#30 tag 24jam
Terungkap, ini Dua Penghancur Diri Firaun Zaman Nabi Musa Saat Jadi Penguasa Mesir
Firaun menjadi ikon azab Allah di dunia bagi pemimpin zalim. [528] url asal
#firaun #kehancuran-firaun #dakwah-nabi-musa #laut-merah #musa-membelah-lautan
(Republika - Khazanah) 25/08/24 00:04
v/14679349/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fir'aun sering kali dijadikan sebagai simbol kezaliman dan kesombongan dalam berbagai tradisi, khususnya dalam ajaran Islam. Dia dikenal sebagai raja Mesir yang menolak pesan Nabi Musa dan melakukan kezaliman terhadap rakyatnya.
Dalam Alquran, Fir'aun diazab oleh Allah dengan cara yang sangat tegas, tenggelam di Laut Merah bersama pasukannya. Kisah Fir'aun ini sering dijadikan pelajaran untuk menunjukkan bahwa kekuasaan dan kesombongan yang tidak diiringi dengan keadilan dan ketakwaan akan berujung pada kehancuran.
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:
فَاَخَذْنٰهُ وَجُنُوْدَهٗ فَنَبَذْنٰهُمْ فِى الْيَمِّ ۚفَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: "Kami menghukum dia (Firʻaun) dan bala tentaranya. Kami menenggelamkan mereka ke dalam laut. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang zalim." (QS Al-Qasas [28]: 41)
Dalam Tafsir Tahlili Kemenag dijelaskan bahwa pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa Fir‘aun dan tentaranya sangat sombong dan takabur. Fir‘aun menganggap dan mengaku hanya dialah penguasa yang mutlak di muka bumi. Siapa saja yang menantangnya dianggap salah dan durhaka.
Kalau dikatakan kepadanya ada Tuhan yang lebih besar daripada kekuasaannya, Fir‘aun menjadi kalap, dan tak dapat lagi menguasai dirinya, seperti memerintahkan dengan segera membuat suatu hal yang mustahil, seperti membuat bangunan setinggi langit agar dia dapat berhadapan dengan Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa.
Fir‘aun dan kaumnya mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan, tidak akan diperhitungkan apa yang telah dikerjakan selama hidup di dunia, dan tidak ada yang akan menyiksa bila mereka melakukan kezaliman dan kekejaman. Memang demikianlah kepercayaan mereka karena pengaruh kesombongan dan ketakaburan itu. Mereka membuat piramida yang besar untuk kuburan mereka yang diisi dengan perabot yang lengkap dan serba mewah serta pakaian dan perhiasan yang indah-indah, untuk dinikmati sesudah mati.
Karena kesombongan dan ketakaburan itu, Allah mengazab mereka di dunia dan akhirat. Di dunia Fir‘aun ditenggelamkan bersama tentaranya ke dalam lautan, dan di akhirat mereka akan disiksa dalam neraka.
Demikianlah nasib yang telah ditetapkan Allah bagi orang yang takabur dan sombong, berbuat zalim dan aniaya terhadap Allah dan sesamanya. Sebenarnya kelanjutan kisah Fir‘aun bisa ditemukan pada surah-surah lain dalam Alquran seperti Surah al-A‘raf, Yunus, Taha, dan sebagainya.
Lihat halaman berikutnya >>>
Akan tetapi, Allah hendak menegaskan di sini bagaimana nasib orang-orang yang durhaka yang tidak lagi mempergunakan akal dan pikirannya sehingga tertutuplah hatinya untuk menerima kebenaran dari mana pun datangnya, sehingga dia menjadi sombong dan takabur. Hal itu layak menjadi perhatian dan pelajaran bagi seluruh manusia.
Di ayat selanjutnya, kemudian Allah SWT berfirman:
وَجَعَلْنٰهُمْ اَىِٕمَّةً يَّدْعُوْنَ اِلَى النَّارِۚ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ لَا يُنْصَرُوْنَ. وَاَتْبَعْنٰهُمْ فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً ۚوَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ هُمْ مِّنَ الْمَقْبُوْحِيْنَ
Artinya: "Kami menjadikan mereka (Firʻaun dan bala tentaranya) para pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka. Pada hari Kiamat mereka tidak akan ditolong." (QS Al-Qasas [28]: 41-42)
Ayat ini memberi julukan kepada Fir‘aun dan kaumnya yang durhaka bahwa mereka adalah pemimpin-pemimpin yang membawa manusia ke neraka karena mereka telah menyesatkan manusia dan memaksa setiap orang untuk kafir terhadap Tuhannya. Mereka merasa bebas melakukan kezaliman sekehendak hatinya, tanpa ada rasa keadilan dan rasa kasih sayang.
Sebenarnya mereka ini telah melakukan dua kesalahan, kesalahan bagi diri mereka sendiri dan kesalahan menyesatkan orang lain. Maka pantaslah bila mereka menerima siksaan yang berlipat ganda, siksaan terhadap kesesatan sendiri dan siksaan karena menyesatkan orang lain. Oleh karena itu, tidak akan ada penolong bagi mereka di akhirat nanti dan tidak ada yang akan membebaskan dari siksa Allah.
Doa Agar Firaun dan Kelompok Dzalimnya Binasa: Tafsir Surat Yunus Ayat 88
Alquran surat Yunus ayat 88 membahas soal doa Nabi Musa AS kepada Allah. [637] url asal
#firaun #nabi-musa #surat-yunus #islam #doa #makkah #doa-firaun-binasa #pemimpin-dzalim #zalim #kezaliman
(Republika - Iqra) 22/08/24 05:27
v/14522790/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran surat Yunus ayat 88 membahas soal doa Nabi Musa AS kepada Allah. Yakni, agar membinasakan Firaun dan kelompoknya yang zalim dan berbuat sewenang-wenang. Berikut ini adalah surat Yunus ayat 88 dan tafsirnya yang dikutip dari quran.kemenag.go.id.
وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَۚ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ
wa qâla mûsâ rabbanâ innaka âtaita fir‘auna wa mala'ahû zînataw wa amwâlan fil-ḫayâtid-dun-yâ, rabbanâ liyudlillû ‘an sabîlik, rabbanathmis ‘alâ amwâlihim wasydud ‘alâ qulûbihim fa lâ yu'minû ḫattâ yarawul-‘adzâbal-alîm
Musa berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan (yang banyak) dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibat pemberian itu) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang sangat pedih.”
Tafsir Yūnus Ayat 88
وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَ ۚرَبَّنَا اطْمِسْ عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ
Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah membuat beberapa rumah untuk tinggal dan ibadah para pengikutnya, Nabi Musa berkata, yakni berdoa, “Ya Tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada Fir'aun dan para pemuka kaumnya perhiasan yang banyak dan harta kekayaan yang berlimpah dalam kehidupan dunia, tetapi mereka tidak pernah bersyukur kepada-Mu. Ya Tuhan kami, dengan anugerah yang banyak itu, mereka justru menyesatkan manusia dari jalan-Mu. Ya Tuhan, binasakanlah harta mereka, dan kuncilah hati mereka, karena mereka telah mengunci hati mereka dari kebenaran, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat dan merasakan azab yang pedih di dunia dan akhirat sebagai balasan kezaliman mereka.”
