganet RI-Malaysia Soal Emas Olimpiade Masih Berlanjut, Noordin M Top Terseret
Warganet Malaysia pamer layanan autogate di Schiphol meski negaranya tak meraih emas. [647] url asal
#netizen-malaysia #netizen-malaysia-vs-indonesia #malaysia-vs-indonesia #malaysia-tanpa-emas #olimpiade-paris-2024 #olimpiade-paris #paris-2024 #warganet-malaysia
(Republika - News) 14/08/24 10:51
v/14402529/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polemik kegagalan Malaysia meraih emas di Olimpiade Paris 2024 hingga kini masih menjadi bahan polemik warganet di media sosial X. Nama gembong teroris Noordin M Top sampai ikut terseret.
'Keributan' bermula saat seorang warganet Malaysia memamerkan foto jalur kedatangan di Bandara Schiphol, Belanda di mana negara jiran itu menjadi salah satu di antara sedikit negara yang bisa memanfaatkan fasilitas autogate. Dalam foto itu, bendera Malaysia berjejer dengan negara-negara yang mendapatkan hak khusus autogate seperti Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Singapura, hingga negara-negara Uni Eropa.
"Tanpa medali emas di olimpade terakhir, tapi minimal warga Malaysia bisa menggunakan layanan autogate di Schiphol," ujar seorang warganet dalam unggahannya, Selasa (13/8/2024).
Seperti tersindir, banyak warganet yang diduga adalah akun-akun warga Indonesia merespons unggahan foto autogate Schiphol tadi. Bahkan salah satu akun menyematkan data diri dan foto Noordin M Top dalam responsnya.
"Paspor kami mungkin akan lebih kuat jika saja salah seorang dari Anda tidak memainkan peran utama dalam mengindoktrinasi suatu generasi di Indonesia untuk menjadi pengebom yang mengakibatkan banyak negara berpikir dua kali untuk menerima kami masuk," kata warganet itu.
Warganet di atas mengunggah tangkapan layar profil Noordin M Top dari Wikipedia. Tercatat, Noordin M Top lahir pada 11 Agustus 1968 di Kluang, Johor, Malaysia dan meninggal pada 17 September 2009. Dalam riwayat itu, Noordin M Top disebut sebagai seorang ekstrimis Muslim Malaysia yang adalah teroris paling dicari di Indonesia.
Noordin M Top diyakini sebagai tokoh utama pembuat bom dan penyandang dari untuk Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), yang kemudian membentuk kelompok yang lebih ekstrem yakni Tanzim Qaedat al-Jihad. FBI menyebut Noordin M Top sebagai 'ahli bahan peledak', dan 'kepala, perekrut, dan pembuat bom dan pelatih di JI'.
Noordin bersama Dr Azhari dikenal sebagai otak di balik aksi terorisme di Makassar pada 2002, pemboman hotel Marrott di Jakarta pada 2003, bom Kedutaan Besar Australia pada 2004, bom Bali pada 2005, hingga ledakan bom di JW Marriott - Ritz-Carlton di Jakarta pada 2009.
Noordin M Top tewas terbunuh pada 17 September 2009 dalam sebuah penyergapan yang dilakukan oleh kepolisian Indonesia di sebuah rumah di Mojosongo, Jebres, Jawa Tengah. Selama persembunyian dan pelariannya di Indonesia, Noordin M Top menikahi beberapa wanita Indonesia dan memiliki beberapa anak dari pernikahan itu.
Polemik raihan medali kontingen Malaysia di Olimpiade Paris 2024 diduga bermula dari cuitan salah satu warganet Malaysia yang menyindir Indonesia terkait perolehan medali di Olimpiade Paris 2024. Warganet itu merespons cuitan akun parodi presiden Korea Utara Kim Jong-un, @unmagnetism, yang meminta pengikutnya di X menyebutkan negara yang belum mendapatkan medali emas Olimpiade Paris dan seharusnya malu.
Seperti terpantik dengan cuitan @unmagnetism, warganet Malaysia itu menimpali, "Lagi malu ada 275 juta penduduk tapi ada dua emas je (saja). Betul-betul tak pandai cari talent (bakat) ke apa?"
Sontak cuitan warganet Malaysia itu memantik kegaduhan di X pada Ahad (11/8/2024) lalu. Ramai-ramai warganet Indonesia menggeruduk akun warganet Malaysia tadi seraya mengingatkan bahwa, selama 70 tahun Malaysia merdeka, belum sekalipun negara jiran itu meraih emas di olimpiade.
Di Olimpiade Paris 2024, Malaysia 'hanya' berhasil meraih dua medali perunggu dari cabang bulu tangkis. Yakni dari tunggal putra Lee Zii Jia dan pasangan ganda putra Aaron Chia-Soh Wooi Yik.
Raihan medali dari tiap olimpiade membuat Malaysia memperpanjang masa paceklik medali emas meski sudah hampir 70 tahun mengikuti pesta olahraga empat tahunan itu. Pencapaian di Paris 2024 bahkan dinilai masih kurang memuaskan dibandingkan edisi Olimpiade Tokyo, di mana Malaysia masih mampu meraih satu perak yang diraih Mohd Azizulhasni dan satu perunggu dari Aaron-Wooi Yik.
Jika Malaysia pulang dari Paris tanpa medali emas, sementara kontingen Indonesia berhasil membawa pulang dua emas dan satu perunggu. Para peraih medali Olimpiade Paris 2024 dari kontingen Indonesia adalah Veddriq Leonardo (panjat tebing) dan Rizki Juniansyah (angkat besi) yang masing-masing membawa satu medali emas dan Gregoria Mariska Tunjung (bulu tangkis) dengan medali perunggu.
Malaysia Jadi Negara dengan Koleksi Medali Olimpiade Terbanyak yang Belum Pernah Raih Emas
Malaysia total meraih 15 medali yang terdiri delapan perak dan tujuh perunggu. [587] url asal
#raihan-medali-malaysia #malaysia-vs-indonesia #olimpiade #olimpiade-paris #olimpiade-paris-2024 #malaysia
(Republika - News) 13/08/24 18:13
v/14364821/
REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Olimpiade Paris 2024 telah resmi berakhir pada Ahad (10/8/2024), di mana Amerika Serikat (AS) dan China berada di puncak klasemen raihan medali dengan total koleksi 40 emas. AS unggul lebih banyak medali perak dibandingkan Negeri Tirai Bambu.
Ada cerita menarik dari negeri jiran Malaysia, di mana hampir 70 tahun keiikutsertaannya di olimpiade, mereka hingga kini belum juga berhasil meraih medali emas. Di media sosial X, perbandingan prestasi antara Malaysia dan Indonesia di pesta olahraga empat tahunan pun ikut menjadi bahan perdebatan.
Jika kontingen Indonesia mampu meraih dua emas dan satu perunggu di Paris 2024, Malaysia hanya membawa pulang dua medali perunggu. Capaian Malaysia di Paris menjadi yang terburuk sejak Athena 2004 saat mereka pulang dengan tangan hampa.
Di lansir dari World of Buzz, Ahad (12/8/2024), raihan tanpa emas dari tiap olimpiade membuat Malaysia memegang rekor sejak Tokyo 2020 sebagai negara dengan koleksi medali terbanyak yang belum pernah meraih emas. Dari dua olimpiade terakhir, Malaysia total meraih 15 medali dengan perincian delapan medali perak dan tujuh medali perunggu.
Rekor itu membuat Malaysia teratas di antara negara-negara yang belum pernah meraih emas. Di bawah Malaysia adalah Kyrgyzstan dengan koleksi total 13 medali (lima emas dan delapan perunggu), lalu Moldova dengan 10 medali (tiga perak dan tujuh perunggu), Namibia dengan lima medali (perak), Ghana dengan empat koleksi medali (satu perak dan empat perunggu).
