#30 tag 24jam
Deretan Taipan di Dunia Tekstil yang Masih Bertahan di Tengah Goyahnya Industri
Konglomerat di balik sederet perusahaan tekstil yang masih kokoh berdiri di Indonesia, saat banyak yang mulai gugur. [1,149] url asal
#tekstil #pengusaha-tekstil #taipan-tekstil
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 25/10/24 14:41
v/16972614/
Bisnis.com, JAKARTA - Industri tekstil Indonesia semakin mengkhawatirkan, dengan salah satu perusahaan tekstil terbesar, Sritex, dinyatakan pailit.
Bedasarkan pemberitaan sebelumnya, pabrik tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Group Sritex dinyatakan pailit lantaran disebut tak memenuhi kewajiban bayar kepada kreditur.
Adapun, keputusan pailit tersebut tertuang dalam putusan PN Semarang atas perkara nomor 2/Pdt.Sus-Homologasi/2024/PN Niaga Smg.
Penurunan permintaan dan polemik pasar global jadi penghambat utama dalam bisnis tekstil saat ini, di tengah posisi nilai tukar dolar AS yang semakin menguat sementara permintaan global terus berkurang.
Namun, di antara perusahaan tekstil yang pailit, beberapa perusahaan masih berdiri, terutama karena disokong oleh para konglomerat yang juga merupakan pendirinya.
Berikut ini deretan pendiri perusahaan tekstil yang masih berdiri di Indonesia saat ini dengan kinerja yang masih mumpuni:
1. PT Argo Pantes Tbk (ARGO) - The Ning King
Perusahaan manufaktur tekstil PT Argo Pantes Tbk (ARGO) merupakan salah satu produsen utama benang dan kain di Indonesia. Sampai dengan paruh kedua 2024, ARGO masih mencatat pendapatan sebesar Rp25,8 miliar dengan laba bersih mencapai Rp1,86 miliar.
Perusahaan ini merupakan milik konglomerat The Ning King yang mendirikan Argo Manunggal Group. Melansir Forbes, The Ning King pernah masuk dalam 50 Orang Terkaya di RI pada 2017 dengan kekayaan mencapai US$450 juta atau setara dengan Rp6 triliun (kurs Rp14.000).
Kiprah bisnis Argo Manunggal Group dimulai pada 1949 yang berawal dari perdagangan tekstil. Pria yang lahir di Bandung tahun 1931 itu mendirikan PT Argo Pantes Tbk. (ARGO) sekaligus pabrik tekstil pertamanya pada 1977.
2. PT Indo-Rama Synthetics Tbk (INDR) - Sri Prakash Lohia
PT Indo-Rama Synthetics Tbk (INDR) milik orang terkaya ke-5 di Indonesia masih kokoh berdiri, dengan catatan pendapatan US$193,83 juta sampai kuartal II/2024, meski turut mencatat rugi bersih sebesar US$2,08 juta akibat beban pokok yang tinggi.
Perusahaan ini didirikan oleh Sri Prakash Lohia, pria kelahiran India pada 1952 yang sudah menjadi warga negara Indonesia.
Sebelum membangun bisnis, dia meraih gelar Sarjana Niaga dari Universitas Delhi pada 1971. Kemudian, pada 1973, Lohia pindah ke Indonesia bersama ayahnya, Mohan Lal Lohia, dan merintis Indorama Synthetics. Perusahaan tersebut mulai memproduksi benang pintal tahun 1976.
Punya pengalaman lebih dari 50 tahun di industri tekstil, dia sempat menjadi Direktur Perseroan pada 1975, dan diangkat sebagai Wakil Presiden Direktur pada 1990 dan menjadi Presiden Direktur pada 2004.
Dia kemudian diangkat sebagai Presiden Komisaris Perseroan 2009 dan ditunjuk untuk posisi yang sama pada Juni 2023.
Menurut Forbes, saat ini kekayaannya mencapai US$8,5 miliar atau setara dengan Rp132,32 triliun dan menjadi orang terkaya ke-5 di Indonesia.