Dalam ayat ini dijelaskan pembangkangan dan perbuatan sewenang-wenang Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya, kecemasan dan ketakutan Bani Israil, dan pengaduan Musa kepada Allah tentang nikmat yang melimpah yang diberikan kepada Fir‘aun dan kaumnya seperti perhiasan emas permata, pakaian kebesaran yang mewah, dan kekayaan lainnya, namun segala nikmat yang diberikan Allah itu justru menjadikan mereka sesat dari jalan Allah.
Bahkan mereka bertambah sombong dan berbuat aniaya di atas harta kekayaan itu. Allah seakan membiarkan mereka dalam kesesatan sehingga mereka tidak beriman.
Lalu Nabi Musa mendoakan kehancuran Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya dengan alasan sebagai berikut: Pertama, Kufur terhadap nikmat Allah. Suatu kenyataan bahwa Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya memiliki kekuasaan dan kekuatan yang besar.
Di samping itu, ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai puncaknya di zaman Fir‘aun di Mesir. Barang-barang peninggalan Fir‘aun, baik yang terdapat di museum Mesir ataupun di Eropa dan Amerika, menunjukkan ketinggian peradaban dan kebudayaan mereka. Demikian pula benda-benda purbakala dan bangunan-bangunan kuno yang terdapat di Mesir.
Dalam pemerintahan, Fir‘aun memegang kekuasaan mutlak bahkan kepada rakyatnya dia mengaku dirinya sebagai tuhan. Kedua, Menolak kebenaran. Kenyataan menunjukkan bahwa Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya telah jauh meninggalkan nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama. Hak asasi manusia tidak dihargainya. Mereka hidup dalam kemewahan, di atas derita rakyat.
Musa a.s. telah berupaya membawa Fir‘aun dan pembesar-pembesarnya ke jalan Allah, dengan menunjukkan bukti-bukti kerasulannya. Dia berikan ajaran tentang kebenaran, keadilan, nasehat dan peringatan siksa Allah, dan malapetaka, akibat perbuatannya. Akan tetapi seruan Musa tidak mendapat sambutan yang baik bahkan mendapat tantangan serta permusuhan. Dengan demikian kemungkinan untuk menyeru Fir‘aun dan kaumnya ke jalan Allah telah tertutup serta keimanan mereka tidak dapat diharapkan lagi.
Membiarkan Fir‘aun dan pembesar-pembesarnya dengan kekuasaan, kejayaan dan kekuatannya yang besar sedangkan prinsip dasar hidup mereka jauh lebih rendah dari nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama, sangat membahayakan perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia. Mereka dengan kekuatan dan kekuasaannya, berbuat maksiat dan kerusakan di muka bumi, mengancam keselamatan umat manusia.
Oleh karena itu, Nabi Musa memanjatkan doa kepada Allah untuk kebahagiaan umat manusia, agar Allah melumpuhkan kekuatan Fir‘aun dengan membiarkan mereka dalam kesesatan, sebab kesesatan mereka akan mengakibatkan kehancuran mereka sendiri. Nabi Harun sebagai pembantu utama Nabi Musa, mengamini doa Nabi Musa itu
Doa Agar Firaun dan Kelompok Zalimnya Binasa: Tafsir Surat Yunus Ayat 88
Alquran surat Yunus ayat 88 membahas soal doa Nabi Musa AS kepada Allah. [637] url asal
#firaun #nabi-musa #surat-yunus #islam #doa #makkah #doa-firaun-binasa #pemimpin-dzalim #zalim #kezaliman
(Republika - Iqra) 22/08/24 05:27
v/14522789/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran surat Yunus ayat 88 membahas soal doa Nabi Musa AS kepada Allah. Yakni, agar membinasakan Firaun dan kelompoknya yang zalim dan berbuat sewenang-wenang. Berikut ini adalah surat Yunus ayat 88 dan tafsirnya yang dikutip dari quran.kemenag.go.id.
وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَۚ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ
wa qâla mûsâ rabbanâ innaka âtaita fir‘auna wa mala'ahû zînataw wa amwâlan fil-ḫayâtid-dun-yâ, rabbanâ liyudlillû ‘an sabîlik, rabbanathmis ‘alâ amwâlihim wasydud ‘alâ qulûbihim fa lâ yu'minû ḫattâ yarawul-‘adzâbal-alîm
Musa berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan (yang banyak) dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibat pemberian itu) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang sangat pedih.”
Tafsir Yūnus Ayat 88
وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَ ۚرَبَّنَا اطْمِسْ عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ
Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah membuat beberapa rumah untuk tinggal dan ibadah para pengikutnya, Nabi Musa berkata, yakni berdoa, “Ya Tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada Fir'aun dan para pemuka kaumnya perhiasan yang banyak dan harta kekayaan yang berlimpah dalam kehidupan dunia, tetapi mereka tidak pernah bersyukur kepada-Mu. Ya Tuhan kami, dengan anugerah yang banyak itu, mereka justru menyesatkan manusia dari jalan-Mu. Ya Tuhan, binasakanlah harta mereka, dan kuncilah hati mereka, karena mereka telah mengunci hati mereka dari kebenaran, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat dan merasakan azab yang pedih di dunia dan akhirat sebagai balasan kezaliman mereka.”
Dalam ayat ini dijelaskan pembangkangan dan perbuatan sewenang-wenang Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya, kecemasan dan ketakutan Bani Israil, dan pengaduan Musa kepada Allah tentang nikmat yang melimpah yang diberikan kepada Fir‘aun dan kaumnya seperti perhiasan emas permata, pakaian kebesaran yang mewah, dan kekayaan lainnya, namun segala nikmat yang diberikan Allah itu justru menjadikan mereka sesat dari jalan Allah.
Bahkan mereka bertambah sombong dan berbuat aniaya di atas harta kekayaan itu. Allah seakan membiarkan mereka dalam kesesatan sehingga mereka tidak beriman.
Lalu Nabi Musa mendoakan kehancuran Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya dengan alasan sebagai berikut: Pertama, Kufur terhadap nikmat Allah. Suatu kenyataan bahwa Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya memiliki kekuasaan dan kekuatan yang besar.
Di samping itu, ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai puncaknya di zaman Fir‘aun di Mesir. Barang-barang peninggalan Fir‘aun, baik yang terdapat di museum Mesir ataupun di Eropa dan Amerika, menunjukkan ketinggian peradaban dan kebudayaan mereka. Demikian pula benda-benda purbakala dan bangunan-bangunan kuno yang terdapat di Mesir.
Dalam pemerintahan, Fir‘aun memegang kekuasaan mutlak bahkan kepada rakyatnya dia mengaku dirinya sebagai tuhan. Kedua, Menolak kebenaran. Kenyataan menunjukkan bahwa Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya telah jauh meninggalkan nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama. Hak asasi manusia tidak dihargainya. Mereka hidup dalam kemewahan, di atas derita rakyat.