Di samping catatan di atas, Malaysia sudah ikut serta di olimpiade sebelum merdeka. Olimpiade pertama yang diikuti Malaysia adalah Melbourne Melbourne 1956, yang saat itu diwakili dua tim Malaya dan Borneo Utara.
Meski telah ikut berkompetisi di olimpiade sejak 1956, Malaysia baru berhasil meraih medali pada Barcelona 1992, saat Sidek bersaudara, saat Razif Sidek dan Jalani Sidek meraih medali perunggu dari nomor ganda putra cabang bulu tangkis.
Dikutip Bernama, Selasa (13/8/2024), pengamat olahraga Asan Ahmad berpandangan, ketidakmampuan negaranya meraih emas akan terus berlanjut jika federasi-federasi olahraga di Malaysia tidak mengubah program yang mampu melahirkan talenta-talenta baru di dunia olahraga. Salah satu penyebab utama keringnya prestasi olahraga dinilai karena Malaysia terlalu bergantung pada atlet-atlet yang sudah senior atau mereka istilahkan 'kuda tua'.
"Pada pandangan saya, kita masih gagal untuk mendapat emas olimpiade karena kita gagal melahirkan atlet baru yang berpotensi menyumbang medali emas. Kita masih bergantung kepada atlet lama untuk meraih medali," kata Asan.
"Bisa dibayangkan atlet seperti Mohd Azizulhasni Awang yang semakin dimakan usia masih diberi kepercayaan untuk bertanding di pentas olimpiade. Tak salah mendaftarkan dia, tetapi dia harus didampingi oleh pelapis (atlet muda)," ujar Asan, menambahkan.
Minimnya atlet-atlet pelapis di Malaysia, menurut Asan, menunjukkan kelemahan program federasi dalam melahirkan atlet-atlet berbakat. Menurutnya, Malaysia tidak boleh bergantung kepada Azizulhasni selamanya.
"Harus ada lebih ramai (atlet) pelapis,” kata Asan.
Sementara itu, akademisi dari Universitas Teknologi Mara (UiTM) Shah Alam, Mohd Sadek Mustafa berpandangan sudah tiba saatnya bagi Malaysia untuk melirik cabang olahraga lain daripada hanya fokus ke cabang olahraga tertentu yang populer. Ia berpandangan, Malaysia perlu menjadikan negara tetangga seperti Indonesia sebagai contoh, yang mampu meraih emas dari panjat tebing dan angkat besi, saat bulu tangkis tidak bisa meneruskan tradisi emas.
"Kita tak usah pergi jauh dan jadikan Indonesia sebagai contoh. Olimpiade ini (Paris 2024) mereka tak dapat emas dari badminton tapi dapat dari angkat besi dan panjat dinding," kata Mustafa.
“Kita juga boleh melirik olahraga-olahraga berpotensi meraih emas seperti kano dan kayak, karena kita ada atlet-atlet berbakat dan fasilitas yang bagus. Olahraga itu tidak bertumpu pada aspek fisik tapi juga teknologi alat bantu olahraga itu," ujarnya menambahkan.
Nyinyiran Netizen Malaysia Soal Medali Olimpiade Indonesia, Pakar: Jadikan Motivasi
Indonesia butuh 13 sampai 16 medali emas untuk menembus peringkat lima Olimpiade. [703] url asal
#olimpiade #olimpiade-paris #perolehan-medali-indonesia #medali-emas #malaysia-vs-indonesia #netizen-malaysia-nyinyir #malaysia-sindir-indonesia #djoko-pekik
(Republika - News) 13/08/24 10:34
v/14350321/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Olimpiade Paris 2024 yang digelar sejak 26 Juli lalu telah selesai pada 11 Agustus kemarin. Kontingen Indonesia yang berkekuatan 29 Atlet dari 12 cabang olahraga akhirnya meraih dua medali emas dan satu medali perunggu.
Dua medali emas dipersembahkan cabor angkat besi melalui lifternya Rizki Juniansyah dan panjat tebing via Veddriq Leonardo. Sementara satu perunggu diraih tangkis melalui tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung.
Dengan hasil tersebut, Indonesia menempati posisi 39, terbaik kedua di Asia Tenggara. Filipina dua tingkat di atas Indonesia dengan dua emas dan dua perunggu. Thailand sendiri yang meloloskan 51 atlet hanya bercokol di posisi 44, dengan satu emas, tiga perak dan dua perunggu.
Capaian tersebut ternyata mendapat nyiyiran dari tetangga berisik, Malaysia. Ramai di media sosial, dengan jumlah penduduk yang sangat besar yakni lebih dari 278 juta jiwa, Indonesia seharusnya bisa lebih banyak lagi membawa pulang medali.
Pakar Manajemen dan Prestasi Olahraga Djoko Pekik mengatakan, nyiyiran tersebut jangan terlalu diambil hati. Namun justru harus dijadikan motivasi untuk ke depannya lebih berprestasi lebih tinggi lagi.
Guru Besar FIKK UNY Yogyakarta ini menyatakan, pertama kita bersyukur lebih dulu dan bangga atas prestasi yang dicapai oleh kontingen Indonesia lewat panjat tebing, angkat besi dan bulu tangkis
"Ini menjadi momentum untuk pijakan lebih jauh lagi ke depan. Pembinaan kita agar road to olympic seperti yang dicanangkan di Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) agar meraih posisi lima Olimpiade pada 2044 itu bisa terwujud," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (13/8/2024).
Suara-suara yang nyinyir dan sebagainya, lanjutnya dapat menjadi bagian untuk menambah motivasi Indonesia untuk lebih sungguh-sungguh menciptakan atlet berprestasi level dunia. Ini dapat dicapai melalui pembinaan yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur.
Menurut Djoko, momentum angkat besi dan panjat tebing mendapat medali emas membuka mata kita bahwa tidak hanya bulu tangis saja yang bisa meraih medali emas di Olimpiade, melainkan juga cabor lain.
"Oleh sebab itu maka capaian ini harus membuka mata seluruh federasi cabor bahwa kalau kita kelola dengan sungguh-sungguh, pasti bisa mencapai prestasi level dunia," kata dia.
Menuju target itu, strategi...
Menuju target itu, strategi harus disiapkan dengan matang. Pembinaan bisa difokuskan pada cabor yang menyediakan banyak medali seperti atletik (46 emas), renang (37 emas), dan menembak (15), tanpa mengabaikan cabor lain yang sudah berprestasi emas seperti angkat besi dan panjat tebing. Skala prioritas untuk pembinaan ke depan adalah terlebih dahulu meloloskan sebanyak-banyaknya atlet ke Olimpiade berikutnya.
"Kita tahu bahwa 2012 di London kita hanya meloloskan 22 atlet, di Rio de Janeiro, Brasil 2016 kita hanya 28 atlet, Olimpiade Tokyo 2021 juga hanya 28. Paris memang tambah 1 atlet jadi 29 atlet dari 12 cabang olahraga. Ini belum cukup menurut saya untuk menapak sukses di Olimpiade ke depan. Harus lebih banyak lagi atlet yang lolos. Coba lihat kita Thailand di Olimpiade Paris sudah mampu meloloskan 51 atletnya," kata Djoko.
Djoko mengatakan, pemilihan cabor prioritas mesti dilakukan dengan cermat. Misalnya, kata dia, atletik baru meloloskan satu atlet melalui Lalu Muhammad Zohri di nomor lari 100 meter. Itu pun karena mendapatkan wild card.
Indonesia, kata dia, bisa mengganti strategi dengan memilih nomor-nomor lain di atletik, misalnya nomor lempar cakram, tolak peluru, atau nomor lari jarak menengah dan jarak jauh. Nomor prioritas ini disiapkan betul pada saat kualifikasi olimpiade.
