#30 tag 24jam
Sang Juru Potret pada Momen Proklamasi RI
Tiga foto hasil jepretan Frans S Mendur abadikan momen Proklamasi RI 17 Agustus 1945. [601] url asal
#sejarah-proklamasi-ri #proklamasi-indonesia #sukarno-baca-teks-proklamasi #fotografer-proklamasi-ri
(Republika - News) 17/08/24 19:33
v/14511575/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konon, sebuah foto bernilai ribuan kata. Dengan mengamati gambar, kita dapat turut merasakan atmosfer suatu peristiwa, yang telah lewat.
Dalam hal Proklamasi Republik Indonesia, kita patut bersyukur bahwa momen yang sangat penting itu telah diabadikan dalam beberapa foto. Potret itu adalah hasil jepretan Frans Soemarto Mendur, seorang fotografer kelahiran Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara.
Dilansir dari laman Kemendikbudristek RI, Frans S Mendur adalah saudara kandung Alexius “Impurung” Mendur. Kakak beradik ini menekuni dunia fotografi.
Seperti abangnya, Frans S Mendur sejak remaja sudah merantau ke luar kampung halaman. Sempat bertempat di Surabaya (Jawa Timur), ia lalu hijrah ke Batavia (Jakarta). Di sanalah dirinya menemui sang kakak, guna mendalami kiat-kiat fotografi.
Anak pasangan Agustus Mendur dan Ariantje Mononimbar ini lalu bekerja sebagai wartawan di Java Bode, sebuah surat kabar yang terbit di Batavia. Tak lama di sana, dirinya berpindah ke koran Asia Raya.
Sebagai jurnalis-foto Asia Raya, Frans Mendur mendapat informasi penting dari kakaknya: Ir Sukarno bersama dengan Mohammad Hatta akan membacakan teks Proklamasi RI di kediaman Bung Karno, Jalan Pengangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
Tanpa banyak pikir, Mendur bersaudara langsung pergi ke sana.
Kakak beradik ini menempuh jalan yang berbeda. Mula-mula, Frans mampir ke kantor Djawa Shinbun Kai--lembaga bentukan pemerintah pendudukan Jepang yang bertugas terbitkan surat kabar. Tujuannya, "meminjam" sebuah kamera Leica dan satu rol film. Itulah senjata yang akan dipakainya guna memotret momen Proklamasi RI.
Di lokasi, tepat pada waktunya, Frans menyaksikan dan mengabadikan peristiwa historis tersebut. Ada tiga kali ia memotret. Ketiga hasilnya adalah foto-foto ketika Bung Karno membacakan teks proklamasi dengan didampingi Bung Hatta.
Kedua, ketika Latief Hendraningrat, Suhud Sastro Kusumo, dan Surastri Karma (SK) Trimurti mengibarkan Bendera Pusaka, Sang Saka Merah Putih.
Ketiga, foto yang memperlihatkan suasana pengibaran sang saka bendera RI tersebut dengan latar belakang kumpulan manusia yang berkumpul menyaksikan Proklamasi di kediaman Bung Karno.
Mendur bersaudara menjadi fotografer yang hadir meliput pembacaan teks Proklamasi RI 17 Agustus 1945. Bukan bahwa tidak ada juru foto selain mereka di Jakarta.
Jadi sasaran interogasi tentara Jepang ...
Seperti diungkapkan dalam berbagai buku--termasuk autobiografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat--momen Proklamasi 17 Agustus 1945 itu cenderung terjadi secara spontan. Bahkan, Sukarno--dengan disaksikan Bung Hatta dan lalu beberapa anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang kumpul di rumah Laksamana Maeda pada 16 Agustus 1945 malam--menuliskan teks Proklamasi di atas buku tulis anak-anak dan pena yang entah darimana ia dapatkan.
Semua serba buru-buru, serba kepepet. Namun, pada akhirnya semua ikhtiar itu berbuah manis, sangat indah: lahirnya Republik Indonesia.
Insiden sempat terjadi. Alex dicegat dan lalu diinterogasi tentara Jepang. Bahkan, film kamera yang dibawanya kemudian disita aparat itu. Plat-plat negatif miliknya juga dihancurkan oleh orang-orang Nippon ini.