Musa a.s. telah berupaya membawa Fir‘aun dan pembesar-pembesarnya ke jalan Allah, dengan menunjukkan bukti-bukti kerasulannya. Dia berikan ajaran tentang kebenaran, keadilan, nasehat dan peringatan siksa Allah, dan malapetaka, akibat perbuatannya. Akan tetapi seruan Musa tidak mendapat sambutan yang baik bahkan mendapat tantangan serta permusuhan. Dengan demikian kemungkinan untuk menyeru Fir‘aun dan kaumnya ke jalan Allah telah tertutup serta keimanan mereka tidak dapat diharapkan lagi.
Membiarkan Fir‘aun dan pembesar-pembesarnya dengan kekuasaan, kejayaan dan kekuatannya yang besar sedangkan prinsip dasar hidup mereka jauh lebih rendah dari nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama, sangat membahayakan perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia. Mereka dengan kekuatan dan kekuasaannya, berbuat maksiat dan kerusakan di muka bumi, mengancam keselamatan umat manusia.
Oleh karena itu, Nabi Musa memanjatkan doa kepada Allah untuk kebahagiaan umat manusia, agar Allah melumpuhkan kekuatan Fir‘aun dengan membiarkan mereka dalam kesesatan, sebab kesesatan mereka akan mengakibatkan kehancuran mereka sendiri. Nabi Harun sebagai pembantu utama Nabi Musa, mengamini doa Nabi Musa itu
Nabi Khidir dan 5 Pesan Misterius
Nabi Khidir menerima wahyu dari Allah SWT melalui mimpi. [713] url asal
#nabi-khidir #nabi-musa #kisah-nabi #kisah-para-nabi #hikmah
(Republika - Khazanah) 12/08/24 07:48
v/14266459/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Khidir AS merupakan seorang nabi. Kisahnya dengan Nabi Musa AS diceritakan dalam Alquran. Ada pula kisah-kisah lainnya yang berkaitan dengannya. Di antaranya termaktub dalam Jurnal 1001 Kisah Teladan Muslim.
Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi mendapat perintah. Perintah tersebut berbunyi: “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat.” Begitu bunyi bait pertama kepada Nabi Khidir.
Masih di dalam tidurnya, Nabi Khidir menerima lima perintah yang harus dikerjakannya dengan segera jika ingin mendapatkan ridha Allah SWT. “Engkau juga dikehendaki berbuat, pertama apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua engkau sembunyikan, ketiga engkau terimalah, keempat jangan engkau putuskan harapan, dan yang kelima larilah engkau daripadanya.”
Pada keesokan harinya, Nabi Khidir itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat. Baru beberapa kilometer keluar dari rumahnya, Nabi Khidir dipertemukan dengan perintah pertama.
Naum Nabi Khidir bingung karena yang diperintahkan pertama itu adalah memakannya. Sementara yang ia temui adalah sebuah bukit. Karena kebingungan itu ia bergumam dalam hatinya.
“Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tetapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika ia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti.
Maka Nabi Khidir itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Ia pun mengucapkan syukur.
“Alhamdulillah, perintah pertama sudah aku kerjakan semoga Allah memudahkan pelajaran yang tersirat ini,” katanya.
Setelah menyelesaikan perintah pertama, Nabi Khidir meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas.
Ia teringat akan arahan mimpinya supaya benda tersebut disembunyikan. Untuk itu, ia bersegera menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu ke dalamnya. Lantas, sang nabi pergi begitu saja.
Setelah berjalan jauh beberapa langkah. Tiba-tiba mangkuk emas tersebut keluar seperti semula. Nabi itu pun menanamkannya kembali. Itu terjadi berulang-ulang sebanyak tiga kali. Maka berkatalah Nabi Khidir. “Aku telah melaksanakan perintah-Mu ya Allah.”
Baca selanjutnya ...
Lalu, Nabi Khidir pun meneruskan perjalanannya. Anehnya, ia kembali mengalami peristiwa serupa. Tanpa disadarinya, mangkuk emas tersebut untuk kesekian kalinya, keluar dari tempat ditanam.
Namun, Nabi Khidir kali ini tidak mempedulikannya.
Ketika ia sedang berjalan, tiba-tiba ia melihat seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil.
Kemudian burung kecil yang terlihat kelelahan itu menghampiri Nabi Khidir dan berkata. “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku,” pintanya dengan napas tersengal-sengal .
Mendengar permintaan burung yang memelas itu. Nabi Khidir pun langsung meraih burung itu dan masukkan ke dalam bajunya agar tidak diterkam burung elang yang sedang lapar itu.
Namun, burung elang mengetahui kalau mangsanya telah disumbunyikan oleh Sang Nabi. Elang pun datang menghampiri Nabi Khidir dan berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”
Karena dua-duanya membutuhkan pertolongannya, Nabi Khidir pun sempat kebingungan. Namun, ia teringat pesan dan arahan keempat yang muncul dari mimpinya, yaitu hendaknya ia tidak memutuskan harapan.
Akhirnya, Khidir AS membuat keputusan untuk mengambil pedang. Kemudian, ia memotong sedikit daging pahanya sendiri dan diberikannya kepada elang itu.
Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang. Adapun burung kecil tadi dilepaskannya ke alam bebas.
Usai kejadian itu, Nabi Khidir meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian ia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya. Ia pun bergegas lari dari situ karena tidak tahan menghirup aroma yang sangat menyengat itu.
Setelah menemui kelimaperistiwa itu, Nabi Khidir pulang ke rumahnya. Pada malamnya, ia berdoa.
“Ya Allah, aku telah pun melaksanakan sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku arti semuanya ini.”
Tidak lama setelah berdoa Nabi Khidir tertidur dan kembali bermimpi. Dalam kesempatan kali ini, ia mendapatkan jawaban atas keseluruhan perintah yang ditujukan kepadanya itu.
"Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya tampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis dari pada madu.
Kedua, semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan tampak juga. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya.
Keempat jika orang meminta kepadamu, berusahalah membantunya, meski sejatinya engkau tengah ada suatu kepentingan. Kelima, bau yang busuk itu ialah ghibah atau menceritakan hal seseorang. “Maka larilah dari orang orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah,” firman Allah kepadanya.
Betapa Nabi Musa sangat Keluhkan Perangai Bani Israil
Perangai Bani Israil sangat dikeluhkan Nabi Musa. [905] url asal
#bani-israil #nabi-musa #musa-as #yahudi #alquran
(Republika - Iqra) 10/08/24 08:23
v/14017116/
REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Di dalam Alquran terdapat banyak ayat Alquran yang menjelaskan soal Palestina. Di antaranya terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 21-26. Ayat ini telah banyak ditafsirkan oleh para ulama mufasir.
Dalam ayat 21, Allah SWT berfirman:
يٰقَوْمِ ادْخُلُوا الْاَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِيْ كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ
"Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Baitulmaqdis) yang telah Allah tentukan bagimu dan janganlah berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang-orang yang rugi.”