"Jadi yang terpenting perjalanan menuju Olimpiade-nya. Langkah awal adalah kualifikasi Olimpiade. Atlet tidak akan bisa berlaga di Olimpiade kalau kualifikasi Olimpiade saja tidak lolos," ujarnya menegaskan.
Oleh sebab itu, ia meminta federasi cabor bersama stakeholder yang lain, termasuk pemerintah, menyiapkan atletnya dengan cara terbaik pada kualifikasi Olimpiade. Caranya dengan menyediakan sarana prasarana dan fasilitas utamanya. Anggaran juga menjadi bagian strategi teknis yang harus dilakukan.
Ia menekankan kembali, jika kita mengelola dengan sungguh-sungguh, pada 2044 bukan mimpi di siang bolong Indonesia bisa membidik peringkat lima Olimpiade seperti yang dicanangkan lewat DBON.
"Data yang saya kumpulkan paling tidak pada gelaran tiga Olimpiade terakhir, sebuah negara bisa menduduki peringkat lima itu minimal harus meloloskan 248 atlet dengan perolehan 13 sampai dengan 16 medali emas," ungkapnya.
"Dengan angka kuantitatif itu, kita masih jauh ke empat besar. Ini menjadi bagian dari catatan kritis kita bagaimana kita bisa meraih hasil yang lebih bagus lagi di Olimpiade-Olimppiade yang akan datang. Itu beberapa catatan dari saya yang mudah-mudahan bermanfaat," pungkasnya
Nyinyiran Netizen Malaysia Soal Medali Olimpiade Indonesia, Ini Kata Pakar Olahraga
Indonesia butuh 13 sampai 16 medali emas untuk menembus peringkat lima Olimpiade. [703] url asal
#olimpiade #olimpiade-paris #perolehan-medali-indonesia #medali-emas #malaysia-vs-indonesia #netizen-malaysia-nyinyir #malaysia-sindir-indonesia #djoko-pekik
(Republika - News) 13/08/24 10:34
v/14350320/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Olimpiade Paris 2024 yang digelar sejak 26 Juli lalu telah selesai pada 11 Agustus kemarin. Kontingen Indonesia yang berkekuatan 29 Atlet dari 12 cabang olahraga akhirnya meraih dua medali emas dan satu medali perunggu.
Dua medali emas dipersembahkan cabor angkat besi melalui lifternya Rizki Juniansyah dan panjat tebing via Veddriq Leonardo. Sementara satu perunggu diraih tangkis melalui tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung.
Dengan hasil tersebut, Indonesia menempati posisi 39, terbaik kedua di Asia Tenggara. Filipina dua tingkat di atas Indonesia dengan dua emas dan dua perunggu. Thailand sendiri yang meloloskan 51 atlet hanya bercokol di posisi 44, dengan satu emas, tiga perak dan dua perunggu.
Capaian tersebut ternyata mendapat nyiyiran dari tetangga berisik, Malaysia. Ramai di media sosial, dengan jumlah penduduk yang sangat besar yakni lebih dari 278 juta jiwa, Indonesia seharusnya bisa lebih banyak lagi membawa pulang medali.
Pakar Manajemen dan Prestasi Olahraga Djoko Pekik mengatakan, nyiyiran tersebut jangan terlalu diambil hati. Namun justru harus dijadikan motivasi untuk ke depannya lebih berprestasi lebih tinggi lagi.
Guru Besar FIKK UNY Yogyakarta ini menyatakan, pertama kita bersyukur lebih dulu dan bangga atas prestasi yang dicapai oleh kontingen Indonesia lewat panjat tebing, angkat besi dan bulu tangkis
"Ini menjadi momentum untuk pijakan lebih jauh lagi ke depan. Pembinaan kita agar road to olympic seperti yang dicanangkan di Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) agar meraih posisi lima Olimpiade pada 2044 itu bisa terwujud," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (13/8/2024).
Suara-suara yang nyinyir dan sebagainya, lanjutnya dapat menjadi bagian untuk menambah motivasi Indonesia untuk lebih sungguh-sungguh menciptakan atlet berprestasi level dunia. Ini dapat dicapai melalui pembinaan yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur.
Menurut Djoko, momentum angkat besi dan panjat tebing mendapat medali emas membuka mata kita bahwa tidak hanya bulu tangis saja yang bisa meraih medali emas di Olimpiade, melainkan juga cabor lain.
"Oleh sebab itu maka capaian ini harus membuka mata seluruh federasi cabor bahwa kalau kita kelola dengan sungguh-sungguh, pasti bisa mencapai prestasi level dunia," kata dia.
Menuju target itu, strategi...
Menuju target itu, strategi harus disiapkan dengan matang. Pembinaan bisa difokuskan pada cabor yang menyediakan banyak medali seperti atletik (46 emas), renang (37 emas), dan menembak (15), tanpa mengabaikan cabor lain yang sudah berprestasi emas seperti angkat besi dan panjat tebing. Skala prioritas untuk pembinaan ke depan adalah terlebih dahulu meloloskan sebanyak-banyaknya atlet ke Olimpiade berikutnya.
"Kita tahu bahwa 2012 di London kita hanya meloloskan 22 atlet, di Rio de Janeiro, Brasil 2016 kita hanya 28 atlet, Olimpiade Tokyo 2021 juga hanya 28. Paris memang tambah 1 atlet jadi 29 atlet dari 12 cabang olahraga. Ini belum cukup menurut saya untuk menapak sukses di Olimpiade ke depan. Harus lebih banyak lagi atlet yang lolos. Coba lihat kita Thailand di Olimpiade Paris sudah mampu meloloskan 51 atletnya," kata Djoko.
Djoko mengatakan, pemilihan cabor prioritas mesti dilakukan dengan cermat. Misalnya, kata dia, atletik baru meloloskan satu atlet melalui Lalu Muhammad Zohri di nomor lari 100 meter. Itu pun karena mendapatkan wild card.
Indonesia, kata dia, bisa mengganti strategi dengan memilih nomor-nomor lain di atletik, misalnya nomor lempar cakram, tolak peluru, atau nomor lari jarak menengah dan jarak jauh. Nomor prioritas ini disiapkan betul pada saat kualifikasi olimpiade.
"Jadi yang terpenting perjalanan menuju Olimpiade-nya. Langkah awal adalah kualifikasi Olimpiade. Atlet tidak akan bisa berlaga di Olimpiade kalau kualifikasi Olimpiade saja tidak lolos," ujarnya menegaskan.
Oleh sebab itu, ia meminta federasi cabor bersama stakeholder yang lain, termasuk pemerintah, menyiapkan atletnya dengan cara terbaik pada kualifikasi Olimpiade. Caranya dengan menyediakan sarana prasarana dan fasilitas utamanya. Anggaran juga menjadi bagian strategi teknis yang harus dilakukan.
Ia menekankan kembali, jika kita mengelola dengan sungguh-sungguh, pada 2044 bukan mimpi di siang bolong Indonesia bisa membidik peringkat lima Olimpiade seperti yang dicanangkan lewat DBON.
"Data yang saya kumpulkan paling tidak pada gelaran tiga Olimpiade terakhir, sebuah negara bisa menduduki peringkat lima itu minimal harus meloloskan 248 atlet dengan perolehan 13 sampai dengan 16 medali emas," ungkapnya.
