#30 tag 24jam
Waspada, Ini Efek Samping Mengonsumsi Micin
MSG atau micin yang sering dikonsumsi orang-orang memiliki efek samping yang merugikan bagi tubuh. [283] url asal
#msg #micin #efek-samping-mengonsumsi-micin #efek-msg
(Bisnis.Com - Terbaru) 02/11/24 10:28
v/17352963/
Bisnis.com, JAKARTA - Micin memang membuat makanan menjadi lebih lezat. Namun, terlalu banyak mengonsumsi micin memiliki efek samping yang tidak baik bagi kesehatan tubuh.
Dilansir dari Healthline, Sabtu (2/11/2024), monosodium glutamate (MSG) atau micin merupakan zat yang sering digunakan sebagai penambah rasa makanan. Biasanya MSG sering ditemukan dalam chinese food, sup, snack, dan berbagai makanan olahan lainnya.
Micin dibuat dengan memfermentasi sumber karbohidrat seperti bit gula, tebu, molase, dan memiliki sifat yang mudah larut dalam air, terurai menjadi natrium dan glutamat bebas.
Mengutip dari eatingwell.com, MSG tidak selalu ditambahkan ke dalam makanan. MSG juga ditemukan secara alami dalam beberapa makanan seperti protein nabati terhidrolisis (HVP), ragi autolisis, ragi terhidrolisis, ekstrak ragi, ekstrak kedelai, dan isolat protein.
Menurut FDA, tubuh manusia memecah glutamat yang ditemukan dalam MSG dengan cara yang sama seperti memecah glutamat yang ditemukan secara alami dalam makanan. Rata-rata orang dewasa di AS mengonsumsi sekitar 13 gram glutamat alami per hari, dan sekitar setengah gram MSG.
Meskipun saat ini Food and Drug Administration (FDA) telah mematahkan mitos terkait bahayanya micin, MSG tetap memiliki efek samping yang merugikan.
Efek samping ini disebut sebagai MSG attack, dimana para penderitanya mengalami:
- Sakit kepala
- Cepat haus
- Mual
- Mati rasa
- Palpitasi
- Kantuk berlebih
- Nyeri dada
- Kesulitan bernapas
Selain itu, micin masih dikaitkan dengan masalah berkurangnya asupan energi. Misalnya, jika seseorang mengonsumsi sup yang mengandung micin, orang tersebut cenderung akan makan lebih sedikit setelahnya.
Meskipun penelitian terbaru menegaskan micin aman dikonsumsi, porsi dalam mengonsumsi micin tetap harus dibatasi, terutama bagi sebagian orang yang memiliki sensitifitas terhadap micin dan menunjukan gejala dari adanya MSG attack.
Jika terjadi salah satu gejala MSG attack, segera hubungi dokter dan konsultasikan mengenai makanan yang dapat dikonsumsi. (Jesslyn Samantha Rumiris Lumbantobing)
Ramai Kembali Soal Micin, Kapan Micin yang Kita Konsumsi Statusnya Haram?
Isu kehalalan micin kembali mencuat [534] url asal
#micin #kehalalan-micin #hukum-micin #micin-halal #msg #hukum-msg #kehalalan-msg #micin-haram #msg-haram #msg-halal
(Republika - Khazanah) 07/08/24 23:07
v/13704694/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Isu kehalalan micin kembali menguat. Belakangan beredar kabar tentang produk bumbu masakan micin atau monosodium glutamate (MSG) yang mengandung babi.
Informasi tersebut merupakan broadcast pesan lama yang kembali disebarluaskan oleh pengguna media sosial dan viral di media sosial.
Namun, benarkah micin yang selama ini bereda mengandung babi? Micin atau yang memiliki nama kimia monosodium glutamat (MSG) merupakan garam natrium dari asam glutamat yang merupakan salah satu bahan tambahan pangan yang memiliki peran penting dalam proses memasak.
Senyawa ini juga kadang disebut dengan nama, Mononatrium Glutamat (MNG). Micin memiliki fungsi sebagai penguat atau penyedap rasa pada makanan.
Micin mengandung senyawa asam glutamat yang merupakan asam amino yang berfungsi sebagai neurotransmitter yang berperan penting dalam mengirim sinyal antar sel saraf (neuron) dalam otak dan sistem saraf. Asam amino ini juga berperan penting dalam menyusun protein dalam tubuh.
Tubuh menggunakannya untuk membangun berbagai protein yang diperlukan untuk fungsi dan struktur sel.
Micin juga mengandung natrium yang merupakan bahan mineral. Natrium dalam tubuh memiliki fungsi dalam mengatur tekanan darah dengan mengikat air dan mengatur fungsi saraf. Komponen ini juga berperan mengatur tekanan osmotik sel terkait keluar masuknya cairan sel dalam tubuh.
Bagaimana hukum mengonsumsi micin? Sebagai umat Muslim tentunya kita perlu teliti terhadap status kehalalan micin yang kita gunakan untuk masak sehari-hari.