3. PT Trisula International Tbk (TRIS) - Tirta Suherlan
PT Trisula International Tbk (TRIS) melaporkan pendapatan sebesar Rp351,99 miliar sampai dengan kuartal II/2024 dan berhasil mencatatkan dan laba bersih Rp6,65 miliar hingga berencana membagikan dividen interim pada akhir Oktober 2024.
Perusahaan ini didirikan oleh Tirta Suherlan pada 1968 yang awalnya mendirikan perusahaan tekstil dengan nama PT Daya Mekar.
Berhasil berkembang pesat, di tahun yang sama PT Daya Mekar pindah ke jalan Banten Bandung, dan berganti nama menjadi PT Trisula Banten Textile Mill.
Selang sembilan tahun, pada 1977 Tirta Suherlan membeli sebidang tanah di Cimahi seluas 13,5 hektar, untuk dijadikan lokasi baru PT Trisula Banten Textile Mill.
Pada 1986, dengan bisnisnya terus berkembang hingga bisa berekspansi, membeli PT Southern Cross Textile Industry (SCTI), sebagai pabrik tekstil kedua Trisula. Setahun kemudian, Trisula mendirikan PT Nusantara Cemerlang, yang berfungsi sebagai pabrik garmen pertama Trisula.
Kemudian, pada 1988 Trisula resmi mendirikan Head Office atau kantor pusat pertamanya di Delta Building Jakarta. Namun, di tahun yang sama Tirta Suherlan wafat dan seluruh usaha Trisula dilanjutkan oleh kedua putranya, Kiky Suherlan dan Dedie Suherlan.
4. PT Pan Brothers Tbk (PBRX) - Ludijanto Setijo
PT Pan Brothers Tbk (PBRX) yang didirikan sejak 1980 itu berhasil mencatatkan pendapatan sebesar US$92,25 juta apda kuartal II/2024 dengan capaian laba bersih sebesar US$124.909, meski mengalami penurunan kinerja.
Perusahaan ini dibentuk oleh pengusaha Ludijanto Setijo, yang membawa Pan Brothers menjadi salah satu perusahaan garmen raksasa di Indonesia dan telah memproduksi merek-merek terkenal dunia seperti Calvin Klein, DKNY, J Crew, Old Navy, Gap dan masih banyak lagi.
Pada 2018, Ludijanto Setijo dan keluarga sempat masuk dalam deretan 150 orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan yang dimiliki mencapai US$150 juta atau sekitar Rp2,12 triliun.
5. PT Golden Flower Tbk, (POLU) - Nico Purnomo Po
PT Golden Flower Tbk (POLU) mencatat pendapatan Rp36,69 miliar dan laba bersih Rp2,04 miliar pada kuartal II/2024, dan masih kokoh beroperasi dengan kapasitas produksi 8,5 juta potong per tahun.
Di belakang perusahaan ini ada nama Nico Purnomo Po sebagai cucu dari pendiri usaha tekstil yang diawali oleh sang nenek, dengan menjual kemeja yang dia jahit sendiri kepada teman-temannya di Semarang, Jawa Tengah.
Bisnis tekstil tersebut dikembangkan melalui PT Golden Flower, yang masih ada hingga kini, bahkan memasok merek-merek ternama seperti Calvin Klein, Zara, dan Muji.
Nico Po sendiri lahir di Semarang dan datang ke Singapura untuk mengenyam pendidikan, belajar komputasi di National University of Singapore (NUS). Dia memulai kariernya di bidang real estat di Singapura dan kemudian mengalihkan fokusnya kembali ke Indonesia, di mana kebutuhan perumahan dan infrastruktur meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi.
Pada 2018, Bloomberg mencatat kekayaan bersih Nico Po mencapai US$3,6 miliar, saat usianya baru 37 tahun. Dia mendulang kekayaannya mayoritas dari kepemilikan 85 persen perusahaan ayahnya, Pollux Properti, dan 90 persen saham di bisnis properti keluarga yang terdaftar di Singapura, Pollux Properties Ltd.
6. PT Ever Shine Textile Tbk (ESTI) - Sung Pui Man
PT Ever Shine Textile Tbk (ESTI) didirkan oleh pebisnis asal Taiwan, Sung Pui Man pada 1974 dengan fokus pada produksi Poliamida 6 dan memproduksi benang dan kain sintetis.