"Dengan angka kuantitatif itu, kita masih jauh ke empat besar. Ini menjadi bagian dari catatan kritis kita bagaimana kita bisa meraih hasil yang lebih bagus lagi di Olimpiade-Olimppiade yang akan datang. Itu beberapa catatan dari saya yang mudah-mudahan bermanfaat," pungkasnya
Disindir Netizen Malaysia Jangan Marah, Faktanya Memang Pahit
Perolehan medali suatu negara bisa bercerita banyak soal kondisi ekonomi dan politik. [977] url asal
#malaysia-vs-indonesia #netizen-malaysia #malaysia-sindir-indonesia #atlet-malaysia #malaysia-indonesia #netizen-indonesia-vs-malaysia #netizen-indonesia-marah #olimpiade #perolehan-medali-indonesia
(Republika - News) 13/08/24 09:36
v/14350330/
Oleh Fitriyan Zamzami, Jurnalis Republika
REPUBLIKA.CO.ID, Dunia maya kembali dihangatkan dengan seteru yang sepertinya tak berkesudahan antara netizen Indonesia dan negara jiran Malaysia. Kritikan dari sebelah soal perolehan medali dibandingkan populasi negara Indonesia jadi pangkalnya.
Tentu, saling goda antar saudara seperti ini bukan barang baru. Tapi mengapa kita marah? Jangan-jangan, pertanyaan dari tetangga yang berisik itu menjengkelkan karena dalam satu dan lain hal ia ada benarnya?
BACA JUGA: Tak Ada yang Bisa Jelaskan soal Ruh Selain Islam, Alexander Jadi Mualaf
Selama bertahun-tahun, atlet-atlet Indonesia membuktikan bahwa secara atletis mereka bisa melampaui atlet negara lain. Tahun ini, Veddriq Leonardo membuktikan atlet Indonesia bisa lebih cepat dari atlet-atlet negara digdaya.
Ia memeroleh emas panjat tebing mengalahkan saingan dari Amerika Serikat dan Cina. Ia juga berulang kali memecahkan rekor, yang artinya, ia memang yang paling cepat di antara manusia-manusia dari berbagai bangsa yang bersaing di cabang yang ia geluti.
Sementara Rizky Juniansyah membuktikan, anak Indonesia tak kalah kuat dari bangsa-bangsa di dunia. Ia memenangkan medali emas angkat besi sekaligus memecahkan rekor angkatan pada kelasnya.
Artinya, secara kecepatan, kekuatan, dan kecerdasan, anak-anak Indonesia punya daya bersaing dengan bangsa manapun. Mengapa kemudian medali kita tak banyak di olimpiade?
Ternyata, atletisme semata memang tak cukup.
Peneliti Chandra Vanu Som dari Universitas Gandhinagar di India melansir makalah di jurnal Sport Sciences for Health terkait hasil penelitian yang menguji hipotesis bahwa semakin tinggi prestasi olahraga, semakin tinggi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) suatu negara dan sebaliknya.
Ini ia simpulkan setelah membandingkan data medali yang diraih berbagai negara pada Olimpiade Musim Panas pada 2000, 2004, 2008, 2008 dan 2016 dan IPM negara-negara tersebut selama tahun olimpiade. Hasilnya menunjukkan bahwa korelasi positif yang cukup kuat antara prestasi olimpiade suatu negara dan IPM.
Mari tengok datanya untuk Indonesia. Pada Olimpiade Sydney 2000, Indonesia berada pada peringkat ke-38; mendapatkan satu emas, tiga perak, dan dua perunggu. Ini adalah salah satu capaian terbaik kontingen Indonesia. Bukan kebetulan, tahun-tahun sekitar olimpiade juga merupakan puncak tertinggi urutan IPM Indonesia.
Setahun sebelum olimpiade, Human Development Report (HDR) yang diterbitkan setiap tahun oleh United Nations Development Programme (UNDP) mencatatkan IPM Indonesia berada di urutan ke-105 dunia. Sementara setahun setelah olimpiade, urutan IPM Indonesia lebih tinggi lagi pada urutan ke-102.
Sementara pada Olimpiade Athena 2004, Indonesia membawa pulang empat medali terdiri dari satu emas, satu perak, dan dua perunggu. Indonesia bertengger pada peringkat ke-48. Tahun itu, IPM Indonesia juga turun pada urutan ke-111.
Pada Olimpiade Beijing 2008, Indonesia naik ke posisi ke-42 dengan satu emas, satu perak, dan empat perunggu. IPM Indonesia kala itu juga naik dibandingkan pada 2004 pada urutan ke-107 dunia.
Pada 2011 terjadi penurunan tajam IPM di Indonesia. Indonesia anjlok dari urutan 108 dunia pada 2010 ke urutan 124 dunia. Ini tecermin dengan tepat pada Olimpiade London 2012. Indonesia anjlok ke urutan ke-60 dengan hanya membawa pulang 2 perak dan 1 perunggu tanpa emas satupun.
Di Rio de Janeiro pada 2016, Indonesia memeroleh satu emas dan 2 perak, bertengger pada posisi ke-46. IPM Indonesia saat itu pada angka 111.Di Tokyo pada 2020, Indonesia ada pada posisi ke-55 dengan satu emas, satu perak, dan tiga perunggu. Pada tahun itu, IPM Indonesia tercatat pada urutan ke-111 dunia pada 72,8 poin merujuk Badan Pusat Statistik (BPS).
Dari 2020 ke 2024, terjadi peningkatan tipis poin IPM Indonesia dari 72,8 poin ke 74,4 poin. Namun, posisinya di dunia turun ke posisi 112. Pada Olimpiade Paris 2024, Indonesia memang mendapat dua emas, tapi perolehan total hanya tiga medali dengan satu perunggu.
Kaitan dengan populasi
Sementara Shannon Gay dari Bryant University di Rhode Island, AS menyatakan bahwa populasi penduduk memang punya peran dalam menentukan raihan medali di olimpiade. Namun, hal itu tak cukup. Ia harus ditopang dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita.
Amerika Serikat dengan populasi 345 juta jiwa bisa banyak mendapatkan medali karena mereka ditopang PDB per kapita yang pada 2024 ini mencapai 28.176 dolar AS. Cina, punya PDB per kapita lebih rendah dari AS pada angka 13.136 dolar AS, namun populasi lebih banyak, yakni 1,42 miliar jiwa.
Sementara Indonesia dengan populasi 280 juta jiwa pada 2024, PDB per kapitanya saat ini sekitar 5.000 dolar AS, jauh dibandingkan kedua negara peroleh medali terbanyak di atas. Ini juga menjelaskan mengapa India, meski punya populasi 1,45 miliar orang tak bisa berbuat banyak di olimpiade. PDB per kapitanya pada 2024 ini hanya separuh Indonesia pada angka 2.731 dolar AS.
Penelitian lain yang dilakukan Samuel Chukwudi Gabriel dan Ezra Lheze dari Centre for the Study of the Economics of Africa (CSEA) meneliti bahwa ada sejumlah faktor yang memengaruhi perolehan medali olimpiade negara-negara. Diantaranya tingkat investasi dan tingkat partisipasi penduduk. Namun, mereka juga mencatat satu faktor lain yang tak kalah penting: stabilitas politik.
Menurut keduanya, investasi yang tinggi berkorelasi positif dengan perekonomian yang baik, yang berdampak langsung pada jumlah waktu luang. Dengan lebih banyak waktu luang, sebagian besar penduduk dapat melakukan olahraga. Negara-negara maju melakukan investasi yang signifikan dalam fasilitas olahraga, keterampilan pembinaan, dan program dukungan ilmu olahraga, yang semuanya penting untuk keberlanjutan olahraga.
Investasi olahraga dapat menjadi stimulus yang efektif untuk mengembangkan kualitas dan kuantitas kegiatan olahraga khususnya di tingkat internasional.
Mereka juga mencatat, ada korelasi positif antara stabilitas politik dan perolehan medali pada Olimpiade 2020 di Tokyo. Terdapat perbedaan yang jelas dalam jumlah medali yang diraih antara negara-negara dengan sistem politik yang stabil dan negara-negara yang tengah berjuang melawan ketidakstabilan politik.
