JAKARTA, KOMPAS.com - Dapat berbicara dengan hewan peliharaan adalah kemampuan yang diinginkan oleh sebagian besar pemelihara hewan.
Mereka dapat lebih memahami perasaan dan apa yang dipikirkan hewan peliharaan tanpa harus menerka-nerka.
Apa yang kamu dan hewan peliharaan inginkan pun bisa diungkapkan dengan gamblang agar ikatan yang terjalin semakin harmonis.
Kendati demikian, manusia tidak bisa berbicara dengan hewan peliharaan laiknya berbicara dengan sesama manusia.
Namun, bukan berarti manusia tidak bisa sepenuhnya "berbicara" dengan mereka. Ada satu profesi yang dapat membantu, yakni animal communicator.
Salah satu animal communicator di Indonesia adalah Jasmine Jawie.
Animal communicator, juga disebut intuitive animal communicator, adalah seseorang yang memiliki ilmu untuk berbicara dengan hewan menggunakan telepati.
Dalam melakukannya, ada animal communicator yang dapat berbicara dengan hewan hanya dengan melihat foto mereka.
Namun, ada pula yang perlu bertemu langsung dengan hewan tersebut.
Sepanjang bekerja sebagai animal communicator selama empat tahun, Jasmine mengaku telah telah mendapatkan banyak pelajaran seputar kehidupan dari hewan-hewan yang diajak mengobrol.
"Karena pada saat kita bisa mengerti, lebih terbuka hati, dan pikirannya lebih hening, banyak sekali wisdom yang bisa didapatkan dari mereka. Karena everyone is a teacher and everyone is a student," jelas Jasmine dalam konferensi pers "Plaza Indonesia Wellness Festival 2024" di Plaza Indonesia, Jakarta, Kamis (18/7/2024).
Unsplash Ilustrasi hewan peliharaanSalah satu pelajaran hidup yang Jasmine pelajari adalah tentang menghadapi ketakutan.
Ini terjadi ketika ia sedang menangani laporan tentang kucing kecil nan manja yang kabur dari mobil karena terkejut mendengar suara kencang.
Beruntung, kucing itu kabur ke loteng sebuah bangunan kosong di sekitar lokasi mobil berhenti.
Pemilik kucing itu menghubungi Jasmine untuk meminta bantuan agar peliharaannya lekas turun dan kembali ke rumah.
"Pas ngomong sama aku, dia (kucing) bilang enggak mau turun karena takut ada ular. Dia bilang, 'enggak mau, di bawah ada ular'. Tapi saya tahu, di bawah tidak ada ular," ungkap Jasmine.
Kucing itu masih enggan turun meski sudah diberi tahu bakal kesulitan mendapatkan makanan dan minuman jika tetap berada di loteng.
Beberapa hari kemudian, pemilik kucing itu kembali menghubungi Jasmine untuk memberi tahu bahwa peliharaannya masih berada di loteng.
Kala itu, Jasmine memutuskan untuk tidak membujuk kucing itu, tetapi mengatakan kepadanya bahwa sang kucing memiliki pilihan dalam hidupnya.
"Aku cuma bilang, 'kamu boleh diam di attic ini, berarti kamu tidak perlu menghadapi your fear, which you think was a big snake, and that's okay. But then, kamu akan jadi susah makan, minum, kepanasan, kehujanan, kotor, segala macam'," Jasmine berujar.
Jasmine meyakinkan bahwa tidak apa-apa bagi kucing tersebut jika memutuskan untuk tetap berada di loteng.
Namun, ia mengatakan, kucing itu bisa kembali hidup dengan nyaman jika memutuskan untuk berani menghadapi ketakutannya.
"Besok paginya, aku di-WhatsApp pemiliknya, dia (kucing) turun gemeteran. I was like, itu tamparan buat aku," ungkap Jasmine.
"Kucing kecil manja yang ketakutan itu berani untuk facing their fear, then you can do that. Sometimes, the wisdom can be for all the people. But sometimes, it can be a slap on your face for you only ," lanjut dia.