Pada kuartal kedua 2024, ESTI mencetak pendapatan mencapai US5,67 juta dengan laba bersih sebesar US$187.475.
Pengalaman panjang Sung Pui Man di balik perusahaan ini bermula saat di masa pemerintahan Presiden Suharto, Indonesia sudah mendekati akhir gelombang pertama pembangunan industrinya.
Meskipun ada beberapa pabrik yang tersebar di seluruh negeri, banyak kelangkaan pasokan dan di sana Sung melihat begitu banyak peluang.
Menjadi orang asing di negeri asing, dia harus memulai dengan membakar uang, terlebih Indonesia kala itu belum membuka diri terhadap investasi asing, sehingga memaksa keluarga tersebut untuk meminjam nama penduduk setempat untuk mendapatkan izin yang diperlukan untuk membangun pabriknya.
Pada 1980-an, Taiwan, Hong Kong, dan Korea Selatan mendominasi rantai pasokan tekstil dan garmen global, sehingga menyulitkan Ever Shine yang berbasis di Indonesia untuk memasuki pasar Eropa dan Amerika.
Namun, setelah melewati tahap awal bisnisnya yang memiliki keterbatasan modal, Sung mulai mengarahkan perusahaannya untuk mencatatkan sahamnya di pasar saham pada tahun 1992.
Sung kemudian merencanakan perluasan pabrik dan internasionalisasi, Ever Shine memutuskan untuk mencatatkan sahamnya di pasar saham Indonesia, menjadi perusahaan milik Taiwan pertama yang melakukan hal tersebut.
Setelah 40 tahun berdiri, ESTI sudah menjadi peruahaan Taiwan pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia, dan berhasil mengumpulkan pendapatan tahunan setara dengan Rp1 triliun.
Pengusaha Minta Pemerintah Baru Lanjutkan Harga Gas Murah Bagi Industri Tekstil
Para pengusaha tekstil dan produk tekstil (TPT) meminta pemerintahan baru tetap memberikan harga murah untuk gas industri. [354] url asal
#pengusaha-tekstil #tpt #harga-murah #gas-industri #hgbt
(IDX-Channel - Economics) 14/10/24 15:15
v/16451040/
IDXChannel - Para pengusaha tekstil dan produk tekstil (TPT) meminta pemerintahan baru tetap memberikan harga murah untuk gas industri.Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat Benang Filamen Indonesia (APsyFi), Redma Gita Wirawasta, mengatakan Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dapat memberikan kesempatan yang sama bagi pengusaha domestik di pasar internasional.
Redma mengatakan harga gas di Indonesia tergolong mahal. Jika tidak menggunakan HGBT, harga gas mencapai USD13 per MMBTU. Sementara di negara lain hanya USD6-USD7 per MMBTU.
"Masalahanya pemerintahan sekarang, terutama Kemenkeu, memandang HGBT itu sebagai insentif bagi para pengusaha. Padahal, itu buat kami bukan insentif, tetapi buat kami itu untuk mendorong equal level yaitu tingkat yang sama agar kami bisa bersaing dengan pengusaha-pengusaha dari negara lain," kata Redma dalam rubrik Market Review di IDX Channel, Senin (14/10/2024).
Redma melanjutkan, harga gas industri merupakan bentuk dukungan pada spek hulu untuk meningkatkan produktivitas. Sehingga, jika hulu industri mendapatkan harga energi gas yang sama dengan negara-negara lain, maka secara hilir, diharapkan dapat bersaing dengan negara-negara lainnya.
"Jika kita dapat harga gas yang sama dengan negara-negara lain, maka kita bisa bersaing. Kemudian rantai pasok ke hilirnya, bahan bakunya menjadi lebih murah. Kita secara rantai dari hulu ke hilir, ini bisa bersaing dengan produk-produk impor. Kita juga bisa bersaing di pasar domestik dan pasar ekspor," tutur Redma.
Adapun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menyesuaikan regulasi pengguna serta harga gas bumi.
Hal itu ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 255.K/MG.01/MEM.M/2024 merupakan perubahan dari Keputusan Menteri ESDM Nomor 91.K/MG.01/MEM.M/2023.