Artinya, perolehan medali suatu negara tak hanya bicara soal kebisaan berolahraga. Ia juga menceritakan banyak hal soal kondisi ekonomi dan sosiopolitik negara tertentu. Dalam hal ini, kritik netizan Malaysia sebenarnya jadi lebih menohok karena ianya mempertanyakan kondisi negara kita saat ini. IPM kita tak optimal perbaikannya, sementara kemakmuran rakyat yang tecermin lewat PDB per kapita masih di bawah negara-negara lain, dan kondisi politiknya ya begini ini.
Fakta untuk Warganet Malaysia yang Nyiyir ke RI: India 1,4 Miliar Penduduk, 0 Medali Emas
Jumlah penduduk suatu negara tak selalu berbanding lurus dengan prestasi olimpade. [635] url asal
#olimpiade-paris #netizen-malaysia #malaysia-versus-indonesia #malaysia-sindir-indonesia #malaysia-vs-indonesia #indonesia #emas-indonesia #india #olimpiade-paris-2024
(Republika - News) 12/08/24 17:37
v/14309632/
REPUBLIKA.CO.ID, Belakangan terjadi polemik menyusul cuitan salah satu warganet Malaysia yang menyindir Indonesia terkait perolehan medali di Olimpiade Paris 2024. Warganet itu menimpali cuitan salah satu akun parodi presiden Korea Utara Kim Jong-un, @unmagnetism, yang meminta pengikut menyebut negara yang belum mendapatkan medali emas Olimpiade Paris dan seharusnya malu.
Seperti terpantik dengan cuitan @unmagnetism, warganet Malaysia itu mengatakan, "Lagi malu ada 275 juta penduduk tapi ada dua emas je (saja). Betul-betul tak pandai cari talent (bakat) ke apa?"
Sontak cuitan warganet Malaysia itu memantik kegaduhan di X pada Ahad (11/8/2024) lalu. Ramai-ramai warganet Indonesia menggeruduk akun warganet Malaysia tadi seraya mengingatkan bahwa, selama 70 tahun Malaysia merdeka, belum sekalipun negara jiran itu meraih emas di olimpiade.
Membandingkan rasio jumlah penduduk dengan raihan medali di olimpiade memang kurang tepat. Negara dengan populasi besar tidak lantas meraih banyak medali (khususnya emas) di olimpiade, begitu juga sebaliknya.
India menjadi fakta paling aktual merujuk raihan medali mereka di Olimpiade Paris 2024. Dengan jumlah total penduduk mencapai 1,4 miliar, India hanya bisa membawa pulang satu perak dan lima perunggu dari Paris.
Dikutip dari Times of India, Senin (12/8/2024), capaian prestasi kontingen India tidak sesuai ekspektasi merujuk pada olimpiade sebelumnya di Tokyo 2020. Di Paris, India menduduki peringkat 71 dari 84 negara di klasemen akhir medali, di bawah negara seperti Hong Kong, Taiwan, Korea Utara, Kuba, atau bahkan Saint Lucia yang total penduduknya hanya 180 ribu jiwa.
India harus menunggu hingga hari ke-13 Olimpiade Paris sebelum meraih perak dari atlet lempar lembing Neeraj Chopra. Raihan di Paris bisa dibilang sebagai kemunduran dari Tokyo 2020, di mana India meraih tujuh medali termasuk satu emas.
Dalam tiga dekade terakhir, India baru mampu meraih dua emas, yakni dari cabang menembak putra di Beijing 2008 dan lempar lembing Tokyo. Sebelum Olimpiade Tokyo, India meraih total 28 medali dari 36 kali olimpade, atau sama dengan raihan medali perenang AS, Michael Phelps.
Kepada Independent, seorang ahli dan mantan olimpian menerangkan, tidak ada cara instan bagi India agar bisa meraih emas di Los Angeles 2028. Kemiskinan dan isu malnutrisi yang meluas masih menjadi masalah utama yang mencegah jutaan remaja di India menemui potensi olahraga mereka. Selain itu, masalah kronis minimnya investasi di bidang olahraga di India juga dinilai sebagai biang keladi masalah.
Penambahan investasi di level akar rumput, menurut mantan olimpian Dipa Karmakar sangat diperlukan. Para atlet, menurutnya, butuh disediakan sumber daya yang tepat untuk pelatihan jangka panjang, bukan hanya untuk beberapa bulan menjelang suatu kompetisi.
"Simone Biles menarik diri dari babak final di Tokyo karena masalah kesehatan mental namun dia tetap bisa konsisten selama tiga tahun setelahnya. Di sini, para atlet diberikan sumber daya untuk tiga atau empat bulan sebelum mereka menjalani kualifikasi menuju olimpiade," kata Karmakar, atlet senam India yang pernah berlaga di Olimpiade Rio 2016.
"Jika atlet kami mendapatkan sumber daya satu atau dua tahun sebelum olimpiade, peluang meraih medali akan bertambah," kata Karmakar, menambahkan.
Pemenang hadiah Nobel, Abhijit Banerjee dan Esther Duflo menyoroti tingginya kasus malnutrisi di India sebagai kontribusi signifikan atas jebloknya prestasi India di olimpade. Mereka pun mendesak pemerintah menyediakan investasi di sektor kesehatan secara lebih baik.
"Tentu India adalah negara miski tapi tidak semiskin dulu, dan tidak miskin seperti Kamerun, Etiopia, Ghana, Haiti, Kenya, Mozambique, Nigeria, Tanzania, dan Uganda,” kata dua ekonom itu dalam buku Poor Economics.
Namun, menurut Ranojoy Sen, peneliti senior di Universitas Nasional Singapura, belakangan mulai ada pertumbuhan investasi di sektor olahraga. Contohnya program Play India yang diluncurkan oleh pemerintahan Narendra Modi pada 2017.
"Anggaran secara keseluruhan untuk Kementerian Olahraga meningkat menjadi 34,4 miliar rupee pada tahun ini dari 33,9 miliar rupee dari tahun finansial sebelumnya," kata Sen.
"Saya pikir investasi di bidang olahraga oleh pemerintah India lebih besar dari kebanyak negara berkembang, tapi anggaran sebesar itu juga diperuntukkan untuk populasi yang lebih besar pula."
Netizen Malaysia Nyinyir Medali Emas Indonesia, Iri Bilang Bos? Ingat 5 Pesan Nabi SAW
Rasulullah SAW mengingatkan bahaya iri dengki [503] url asal
#netizen-malaysia #malaysia-belum-dapat-medali-emas #malaysia-vs-indonesia #emas-malaysia #olimpiade #medali-emas-olimpiade #olimpiade-paris-2024 #malaysia-sindir-indonesia #sejarah-indonesia-malaysia
(Republika - Iqra) 11/08/24 07:04
v/14163377/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Jagad maya dihebohkan dengan agar yang tengah viral di media sosial X. Salah satu isu yang ramai dibahas yakni terkait dengan medali emas Olimpiade.
Ada netizen Malaysia yang mempertanyakan mengapa Indonesia dengan 275 juta penduduk cuma mendapat dua emas?
Pertanyaan semacam ini pada dasarnya mengadung muatan iri dengki. Perilaku yang sangat dikecam Rasulullah SAW. Berikut ini lima peringatan Rasulullah SAW tentang bahaya dengki (hasad):
Pertama, iri dengki merusak agama. Dari Zubair bin Al-Awwam, Rasulullah SAW bersabda:
دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: اَلْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ ، حَالِقَةُ الدِّيْنِ لاَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا، أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِشَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
“Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyerang kalian yaitu dengki dan benci. Benci adalah pemotong; pemotong agama dan bukan pemotong rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR Tirmizi)
Kedua, merusak keimanan. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
لاَ يَجْتَمِعَانِ فِى النَّارِ مُسْلِمٌ قَتَلَ كَافِرًا ثُمَّ سَدَّدَ وَقَارَبَ وَلاَ يَجْتَمِعَانِ فِى جَوْفِ مُؤْمِنٍ غُبَارٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَفَيْحُ جَهَنَّمَ وَلاَ يَجْتَمِعَانِ فِى قَلْبِ عَبْدٍ الإِيمَانُ وَالْحَسَدُ
“Tidak akan terkumpul di dalam nerakan seorang yang telah membunuh seorang kafir, kemudian dia mendekatkan diri kepada kebaikan, tidak akan terkumpul keduanya di dalam mulut seorang beriman debu di dalam perperangan dan asap neraka Jahannam dan tidak akan terkumpul keduanya di dalam hati seorang hamba keimanan dan sifat hasad.”