Dalam tafsir Tahlili Kemenag dijelaskan bahwa setelah Nabi Musa mengingatkan orang-orang Yahudi dan menjelaskan nikmat-nikmat itu, kemudian memerintahkan mereka agar berani menghadapi musuh-musuh Allah dengan janji, bahwa Allah akan menolong mereka.
Perintah Nabi Musa itu ialah mereka harus memasuki tanah suci Kanaan (Palestina) dan berdiam di negeri yang telah dijanjikan dan ditetapkan Allah untuk menjadi tempat tinggal mereka.
Menurut riwayat Ibnu Asakir dari Mu’az bin Jabal bahwa tanah suci itu di antara sungai Tigris dengan sungai Furat. Tanah itu disebut suci karena telah sekian banyak nabi menempatinya yang senantiasa mengajak kepada agama Tauhid, karenanya tanah itu bersih dari patung-patung dan kepercayaan yang sesat.
Dan Nabi Musa melarang mereka murtad kembali menyembah berhala dan membuat keonaran dalam masyarakat dengan berbuat kezaliman dan mengikuti hawa nafsu. Jika mereka tidak mematuhi ketentuan itu mereka akan rugi, karena nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka itu akan dicabut kembali dan dibatalkan.
Dalam tafsir ayat 22-26, kemudian diceritakan bahwa setelah Nabi Musa dan kaumnya mendekati tanah yang makmur itu, ia memerintahkan kaumnya agar mereka memasuki tanah suci itu dan siap menghadapi penduduknya.
Karena kaum Nabi Musa merasa lemah, rendah dan takut, mereka pun tidak mau masuk ke tanah suci itu, bahkan mereka ingin kembali ke Mesir karena penduduk tanah suci itu adalah orang-orang yang kejam dan kasar.
Mereka menyatakan kepada Nabi Musa bahwa mereka tidak akan masuk tanah suci itu selama penduduknya yang kejam itu masih di sana, jika penduduknya telah meninggalkan tanah suci, barulah mereka mau memasukinya. (Dalam Kitab Bilangan xiii. 32-33 disebutkan ‘negeri yang memakan penduduknya’ dan dihuni oleh raksasa).
Dari jawaban kaum Nabi Musa itu dapat diambil kesimpulan, bahwa mereka sangat lemah jiwanya dan tidak mempunyai keteguhan hati. Mereka tidak ingin memperoleh kebahagiaan dan mencapai kemuliaan dengan jalan berjuang. Mereka ingin memperolehnya tanpa perjuangan.
Umat yang demikian sikap dan pendiriannya tidak akan memperoleh kemuliaan, kenikmatan, kebahagiaan dan kesejahteraan. Tentang kesuburan dan kemakmuran Kanaan, negeri tua yang berbatasan dengan laut mati dan Yordan di bilangan Palestina pada waktu itu dan keadaan penduduknya yang kuat-kuat dan gagah perkasa diakui oleh pengikut-pengikut Nabi Musa yang dikirim ke sana.
Setelah terungkap sikap kaum Nabi Musa dalam hal memasuki tanah suci dan berdiam di dalamnya, maka dua orang utusan dari kaum Nabi Musa yang memang bertakwa kepada Allah dan telah diberi kenikmatan dan memperoleh keridaan-Nya, menganjurkan kepada teman-temannya agar mereka segera memasuki pintu Baitul Maqdis. (Kedua orang yang saleh ini ialah Yosua bin Nun dan Kalaeb bin Yefune yang diceritakan panjang lebar dalam Kitab Bilangan 13 dan 14).
Apabila mereka telah memasukinya pasti mereka akan menang dan dapat mengusir penduduknya yang kuat itu. Karena kemenangan itu diperoleh atas pertolongan Allah yang telah dijanjikan, yang pasti akan ditepatinya.
Namun, anjuran dua orang utusan itu tidak dapat mempengaruhi kaumnya dan tidak mengubah semangat mereka. Oleh karena itu setelah anjuran itu, mereka mengulangi ucapan mereka kepada Nabi Musa bahwa mereka selamanya tidak akan masuk Kanaan selama kaum raksasa dan angkuh penduduk negeri itu masih berada di sana.
Mereka menandaskan bahwa jika Nabi Musa tetap berkehendak akan memasuki tanah Kanaan, maka biar Nabi Musa sajalah bersama bantuan Tuhan yang akan memerangi kaum itu, sedangkan mereka tetap membangkang tidak mengikuti Musa memasuki Kanaan.
Jawaban mereka ini menunjukkan kedangkalan pikiran dan kekerdilan mereka. Memang mula-mula mereka telah menyembah Allah mengikuti Nabi Musa, kemudian mereka berusaha menyembah anak sapi mengikuti ajakan Samiri. Memang kaum Yahudi itu biasa membangkang terhadap nabinya, malah kadang-kadang membunuhnya.
Setelah ajakan Nabi Musa tidak ditaati oleh kaumnya, bahkan mereka menolaknya, maka Nabi Musa menyatakan keluhannya kepada Allah bahwa ia tidak dapat menguasai kaumnya.
Karenanya Musa As mohon kepada Allah agar Musa dan suadaranya di satu pihak dan kaumnya di pihak yang lain dipisahkan dan mohon kepada Allah agar memberikan keputusan yang adil. Maka apabila kaumnya yang fasik itu akan disiksa, hendaklah Nabi Musa dan saudara-saudaranya diselamatkan dari siksaan itu.
Doa Nabi Musa itu dikabulkan oleh Allah dan Allah menyatakan bahwa sesungguhnya tanah suci itu diharamkan bagi mereka selama 40 tahun. Karena kedurhakaan itu, mereka tidak dapat memasuki tanah suci dan tidak dapat mendiaminya selama empat puluh tahun.
Selama masa itu mereka selalu berada dalam keadaan kebingungan, tidak mengetahui arah dan tujuan. Sesudah itu Allah menganjurkan kepada Nabi Musa agar tidak merasa sedih atas musibah/siksa yang menimpa kaumnya yang fasik itu, karena bagi mereka akan merupakan pelajaran dan pengalaman.
Menurut pendapat kebanyakan ahli tafsir, bahwa Nabi Musa dan Nabi Harun berada di padang gurun bersama-sama kaum Bani lsrail, tetapi padang itu bagi Nabi Musa dan Nabi Harun merupakan tempat istirahat dan menambah ketinggian derajat mereka. Sedangkan bagi kaum Yahudi yang ingkar itu merupakan siksaan yang sangat berat.
Setelah selesai peristiwa di padang pasir Paran yang tandus Nabi Musa dan Nabi Harun wafat. Kemurnian fitrah orang-orang Bani Israil itu telah dirusak oleh kesesatan, perbudakan, penindasan dan paksaan raja-raja Mesir, hingga mereka sesat, pengecut, dan penakut.