Perubahan ini berdasarkan rekomendasi dari Menteri Perindustrian Agus Gumiwang terkait pengguna gas bumi tertentu. Dalam keterangan resmi Kementerian ESDM, Sabtu (12/10/2024), keputusan tersebut mengatur dua hal utama.
Pertama, pencabutan status 9 industri yang sebelumnya terdaftar sebagai pengguna gas bumi tertentu. Ini berarti industri-industri tersebut tidak lagi memenuhi kriteria atau mendapatkan manfaat dari kebijakan harga gas bumi tertentu.
Kedua, penambahan 4 industri baru sebagai pengguna gas bumi tertentu, yang berarti mulai sekarang, industri tersebut berhak menerima gas bumi dengan harga yang telah diatur khusus untuk sektor industri.
(NIA DEVIYANA)
2 Ganjalan Industri Tekstil RI: Pasokan Gas & Aturan Superketat Uni Eropa
Pengusaha tekstil buka suara soal masalah yang hingga kini masih dihadapi. Mulai dari masalah pasokan gas hingga sulit masuk uni eropa. [291] url asal
#tekstil #pengusaha-tekstil #pasokan-gas
(detikFinance - Industri) 31/08/24 17:24
v/14845833/
Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmaja menilai industri tekstil berperan penting bagi perekonomian Indonesia, serta mampu menyerap banyak tenaga kerja. Sayangnya industri ini menghadapi sejumlah tantangan yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.
Ia mencontohkan ketatnya aturan yang diterapkan Uni Eropa terhadap produk tekstil Indonesia. Jemmy menyebut mulai tahun depan produk yang ingin masuk ke negara anggota Uni Eropa harus bebas dari batu bara.
"Kalau Indonesia EU-CEPA berhasil ditandatangani, untuk masuk, untuk mendapatkan zero duty, minimum ada two step process yang harus dilakukan di Indonesia. It's mean kainnya harus dicelup atau di-print di Indonesia. Dan ketentuan dari Eropa untuk tahun 2025 industri yang akan mengekspor ke sana harus bye-bye coal, tidak boleh menggunakan batu bara," katanya dalam acara APEC BAC Indonesia di Jakarta, Sabtu (31/8/2024).
Oleh karena itu ia berharap peran dari pemerintah menyalurkan gas ke industri tekstil, terutama di wilayah Bandung dan Solo. Selain itu persoalan harga gas juga mesti diperhatikan pemerintah.
"Saya sudah usulkan beberapa kali, saya tanyakan ke pemerintah kapan gas tiba ke sentra-sentra industri tekstil. Terutama di Solo Raya dan Bandung Raya," tutur dia.
Tantangan lainnya berasal dari ketentuaa hukum yang mudah Berubah-ubah. Jemmy menyebut kondisi ini menyulitkan pelaku industri untuk melanjutkan investasinya.
Pada kesempatan itu ia menyangkal mesin-mesin industri sektor tekstil sudah bersifat tua dan usang. Ia juga membantah industri ini masuk era sun set sebab masih banyak investor asing yang melirik Indonesia sebagai lokasi investasi.
Menanggapi permintaan Jemmy, dan Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo atau Tiko sedang mengupayakan pembangunan pipa gas bisa masuk ke industri. Dalam hal ini pihaknya menggandeng Kementerian ESDM.
"Ini kita sedang bersama-sama dengan Kementerian ESDM untuk investasi bersama pipanisasi untuk bisa ke industri," pungkasnya.
(ily/hns)
Pengusaha Tekstil Dukung Kebijakan BMTP dan BMAD Asal Permendag Ini Direvisi
Regulasi BMTP dan BMAD menjadi suatu keharusan Negara dalam melakukan pengendalian impor dan perlindungan pasar domestik. [251] url asal
#pengusaha #pengusaha-tekstil #permendag #peraturan
(IDX-Channel - Economics) 07/07/24 22:50
v/10007068/
IDXChannel - Pengusaha tekstil mendukung wacana pemerintah yang akan mengeluarkan kebijakan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) dan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) untuk menyelamatkan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta mengatakan, meski demikian, dirinya juga meminta pemerintah merevisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024
Redma menjelaskan regulasi BMTP dan BMAD menjadi suatu keharusan Negara dalam melakukan pengendalian impor dan perlindungan pasar domestik.
