#30 tag 24jam
Nasabah Tidak Aktif Transaksi Bisa jadi Beban bagi Bank
Apakah nasabah yang tidak aktif bertransaksi memberikan beban tersendiri bagi perbankan? [1,375] url asal
#nasabah-bank #nasabah-bank-digital #nasabah-tidak-aktif #nasabah-aktif-bank-digital #nasabah-aktif #bank-digital #bank-jago #superbank #bank-saqu
(Bisnis.Com - Finansial) 15/08/24 20:05
v/14456227/
Bisnis.com, JAKARTA - Sederet bank digital mencatatkan porsi nasabah aktif yang belum optimal meski di tengah laju peningkatan jumlah nasabah dan target ambisius akuisisi pengguna hingga akhir tahun. Lantas, apakah ini memberikan beban tersendiri bagi perbankan?
Head of Sustainability & Digital Lending Bank Jago Andy Djiwandono mengatakan beban yang dirasakan atas rendahnya porsi nasabah aktif di bank digital dapat bervariasi tergantung dari tiap-tiap bank. Menurutnya tiap bank memiliki struktur cost hingga infrastrukturnya yang berbeda.
“Tergantung banknya ya, karena banyak faktor di belakang itu ya. Misalnya beban, karena apa kira-kira? Karena serving cost mungkin ya, cost-nya gitu ya. Jadi, saya rasa masing-masing bank beda-beda sih ya,” ujarnya, Rabu (14/8/2024).
Andy juga menunjukkan bahwa sebagai bank yang berbasis teknologi memiliki keuntungan dalam hal skalabilitas dibandingkan dengan bank tradisional, karena teknologi modern memungkinkan mereka untuk mengelola pertumbuhan dengan lebih fleksibel dan efisien.
“Dan juga karena kita [Bank Jago] punya enablement structure dari sistem kita yang beda dengan bank lain [jadi] mungkin saya rasa beda-beda sih ya. Saya enggak bisa bilang pasti [pukul rata bahwa ini beban] untuk semua orang,” katanya.
Bank Jago sendiri mendefinisikan nasabah aktif adalah pengguna yang juga berada di ekosistem mitra integrasi Jago.
“Walaupun mungkin dia [nasabah] tidak selalu sadar bahwa dia sebenarnya pakai Jago gitu ya. Misal banyak yang pakai Gopay Tabungan. Itu kan enggak buka aplikasi Jago, tapi mau enggak mau pakai Jago sebenarnya,” ungkap Andy.
Sebagaimana diketahui, sampai dengan Juli 2024 nasabah funding melalui Aplikasi Jago telah mencapai lebih dari 10 juta. Jika memperhitungkan nasabah lending, total nasabah Bank Jago mencapai 12,5 juta.
Lebih lanjut, Andy menjelaskan sejauh ini mitra, seperti ekosistem GoTo serta platform reksadana online Bibit yang terhubung dengan Aplikasi Jago, juga dinilai memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan bisnis Bank Jago. Ini terlihat salah satunya dari jumlah nasabah funding Aplikasi Jago yang sebanyak 66% berasal dari mitra ekosistem.
Sebagaimana diketahui, pertumbuhan pengguna Aplikasi Jago sejalan dengan penghimpunan DPK yang mencapai Rp14,8 triliun per kuartal II/2024 atau tumbuh 47% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp10,1 triliun.
Adapun, dari kacamata pengamat seperti Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch. Amin Nurdin pun tak menampik bahwa rendahnya porsi dari nasabah aktif bisa membebani bank.
“Ya seperti beban operasional, kemudian beban sewa sistem, pemeliharaan, karena di dalamnya kan harus menyimpan database customer,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (15/8/2024),
Lebih lanjut, kata Amin, sebenarnya bank digital masih menciptakan pendapatan nonbunga alias fee based income dari transaksi, menurut hematnya, saat volume transaksi makin banyak, seharusnya akan dibarengi dengan banyaknya saldo yang mengendap.
“Kalau mereka masih tradisional, tradisional artinya ada dana mengendap tanpa transaksi harus dicek seberapa besar nih saldonya, karena perputaran likuiditas ini untuk membiayai kredit, kalau hanya stuck tidak ada transaksi ini sebenarnya memberikan beban bunga, meskipun tidak signifikan,” paparnya.
