#30 tag 24jam
Nabi Khidir dan 5 Pesan Misterius
Nabi Khidir menerima wahyu dari Allah SWT melalui mimpi. [713] url asal
#nabi-khidir #nabi-musa #kisah-nabi #kisah-para-nabi #hikmah
(Republika - Khazanah) 12/08/24 07:48
v/14266459/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Khidir AS merupakan seorang nabi. Kisahnya dengan Nabi Musa AS diceritakan dalam Alquran. Ada pula kisah-kisah lainnya yang berkaitan dengannya. Di antaranya termaktub dalam Jurnal 1001 Kisah Teladan Muslim.
Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi mendapat perintah. Perintah tersebut berbunyi: “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat.” Begitu bunyi bait pertama kepada Nabi Khidir.
Masih di dalam tidurnya, Nabi Khidir menerima lima perintah yang harus dikerjakannya dengan segera jika ingin mendapatkan ridha Allah SWT. “Engkau juga dikehendaki berbuat, pertama apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua engkau sembunyikan, ketiga engkau terimalah, keempat jangan engkau putuskan harapan, dan yang kelima larilah engkau daripadanya.”
Pada keesokan harinya, Nabi Khidir itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat. Baru beberapa kilometer keluar dari rumahnya, Nabi Khidir dipertemukan dengan perintah pertama.
Naum Nabi Khidir bingung karena yang diperintahkan pertama itu adalah memakannya. Sementara yang ia temui adalah sebuah bukit. Karena kebingungan itu ia bergumam dalam hatinya.
“Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tetapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika ia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti.
Maka Nabi Khidir itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Ia pun mengucapkan syukur.
“Alhamdulillah, perintah pertama sudah aku kerjakan semoga Allah memudahkan pelajaran yang tersirat ini,” katanya.
Setelah menyelesaikan perintah pertama, Nabi Khidir meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas.
Ia teringat akan arahan mimpinya supaya benda tersebut disembunyikan. Untuk itu, ia bersegera menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu ke dalamnya. Lantas, sang nabi pergi begitu saja.
Setelah berjalan jauh beberapa langkah. Tiba-tiba mangkuk emas tersebut keluar seperti semula. Nabi itu pun menanamkannya kembali. Itu terjadi berulang-ulang sebanyak tiga kali. Maka berkatalah Nabi Khidir. “Aku telah melaksanakan perintah-Mu ya Allah.”
Baca selanjutnya ...
Lalu, Nabi Khidir pun meneruskan perjalanannya. Anehnya, ia kembali mengalami peristiwa serupa. Tanpa disadarinya, mangkuk emas tersebut untuk kesekian kalinya, keluar dari tempat ditanam.
Namun, Nabi Khidir kali ini tidak mempedulikannya.
Ketika ia sedang berjalan, tiba-tiba ia melihat seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil.
Kemudian burung kecil yang terlihat kelelahan itu menghampiri Nabi Khidir dan berkata. “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku,” pintanya dengan napas tersengal-sengal .
Mendengar permintaan burung yang memelas itu. Nabi Khidir pun langsung meraih burung itu dan masukkan ke dalam bajunya agar tidak diterkam burung elang yang sedang lapar itu.
Namun, burung elang mengetahui kalau mangsanya telah disumbunyikan oleh Sang Nabi. Elang pun datang menghampiri Nabi Khidir dan berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”
Karena dua-duanya membutuhkan pertolongannya, Nabi Khidir pun sempat kebingungan. Namun, ia teringat pesan dan arahan keempat yang muncul dari mimpinya, yaitu hendaknya ia tidak memutuskan harapan.
Akhirnya, Khidir AS membuat keputusan untuk mengambil pedang. Kemudian, ia memotong sedikit daging pahanya sendiri dan diberikannya kepada elang itu.
Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang. Adapun burung kecil tadi dilepaskannya ke alam bebas.
Usai kejadian itu, Nabi Khidir meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian ia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya. Ia pun bergegas lari dari situ karena tidak tahan menghirup aroma yang sangat menyengat itu.
Setelah menemui kelimaperistiwa itu, Nabi Khidir pulang ke rumahnya. Pada malamnya, ia berdoa.
“Ya Allah, aku telah pun melaksanakan sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku arti semuanya ini.”