Ketiga, merusak tatanan masyarakat. Dari Dhumrah bin Tsa'labah RA, Rasulullah SAW bersabda:
لا يزال الناس بخير ما لم يتحاسدوا
“Manusia akan tetap dalam kebaikan selama mereka belum berlaku hasad." (HR at-Thabrani)
Keempat, melenyapkan kebaikan diri sendiri. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,
الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار
"Orang yang hasad memakan kebaikannya sebagaimana ia memakan api." (HR Abu Daud)
Baca juga: 11 Kondisi Sebenarnya Perekonomian Israel Akibat Perangi Gaza yang Ditutup-tutupi
Kelima, dikucilkan masyarakat. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:
شر الناس من يبغض الناس ويبغضونه
“Seburuk-buruk manusia adalah yang membenci orang lain dan mereka juga membencinya.” (HR ath-Thabrani).
Cuitan yang tengah ramai itu...
Barcelona 1992
Medali: 1 medali perunggu
Medali perunggu di nomor bulu tangkis ganda putra diraih oleh Razif Sidek dan Jalani Sidek.
Atlanta 1996
Medali: 1 perunggu, 1 perak
Di nomor bulu tangkis, Cheah Soon Kit dan Yap Kim Hock meraih medali perunggu di nomor ganda putra, sementara Rashid Sidek meraih medali di nomor tunggal putra.
Beijing 2008
Medali: 1 perak, 1 Perunggu
Di London 2012, Lee Chong Wei meraih medali perak di nomor tunggal putra bulu tangkis, sementara Pandelela Rinong meraih perunggu di nomor loncat indah 10m putri.
Rio de Janeiro 2016
Medali: 4 perak, 1 perunggu
Pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Malaysia memperoleh medali perak di cabang bulu tangkis melalui Lee Chong Wei di tunggal putra, Goh V Shem dan Tan Wee Kiong di ganda putra, serta Chan Peng Soon dan Goh Liu Ying di ganda campuran.
Pada cabang loncat indah, Cheong Jun Hoong dan Pandelela Rinong memperoleh perak di nomor 10m putri.
Baca juga:Coba Cari Kesalahan Alquran, Mualaf Lamaan Ball: Tuhan Jika Engkau Ada, Bimbinglah Aku
Selain itu, Muhammad Azizulhasni Awang memperoleh medali perunggu di nomor balap sepeda Keirin putra.
Tokyo 2020
Medali: 1 perak, 1 perunggu
Pada Olimpiade Tokyo 2020, Malaysia memperoleh medali perak di cabang balap sepeda melalui Muhammad Azizulhasni Awang. Di bidang bulu tangkis, Aaron Chia dan Soh Wooi Yik memperoleh medali perunggu di nomor ganda putra.
Netizen Malaysia Cibir Medali Emas Indonesia, Iri Bilang Bos? Ingat 5 Pesan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW mengingatkan bahaya iri dengki [503] url asal
#netizen-malaysia #malaysia-belum-dapat-medali-emas #malaysia-vs-indonesia #emas-malaysia #olimpiade #medali-emas-olimpiade #olimpiade-paris-2024 #malaysia-sindir-indonesia #sejarah-indonesia-malaysia
(Republika - Iqra) 11/08/24 07:04
v/14136357/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Jagad maya dihebohkan dengan agar yang tengah viral di media sosial X. Salah satu isu yang ramai dibahas yakni terkait dengan medali emas Olimpiade.
Ada netizen Malaysia yang mempertanyakan mengapa Indonesia dengan 275 juta penduduk cuma mendapat dua emas?
Pertanyaan semacam ini pada dasarnya mengadung muatan iri dengki. Perilaku yang sangat dikecam Rasulullah SAW. Berikut ini lima peringatan Rasulullah SAW tentang bahaya dengki (hasad):
Pertama, iri dengki merusak agama. Dari Zubair bin Al-Awwam, Rasulullah SAW bersabda:
دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: اَلْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ ، حَالِقَةُ الدِّيْنِ لاَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا، أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِشَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
“Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyerang kalian yaitu dengki dan benci. Benci adalah pemotong; pemotong agama dan bukan pemotong rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR Tirmizi)
Kedua, merusak keimanan. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
لاَ يَجْتَمِعَانِ فِى النَّارِ مُسْلِمٌ قَتَلَ كَافِرًا ثُمَّ سَدَّدَ وَقَارَبَ وَلاَ يَجْتَمِعَانِ فِى جَوْفِ مُؤْمِنٍ غُبَارٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَفَيْحُ جَهَنَّمَ وَلاَ يَجْتَمِعَانِ فِى قَلْبِ عَبْدٍ الإِيمَانُ وَالْحَسَدُ
“Tidak akan terkumpul di dalam nerakan seorang yang telah membunuh seorang kafir, kemudian dia mendekatkan diri kepada kebaikan, tidak akan terkumpul keduanya di dalam mulut seorang beriman debu di dalam perperangan dan asap neraka Jahannam dan tidak akan terkumpul keduanya di dalam hati seorang hamba keimanan dan sifat hasad.”
Ketiga, merusak tatanan masyarakat. Dari Dhumrah bin Tsa'labah RA, Rasulullah SAW bersabda:
لا يزال الناس بخير ما لم يتحاسدوا
“Manusia akan tetap dalam kebaikan selama mereka belum berlaku hasad." (HR at-Thabrani)
Keempat, melenyapkan kebaikan diri sendiri. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,
الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار
"Orang yang hasad memakan kebaikannya sebagaimana ia memakan api." (HR Abu Daud)
Baca juga: 11 Kondisi Sebenarnya Perekonomian Israel Akibat Perangi Gaza yang Ditutup-tutupi
Kelima, dikucilkan masyarakat. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:
شر الناس من يبغض الناس ويبغضونه
“Seburuk-buruk manusia adalah yang membenci orang lain dan mereka juga membencinya.” (HR ath-Thabrani).
Cuitan yang tengah ramai itu...
Barcelona 1992
Medali: 1 medali perunggu
Medali perunggu di nomor bulu tangkis ganda putra diraih oleh Razif Sidek dan Jalani Sidek.
Atlanta 1996
Medali: 1 perunggu, 1 perak
Di nomor bulu tangkis, Cheah Soon Kit dan Yap Kim Hock meraih medali perunggu di nomor ganda putra, sementara Rashid Sidek meraih medali di nomor tunggal putra.
Beijing 2008
Medali: 1 perak, 1 Perunggu
Di London 2012, Lee Chong Wei meraih medali perak di nomor tunggal putra bulu tangkis, sementara Pandelela Rinong meraih perunggu di nomor loncat indah 10m putri.
Rio de Janeiro 2016
Medali: 4 perak, 1 perunggu
Pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Malaysia memperoleh medali perak di cabang bulu tangkis melalui Lee Chong Wei di tunggal putra, Goh V Shem dan Tan Wee Kiong di ganda putra, serta Chan Peng Soon dan Goh Liu Ying di ganda campuran.
Pada cabang loncat indah, Cheong Jun Hoong dan Pandelela Rinong memperoleh perak di nomor 10m putri.