Amin juga menyoroti tingginya penawaran bunga deposito dan tabungan oleh bank digital dibandingkan bank konvensional, membuat besar kemungkinan terjadi peningkatan dalam biaya dana alias cost of fund.
Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda juga turut menyampaikan bahwa yang saat ini masih menjadi permasalahan terhadap nasabah bank digital, di mana masih banyaknya pengguna yang memanfaatkan bank digital hanya untuk transaksi pembayaran ataupun transfer tanpa biaya.
“Kita harus akui bahwa bank digital belum menjadi tempat yang dipilih untuk menyimpan uang dalam jangka waktu tertentu. Pilihan untuk deposito pun masih sangat kurang,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (14/8/2024).
Akhirnya, hal ini pun menjadikan bank digital bermain dalam tataran uang murah dengan bunga yang tinggi untuk menarik minat masyarakat menjadikan bank digital sebagai tabungan.
Dengan demikian, menurut Nailul sudah seharusnya bank digital mulai mengubah atau menambahkan layanannya ke deposito jangka waktu tertentu untuk menarik minat masyarakat menyimpan uang di bank digital. Kemudian bank digital juga harus mulai mempertimbangkan untuk masuk ke dalam layanan payroll sistem.
“Ini untuk meningkatkan kepercayaan terhadap konsumen,” ujarnya.
Kondisi di Blu, Jenius, dan Bank Saqu
Sementara itu, dari pemain bank digital lain yaitu Bank Digital BCA (blu) mencatatkan dua juta nasabah per Juni 2024. Adapun, Blu menargetkan 2,2 hingga 2,3 juta nasabah hingga akhir tahun 2024.
Head of Corporate Planning BCA Digital Yoga Halim mengatakan jumlah nasabah aktif di BCA Digital hampir menyentuh 50% dari total pengguna.
“Memang yang aktif di kita sekitar hampir 50%, memang kita terus edukasi agar orang makin banyak menggunakan Blu,” ujarnya, Kamis (8/8/2024).
Alhasil, untuk terus meningkatkan jumlah pengguna, kata Yoga, Blu by BCA Digital senantiasa berkomitmen untuk dapat melengkapi fitur-fitur demi memenuhi semua kebutuhan perbankan masyarakat.
Beberapa fitur di dalamnya seperti bluSaving, bluDeposit, bluGether, bluInvest, bluInsurance, bluBisnis hingga bluDebit Card juga dirancang untuk membantu pengguna memiliki kontrol lebih serta kebebasan mengatur finansial pengguna.
“Jadi, sekarang misal mau bayar misal PLN, PAM, mau beli pulsa atau top up bisa. Kita kuatkan fitur di sana,” ungkapnya.
Pemain lainnya, yaitu Jenius milik PT Bank BTPN Tbk. (BTPN) sendiri mencatat nasabah aktif sekitar 25% dari total nasabah. Wakil Direktur Utama BTPN Darmadi Sutanto mengatakan nasabah aktif yang dimaksud adalah mereka yang melakukan transaksi selama 30 hari terakhir.
“Macam-macam [transaksinya] untuk bayar QRIS dan bayar lainnya, ini di luar bunga ya. Jadi, benar-benar transaksi yang diinisiasi oleh nasabah,” katanya, Senin (12/8/2024).
Darmadi juga menyebut saat ini yang menjadi loyalitas nasabah menjadi tantangan bagi bisnis perbankan digital, termasuk bagi Jenius yang menjadi pionir bank digital di Indonesia. Pasalnya, saat ini banyak nasabah muda berpindah dari satu bank digital ke bank digital lainnya, lantaran ditengarai adanya tawaran promo, diskon, hingga bunga yang menarik.
“Orang ber-bank kan sebetulnya kan perlu trust dan perlu memastikan bank tersebut ada sepanjang zaman. Tapi bagi netizen hal itu sudah tidak terlalu matters [penting],” katanya.
Tak mau ketinggalan, Bank Saqu, layanan perbankan digital dari PT Bank Jasa Jakarta, mencatatkan jumlah nasabah menembus angka satu juta nasabah dalam waktu enam bulan sejak diluncurkan pada November tahun lalu.