Tidak lama setelah berdoa Nabi Khidir tertidur dan kembali bermimpi. Dalam kesempatan kali ini, ia mendapatkan jawaban atas keseluruhan perintah yang ditujukan kepadanya itu.
"Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya tampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis dari pada madu.
Kedua, semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan tampak juga. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya.
Keempat jika orang meminta kepadamu, berusahalah membantunya, meski sejatinya engkau tengah ada suatu kepentingan. Kelima, bau yang busuk itu ialah ghibah atau menceritakan hal seseorang. “Maka larilah dari orang orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah,” firman Allah kepadanya.
Para Nabi Melukiskan Kematian
Para nabi Allah mendeskripsikan fenomena kematian sebagai berikut. [381] url asal
#para-nabi #kematian #malaikat-maut #amal-saleh #kisah-nabi #kisah-rasulullah
(Republika - Khazanah) 11/07/24 04:53
v/10378071/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Maut tidak mengenal tua atau muda. Pun ia tidak memandang status manusia. Orang-orang saleh juga pasti akan merasakan kematian.
Dikisahkan, setelah wafat, Nabi Musa AS ditanya oleh Allah--dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. "Bagaimana melewati kematian?"
Nabi Musa AS menjawab, "Aku melihat nyawaku seperti seekor burung yang sedang digoreng, tetapi tidak mati juga tidak dapat terbang atau lari hingga selesai penderitaannya."
Dalam riwayat lain, Musa AS melukiskan maut yang dialaminya bak "seekor kambing dikuliti hidup-hidup."
Aisyah pernah menuturkan, ketika Rasulullah SAW hampir wafat, semangkuk penuh air diletakkan di sisi beliau. Lantas, Nabi SAW berkali-kali memasukkan tangannya yang mulia ke dalam mangkuk itu. Tangannya yang basah lalu menyapu wajahnya yang mulia. Beliau pun berdoa, "Ya Allah, tolonglah aku dalam kesakitan naza’ (sakaratul maut) ini!"
Suatu ketika, Umar bin Khattab meminta Ka’ab untuk melukiskan keadaan mati. Ka’ab RA menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, mati seperti sebuah dahan pohon yang penuh duri, lalu dimasukkan ke tubuh seseorang sehingga duri-duri memasuki setiap rongga tubuhnya, lalu pohon itu diseret sekuat tenaga. Begitulah ruh ketika dikeluarkan dari tubuh."
Adapun tentang malaikat maut juga termaktub dalam berbagai riwayat. Rupa malaikat maut ketika mencabut nyawa orang fasik sangat mengerikan sehingga orang yang paling gagah berani sekali pun tidak akan kuat melihatnya.
Nabi Ibrahim AS pernah berkata pada malaikat maut, Izrail, "Tunjukkanlah rupamu ketika kamu mencabut nyawa orang-orang fasik!"
Malaikat menjawab, "Engkau tidak akan tahan melihatnya."
Ibrahim pun mendesaknya sehingga Izrail memintanya untuk memalingkan wajah ke arah lain. Sejenak kemudian, malaikat maut berkata, "Silakan engkau melihatnya!"
Ibrahim AS lantas menoleh kepadanya. Terlihat sosok yang berdiri di hadapannya berupa tubuh raksasa yang sangat hitam, berbulu kasar, bau busuk tercium dari tubuhnya, serta dari mulut dan lubang hidungnya keluar api berasap.
Melihat itu, Ibrahim AS jatuh pingsan. Ketika sadar, Izrail AS telah bertukar kembali ke rupa asalnya.
Ibrahim berkata, "Sekiranya tiada siksaan lain yang menyakiti orang-orang fasik niscaya dengan melihat rupamu saja, hal itu sudah cukup sebagai azabnya!"
Malaikat maut ketika menemui hamba-hamba Allah yang saleh, maka akan tampil dengan sosok sangat indah, berpakaian sangat bagus, dan tubuhnya berbau harum.
"Sekiranya tiada balasan yang menyenangkan bagi orangorang beriman dan saleh, maka dengan melihat rupamu saja ketika datang untuk mencabut ruhnya, niscaya hal itu sudah mencukupi," kata Nabi Ibrahim AS.