Hal itu telah mendarah daging pada diri mereka. Karenanya pada waktu Musa As membawa mereka ke arah kebenaran, keberanian dan kebahagiaan, mereka tetap bersifat pengecut.
Belajar dari Kisah Nabi Harun, Islam Bolehkan Nepotisme?
Nabi Harun adalah saudara Nabi Musa AS. [471] url asal
#nepotisme #islam-memandang-nepotisme #kisah-nabi-musa #kisah-nabi-harun
(Republika - Khazanah) 29/07/24 13:43
v/12524402/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nepotisme berarti 'kecenderungan untuk mengutamakan atau menguntungkan sanak saudara sendiri, terutama dalam jabatan.' Lantas, bagaimanakah Islam memandang perkara ini?
Memang, ada nabi-nabi yang melibatkan anggota keluarganya untuk membantunya dalam memimpin umat. Misalnya, Nabi Musa AS yang memohon kepada Allah agar Dia mengangkat derajat saudaranya, Nabi Harun AS. Hal ini disebut dalam Alquran surah Taha ayat ke-29 hingga 32.
وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي . هَارُونَ أَخِي . اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي . وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي .
Artinya, “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku; teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku.”
Dalam Tafsir Kementerian Agama, dijelaskan bahwa ayat di atas menerangkan bahwa Nabi Musa AS mengusulkan kepada Allah agar yang diangkat menjadi pembantunya adalah Harun. Namun, pengangkatan itu bukan berarti nepotisme.
Kakak Nabi Musa AS tersebut adalah sosok yang saleh. Harun AS pun memiliki kapabilitas yang tidak dipunyai Musa AS, yakni antara lain ucapannya fasih.
Intonasi bicaranya saudara Nabi Musa itu pun seperti umumnya orang Mesir. Sebab, ia banyak bergaul dengan orang-orang Mesir.
Bandingkanlah dengan Nabi Musa, yang sejak bayi dirawat di Istana Firaun. Sebab, seorang elite istana, yakni istri Firaun yang diam-diam meyakini tauhid, Asiah, menemukannya saat masih bayi terapung di sungai.
Sewaktu masih kecil, Musa AS juga pernah mengalami kejadian. Suatu ketika, Firaun marah karena Musa kecil menarik janggutnya. Asiah lalu menenangkan sang suami dan mengatakan bahwa "dia masih kecil" sehingga belum mengerti, mana tindakan yang berbahaya.
Firaun lantas mengujinya dengan meletakkan buah dan bara api kecil di hadapannya. Musa kecil bermaksud meraih buah-buahan, tetapi tangannya dialihkan oleh malaikat. Maka, ia pun mengambil bara api dan meletakkannya di lidahnya. Akibatnya, lidah Musa AS menjadi cedal sejak saat itu.
Begitu diangkat menjadi nabi, Musa memohon kepada Allah agar kekakuan di lidahnya dihilangkan sebagian, sebatas agar kata-katanya bisa dipahami orang-orang. Sufi Hasan al-Bashri mengomentari hal ini: "Para rasul hanya meminta sebatas yang diperlukan. Karena itulah, lidah Musa masih kaku."
Jadi, permintaan Musa AS agar Allah mengangkat adiknya menjadi asistennya bukan lantaran nepotisme. Sebab, memang kapabilitas yang dimiliki Harun AS dapat melengkapi apa-apa yang tidak dimiliki sang rasul dari kalangan Bani Israil itu.
Sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Dzar al-Ghifari, pernah meminta kepada Rasulullah SAW agar dirinya dapat menduduki sebuah jabatan publik. Namun, Nabi SAW tidak memperkenankan permintaan itu, padahal ia adalah seorang sahabat yang saleh dan dekat dengan beliau.
Sebab, penilaian Nabi SAW didasarkan pula pada aspek meritokrasi, bukan nepotisme. Dalam pandangan Rasulullah SAW, Abu Dzar belum pantas menduduki jabatan karena besarnya amanah yang akan ditanggungnya.
Lebih lanjut, Rasulullah SAW menekankan dua hal yang harus terpenuhi ketika menduduki sebuah jabatan, yaitu kepantasan dalam mengembannya dan cara memperoleh jabatan pun mesti secara baik.
Jadi, jika memang kerabat atau orang dekat memliki kemampuan yang dibutuhkan, tidak mengapa untuk mengisi jabatan. Namun, bisa saja kedekatan tidak menjadi jalan untuk meraih jabatan, selama memang kapabilitasnya diragukan.
Kuil Karnak, Saksi Bisu Peninggalan Firaun yang Diabadikan Alquran
Kuil Karnak dibangun beberapa Firaun yang berbeda selama beberapa abad. [550] url asal
#kuil-karnak #kuil-karnak-dan-peninggalan-firaun #firaun-mengejar-nabi-musa #taman-taman-firaun #firaun-punya-taman #pembangunan-taman-firaun-di-kuil-karnak #cerita-kuil-karnak-dalam-alquran #alquran-d
(Republika - Khazanah) 28/07/24 19:54
v/12444576/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kuil Karnak (Karnak Temple) merupakan sebuah situs purbakala yang berada di daerah Luxor, sebuah kota yang terletak di kedua tepi timur dan barat Sungai Nil di Mesir. Kompleks kuil ini disebut sebagai yang terbesar di dunia.Kuil Karnak merupakan kuil terbesar yang ada ribuan tahun Sebelum Masehi (SM).
Arkeolog Universitas Indonesia (UI) Prof Ali Akbar dalam Arkeologi Alquran: Penggalian Pengetahuan Keagamaan terbitan Lembaga Kajian dan Peminatan Sejarah, 2020, mengakutelah berkunjung ke Kuil Karnak. Dia menceritakan bahwa saat memasuki area tersebut, terdapat semacam pusat informasi yang antara lain berisi berbagai foto lama yang dibuat tahun 1870. Foto lama itu menjadi saksi awal mula penemuan Kuil Karnak.
Kuil ini pada saat ditemukan kembali dalam keadaan rusak dan telah ditinggalkan masyarakat penggunanya. Sebagian reruntuhan bangunan tampak tertutup tanah. Meski telah ditinggalkan dan terkubur selama ribuan tahun, salah satu foto menunjukkan saat kuil ini ditemukan ternyata terdapat mata air atau oase atau danau.
"Mata air atau danau tidak dijumpai di kuil-kuil lain di Mesir," kata Ali Akbar dalam bukunya.
Dia juga mengutip sejumlah ayat Alquran yang menjelaskan Firaun yang berkuasa di Mesir, taman dan mata air tempat Firaun bersenang-senang.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَاَخْرَجْنٰهُمْمِّنْجَنّٰتٍوَّعُيُوْنٍۙوَّكُنُوْزٍوَّمَقَامٍكَرِيْمٍۙ
Fa akhrajnāhum min jannātiw wa ‘uyūn(in). Wa kunūziw wa maqāmin karīm(in).
