JAKARTA, KOMPAS.com – Saat melintasi jembatan di Tugu Harmoni, Jakarta Barat, pernahkah melihat patung seorang laki-laki berwarna hitam dengan tangan mengacung ke atas? Patung tersebut dikenal sebagai Patung Hermes dari mitologi Yunani.
Patung yang sama, atau tepatnya yang asli, juga bisa kamu temukan di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah di Kota Tua, Jakarta Barat.
"Patung Hermes ini merupakan patung mitologi Yunani, Dewa Hermes. Ia adalah putra Zeus dan seorang peri, Maya. Sebagai dewa pembawa pesan, khususnya untuk ayahnya Zeus, Hermes pintar dan bergerak cepat," jelas petugas Museum Sejarah Jakarta, Dea kepada Kompas.com di Museum Sejarah Jakarta, Kamis (12/9/2024).
Dilansir dari laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kamis (12/9/2024), patung itu menyerupai patung terkenal Giambologna, sekitar tahun 1524-1608, dari Florence, Italia.
Mulanya, Patung Hermes ini dibeli di Hamburg pada tahun 1920-an oleh seorang pedagang Jerman yang kemudian menjadi warga negara Belanda.
KOMPAS.com/Ryana Aryadita Patung Hermes di Jembatan Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa (16/4/2019)Kemudian Patung Hermes ini disumbangkan kepada Pemerintah Batavia sebagai tanda terima kasih dan akhirnya dipajang di Jembatan Harmoni.
Konon, patung tersebut dicat berulang kali menyesuaikan dengan warna jembatan. Pada tahun 2000, patung tersebut dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta sampai saat ini.
"Untuk keamanannya akhirnya Patung Hermes ini dipindahkan ke halaman belakang Museum Sejarah Jakarta," ujar Dea.
Sementara itu, Patung Hermes di jembatan di Tugu Harmoni merupakan karya Arsono, seniman dari Yogyakarta.
Patung Hermes digambarkan sebagai seorang laki-laki dengan topi bersayap. Posisinya seakan tengah berlari, dengan sayap menempel di kakinya.
Ia pun terlihat memegang tongkat bersayap dengan dua ular meliuk-liuk di sekelilingnya, sebagai simbol pesan.
Pengunjung Museum Sejarah Jakarta bisa melihat patung ini setelah memasuki museum lewat pintu samping.
Halaman belakang yang menjadi lokasi patung pun cukup luas dengan ditumbuhi beberapa pohon sehingga bisa dijadikan sebagai tempat berteduh.