Presiden Direktur Bank Jasa Jakarta Leonardo Koesmanto mengatakan secara kasar jumlah nasabah aktif Bank Saqu sendiri berada di kisaran separuh dari total keseluruhan pengguna.
“Untuk yang aktif kurang lebih setengahnya. Kan kita memang masih baru, kita baru tujuh bulan, jadi memang berkembang dari rentang waktu itu,” ujarnya kepada Bisnis.
Ke depan, Leo menyebut hingga akhir tahun pihaknya akan terus menargetkan pertambahan jumlah nasabah. “Kita fokusnya bukan ke jumlahnya, tapi ke kualitasnya, supaya engagement. Jadi kalau dibilang nasabah sampai akhir tahun ya mungkin sekitar satu juta lebih,” ungkapnya.
Agresif Jaring Nasabah Aktif
Di sisi lain, bank digital kongsi PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) yakni Superbank sendiri telah mengumumkan capaian atas 1 juta nasabahnya dalam waktu kurang dari 2 bulan sejak peluncuran aplikasi secara luas.
Tercatat, sebanyak 62% dari nasabah Superbank telah menghubungkan akun mereka dengan aplikasi Grab, menunjukkan sinergi ekosistem yang kuat antara kedua platform.
Pertumbuhan pesat nasabah Superbank merefleksikan besarnya potensi sektor perbankan digital di Indonesia. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), transaksi bank digital mencapai 5,26 miliar transaksi pada kuartal II/2024, atau meningkat hingga 32,03% dibandingkan tahun sebelumnya.
Prospek cerah sektor ini juga diperkuat oleh dominasi generasi muda usia 16-30 tahun di Indonesia, sekitar 25% dari total populasi, yang menurut Laporan Youth Finsight 2.0 memiliki kesadaran tinggi dalam menabung dan menggunakan layanan keuangan untuk mencapai tujuan finansial mereka”.
Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan mengatakan pencapaian ini baru permulaan dan menjadi modal kuat untuk terus meningkatkan inovasi dan kolaborasi dengan ekosistem.
“Ini demi menghadirkan solusi perbankan yang mudah, aman, dan relevan dengan kebutuhan finansial masyarakat,” katanya dalam keterangan tertulis yang dikutip Kamis (15/8/2024).
Tak hanya itu, PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) juga melaporkan telah memiliki lebih dari 26 juta nasabah.
Direktur Bisnis Bank Neo Commerce Aditya Windarwo mengatakan BNC sekarang lebih berfokus untuk meningkatkan keaktifan nasabah yang sudah ada untuk menggunakan berbagai layanan dan produk yang tersedia di aplikasi neobank milik BNC.
“Untuk meningkatkan stickiness nasabah-nasabah, BNC berkomitmen melakukan inovasi dalam memberikan layanan keuangan yang ditawarkan baik secara offline maupun online melalui aplikasi neobank,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (14/8/2024)
Menurutnya, tidak hanya kebutuhan akan transaksi keuangan, transaksi pembayaran, dan tabungan, namun juga kebutuhan akan investasi, baik untuk nasabah reguler maupun segmen wealth management.
BNC juga meningkatkan tingkat keaktifan nasabah dalam menggunakan tabungan BNC, misalnya dengan menambah channel-channel pembayaran, kerja sama dengan berbagai mitra dan juga memperluas kerja sama ekosistem.
Persaingan Makin Berat, Jumlah Nasabah Aktif Bank Digital hanya 20% - 25%
Rata-rata jumlah nasabah aktif hanya sekitar 20% -25% dari total nasabah. [573] url asal
#bank-digital #nasabah-aktif #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Uang) 13/08/24 19:25
v/14367574/
Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di saat bank digital terus memacu pertumbuhan nasabah yang dimiliki, ternyata jumlah nasabah aktifnya tak seberapa. Tampaknya ini merupakan imbas dari banyaknya jumlah bank digital yang ada.
Berdasarkan penelusuran Kontan, beberapa bank digital ternyata hanya memiliki nasabah aktif sekitar 20% - 25%.
Riset menunjukkan, beberapa bank digital, mayoritas saham aktifnya hanya sekitar 20% - 25% dari keseluruhan.