Kami keluarkan mereka (Firaun dan kaumnya) dari (negeri mereka yang mempunyai) taman, mata air, harta kekayaan, dan tempat tinggal yang bagus. (QS Asy-Syu‘ara' Ayat 57-58)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
كَمْتَرَكُوْامِنْجَنّٰتٍوَّعُيُوْنٍۙوَّزُرُوْعٍوَّمَقَامٍكَرِيْمٍۙوَّنَعْمَةٍكَانُوْافِيْهَافٰكِهِيْنَۙكَذٰلِكَۗوَاَوْرَثْنٰهَاقَوْمًااٰخَرِيْنَۚفَمَابَكَتْعَلَيْهِمُالسَّمَاۤءُوَالْاَرْضُۗوَمَاكَانُوْامُنْظَرِيْنَࣖ
Betapa banyak taman-taman dan mata-mata air yang mereka tinggalkan, kebun-kebun serta tempat-tempat kediaman yang indah, juga kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana. Demikianlah (Allah menyiksa mereka). Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain. Langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu. (QS Ad-Dukhan Ayat 25)
Ali Akbar mengaku perlu menambah jumlah penelitian di Mesir yang baru dua kali dikunjungi pada tahun yang berbeda mulai dari daerah Alexandria di utara sampai Aswan di selatan.
Kini jika melihat Kuil Karnak, maka kuil telah mengalami pemugaran atau restorasi. Tiang-tiang yang terpendam dan rubuh dimunculkan dan ditegakkan kembali.
Berbagai arca yang jatuh dan bergeser dikembalikan ke posisinya semula setelah melalui penelitian yang seksama. Rekonstruksi di atas kertas dilakukan terhadap berbagai peninggalan yang rusak dan tidak utuh.
Peneliti dan pelestari kemudian berusaha menghasilkan perkiraan bentuk peninggalan pada masa lalu. Selanjutnya, dibuatlah atau dilakukan pembangunan kembali dengan mendekati bentuk asli, kesamaan warna, kemiripan bahan, berusaha menggunakan teknologi yang dikenal pada masa lalu, dan merevitalisasi kondisi lingkungan alamnya agar mirip dengan kondisi masa lalu.
Mata air atau danau di Kuil Karnak difungsikan kembali dan akhirnya menjadi sumber air bagi tanaman sehingga tumbuh subur menghijau. Apakah Kuil Karnak merupakan salah satu mata air dan taman yang disebutkan dalam Alquran?
Ali Akbar dalam bukunya menjawab, peluang tersebut terbuka lebar karena Kuil Karnak dibangun oleh beberapa Firaun yang berbeda selama beberapa abad. Jika membuka lembar demi lembar Alquran, maka pada Surat Asy-Syu‘ara' dan Surat Ad-Dukhan terdapat kata mata air dan taman dalam konteks Firaun yang mengejar Nabi Musa Aalahissalam.
Firaun dan balatentaranya kemudian tenggelam di laut ketika mengejar Nabi Musa Alahissalam. Sehingga tidak dapat lagi menikmati taman, mata air, dan tempat indah yang pernah didekap, serta kesenangan yang dulu pernah dikecap.
Kuningan Diguncang Gempa, ini Doa Nabi Musa Ketika Terkena Gempa
Nabi Musa bersama Bani Israil punya pengalaman menghadapi gempa besar. [641] url asal
#gempa-di-kuningan #gempa-kuningan #gempa-goyang-kuningan #gempa-bumi-kuningan #nabi-musa #doa-nabi-musa-ketika-gempa
(Republika - Khazanah) 26/07/24 13:28
v/12180480/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Kamis (2/7/2024) menjadi waktu penuh duka bagi warga Kuningan. Sebabnya, pada waktu itu mereka diguncang gempa 4,1 skala richter. Bencana alam tersebut mengakibatkan sembilan rumah mengalami rusak ringan dan sebuah masjid rusak. Untungnya, tak ada korban jiwa.
Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar Hadi Rahmat mengatakan, empat wilayah terdampak akibat gempa bumi magnitudo 4,1 Kamis (25/7/2024) kemarin. Lokasinya yaitu Kelurahan Ciporang, Kelurahan Purwawiangun, Desa Kertawirama dan Desa Jagara. "Korban jiwa nihil, satu unit masjid rusak, 9 unit rumah rusak ringan," ujar Hadi, Jumat (26/7/2024).
Gempa merupakan peristiwa alam yang terjadi sejak jutaan tahun lalu. Bahkan dahulu ketika bumi diciptakan, gempa terjadi dimana-mana. Namun eskalasinya menjadi berkurang dan menjadi lebih tenang, karena Allah menciptakan gunung. Ciptaan Allah yang besar dan menjulang tinggi ke angkasa itu merupakan penyetabil daratan dan lautan. Dengan begitu, makhluk lainnya yang ada di bumi dapat hidup dengan tenang.
Ribuan tahun lalu, ketika Nabi Musa berdakwah bersama pengikutnya, pernah juga dihajar gempa. Saat itu, Nabi Musa membaca doa berikut ini, yang diabadikan Allah dalam al-Araf 155:
رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُم مِّن قَبْلُ وَإِيَّٰىَ ۖ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَّآ ۖ إِنْ هِىَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَآءُ وَتَهْدِى مَن تَشَآءُ ۖ أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَا ۖ وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْغَٰفِرِينَ
Rabbi lau syi`ta ahlaktahum ming qablu wa iyyāy, a tuhlikunā bimā fa'alas-sufahā`u minnā, in hiya illā fitnatuk, tuḍillu bihā man tasyā`u wa tahdī man tasyā`, anta waliyyunā fagfir lanā war-ḥamnā wa anta khairul-gāfirīn
Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya".
Makna
Penafsir Alquran Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan sebagai berikut:
Ketika Bani Israil bertobat serta kembali pada jalan mereka yang lurus ”Musa memilih” dari mereka “tujuh puluh orang” terbaik di antara mereka untuk memohon ampunan Allah bagi kaum mereka. Allah menjanjikan kepada mereka waktu dimana mereka bisa menghadirinya.
Saat mereka telah hadir, mereka berkata, ”wahai Musa tunjukanlah Allah kepada kami secara nyata” Mereka telah berkata sangat lancang kepada Allah, bersikap kurang ajar kepadaNYa, maka mereka pun digoncangkan gempa, sehingga mereka pingsan dan binasa, maka Musa tiada henti-hentinya bedo’a merendahkan diri kepada Allah dan berkata, ”ya Rabbku kalau Engkau kehendaki tentulah Engkau membinasakan mereka sebelum ini” yakni sebelum mereka hadir dan mereka dalam keadaan memohon maaf untuk kaum mereka, justru mereka sekarang menjadi orang-orang yang zhalim. ”Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal dianatara kami?” yakni orang orang berakal bodoh dan berpikiran pandir.
Lihat halaman berikutnya >>>
Musa merendahkan diri kepada Allah dan memohon pemakluman karena orang-orang yang berbuat kelancangan tidak memiliki akal yang sempurna yang menjaga mereka sehingga mereka tidak mengucapkan dan melakukan demikian, dan bahwa telah terjadi fitnah pada diri mereka yang terlintas pada diri seseorang dan dia khawatir agamanya akan lenyap.
