REPUBLIKA.CO.ID, Doa sapu jagat adalah salah satu doa yang sering dibaca oleh umat Islam, terutama setelah melaksanakan sholat. Doa ini berasal dari ayat Alquran, dan merupakan doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.
Artinya: "Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS Al-Baqarah [2]:201)
Di dalam ayat ini, Allah menyebutkan manusia yang memperoleh keuntungan dunia akhirat, yaitu orang-orang yang di dalam doanya selalu minta agar mendapat kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan terjauh dari siksaan api neraka.
Untuk mencapai hidup bahagia di dunia harus melalui beberapa persyaratan, di antaranya harus sabar dalam berusaha, patuh kepada peraturan dan disiplin, pandai bergaul dan dipercaya serta mempunyai maksud baik dalam usahanya. Untuk mencapai hidup bahagia di akhirat haruslah mempunyai iman yang murni dan kuat, serta mengerjakan amal yang saleh dan mempunyai akhlak yang mulia.
Untuk terlepas dari siksa neraka hendaklah selalu meninggalkan pekerjaan-pekerjaan maksiat, menjauhkan diri dari yang keji serta memelihara diri jangan sampai berbuat hal-hal yang diharamkan Allah karena pengaruh syahwat dan hawa nafsu.
Penjelasan Quraish Shihab..
Jadi, doa Sapu Jagat ini mencakup permohonan untuk mendapatkan kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, serta perlindungan dari siksa api neraka. Oleh karena itu, doa ini dianggap sangat lengkap dan mencakup berbagai aspek kehidupan.
Prof M Quraish Shihab dalam M Quraish Shihab Menjawab terbitan Lentera Hati, ada masyarakat yang bertanya tentang boleh tidaknya mengubah redaksi doa sapu jagat tersebut. "Bolehkah doa sapu jagat disisipi kalimat Ya Allah setelah kata Rabbana?," katanya.
Menjawab pertanyaan tersebut, M Quraish Shihab langsung menangkap bahwa doa sapu jagat yang dimaksud penanya itu adalah ayat 201 dalam Surah Al-Baqarah.
"Jika doa atau kalimat ini dibaca sebagai ayat, maka tentu saja ia tidak boleh ditambah atau dikurangi, walau satu huruf pun. Namun, jika ia dibaca sebagai doa, maka sebagian ulama memperkenankannya," jelas Quraish Shihab.
Itulah sebabnya ayat 24 Surat al-Isra' yang berbunyi, "Rabbirhamhuma kama rabbayani shaghira" (QS al-Isra (17): 24) dibaca sebagai doa oleh sebagian orang jika dalam keadaan bersama orang lain, redaksinya diubah menjadi "Rabirhamhum kama rabbawna shighara".
"Namun demikian, saya kurang cenderung melakukan perubahan, penambahan, atau pengurangan, walau sebuah teks ayat dibaca sebagai doa," kata Quraish.