JAKARTA, investor.id – Harga batu bara kembali turun tajam pada Rabu (9/10/2024). Hal itu tertekan kabar dari India yang menyebutkan output listrik dari pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di India mengalami penurunan untuk kedua kalinya secara berturut-turut pada September.
Harga batu bara Newcastle untuk Oktober 2024 turun US$ 2,35 menjadi US$ 145,45 per ton. Sedangkan November 2024 jatuh US$ 3,8 menjadi US$ 147 per ton. Sementara itu, Desember 2024 terkoreksi US$ 3,25 menjadi US$ 149,25 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Oktober 2024 terpangkas US$ 0,95 menjadi US$ 118,8. Sedangkan, November 2024 melemah US$ 2,7 menjadi US$ 117,9. Sedangkan pada Desember 2024 jatuh US$ 2,45 menjadi US$ 118,4.
Dikutip dari Reuters, output listrik dari pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di India mengalami penurunan untuk kedua kalinya secara berturut-turut pada bulan September, seiring melambatnya pertumbuhan penggunaan listrik dan meningkatnya produksi listrik dari tenaga surya. Berdasarkan tinjauan data dari regulator jaringan nasional oleh Reuters, penurunan ini merupakan perubahan pola penggunaan bahan bakar di negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.
Penurunan ini terjadi setelah 47 bulan berturut-turut pertumbuhan tahunan penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik, mencerminkan pergeseran dalam pola konsumsi energi. Meski konsumsi listrik di India terus meningkat sejak pandemi, terutama karena pertumbuhan ekonomi dan gelombang panas, hujan lebat selama musim monsun tahun ini mengurangi permintaan pendingin udara, sehingga berdampak pada penurunan konsumsi listrik.
Menurut data dari Grid-India yang dikelola pemerintah, total listrik yang dihasilkan dari pembangkit berbahan bakar batu bara dan lignit turun 5,8% secara tahunan pada bulan September, setelah sebelumnya turun 4,9% pada Agustus. Sebagai perbandingan, selama tujuh bulan pertama tahun ini, pertumbuhan penggunaan batu bara tercatat meningkat 10%.
Perlambatan dalam pertumbuhan permintaan listrik, yang hanya tumbuh 1,1% pada kuartal September dibandingkan dengan peningkatan 9,7% pada paruh pertama tahun ini, membantu mengurangi penggunaan batu bara. CRISIL, unit dari lembaga pemeringkat S&P, menyebutkan bahwa hujan deras di wilayah barat dan utara pada bulan September turut menekan permintaan listrik.
Sementara itu, instalasi tenaga surya yang semakin meningkat mendorong pertumbuhan produksi listrik dari tenaga surya sebesar 26,4% secara tahunan pada bulan September, tingkat pertumbuhan tertinggi dalam 12 bulan terakhir. Hal ini juga mendorong kontribusi energi terbarukan dalam total produksi listrik India mencapai rekor 13,9% pada kuartal tersebut.
Peningkatan Curah Hujan
Peningkatan curah hujan di beberapa negara bagian utama juga membantu pertumbuhan pembangkit listrik tenaga air sebesar 26% pada bulan September dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menurunkan pangsa pembangkit listrik berbahan bakar batu bara menjadi yang terendah dalam dua tahun terakhir.
Selain itu, peningkatan produksi tenaga nuklir sebesar 18,5% selama kuartal tersebut turut berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap batu bara, yang kini hanya menyumbang 67,2% dari total produksi listrik, menurut data Grid-India.
Penurunan ketergantungan pada batu bara juga berdampak pada turunnya impor bahan bakar tersebut, yang anjlok 6,1% pada September, penurunan tertajam dalam 12 bulan terakhir, menurut data dari konsultan Bigmint.
Produksi dan pasokan batu bara oleh Coal India, perusahaan penambang batu bara terbesar di dunia, turun dengan laju tercepat sejak kuartal Juni 2020, menurut data yang tersedia di situs webnya. Coal India sendiri menyumbang hampir 80% dari produksi batu bara domestik negara tersebut.
Namun, para pejabat industri memperkirakan permintaan listrik akan kembali meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Para analis di Fitch memperkirakan permintaan listrik akan tumbuh 8% pada 2024, lebih tinggi dari peningkatan 6,5% pada 2023, yang sebagian besar didorong oleh pertumbuhan industri dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Tidak hanya itu, pelemahan harga Batu bara juga tertekan oleh hraga ga. Kontrak gas acuan Eropa, Dutch TTF untuk pengiriman November melemah 0,9% menjadi 38,55 Euro per megawatt-jam (MWh), setelah sempat menyentuh level tertinggi dua bulan sebesar 41,18 Euro per MWh pada Jumat (4/10/2024).
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News