Maka dia berkata ”itu hanyaalah cobaan dariMu, engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang engkau kehendaki dan engkau beri petunjuk kepada siapa orang yang engkau kehendaki. Engkaulah yang mempimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan engkaulah pemberi ampun yang sebaik-baiknya." yakni engkau adalah sebaik-baik pemaaf, sebaik-baik yang menyayangi, dan semulia-mulia pemberi karunia. Seakan-akan Musa berkata 'wahai Rabb', yang dimaksud dengan tujuan pertama bagi kami semua adalah menaatiMu dan beriman kepadaMu dan bahwa orang yang berakal, mengerti dan memahaminya dengan sempurna sesuai dengan taufik yang telah engkau berikan, maka ia tetap bersikap lurus.
Adapun orang yang lemah akalnya, pandir pemikirannya, dan dibelokkan oleh fitnah, maka dialah yang melakukan pelanggaran itu, meskipun demikian Engkau adalah sebaik-baik penyayang dan sebaik-baik pengampun, maka ampunilah dan sayangilah kami, maka Allah mengabulkan permintaan Musa dan menghidupkan mereka setelah mati dan mengampuni dosa-dosa mereka.
Kisah Ular Dalam Alquran
Ular merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. [508] url asal
#ular-dalam-alquran #kisah-ular #kisah-nabi-musa #mukjizat-nabi-musa
(Republika - Khazanah) 24/07/24 20:07
v/11959752/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ular merupakan salah satu hewan yang disebutkan dalam Alquran. Sejumlah ayat menyinggung perihal ular dalam kaitannya dengan mukjizat para utusan-Nya, seperti Nabi Musa AS. Salah seorang rasul yang bergelar ulul azmi itu menghadapi Firaun yang didampingi pembesar istana dan kalangan penyihir.
Dalam surah al-A’raf ayat 104-107 dijelaskan, artinya, “Dan Musa berkata: ‘Hai Firaun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.’
Firaun menjawab: ‘Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya (tsu’ban mubiin).”
Dalam surah lain, Allah SWT menerangkan pertemuan yang lebih terdahulu, yakni antara Musa AS dan ular sebagai tanda kekuasaan-Nya. Seperti dikisahkan dalam surah al-Qasas ayat 30-32, yang berarti, “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: ‘Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam. dan lemparkanlah tongkatmu.
Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit (ka annahaa jaan), larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh.
(Kemudian Musa diseru): ‘Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.’”
Senada dengan ayat di atas, surah Ta Ha juga menuturkan tentang keadaan Nabi Musa AS ketika pertama kali menerima wahyu. Saat itu, Allah SWT menyuruhnya agar melemparkan tongkat yang sedang dipegangnya. Seketika, tongkat itu berubah menjadi ular. “Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat (hayyatun tas’aa)” (QS Ta Ha: 20).
Istilah untuk ‘ular’ dalam ayat-ayat di atas berlainan, yakni tsu’ban mubiin, ka annahaa jaan, dan hayyatun tas’aa. Sebagian ahli tafsir mengatakan, hal itu dapat dipahami sebagai sebuah proses.
Pada awalnya, tongkat Nabi Musa AS berubah menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat, dan akhirnya ular besar yang sebenarnya. Ada pula yang menafsirkan, tongkat Nabi Musa AS telah berubah menjadi seekor ular yang lincah dan gesit seperti halnya ular kecil. Namun, wujudnya sangat menakutkan seperti ular besar.
Sebagian mufasir yang lain mengatakan, perbedaan ungkapan itu disebabkan tempat terjadinya mukjizat yang berlainan. Menurut pendapat ini, perubahan bentuk tongkat itu menjadi ular jantan yang besar terjadi pada saat Nabi Musa AS di hadapan Firaun. Adapun perubahannya menjadi ular kecil terjadi pada malam hari ketika Nabi Musa AS menerima wahyu untuk pertama kalinya.
Perbedaan penyebutan bentuk ular dalam kisah Nabi Musa AS itu merupakan salah satu bukti kehebatan Alquran. Setiap diksi yang digunakan harmonis, sesuai situasi dan konteks kisah secara keseluruhan. Kalau tongkat itu, umpamanya, hanya berubah menjadi seekor ular yang merayap, mengapa Musa AS melihat ular itu bergerak gesit. Demikian pula, betapa besar ular itu yang awalnya mewujud tongkat Nabi Musa itu sehingga Firaun begitu takut.
Ayat Alquran Ini Ungkap Pesan Allah SWT untuk Nabi Musa Hadapi Kiamat
Kiamat merupakan salah satu rahasia Allah SWT [535] url asal
#kiamat #tanda-kiamat #tanda-tanda-kiamat #kiamat-nabi-musa #nabi-musa #kisah-nabi-musa #hari-kiamat #surat-taha-ayat-10-16
(Republika - Khazanah) 24/07/24 18:48
v/11954552/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Umat Islam diwajibkan meyakini akan datangnya hari kiamat, yakni hari pembalasan atau hari semua orang diadili dengan seadil-adilnya berdasarkan amal perbuatannya di dunia.
Hari kiamat adalah rahasia yang hanya diketahui Allah SWT. Manusia hanya bisa melihat tanda-tanda semakin dekatnya hari kiamat berdasarkan sabda Rasulullah SAW.
Dalam Surat Taha ayat 10 sampai 16 dikisahkan pembicaraan Nabi Musa alaihissalam dengan Allah SWT, di dalamnya disinggung tentang hari kiamat.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
اِذْ رَاٰ نَارًا فَقَالَ لِاَهْلِهِ امْكُثُوْٓا اِنِّيْٓ اٰنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّيْٓ اٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِقَبَسٍ اَوْ اَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى
“(Ingatlah) ketika dia (Musa) melihat api, lalu berkata kepada keluarganya, “Tinggallah (di sini)! Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu atau mendapat petunjuk di tempat api itu.” (QS Taha Ayat 10).
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَلَمَّآ اَتٰىهَا نُوْدِيَ يٰمُوْسٰٓى ۙ
“Ketika mendatanginya (tempat api), dia (Musa) dipanggil, “Wahai Musa.” (QS Taha Ayat 11). Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
اِنِّيْٓ اَنَا۠ رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَۚ اِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى ۗ
“Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Lepaskanlah kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, yaitu Tuwa.” (QS Taha Ayat 12)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَاَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوْحٰى
“Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). (QS Taha Ayat 13)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
"Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah sholat untuk mengingat-Ku." (QS Taha Ayat 14)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى
Sesungguhnya hari Kiamat itu (pasti) akan datang. Aku hampir (benar-benar) menyembunyikannya. (Kedatangannya itu dimaksudkan) agar setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. (QS Taha Ayat 15)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ فَتَرْدٰى
“Janganlah engkau dipalingkan darinya (iman pada hari Kiamat) oleh orang yang tidak beriman padanya dan mengikuti hawa nafsunya sehingga engkau binasa.” (QS Taha Ayat 16)
Pada Surat Taha Ayat 15, Allah SWT menerangkan bahwa hari Kiamat itu pasti datang, tetapi Allah SWT sengaja merahasiakan dan tidak menjelaskan waktunya, kapan hari Kiamat itu terjadi.
