REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Berbicara tentang khodam yang saat ini tengah ramai, pentin pula mengetahui seperti apa sebenarnya rupa khodam dari jin yang sebenarnya. Seringkali kita mendapatkan gambaran tentang rupa setan atau jin yang menyeramkan. Benarkah demikian?
Salah satu karakter yang diberikan Allah SWT kepada setan atau jin adalah kemampuannya menjelma menjadi bentuk apapun dari manusia hingga hewan dan tumbuhan. Tetapi, pada dasarnya rupa setan sendiri itu memang benar buruk menyeramkan.
Dalam kitab Alam al-Jin wa as-Syayathin, Syekh Umar Sulaiman al-Asyqar menjelaskan gambaran buruknya rupa setan ini memang sudah mengental dalam alam bawah sadar manusia, dan begitulah memang rupa setan. Menyeramkan.
Allah SWT menyerupakan buah pohon Zaqqum dengan kepala setan. Pohon zaqqum adalah pohon yang paling buruk dan sangat pahit rasanya, tempat asalnya adalah Tihamah.
Allah SWT menumbuhkan pohon itu di dalam neraka Jahim. Permisalan ini tak lain karena memang buruknya rupa setan. Dalam surat as-Saffat ayat 64-65, Allah SWT berfirman:
إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ
“Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. Mayangnya seperti kepala setan-setan.”
Syekh Umar menambahkan pula, dalam banyak riwayat Rasulullah SAW menyebutkan bahwa setan mempunyai dua tanduk. Ini sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:
لاَ تَحَرَّوْا بِصَلاَتِكُمْ طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلاَ غُرُوبَهَا فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بِقَرْنَىْ شَيْطَانٍ
“Janganlah mengerjakan shalat kalian ketika matahari terbit dan matahari tenggelam karena ketika itu terbit dua tanduk setan.”
Sementara itu, Syekh Badruddin bin Abdullah as-Syibly dalam kitabnya berjudul ‘Ajaib wa Gharaib al-Jin, mengungkapkan fakta-fakta terkait bangsa Jin. Berikut ini tiga di antara fakta yang dibeberkan Syekh Badruddin:
Pertama, kapankah jin diciptakan?...
Keempat, aktivitas jin hampir sama dengan manusia
Aktivitas jin, pada dasarnya serupa dengan manusia. Mereka makan, minum, tidur, dan beranak-pinak. Kendati para ulama tidak satu pendapat, ihwal apa jenis makanan mereka. Ada yang mengatakan di antara makanan jin adalah segala hal yang tidak disembelih dengan asma Allah.
Ada pula yang mengatakan menu favorit jin adalah tulang belulang. Berbeda dengan manusia, dan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW, bangsa jin makan dan minum menggunakan tangan kiri. Sementara kita, umat Islam diajarkan menggunakan tangan kanan untuk kedua aktivitas tersebut.
Kesamaan tersebut bukan hanya soal kebutuhan biologis sehari-hari, melainkan soal aspek ritual, pada dasarnya bangsa jin juga mendapat perintah yang sama yaitu beribadah kepada Allah SWT, seperti manusia. Mereka juga mendapat perintah dan larangan.
قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا
“Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan. (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami.”(QS al-Jin [72]: 1-2).
Kelima, jin takut pada manusia
Imam Mujahid bin Jabir pernah berpesan ketika seseorang melihat bangsa jin (setan, memedi, makhluk halus, dan lain-lain), janganlah lari tunggang langgang yang membuat diri sendiri trauma. “Tetapi hadapilah dia akan pergi sendiri,” pesannya.