Baca juga:Coba Cari Kesalahan Alquran, Mualaf Lamaan Ball: Tuhan Jika Engkau Ada, Bimbinglah Aku
Selain itu, Muhammad Azizulhasni Awang memperoleh medali perunggu di nomor balap sepeda Keirin putra.
Tokyo 2020
Medali: 1 perak, 1 perunggu
Pada Olimpiade Tokyo 2020, Malaysia memperoleh medali perak di cabang balap sepeda melalui Muhammad Azizulhasni Awang. Di bidang bulu tangkis, Aaron Chia dan Soh Wooi Yik memperoleh medali perunggu di nomor ganda putra.
Netizen Malaysia Sindir RI, Dulu Pejuangnya Ingin Gabung Indonesia
Nasionalis di Malaysia mulanya ingin bergabung dengan Indonesia. [1,250] url asal
#malaysia-vs-indonesia #emas-malaysia #netizen-malaysia #malaysia-sindir-indonesia #malaysia-gabung-indonesia
(Republika - News) 10/08/24 14:14
v/14043055/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Seperti laiknya saudara kandung, netizen Malaysia dan Indonesia kembali saling menggoda. Kali ini Indonesia disindir hanya bisa mendapat dua emas terlepas jumlah penduduk yang mencapai 275 juta orang. Ironisnya menjelang kemerdekaan dulu, marak dukungan di wilayah Malaya itu untuk bergabung dengan Indonesia. Begini kisahnya.
Bermula dari Abdul Hadi Hassan, seorang guru sejarah dari Sultan Idris Training College for Malay Teachers pada awal abad ke 20. Dicatat arsip Republika, Hassan menggunakan pendekatan etnografi dan historiografi, serta peran kolonial memecah belah dunia Melayu.
Menurut Hassan, Hindia Belanda yang meliputi Pulau Jawa dan sebagian Sumatra; Borneo, Malaya jajahan Inggris plus Singapura di dalamnya, serta Kalimantan Utara adalah tanah-tanah yang dipersatukan oleh kerajaan besar Sriwijaya dan Majapahit. Belanda dan Inggris memisahkan wilayah ini, menurut kepentingan masing-masing, melalui Traktat London 1824.
Dalam traktat disebutkan, Belanda menyerahkan semua yang dimilikinya di wilayah India, benteng di Malaka, tidak membuka kantor di Semenanjung Melayu, menarik diri dari Singapura. Inggris meminta akses perdagangan ke Kepulauan Maluku, terutama Ambon, Banda, dan Ternate.
Inggris juga menyerahkan pabriknya di Bengkulu dan seluruh kepemilikan atas Pulau Sumatra kepada Belanda, serta tidak mendirikan perwakilan atau membuat perjanjian dengan penguasa lokal. Inggris juga tidak mendirikan kantor-kantor perwakilan di Karimun, Batam, Bintan, Lingin, dan pulau-pulau yang di sebelah selatan Singapura atau membuat perjanjian dengan penguasa lokal. Intinya, Traktat London membagi Tanah Melayu menjadi dua dengan batas alaminya Selat Malaka. Sedangkan, di Kalimantan, Inggris relatif mempertahankan penguasaannya di Serawak serta Sabah yang disewa dari Kesultanan Sulu.
Inggris relatif tidak tertarik menjarah tanah-tanah kesultanan Melayu di sepanjang pantai utara Kalimantan, yang membuat Kesultanan Sambas, Mempawah, dan Pontianak, relatif menikmati kemerdekaannya pada awal abad ke-19. Namun, setelah orang Hakka masuk ke Sambas, Mempawah, dan Pontianak untuk menambang emas, Belanda menginvasi ketiganya dan mendirikan pos-pos dagang.
Pada saat bersamaan, di Pulau Jawa, Syarikat Islam menebar benih nasionalisme di kalangan anggotanya. Sebagai akibat politik etis Belanda, kalangan terdidik juga mulai menyuarakan nasionalisme. Bentuk yang paling nyata adalah Sumpah Pemuda 1928.
Gagasan kebangsaan Melayu telah ada di Malaysia sejak 1900, yaitu ketika sekelompok sarjana Islam asal Malaysia mempublikasikan artikel-artikel yang menyuarakan nasionalisme. Sedangkan, gerakan terorganisasi kebangsaan Melayu sebenarnya telah ada sejak 1938 atau ketika Ibrahim Yaacob mendirikan Kesatuan Melayu Muda (KMM).
Pada saat-saat ini juga, ide “Melayu Raya” mulai malih menjadi “Indonesia Raya”. Saat itu, Yaacob dan Abdul Hadi Hassan sudah awam soal perjuangan Sukarno dan kawan-kawan untuk merdeka dari kolonialis Belanda. Menurut sejarawan Malaysia Cheah Boon Keng dalam Ibrahim Yaacob and the Struggle for Indonesia Raya (1977), para pemuda di KMM saat itu sangat terpengaruh dengan Kongres Pemuda II yang menyepakati sebuah negara bernama Indonesia tanpa disekat oleh suku-suku bangsa.
Ketika Jepang menginvasi Asia, pewaris gagasan Indonesia Raya di Indonesia maupun di Malaysia menyambut Saudara Tua, demikian Jepang menyebut dirinya, sebagai kekuatan yang akan mempersatukan tanah-tanah Melayu. Pemimpin-pemimpin Melayu, mulai dari Buya Hamka, Sukarno, sampai yang berada di Semenanjung Malaya, mendukung Jepang.
Asumsi para pemimpin tidak keliru. Jepang mendepak Belanda dari Jawa dan wilayah-wilayah jajahannya di Indonesia, mengusir Inggris dari Semenanjung Melayu, dan mempersatukan semua wilayah. Jepang menjadikan pembentukan Melayu Raya alias Indonesia Raya sebagai impian yang sangat mungkin terwujud.
Sebab itu, sepanjang pendudukan Jepang, Ibrahim Yaacob dan Dr Burhanuddin Al- Hemy aktif menjalin kerja sama dengan Jepang. Pada 1943, Jepang membentuk Giyu gun di Semenanjung Malaya sebagai pasukan persiapan kemerdekaan. Pada 1944, seiring menguatnya potensi kekalahan Jepang di Perang Dunia II, persiapan kemerdekaan dan penggabungan Semenanjung Malaya ke dalam Indonesia Raya makin menguat. Ibrahim Yacoob saat itu kemudian membentuk KRIS, yang kemudian ia artikan sebagai “Kesatuan Rakyat Indonesia Semenanjung”.
Di Indonesia, persiapan kemerdekaan juga dilancarkan. Rapat-rapat dilangsungkan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mulai digelar sejak awal 1945. Dalam sidang-sidang itu, Mohammad Yamin sangat getol memasukkan Semenanjung Maya dan bagian utara Kalimantan sebagai wilayah Indonesia. Ia bahkan berpandangan Indonesia bisa dilebarkan ke semua wilayah di Asia Tenggara yang ditinggali Muslim Melayu. “Daerah Malaya adalah tanah Islam Indonesia, dan janganlah orang Islam diperhubungkan dibawah kekuasaan negara Muangthai yang beragama Buddha itu,” ujarnya dalam sidang pada 13 Mei 1945.
Bung Hatta dan KH Agus Salim mewanti-wanti, penyertaan Malaya ke wilayah Indonesia harus sepersetujuan warga setempat. Hal ini guna menyangkal asumsi imperialisme republik baru yang mereka bentuk nanti. Secara keseluruhan, sidang sepakat bahwa Indonesia bakal meliputi Malaya dengan syarat kerelaan warga dan aktivis setempat.
