JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivitas diving (menyelam) dari kelompok wisata ekstrem termasuk bagian niche tourism. Hal tersebut menurut Penasehat & Executive Secretary Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Jakarta, Bondan Nurdiyanto.
"Tren (wisata) petualangan ini memang merupakan niche market.Market yang tidak berlaku umum. Hanya orang-orang yang menyenangi dunia petualangan," kata Bondan dalam konferensi pers Deep And Extreme Indonesia (DXI) 2025 di Jakarta Barat, Rabu (23/10/2024).
Wisata petualangan ekstrem yang dimaksud meliputi arum jeram (rafting) dan wisata selam (diving).
Lebih lanjut, niche tourism merupakan wisata yang diminati oleh kelompok tertentu dalam jumlah kecil.
Jenis wisata ini berbanding terbalik dengan mass tourism yang dikenal sebagai aktivitas wisata viral atau banyak diminati masyarakat umum.
"Bukan tidak mungkin bahwa wisata bertualang (ekstrem) ini bisa menjadi sesuatu yang fun. Jadi, saya kira, ke depan wisata bertualang bisa semakin baik (populer) di masa depan," jelas Bondan.
DOK. Dyandra Promosindo Bondan Nurdiyanto, Penasehat & Executive Secretary Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) dalam konferensi pers Deep And Extreme Indonesia 2025.Bondan tak menyebut kisaran bujet berwisata khusus ini. Namun, bila melihat destinasinya, Bali, Pulau Komodo, dan Sabang menjadi spot favorit bagi penggiat wisata ekstrem, khususnya diving.
Adapun target pasarnya lebih banyak wisatawan mancanegara dibanding wisatawan nusantara.
"Penyelam atau yang menyenangi bidang ini, mereka itu variatif. Paling sedikit, tinggal di Raja Ampat, misalnya, selama seminggu," kata Bondan saat ditemui Kompas.com usai konferensi pers.
Penyelam (diver), menurut Bondan, menikmati keindahan alam Indonesia lewat wisata ekstrem ini sepanjang tahun. Tak ada periode khusus.
Minat diving
Anggota Dewan Pengawas Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI), Martin Wetik menuturkan, diving juga kian diminati dari tahun ke tahun.
"Kalau dibilang (tren diving) meningkat, jelas ya karena orang itu boleh dibilang, sehabis Covid-19, seperti habis dikekang karena banyak pembatasan," ucap Martin.
"Makanya setelah pembatasannya dibuka, diving langsung booming. Sekarang, kembali merata dan tinggal kesiapan dari infrastruktur wisata baik dari kapal, pesawat, maupun resort," tambahnya.
Sementara itu, Brand Ambassador DXI 2025, Bucek Depp menuturkan, aktivitas luar ruangan (outdoor) bukanlah kegiatan ekstrem. Baik itu dilakukan di darat, udara, maupun laut.
Hal ini karena menurutnya, semua aktivitas tersebut terukur.
"Kegiatan luar ruangan ini adalah bagaimana kita melakukannya di waktu yang tepat, pada waktu yang tepat," kata Bucek
"Yang ekstrem itu bukan kegiatannya, justru keindahan alam Indonesia yang harapannya, dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia," lanjut dia.