Ambil contoh, Jenius yang merupakan bank digital milik PT Bank BTPN Tbk mencatat nasabah aktif hanya sekitar 25% dari total nasabah. Nasabah aktif yang dimaksud dalam hal ini adalah mereka yang melakukan transaksiselama 30 hari terakhir.
Hingga akhir Juni 2024, perusahaan mencatat total pengguna Jenius mencapai 5,8 juta nasabah atau naik 21% secara tahunan (YoY) dari sebelumnya 4,8 juta nasabah di tahun lalu.
“Jumlah nasabah aktif Jenius terus tumbuh positif dengan peningkatan rata-rata 15% hingga 20% setiap tahun,” ujar Wakil Direktur Utama Bank BTPN,Darmadi Sutanto.
Darmadi pun menyadari bahwa loyalitas nasabah menjadi tantangan bagi bisnis perbankan digital saat ini. Setidaknya, itu yang terjadi pada Jenius yang bisa dibilang menjadi pelopor bank digital di Indonesia.
Ia bilang fenomena yang terjadi saat ini adalah banyak nasabah dari anak muda yang mudah sekali berpindah dari satu bank ke bank lainnya. Alasannya, ada ketertarikan promo dan bunga yang menarik dari bank-bank digital saat launching.
Apalagi, lanjut Darmadi,saat inimembuka rekening di bank digital jauh lebih mudah. Berbeda jika dibandingkan dengan era bank konvensional yang harus datang ke cabang saat buka rekening.
“Dulu orang mikirnya cari bank itu perlu memastikan bank tersebut tetap ada di masa depan, kalau bagi anak muda zaman sekarang tampaknya itu tak berlaku,” ujarnya.
Kalau sudah begini, menurutnya manajemen harus terus mengeluarkan inovasi-inovasi baru.Harapannya, tidak banyak nasabah yang akhirnya pindah ke bank digital lain.
Kondisi serupa terjadi pada Bank Raya,Direktur KeuanganPT Bank Raya Indonesia Tbk,Rustati Suri Pertiwi bilang jumlah nasabah aktif yang dimiliki saat ini hanya sekitar 25% dari total nasabah. Di mana, total nasabah aktif milik Bank Raya per Juni 2024 sebanyak 850.000 nasabah.
”Tapi persentase ini terus meningkat seiring dengan fitur layanan yang semakin beragam,” ujar wanita yang akrab disapa Tiwi ini.
Namun, sampai saat ini, ia masih belum melihat dampak beban yang signifikan dari jumlah nasabah yang tidak aktif. Bahkan,menurutnyanasabah yang tidak aktif tersebut perlu lebih digali untuk menemukan kebutuhan yang tepat.
”Secara periodik, Bank Raya tetap mengevaluasi portofolio nasabah yang tidak aktif ini untuk memitigasi potensi risiko dan mengevaluasi potensi efisiensi,” tambahnya.
Tak banyak berbeda, PT Allo Bank Indonesia Tbk memiliki sekitar 2 juta nasabah dari total nasabah yang mereka miliki sebanyak 10 juta. Artinya, hanya sekitar 20% dari total nasabah mereka yang aktif bertransaksi di Allo Bank.
Direktur Utama Allo Bank,Indra Utoyo bilang bahwa kondisi tersebut banyak mempengaruhi transaksi yang dilakukan. Hal tersebut tercermin dari total transaksi yang meningkat tiga kali lipat sepanjang setahun terakhir. Contohnya, transaksi QRIS, transfer dantop-up.
”Kalau bagi bank dengan layanan digital, cost per customersangat rendah,” ujarnya.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) sekaligus pengamat ekonomi digital,Nailul Huda bilang bahwa saat ini bank digital itu belum dipilih untuk menyimpan uang dalam jangka waktu tertentu. Di mana, pilihan untuk deposito pun masih sangat kurang.
Maka, ia bilang seharusnya bank digital sudah mulai mengubah atau menambahkan layanannya ke deposito jangka waktu tertentu untuk menarik minat masyarakat menyimpan uang di bank digital.
”Kemudian, bank digital juga harus mulai mempertimbangkan untuk masuk ke dalam layanan payrollsistem,” ujarnya.