Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga pemeringkatan kredit internasional, Moody’s Ratings, menyoroti masih rendahnya pemanfaatan kredit swasta di wilayah Asia Pasifik, termasuk di Indonesia.
Dalam laporannya berjudul Private credit - APAC: Sector will continue to expand, driven by niche demand amid economic growth yang rilis pada 3 Oktober 2024, menuliskan bahwa pasar kredit swasta di Asia Pasifik berkembang pesat dalam satu dekade terakhir, tetapi bank masih mendominasi.
“Dominasi bank yang terus berlanjut dalam penyaluran kredit di kawasan ini berarti pasar kredit swasta masih rendah,” tulis Moody’s, dikutip Minggu (6/10/2024).
Tercatat per 2023, kredit yang diberikan oleh perbankan mencakup 86%, sedangkan sektor swasta mencakup sisanya yakni 14%.
Berbeda kondisi dengan Eropa, di mana bank menjelaskan 46% kredit dan sisanya dari sektor privat atau swasta. Bahkan di Amerika Serikat (AS), kredit dari pihak swasta menjelaskan 67% dari total pinjaman dan sisanya dari bank.
Moody’s mendefinisikan kredit swasta mencakup pinjaman non-bank kepada perusahaan pasar menengah, sebagian besar di bawah kepemilikan ekuitas swasta, yang utang dan sahamnya tidak diperdagangkan secara publik, serta collateralized loan obligations (CLO), efek beragun aset (EBA) swasta, aset-aset bisnis yang memiliki peringkat investasi tinggi, dan pembiayaan dana.
Dalam laporan tersebut, berfokus pada pinjaman langsung yang diberikan oleh dana kredit swasta.
Bagi para investor, kredit swasta menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan aset-aset yang diperdagangkan di bursa efek yang lebih likuid dan menawarkan transparansi eksternal.
Meski demikian, Moody’s memperkirakan kredit swasta di Asia Pasifik masih akan terus berkembang, dibantu oleh pertumbuhan ekonomi dan permintaan khusus.
Di mana kredit swasta akan terus menarik permintaan dari perusahaan-perusahaan pasar menengah karena dapat membantu mengisi kesenjangan pendanaan mereka. Selain itu, kredit swasta dapat menjadi keuntungan bagi perusahaan yang mencari pendanaan untuk proyek-proyek seperti pembangunan infrastruktur atau pembelian dengan leverage (leveraged buyout).
Hal ini dikarenakan investor utama kredit swasta di Asia-Pasifik adalah investor institusional jangka panjang dengan tingkat selera risiko yang lebih tinggi dibandingkan bank, sehingga mereka memiliki lebih banyak kelonggaran untuk berpartisipasi dalam pendanaan untuk transaksi yang relatif lebih berisiko.
Di sisi lain, investor tersebut juga akan mengalokasikan investasi mereka di Amerika Serikat dan Eropa.
Negara-negara besar yang sudah maju akan mendorong pertumbuhan kredit swasta, seperti Australia, Jepang, dan Korea, yang memiliki sistem keuangan dan hukum yang lebih canggih, serta kumpulan investor yang lebih besar.
Di beberapa negara berkembang termasuk China dan India, permintaan kredit swasta akan didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan perbaikan sistem regulasi dan hukum.
Perdagangan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di sebagian besar kawasan Asia Pasifik, tetapi dampaknya tidak merata. Vietnam meraih kinerja terbaik. [740] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi di wilayah Asia Pasifik pada 2025 diprediksi akan mengungguli tren global. Meski demikian, sejumlah faktor seperti melambatnya pertumbuhan di China dan tensi geopolitik masih membayangi prospek kawasan ini.
Berdasarkan laporan terbaru Moody's Analytics, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan tumbuh sebesar 3,9% pada 2024. Sementara itu, pertumbuhan pada 2025 diproyeksikan sebesar 4% pada tahun 2025, melampaui perekonomian global yang diprediksi pada kisaran 2,6%—2,7%.
"Pertumbuhan di negara-negara maju di kawasan ini akan meningkat pada tahun 2025, mengimbangi momentum perlambatan pada 2025 di negara berkembang di Asia," jelas laporan tersebut.
India diproyeksikan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi terbaik pada kawasan ini tahun depan dengan 6,5%, disusul oleh Vietnam dan FIlipina sebesar masing-masing 6,2% dan 6,1%.
Menyusul di belakangnya adalah Indonesia dengan proyeksi pertumbuhan 4,8% pada 2025 mendatang. Pertumbuhan ini mengungguli China yang diprediksi mencatatkan pertumbuhan 4,6%, sementara itu Malaysia diproyeksikan tumbuh 4,7%.
