JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) lagi-lagi naik pada Jumat (20/9/2024). Ini menjadi penguatan dalam tiga hari beruntun. Hal itu ditopang pengetatan pasokan global.
Berdasarkan data BMD pada penutupan Jumat (20/9/2024), kontrak berjangka CPO untuk Oktober 2024 naik 79 Ringgit Malaysia menjadi 4.027 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO November 2024 menguat 70 Ringgit Malaysia menjadi 3.974 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO Desember 2024 meningkat 71 Ringgit Malaysia menjadi 3.947 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Januari 2025 bertambah 70 Ringgit Malaysia menjadi 3.925 Ringgit Malaysia per ton.
Sedangkan kontrak berjangka CPO Februari 2025 menguat 74 Ringgit Malaysia menjadi 3.907 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Maret 2025 terkerek 75 Ringgit Malaysia menjadi 3.885 Ringgit Malaysia per ton.
Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan, harga CPO bergerak pada tren bullish. Sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan harga CPO datang dari mengetatnya pasokan CPO di pasar global. Setelah data terbaru Malaysia menunjukkan produksi CPO di negara produsen terbesar kedua dunia itu turun sebesar 4% dalam kurun 1-15 September.
“Selain itu, produksi CPO Indonesia selaku produsen terbesar pertama dunia juga diproyeksikan turun tahun ini sebesar 1 juta ton yang dipicu oleh produktivitas dan lahan Perkebunan yang mengalami stagnasi, serta meningkatnya konsumsi domestik akibat mandatori biodiesel,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, Jumat (20/9/2024).
Yoga mengatakan, harga CPO bergerak pada resistance terdekat di harga 4.050 Ringgit Malaysia per ton, dan potensi support terdekat di harga 3.850 Ringgit Malaysia per ton.
Harga Minyak Kedelai
Tidak hanya itu, lanjut dia, harga minyak kedelai hari ini bergerak pada tren bullish. Sentimen utama penggerak harga minyak kedelai datang dari gangguan transportasi akibat kekeringan parah yang membuat permukaan air turun mendekati rekor terendah di Sungai Parana yang menjadi jalur transportasi ekspor bagi hampir 80% minyak nabati dan biji-bijian dari Argentina.
“Selain itu, rilisnya laporan WASDE terbaru memperkirakan produksi kedelai AS akan turun sebesar 3 juta bushel,” papar Yoga.
Menurut Yoga, dalam sepekan, harga CPO bergerak bullish dengan peningkatan sebesar 3,59%. Sepanjang September hingga penutupan pekan ketiga, harga CPO bergerak menguat tipis sebesar 0,43%. “Dilihat secara year to date (ytd), harga CPO tercatat menguat dengan kenaikan mencapai 7,92%,” tambah Yoga.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News