"Kalau dalam keadaan normal, kebijakan BMTP dan BMAD akan sangat bermanfaat, negara lain juga melakukan hal yang sama untuk pengendalian impor dan melindungi pasarnya dari serangan barang impor dumping," ujar Redma, Minggu (7/7/2024).
Dia menambahkan, situasi tersebut akan efektif jika situasi pasar dalam negeri tidak diganggu oleh bebas masuknya barang-barang impor ilegal.
"Tapi saat ini justru masalah utama kita adalah impor ilegal yang masuk lewat cara borongan/kubikasi, pengaburan HS code dan under invoicing. Jadi hal ini bisa saja diterapkan tapi harus dibarengi dengan perbaikan kinerja Bea Cukai untuk memberantas impor ilegal," katanya.
Maka dari itu, Redma meminta pemerintah agar mau merevisi regulasi Permendag Nomor 8 Tahun 2024. Dia menjelaskan, regulasi Permendag tersebut justru membuat celah bagi para pelaku impor ilegal yang diduga bersekongkol dengan oknum-oknum di Dirjen Bea Cukai.
"Aturan BMTP dan BMAD harus diikuti revisi Permendag 8 untuk menambal celah yang selama ini menjadi permainan para importir dan oknumnya di Bea Cukai," kata Redma.
"Dan yang lebih terpenting adalah pemberantasan mafia impor untuk menanggulangi impor ilegal," katanya.
(NIY)
Bos dan Para Konglomerat di Balik Industri Tekstil yang Kian Lesu
Deretan bos dan konglomerat perusahaan tekstil yang kini kian lesu [1,296] url asal
#taipan-tekstil #pengusaha-tekstil #konglomerat-tekstil #industri-tekstil
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 05/07/24 13:07
v/9743464/
Bisnis.com, JAKARTA - Industri tekstil di Indonesia kian lesu, tergerus kinerja ekspor yang menurun, sementara impor ke pasar domestik membeludak.
Berdasarkan catatan Bisnis, penurunan kinerja ekspor disebabkan sejumlah faktor, mulai dari kondisi permintaan pasar global yang kurang baik, persaingan yang semakin ketat dengan China, hingga konflik geopolitik di Timur Tengah.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa mengatakan, polemik pasar global masih menjadi penghambat utama lantaran posisi nilai tukar dolar AS yang semakin menguat sehingga permintaan global kurang bagus.
Selain menyebabkan penurunan kinerja, lemahnya permintaan pada tekstil Indonesia juga menyebabkan ribuan pekerja di PHK.
Rendahnya pengamanan pasar dari barang impor disebut menjadi biang kerok penutupan pabrik dan PHK massal lantaran pesanan yang minim.
Berdasarkan catatan API, PHK buruh tekstil di sentra industri TPT seperti Bandung dan Solo mencapai 7.200 tenaga kerja sepanjang 2023. Sementara itu, hingga Mei 2024, total PHK telah mencapai 10.800 pekerja.
Adapun, pada kuartal I/2024, jumlah PHK tekstil mencapai 3.600 pekerja atau naik 66,67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sejak awal 2023, API juga mencatat kurang lebih 20-30 pabrik tutup.
Sementara itu, menjadi perusahaan di bawah naungan konglomerat juga tak selalu menolong kondisi perusahaan.
Berikut ini deretan konglomerat di balik emiten tekstil di Indonesia:
1. Iwan Lukminto
Iwan Lukminto adalah taipan di belakang perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara, PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL), yang baru-baru ini tengah diterpa isu kebangkrutan setelah melepas ribuan karyawannya, meski perseroan membantah hal tersebut.
Iwan Lukminto merupakan anak dari pendirinya, HM Lukminto, pengusaha keturunan Tionghoa yang mendirikan Sritex pada 1966 dari sebuah toko batik di Solo.
Iwan mulai menjabat di SRIL sejak 1997 dan sempat masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia pada 2020 dengan perkiraan kekayaan mencapai US$515 juta atau sekitar Rp7,48 triliun.
Selain menjadi perusahaan tekstil, grup ini juga memiliki sekitar 10 hotel di Solo, Yogyakarta dan Bali, termasuk Holiday Inn Express di Bali.