Dalam laporannya, Moody's memaparkan kondisi perekonomian di Asia Pasifik akan cukup beragam. Pada negara-negara berkembang di Asia, pertumbuhan akan melambat menjadi 5,1% pada 2024 dan 4,9% pada tahun 2025 dari 5,5% pada tahun 2023.
Momentum perlambatan ekonomi di China akan menjadi faktor utama. Permintaan domestik yang lemah akan membatasi pertumbuhan PDB China menjadi 4,7% pada 2024, jauh di bawah target resmi sebesar 5%. Pada 2025, Moody's memproyeksikan pertumbuhan akan melambat menjadi 4,6%.
Selain itu, normalisasi pertumbuhan di India akan turut menyeret kinerja kawasan. Setelah pemulihan yang kuat pascapandemi sebesar 7,8% pada tahun 2023, PDB India akan melambat menjadi 7,1% pada 2024 dan 6,5% pada 2025.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia Pasifik. / dok. Moody's Analytics
Sementara itu, kawasan Asia Tenggara berada dalam kondisi yang lebih baik. Untuk blok Asean, pemulihan pasca-pandemi yang tertunda sebagian besar akan mendukung percepatan pertumbuhan PDB pada 2024 dan 2025.
Adapun, perdagangan telah menjadi pendorong utama pertumbuhan di sebagian besar kawasan Asia Pasifik, namun dampaknya tidak merata. Vietnam telah menjadi negara dengan kinerja terbaik, dengan upaya untuk mendiversifikasi rantai pasokan yang menjadikan negara ini pusat manufaktur.
Sementara itu, Taiwan dan Korea Selatan juga menikmati pertumbuhan ekspor yang kuat. Moody's menyebut, untuk kedua negara ini, kebangkitan kecerdasan buatan telah mendorong permintaan akan semikonduktor canggih.
Adapun, booming teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) belum berdampak pada negara-negara Asia Tenggara yang sebagian besar memproduksi chip kelas bawah hingga menengah.
Sementara itu, ekspor China juga tetap stabil, sementara pertumbuhannya masih berada di rata-rata tingkat pertumbuhan untuk wilayah ini, sebagai eksportir terbesar di dunia, bahkan pertumbuhan satu digit pun mempunyai dampak global.
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas ekspor China telah memicu proteksionisme di luar negeri. Tahun ini, banyak negara telah menaikkan tarif panel surya, kendaraan listrik, baja, aluminium, dan ritel bernilai rendah untuk barang-barang buatan China.
Beberapa negara yang menaikkan pungutan kepada China mencakup negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Kanada, serta pasar negara berkembang seperti Brasil, Meksiko, Turki, dan Pakistan.
Negara lain, termasuk India, Jepang, Inggris, Argentina dan Vietnam, telah meluncurkan penyelidikan anti-dumping.
Sementara itu, tingkat inflasi harga konsumen di Asia Pasifik terpantau telah mendingin meski masih terjadi gangguan sesekali. Secara umum, inflasi sejalan dengan target bank sentral ataurata-rata sebelum pandemi.
Namun, risiko-risikonya masih cenderung mengarah pada inflasi yang melebihi batas (overshooting) dan bukannya terlalu rendah (undershooting).
"Sementara itu, harga pangan sedang melonjak dan harga energi berada di atas rata-rata sebelum pandemi. Peningkatan harga komoditas dapat memicu inflasi, mendorong pengetatan kebijakan moneter yang akan sangat membebani wilayah tersebut," jelas laporan tersebut.
Bayang-Bayang Tensi Geopolitik
Tensi geopolitik juga menjadi salah satu faktor yang dapat membebani pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik.
Pemilu di AS memunculkan potensi pergeseran kebijakan ekonomi Negeri Paman Sam. Hal tersebut karena ekspor Amerika Serikat mendorong pertumbuhan di sebagian besar wilayah Asia Pasifik.
Kemenangan Capres dari Partai Demokrat, Kamala Harris, kemungkinan besar tidak akan mengubah banyak kebijakan-kebijakan yang ada. Sebaliknya, kemenangan Donald Trump kemungkinan akan mengakibatkan tarif yang lebih tinggi dan perselisihan perdagangan yang merugikan perekonomian Asia Pasifik melalui penurunan volume ekspor dan menurunnya kepercayaan diri.
Adapun, di Eropa, kebangkitan gerakan politik sayap kanan dalam pemilu baru-baru ini juga menimbulkan kekhawatiran serupa. Hal ini berpotensi mengarah pada kebijakan yang berfokus pada kepentingan dalam negeri dan mengurangi perdagangan internasional.
"Secara keseluruhan, perekonomian Asia Pasifik maju dua langkah dan mundur satu langkah. Meskipun kinerja wilayah ini lebih baik dari kawasan lain, pertumbuhan masih bertumpu pada fondasi yang tidak stabil," pungkasnya.