Pada 8 Agustus 1945, Bung Karno, Bung Hatta, dan dr Radjiman Wedyodiningrat dipanggil menghadap Marsekal Hisaichi Terauchi ke Dalat di Vietnam. Marsekal Terauchi yang merupakan panglima tentara Jepang yang bertanggung jawab atas wilayah Asia Tenggara selama Perang Dunia II menjanjikan kemerdekaan dengan imbalan pembelaan saat ada serangan dari sekutu.
Para pemimpin pergerakan Indonesia itu, sempat mampir sebentar di Bandara Changi di Singapura. Mengetahui kedatangan keduanya, anggota KMM menaikkan bendera Merah Putih di Bioskop Cathay. Sejumlah petinggi KMM seperti Onan Haji Siraj, Hassan Manan, dan Pakcik Ahmad juga menemui Sukarno-Hatta di bandara.
Di Vietnam, pada 9 Agustus, kedua proklamator mendapat jaminan dukungan kemerdekaan dari Jepang. Mereka kemudian kembali ke Tanah Air dengan mampir sebentar di Bandara Taiping di Perak. Di sana, mereka bertemu dengan Ibrahim Yaacob. Ia kemudian melaporkan kesediaan Malaya untuk merdeka dan menjadi bagian dari Indonesia. Ia juga menyarankan kemerdekaan Malaya yang akan menjadi bagian dari Indonesia diproklamasikan pada akhir Agustus.
Selain itu, Ibrahim Yaacob juga menjanjikan delegasi delapan orang beserta Sultan Perak, Abdul Aziz, akan berangkat untuk menghadiri proklamasi kemerdekaan bisa akhirnya diumumkan di Jakarta. Bung Karno sangat senang dengan antusiasme Ibrahim Yaacob ini.“Mari kita ciptakan Tanah Air untuk suku bangsa di Indonesia,” kata Sukarno sambil menjabat tangan Ibrahim Yaacob. “Kami bangsa Melayu, akan mendirikan tanah air dengan menyatukan Malaya dan Indonesia. Kami bangsa Melayu bertekad menjadi bagian Indonesia,” balas Ibrahim Yaacob.
Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, pemimpin Indonesia menggunakan situasi vaccum power untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Di Malaysia, Ibrahim Yaacob tidak sempat melakukannya. Ia bahkan harus lari ke Jakarta ketika Inggris kembali ke Malaysia untuk berkuasa kembali. Yaacob menjadi buronan karena kerja samanya dengan Jepang.
Cita-citanya mati. Yaacob sepenuhnya bekerja untuk kemerdekaan Indonesia sampai akhir hayatnya. Ia melewati masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di Malaysia, gerakan Melayu terlibat masalahnya sendiri. Mereka harus menghadapi Partai Komunis Cina yang keluar hutan untuk mengambil alih kekuasaan setelah kekalahan Jepang.
Alih-alih berniat memerdekakan diri dari Inggris, Melayu justru dimanfaatkan sang penjajah untuk menghadapi Partai Komunis Malaysia. Padahal, Inggris menggunakan Partai Komunis Malaysia sebagai kelompok perlawanan untuk mengganggu Jepang di Semenanjung Malaya dan Singapura.
Sebagai gagasan, Melayu Raya tampaknya belum mati. Ini terlihat ketika Malaysia, Filipina, dan Indonesia mendirikan Mafilindo tahun 1963. Pemimpin ketiga negara meneken Deklarasi Manila dengan tekad menyatukan Filipina, Indonesia, dan Malaysia ke dalam satu negara Melayu. Diosdado Macapagal, presiden Filipina saat itu, mengajak pemimpin ketiga negara mengenang para pemimpin yang memperjuangkan gagasan Melayu Raya, mulai dari Jose Rizal, Manuel Quezon, Wenceslao Vinzons, sampai Elpidio Quirino.
Seperti Ibrahim Yaacob, Macapagal juga harus mengakhiri mimpinya melihat Melayu Raya. Mafilindo gagal total setelah Sukarno menyebut Malaysia negeri bentukan imperialis Inggris. Tahun-tahun setelah Sukarno mengobarkan Dwikora, justru diwarnai slogan Ganyang Malaysia.
Selepas Sukarno jatuh, Presiden Soeharto sempat menimbang melanjutkan upaya penyertaan Malaysia ke dalam Republik Indonesia. Kendati demikian, Soeharto menyadari, Inggris akan mengerahkan kekuatan militer untuk menghalangi upaya itu dan akhirnya menimbulkan instabilitas di kawasan. Soeharto memilih berdamai dengan keadaan bahwa Malaysia adalah negara terpisah. Masa-masa jabatan Soeharto ditandai dengan hubungan yang sangat mesra dengan Malaysia, utamanya setelah Mahathir Mohamad jadi perdana menteri.
Melayu Raya sebagai gagasan geopolitik Melayu sirna. Namun Indonesia Raya, masih terus hidup meski hanya dalam lirik-lirik lagu kebangsaan.
Imbang Lawan Thailand, Malaysia Tantang Indonesia di Semifinal Piala AFF U-19 2024
Timnas Malaysia U-19 bermain imbang 1-1 melawan timnas Thailand U-19 di laga pamungkas Grup C. Hasil ini cukup mengantarkan mereka menjadi juara grup. [303] url asal
#timnas-malaysia-vs-timnas-indonesia #semifinal-piala-aff-malaysia-vs-indonesia #semifinal-malaysia-vs-indonesia #piala-aff-u-19
(MedCom) 25/07/24 17:15
v/12082505/
Jakarta: Timnas Malaysia U-19 bermain imbang 1-1 melawan timnas Thailand U-19 di laga pamungkas Grup C. Hasil ini cukup mengantarkan timnas Malaysia menjadi juara grup dan lolos ke semifinal.Pada pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo, Kamis 25 Juli 2024 sore Malaysia tertinggal terlebih dahulu di babak pertama. Kesalahan pemain Malaysia Muhammad Ridzwan yang tidak cermat saat menerima operan dimanfaatkan penyerang Thailand, Caelan Tanadon untuk membobol gawang yang dikawal Faez Iqhwan. Skor 1-0 untuk Thailand
Keunggulan 1-0 ini bertahan hingga babak pertama berakhir. Di babak kedua Harimau Malaya muda tampil lebih berani dan terbukti mereka berhasil menyamakan kedudukan melalui tendangan penalti pada menit ke-48.
Wasit asal Filipina, Clifford Daypuyat menunjuk titik putih setelah Arami Wafiy dijatuhkan Singha Marasa di kotak penalti. Pavithran Gunalan yang maju sebagai eksekutor berhasil menempatkan bola dengan baik, skor berubah 1-1.
Kedua tim saling jual beli serangan. Terdapat sejumlah peluang yang hampir berpeluang menjadi gol. Namun, hingga peluit ditiup skor tidak berubah.
| ?Baca juga: Ungkapan Haru Kafiatur Usai Cetak Gol Perdana di Piala AFF U-19 |
Hasil ini pun mengantarkan timnas Malaysia U-19 melaju ke partai semifinal Piala AFF U-19 2024 sebagai juara Grup C. Di semifinal timnas Malaysia U-19 akan menantang timnas Indonesia U-19 yang terlebih dahulu memastikan diri lolos sebagai juara Grup A.
Sementara itu Thailand dengan hasil ini juga mengantongi tiket ke semifinal Piala AFF U-19 2024 sebagai runner up terbaik. Timnas Thailand akan menghadapi timnas Australia.
Jadwal Semifinal Piala AFF U-19 2024
Berikut jadwal semifinal Piala AFF U-19 2024:Sabtu, 27 Juli 2024
Australia U-19 vs Thailand U-19
Lokasi: Stadion Gelora Bung Tomo
Waktu: 15.00 WIB
Sabtu, 27 Juli 2024
Indonesia U-19 vs Malaysia U-19
Lokasi: Stadion Gelora Bung Tomo
Waktu: 19.30 WIB
(RUL)