2. Tirta Suherlan
Perusahaan tekstil PT Trisula Textile Industries Tbk. (BELL) didirikan oleh Tirta Suherlan pada 1968. Bermula dari sebuah tenda dan sebuah mesin bekas, dia mendirikan perusahaan yang awalnya bernama PT Daya Mekar, yang terletak di jalan Simpang Aruna Bandung.
Berhasil berkembang pesat, di tahun yang sama PT Daya Mekar pindah ke jalan Banten Bandung, dan berganti nama menjadi PT Trisula Banten Textile Mill.
Selang sembilan tahun, pada 1977 Tirta Suherlan membeli sebidang tanah di Cimahi seluas 13,5 hektar, untuk dijadikan lokasi baru PT Trisula Banten Textile Mill.
Pada 1986, dengan bisnisnya terus berkembang hingga bisa berekspansi, membeli PT Southern Cross Textile Industry (SCTI), sebagai pabrik tekstil kedua Trisula. Setahun kemudian, Trisula mendirikan PT Nusantara Cemerlang, yang berfungsi sebagai pabrik garment pertama Trisula.
Kemudian, pada 1988 Trisula resmi mendirikan Head Office atau kantor pusat pertamanya di Delta Building Jakarta. Namun, di tahun yang sama Tirta Suherlan wafat dan seluruh usaha Trisula dilanjutkan oleh kedua putranya, Kiky Suherlan dan Dedie Suherlan.
3. The Ning King
The Ning King dikenal sebagai pendiri Argo Manunggal Group. Lewat perusahaan tersebut, The Ning King membesarkan kerajaan bisnisnya di berbagai bidang, salah satunya perusahaan tekstil PT Agro Pantes Tbk. (AGRO).
Pria yang lahir di Bandung tahun 1931 itu mendirikan PT Argo Pantes Tbk. (ARGO) sekaligus pabrik tekstil pertamanya pada 1977. Saat ini, gurita bisnis Argo Manunggal Group telah masuk ke berbagai kota besar di Indonesia, termasuk mendirikan Alam Sutera.
The Ning King juga sempat menjadi orang terkaya di Indonesia pada 2017, dengan kekayaan mencapai US$450 juta atau sekitar Rp6 triliun.
4. Ludijanto Setijo
Ludijanto Setijo merupakan sosok di balik keberhasilan PT Pan Brothers Tbk. (PBRX), salah satu perusahaan garmen raksasa di Indonesia yang telah memproduksi merek-merek terkenal dunia seperti Calvin Klein, DKNY, J Crew, Old Navy, Gap dan masih banyak lagi.
Melansir dari situs PT Pan Brothers Tbk disebutkan bahwa PT Trisetijo Manunggal Utama (TMU) merupakan salah satu pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 31,25%. Perusahaan tersebut digenggam mayoritas sahamnya oleh Ludijanto Setijo.
Pada 2018, Ludijanto Setijo dan keluarga sempat masuk dalam deretan 150 orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan yang dimiliki mencapai US$150 juta atau sekitar Rp2,12 triliun.
5. Sung Pui Man
Pebisnis asal Taiwan, Sung Pui man adalah pendiri Ever Shine Tex (ESTI), yang membangun perusahaan tersebut sejak 1974, saat usianya baru 20 tahun.
Saat di masa pemerintahan Presiden Suharto, Indonesia sudah mendekati akhir gelombang pertama pembangunan industrinya. Meskipun ada beberapa pabrik yang tersebar di seluruh negeri, banyak kelangkaan pasokan dan di sana Sung melihat begitu banyak peluang.
Menjadi orang asing di negeri asing, awalnya dia kehilangan banyak uang. Negara ini belum membuka diri terhadap investasi asing, sehingga memaksa keluarga tersebut untuk meminjam nama penduduk setempat untuk mendapatkan izin yang diperlukan untuk membangun pabriknya.
Pada 1980-an, Taiwan, Hong Kong, dan Korea Selatan mendominasi rantai pasokan tekstil dan garmen global, sehingga menyulitkan Ever Shine yang berbasis di Indonesia untuk memasuki pasar Eropa dan Amerika.