Menurut Halal Post Audit Management LPPOM, Umi Noer Afifah, S T, dalam proses produksi micin dihasilkan dari proses fermentasi tetes tebu atau pati jagung dengan bantuan mikroba Corynebacterium glutamicum. Agar mikroba tersebut dapat bertahan hidup diperlukan media sebagai penghasil sumber nitrogen untuk nutrien pertumbuhan mikrobanya.
Media tersebut akan digunakan juga pada tahapan proses fermentasi yang terdiri dari glukosa, senyawa kimia (seperti urea, ammonium sulfat), vitamin, dan sumber nitrogen seperti pepton. Selama fermentasi, mikroba akan mengubah gula menjadi asam glutamat.
Asam glutamat selanjutnya akan direaksikan dengan natrium hidroksida sehingga menghasilkan monosodium glutamat (MSG).
“Produksi MSG menjadi kritis karena terdapat penggunaan bahan media yang dapat bersumber dari babi, seperti pepton yang dapat bersumber dari bahan nabati atau bisa juga bersumber dari bahan hewani termasuk babi, selain itu dalam pembuatan pepton harus dipastikan enzim yang digunakan bebas dari bahan babi dan najis. Mikroba juga harus dipastikan sumbernya berasal dari Genetically Modified Organism (GMO) atau tidak. Jika berasal dari GMO, maka harus dipastikan bukan berasal dari genetika manusia atau babi,” jelas Umi, dikutip dari laman resmi MUI Rabu (7/8/2024).
Fasilitas produksi yang digunakan untuk memproduksi MSG haruslah bebas dari bahan haram dan najis.
Untuk itu, penting sekali memastikan apakah produsen MSG menggunakan fasilitas bersama dengan produk lainnya yang tidak disertifikasi halal. Jika ada pengggunaan fasilitas bersama maka harus dipastikan bahan-bahan yang digunakan untuk memproduksi produk yang tidak disertifikasi adalah bahan yang bebas babi.
Isu micin yang saat ini berkembang adalah isu yang pernah ada pada 1988 yang menyatakan bahwa produk makanan dan minuman yang beredar di Indonesia mengandung bahan babi. Hal ini menyebabkan penjualan produk pangan yang mengandung babi mengalami penurunan yang drastis yang berpengaruh pada stabilitas ekonomi dan politik di Indonesia.
Pemerintah meminta MUI untuk mengatasi hal tersebut sehingga pada 6 Januari 1989 MUI mendirikan LPPOM untuk melakukan pemeriksaan atau sertifikasi halal untuk menjami kehalalan produk yang beredar di Indonesia yang masih berlangsung sampai dengan saat ini.
Sumber: mui.or.id
Benarkah Micin Buruk Buat Kesehatan? Ini Faktanya - kumparan.com
Selama lebih dari setengah abad, monosodium glutamat (MSG) alias micin digunakan sebagai bumbu pelengkap biar masakan terasa gurih dan nikmat. [891] url asal
#micin #msg #kesehatan #penyakit
(Kumparan.com - Tekno & Sains) 17/07/24 08:14
v/11048679/
Selama lebih dari setengah abad, monosodium glutamat (MSG) alias micin digunakan sebagai bumbu pelengkap, biar masakan terasa gurih dan nikmat. Namun, selama itu pula micin dinilai punya reputasi buruk karena katanya bisa bikin orang jadi “lemot”.
Micin juga disebut bisa menimbulkan serangkaian gejala seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga refluks asam. Yang jadi pertanyaan, benarkan micin buruk buat kesehatan, atau ada cerita lain di balik reputasi jelek MSG ini?
Menurut studi keamanan yang dilakukan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) AS pada 1995, MSG aman dikonsumsi. MSG adalah garam natrium dari asam amino dan asam glutamat. Studi tahun 1995 melaporkan beberapa contoh gejala ringan dalam jangka pendek, seperti sakit kepala, muka merah, dan ngantuk. Ini dialami oleh orang yang sensitif pada MSG dengan mengonsumsi dalam jumlah besar, lebih dari 3 gram tanpa makanan.
“Mengonsumsi lebih dari 3 gram MSG tanpa dicampur makanan pada satu waktu adalah hal yang tidak mungkin,” menurut FDA sebagaimana dikutip Live Science.
Jika MSG sudah dinyatakan aman dikonsumsi puluhan tahun lalu, kenapa sekarang orang-orang masih takut mengonsumsinya? Ketakutan akan konsumsi MSG ternyata memiliki sejarah panjang. Ini berakar dari sebuah surat lama, serangkaian penelitian yang buruk, dan pengaruh media pada tahun 1960-an.
Pada 1968, seorang dokter Maryland bernama Robert Ho Man Kwok menulis surat kepada New England Journal of Medicine, di mana isi surat tersebut menjelaskan gejala yang dialaminya setelah makan makanan khas China Utara. Gejala termasuk mati rasa, lemas, dan jantung berdebar. Ia menyebut apa yang dialaminya sebagai “Chinese Restaurant Syndrome” dan menduga ada tiga kemungkinan yang menjadi penyebabnya: garam, anggur, atau MSG.
