Wisatawan yang terlalu banyak di Desa Hanok Bukchon, Korea Selatan, membuat penduduk setempat mengeluh. Pembatasan akan dilakukan. Halaman all [595] url asal
KOMPAS.com -Overtourism melanda ibu kota Korea Selatan, Seoul. Pemerintah pun sampai turun tangan.
Otoritas setempat akan melakukan pengendalian lebih ketat dan langkah-langkah untuk melindungi distrik desa tradisional bersejarah di kota Seoul dari banyaknya wisatawan yang memenuhi jalanan dan menyebabkan gesekan dengan penduduk setempat.
Salah satunya adalah Desa Hanok Bukchon yang dikenal punya rumah tradisional khas Korea. Ini adalah salah satu tujuan wisata paling populer di Seoul, menarik ribuan pengunjung setiap hari.
Terletak di distrik Jongno di pusat kota Seoul, Bukchon berada di dekat ikon budaya lainnya seperti kuil leluhur kerajaan Jongmyo dan istana megah Gyeongbokgung dan Changdeokgung.
Pembatasan jumlah wisatawan
Namun, jumlah wisatawan jauh melebihi jumlah penduduk dan keluhan tentang kebisingan, sampah, dan masalah privasi, terus meningkat.
Dalam upaya untuk meredakan ketegangan dan mengendalikan keramaian, pejabat distrik akan mulai membatasi jumlah wisatawan ke desa populer tersebut mulai Oktober 2024.
Desa tersebut akan ditetapkan sebagai "area manajemen khusus" pertama di negara itu di bawah Undang-undang Promosi Pariwisata Korea Selatan.
Jam malam untuk wisatawan akan diberlakukan setiap hari antara pukul 17.00 hingga 10.00 waktu setempat.
Bus sewaan yang membawa wisatawan akan dibatasi di beberapa bagian. Tujuannya adalah untuk mengurangi lalu lintas dan membuat Bukchon menjadi lebih ramah pejalan kaki.
Tiga zona berwarna merah, oranye, dan kuning juga akan diterapkan untuk memungkinkan otoritas lokal mengendalikan dan memantau keramaian di area paling padat. Denda juga akan dikenakan pada pelanggar, kata pejabat.
Papan peringatan dalam empat bahasa tentang tingkat kebisingan juga sudah dipasang pada tahun 2018.
Namun, beberapa orang yang tinggal dan bekerja di area tersebut menolak langkah-langkah baru tersebut dan menganggapnya sebagai omong kosong.
Pemilik kafe Lee Youn-hee mengatakan kepada CNN Travel bahwa wisatawan biasanya datang setelah matahari terbenam karena mereka kebanyakan datang untuk berfoto.
“Di musim dingin, pengunjung sudah datang pukul 5 sore dan selama musim panas mungkin pukul 6 sore karena hari lebih lama. Ini tidak akan membuat banyak perbedaan,” ujar Lee
Masalah Global yang Berkembang
Seoul tidak sendirian. Banyak kota besar di dunia sedang berjuang menemukan keseimbangan antara pendapatan pariwisata dan kesejahteraan penduduk
Wisatawan yang mengunjungi Barcelona, disiram dengan air oleh para pengunjuk rasa yang berbaris melalui area populer untuk menunjukkan penolakan terhadap pariwisata massal di kota tersebut.
SHUTTERSTOCK/Thiago B Trevisan Ilustrasi overtourism di Brasil.
Kota laguna Italia, Venesi juga memperkenalkan biaya percobaan pada bulan April untuk membatasi jumlah pengunjung harian.
Overtourism telah lama menjadi masalah di Jepang, dengan situasi yang memburuk dengan cepat sejak negara tersebut dibuka kembali pasca-pandemi.
Lereng Gunung Fuji telah mengalami kemacetan manusia yang meningkat, kaki gunung penuh dengan sampah, serta perilaku wisatawan yang buruk.
Adapun sekitar 6,6 juta wisatawan domestik dan luar negeri diperkirakan mengunjungi Bukchon pada tahun 2023, menurut data pemerintah.
“Saya pikir penting bagi wisatawan untuk menghormati mereka yang tinggal di sini,” kata Sindere Schoultz, seorang turis dari Swedia, kepada CNN.
Turis Swedia lainnya, Emma Hägg, mengatakan dia memahami alasan di balik rencana pembatasan tersebut.