Namun, setelah melewati tahap awal bisnisnya yang memiliki keterbatasan modal, Sung mulai mengarahkan perusahaannya untuk mencatatkan sahamnya di pasar saham pada tahun 1992. Pada 1990-an adalah masa yang menyenangkan bagi saham-saham Indonesia, dan pemerintah secara aktif mendorong perusahaan-perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar saham.
Sung kemudian merencanakan perluasan pabrik dan internasionalisasi, Ever Shine memutuskan untuk mencatatkan sahamnya di pasar saham Indonesia, menjadi perusahaan milik Taiwan pertama yang melakukan hal tersebut.
Setelah 40 tahun berdiri, ESTI sudah menjadi peruahaan Taiwan pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia, dan berhasil mengumpulkan pendapatan tahunan setara dengan Rp1 triliun.
6. Nico Purnomo Po
Nama Nico Purnomo Po ada di belakang PT Golden Flower Tbk, (POLU), sebuah perusahaan manufaktur garmen dan perusahaan pengekspor, yang didirikan pada 1980.
Perusahaan ini berawal dari nenek Nico Po yang awalnya menjual kemeja yang dia jahit sendiri kepada teman-temannya di Semarang, Jawa Tengah. Bisnis tekstil tersebut dikembangkan melalui PT Golden Flower, yang masih ada hingga kini, bahkan memasok merek-merek ternama seperti Calvin Klein, Zara, dan Muji.
Nico Po sendiri lahir di Semarang dan datang ke Singapura untuk mengenyam pendidikan, belajar komputasi di National University of Singapore (NUS). Dia memulai kariernya di bidang real estat di Singapura dan kemudian mengalihkan fokusnya kembali ke Indonesia, di mana kebutuhan perumahan dan infrastruktur meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi.
Pada 2018, Bloomberg mencatat kekayaan bersih Nico Po mencapai US$3,6 miliar, saat usianya baru 37 tahun. Dia mendulang kekayaannya mayoritas dari kepemilikan 85 persen perusahaan ayahnya, Pollux Properti, dan 90 persen saham di bisnis properti keluarga yang terdaftar di Singapura, Pollux Properties Ltd.
7. Sri Prakash Lohia
Sri Prakash Lohia adalah sosok pemilik PT Indo-Rama Synthetics Tbk, sebuah perusahaan tekstil yang berpusat di Jakarta. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, perusahaan ini memiliki sejumlah pabrik yang tersebar di Indonesia, Uzbekistan, dan Turki.
Dilansir dari Forbes real time net worth pada Jumat (5/7/2024), kini Lohia memiliki total kekayaan sebesar US$8miliar atau setara dengan Rp130,43 triliun. Lohia juga menjadi orang terkaya ke-5 di Indonesia.
Sri Prakash Lohia merupakan keturunan India, lahir di Kolkata, India, pada 11 Juli 1952. Lohia merupakan pendiri perusahaan raksasa di bidang petrokomia dan tekstil, yakni Indorama Corporation.
Dirinya merupakan lulusan dari Bachelor of Commerce di Universitas Delhi dan berpindah ke Indonesia pada tahun 1973 bersama dengan orang tuanya. Bersama dengan ayahnya, Mohan Lal Lohia, Lohia akhirnya merintis perusahaan tekstil bernama Indorama Synthetics sekitar pada sekitar 1976.
8. Sumitro Hartono
Sumitro Hartono adalah pendiri Duniatex Group, produsen tekstil terbesar di Indonesia. Duniatex adalah perusahaan tekstil yang berfokus pada pemintalan, pertenunan, pencelupan, dan finishing.
Perusahaan ini terdiri dari 18 perusahaan terbatas, tersebar di beberapa lokasi di lebih dari 150 hektar lahan. Duniatex didirikan pada 1974 dengan nama CV. DUNIATEX di Surakarta, beroperasi terutama di industri finishing pada tahun 1988.
Melansir dari situsnya, kini Duniatex terus melebarkan sayapnya dengan mengembangkan sejumlah pabrik baru serta meningkatkan jumlah spindle hingga satu juta spindle saat ini dan meningkatkan kapasitas untuk memproduksi kain greige hingga 600 juta meter setiap tahunnya.