Sengaja Allah SWT merahasiakan waktu terjadinya hari Kiamat, agar dengan demikian manusia selalu berhati-hati dan waspada serta siap untuk menghadapinya.
Dirahasiakannya kedatangan hari Kiamat sama halnya dengan dirahasiakannya kapan ajalnya seseorang itu tiba. Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui kapan dan di mana ia akan mati.
Apabila seseorang mengetahui kapan ajalnya tiba tentunya ia akan berbuat semau hatinya, menurutkan hawa nafsunya, mengerjakan segala macam maksiat yang dikehendakinya. Sesudah ajalnya dekat barulah ia tobat dan Allah SWT akan menerima tobatnya sesuai dengan janji-Nya.
Tetapi kalau ia tidak tahu kapan ajalnya tiba, tentunya ia selalu hati-hati, perintah dikerjakannya, larangan dijauhinya. Apabila ia berbuat masiat, segera ia bertobat karena takut kalau ajalnya datang mendadak sebelum ia bertobat.
Jadi, gunanya kiamat dirahasiakan adalah supaya manusia giat berbuat baik, bila manusia yang seharusnya berbuat baik tetapi ia berbuat jahat, maka sangat pantaslah orang itu dihukum. Oleh karena itulah sangat adil bila yang berbuat baik itu diberi imbalan dan yang berbuat jahat diberi azab.
Pada Surat Taha Ayat 16, dijelaskan meski ayat ini ditujukan kepada Nabi Musa, tetapi itu merupakan pelajaran bagi kaum Muslimin. Allah meminta agar kita tidak terpengaruh oleh orang-orang yang tidak percaya kepada hari Kiamat dan orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya. Kalau kita ikuti keinginan orang-orang itu, maka kita akan merugi dan menyesal. Harta kekayaan, kemewahan tidak akan dapat menolong kita dari azab Allah. (Tafsir Kementerian Agama)
Kisah Hancurnya Gunung Sinai dalam Alquran, Saat Nabi Musa Berdoa Bisa Melihat Allah
Dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Mu' [496] url asal
#gunung-sinai #nabi-musa #nabi-musa-di-gunung-sinai #ayat-tentang-gunung-sinai #hancurnya-gunung-sinai #saat-gunung-sinai-hancur #nabi-musa-berdoa-minta-melihat-allah #kisah-nabi-musa-dalam-alquran #na
(Republika - Iqra) 24/07/24 14:40
v/11940014/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gunung Sinai disebut juga sebagai Bukit Tur yang berada di wilayah geografis negara Mesir. Dalam ayat pertama Surat at-Tur, Allah bersumpah demi Gunung Sinai. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالطُّوْرِۙ
Waṭ-ṭūr(i).
Demi Gunung (Sinai), (QS At-Tur Ayat 1)
Allah juga mengawali Surat at-Tin dengan bersumpah demi tempat-tempat tertentu.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَطُوْرِسِيْنِيْنَۙ
Wa ṭūri sīnīn(a).
Demi Gunung Sinai (QS At-Tin Ayat 2)
Pada ayat kedua Surat at-Tin, Allah bersumpah demi Gunung Sinai, yang tidak lain adalah Bukit Tur atau Tursina. Gunung Sinai dipercaya sebagai tempat turunnya perintah Allah kepada Nabi Musa untuk membebaskan Bani Israil dari perbudakan Firaun di Mesir. Peristiwa ini dapat dibaca dalam beberapa ayat Alquran, seperti Surat Thaha ayat 9 sampai 36 dan Surat al-Qasas Ayat 29 sampai 35.
Gunung Sinai ini pula yang dipercaya menjadi tempat singgah ketika Nabi Musa bersama Bani Israil keluar dari Mesir. Sementara itu, tempat Nabi Musa menghadap Allah melaporkan selesainya tugas membebaskan Bani Israil. Peristiwa tersebut dapat dibaca pada Surat al-A‘raf Ayat 142 sampai 143 dan Surat Thaha Ayat 83 sampai 84.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
۞وَوٰعَدْنَامُوْسٰىثَلٰثِيْنَلَيْلَةًوَّاَتْمَمْنٰهَابِعَشْرٍفَتَمَّمِيْقَاتُرَبِّهٖٓاَرْبَعِيْنَلَيْلَةًۚوَقَالَمُوْسٰىلِاَخِيْهِهٰرُوْنَاخْلُفْنِيْفِيْقَوْمِيْوَاَصْلِحْوَلَاتَتَّبِعْسَبِيْلَالْمُفْسِدِيْنَ
Kami telah menjanjikan Musa (untuk memberikan kitab Taurat setelah bermunajat selama) tiga puluh malam. Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi). Maka, lengkaplah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Musa berkata kepada saudaranya, (yaitu) Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, perbaikilah (dirimu dan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-A‘raf Ayat 142)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَمَّاجَاۤءَمُوْسٰىلِمِيْقَاتِنَاوَكَلَّمَهٗرَبُّهٗۙقَالَرَبِّاَرِنِيْٓاَنْظُرْاِلَيْكَۗقَالَلَنْتَرٰىنِيْوَلٰكِنِانْظُرْاِلَىالْجَبَلِفَاِنِاسْتَقَرَّمَكَانَهٗفَسَوْفَتَرٰىنِيْۚفَلَمَّاتَجَلّٰىرَبُّهٗلِلْجَبَلِجَعَلَهٗدَكًّاوَّخَرَّمُوْسٰىصَعِقًاۚفَلَمَّآاَفَاقَقَالَسُبْحٰنَكَتُبْتُاِلَيْكَوَاَنَا۠اَوَّلُالْمُؤْمِنِيْنَ
Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” (QS Al-A‘raf Ayat 143)
Ketika Nabi Musa berdoa meminta melihat Allah SWT, menurut sebagian mufasir, yang ditampakkan itu adalah kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Sementara itu, sebagian yang lain menafsirkan bahwa yang tampak itu adalah cahaya-Nya.
Bagaimanapun juga, tampaknya Allah SWT tidaklah seperti tampaknya makhluk. Tampaknya Allah mestilah sesuai dengan sifat-sifat-Nya yang tidak dapat diukur dengan pikiran manusia.
Secara geografis, Gunung Sinai (Tursina) terletak di Semenanjung Sinai, Mesir. Ketinggiannya sedang, berkisar 2.285 meter. Gunung ini terletak di dekat Kota Saint Catherine di Sinai, dikutip dari buku Tafsir Ilmi tentang Gunung Dalam Perspektif Alquran dan Sains.
Gunung Sinai dikelilingi oleh puncak-puncak gunung yang lebih tinggi, yang merupakan rangkaian pegunungan. Di lembah Tursina terdapat Biara St. Chaterine, suatu sekte dalam Kristen. Biara ini mendapat perlindungan Rasulullah SAW.