MSG sendiri dibuat oleh seorang ahli kimia Jepang bernama Kikunae Ikade pada awal 1900-an. Micin menjadi bahan tambahan yang umum dipakai dalam masakan Asia Timur melalui imperialisme Jepang. Sekitar 1926, MSG masuk ke AS melalui dua jalur: restoran China dan makanan kaleng seperti yang dibuat oleh Campbell’s Soup Company.
Pada saat surat Kwok ditulis, micin merupakan bahan tambahan makanan yang banyak digunakan dan bisa ditemukan di hampir semua jenis makanan olahan, makanan kemasan, dan makanan yang disiapkan di restoran, bahkan menjadi bumbu dapur rumah tangga.
Sejumlah dokter dan ilmuwan menanggapi surat Kwok, dan menjelaskan versi mereka sendiri tentang Chinese Restaurant Syndrome, tapi hanya sedikit gejala yang diceritakan. Ada juga orang berpendapat apa yang ditulis oleh dokter dan para ilmuwan ihwal Chinese Restaurant Syndrome adalah berita bohong, salah satunya adalah Dr. Howard Steel, ahli bedah ortopedi yang menantang pernyataannya dimuat di New England Journal of Medicine.
Namun, saat itu media lebih suka membahas isu liar yang beredar untuk dimuat menjadi berita utama dengan judul “Chinese Restaurant Syndrome Puzzles Doctors” dan menstigmatisasi makanan China.
Awalnya, tidak ada bahan tertentu yang dikaitkan dengan Chinese Restaurant Syndrome. Ini karena surat Kwok menyebut ada tiga bahan yang dicurigai menjadi penyebab penyakit yang dideritanya. Namun, antara 1968 dan 1969, serangkaian penelitian yang dilakukan serampangan berupaya menetapkan Chinese Restaurant Syndrome sebagai kondisi medis yang disebabkan oleh MSG.
“Jika Anda melihat uji klinisnya, hasilnya cukup ekstrem,” kata Dr. Fred Cohen seorang spesialis sakit kepala dan asisten profesor kedokteran dan neurologi di Icahn School of Medicine di Mount Sinai, New York, yang baru-baru ini melakukan penelitian dan membuktikan bahwa MSG aman dikonsumsi.
Sementara penelitian awal yang menjadi dasar reputasi buruk MSG dibuat dengan sangat bias. Dalam studi tanpa bukti tersebut, peneliti memberikan sup pangsit kepada relawan yang mengalami reaksi buruk terhadap makanan di restoran China untuk melihat apakah ada respons negatif atau tidak. Hasilnya, tentu saja orang-orang ini mengalami gejala karena sebelumnya sudah ada riwayat.
Studi selanjutnya menguji efek MSG terhadap kesehatan tikus dan menghubungkan zat aditif ini dengan lesi otak dan obesitas. Namun dalam kasus ini MSG disuntikkan di bawah kulit, bukan dikonsumsi seperti manusia. Selain itu, MSG juga diberikan dalam dosis sangat tinggi.
Karena para peneliti terus menerus menerbitkan studi yang salah dan menyesatkan, ditambah peran media yang menyebarluaskan hasil studi salah kaprah tersebut, persepsi publik pun terbentuk. Orang-orang melihat MSG sebagai racun, dan restoran China sebagai sumbernya.
Sejak saat itu, banyak restoran China mulai memasang tanda “Tanpa MSG” di jendela restoran mereka. Produsen makanan juga menambah keterangan yang sama di kemasan produknya. Pada 2024, ulasan Yelp masih dipenuhi dengan pembicaraan tentang gejala yang disebabkan oleh MSG, meski telah banyak peneliti yang membantahnya.
“Makanan cepat saji dan camilan biasanya mengandung MSG tinggi, tapi tidak menimbulkan keluhan yang sama,” kata Kantha Shelke, kepala ilmuwan di Corvus Blue LLC, sebuah firma riset dan regulasi ilmu pangan dan nutrisi yang berpusat di Chicago. “Sementara itu, makanan seperti tomat, jamur, dan keju secara alami mengandung MSG tapi tidak ada pembicaraan tentang Sindrom Restoran Italia.”
Shelke mengatakan, ada juga pengaruh sugesti yang perlu dipertimbangkan. Stigma seputar micin dan makanan China merangkum efek nocebo, fenomena di mana ekspektasi atau keyakinan negatif tentang suatu zat menyebabkan gejala yang tidak menyenangkan, bahkan tanpa adanya penyebab fisiologis apa pun.
Dengan kata lain, orang dapat mengalami gejala seperti sakit kepala, muka memerah, atau mual, karena sebelumnya diberi tahu tentang dampak negatif suatu zat.
Dalam ulasannya, Cohen dan tim menemukan, meski MSG dapat menjadi pemicu potensial gejala sakit kepala, banyak dari penelitian tersebut menggunakan dosis MSG yang jauh lebih tinggi daripada konsumsi normal. Uji klinis juga melaporkan hasil yang saling bertentangan dan peran MSG dalam menyebabkan migrain tidak jelas.
Ada berbagai macam bahan seperti alkohol, susu, atau telur, yang secara umum dianggap aman, tapi sebenarnya dapat memicu sakit kepala bagi orang-orang tertentu, kata Cohen.