Beruntung. Frans S Mendur tak sampai mengalami nasib yang sama dengan abangnya. Sebab, ia lebih dahulu menjaga foto-foto hasil jepretannya dengan cara mengubur plat-plat negatif miliknya di halaman Kantor Asia Raya.
Sewaktu diinterogasi tentara Jepang, Frans mengarang bahwa negatif film miliknya sudah dirampas pihak Barisan Pelopor, yakni anak-anak muda revolusioner yang bersenjata dan selalu mengawal Bung Karno, termasuk saat momen pembacaan teks Proklamasi RI.
Polisi Nippon percaya. Kemudian, saat yakin bahwa situasi sudah aman, Frans mengambil negatif film yang sudah disembunyikannya. Lantas, ia mencetaknya secara diam-diam di kamar gelap Kantor Berita Domei.
Perlu waktu berbulan-bulan untuk foto karya Frans terbit di media massa. Sebab, kondisi saat itu masih sarat sensor pihak militer Jepang, yang ingin terus menjaga status-quo Indonesia hingga Sekutu datang.
Barulah pada 17 Februari 1946, foto-foto karya Frans Mendur berhasil disebarluaskan via penerbitan khusus “Nomor Peringatan Enam Bulan Republik”, yang diterbitkan koran Merdeka.
Proklamasi RI, Ketegasan Sukarno, dan Kedisiplinan Bung Hatta
Inilah suasana Proklamasi RI pada 79 tahun silam. [710] url asal
#hut-ri-ke-79 #sukarno-baca-teks-proklamasi #proklamasi-indonesia #proklamasi-ri #sejarah-proklamasi-ri
(Republika - News) 17/08/24 17:27
v/14511585/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah menandatangani teks Proklamasi Republik Indonesia di kediaman Laksamana Maeda pada 17 Agustus 1945 pukul 04.00 pagi, Ir Sukarno kembali ke kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur 56. Kemudian, cepat-cepat Bung Karno menyantap hidangan sahur.
Ia sudah dua hari tidak tidur karena sehari sebelumnya sehabis sahur orator ulung itu dan istrinya, Ibu Fatmawati, beserta Guntur yang masih bayi, diculik para pemuda. Anak-anak muda revolusioner ini juga menculik Mohammad Hatta. Para tokoh bangsa dibawa ke Rengasdenglok, dekat Karawang.
Mereka diangkut dengan sebuah mobil Fiat buatan Italia yang kala itu mendominasi angkutan di Jakarta. Mobil produksi Jepang belum ada satu pun yang nongol di sini. Saat mendekati tujuan, mereka berganti kendaraan dengan truk.
Setelah Subuh tanggal 17 Agustus 1945, sudah tersiar kabar bahwa Bung Karno akan mengumumkan kemerdekaan. Rupanya, para pemuda yang hadir di rumah Laksamana Maeda banyak yang tidak tidur semalaman. Mereka menyebarkan selebaran keliling kota mengenai kemerdekaan yang akan diproklamasikan tokoh tersebut.
Tidak heran kala hari gelap, kediaman Bung Karno sudah banyak didatangi berbagai lapisan masyarakat, seperti petani, pedagang kelontong, nelayan, pegawai negeri, tua, dan muda. Mereka datang berbondong-bondong membawa bambu runcing, batu, sekop, tongkat, parang, golok, atau apa saja yang dapat mereka bawa. Itu menunjukkan tekad berani mati demi mempertahankan kemerdekaan.
"Jam 07.00 sekitar 100 orang atau lebih berkumpul di muka jendelaku," tutur Bung Karno dalam biografinya yang ditulis pengarang wanita AS, Cindy Adams. "Pada pukul 09.00 kira-kira 500 orang berdiri di depan beranda rumahku. Fatmawati yang duduk di atas tempat tidurku selagi aku terbaring (Bung Karno kala itu tengah sakit deman-red), membangunkanku. Mukaku pucat dan gemeter. Aku hanya tertidur beberapa menit,'' tuturnya.
Meskipun telah disepakati proklamasi dibacakan pukul 10.00 pagi, rupanya rakyat tidak sabar.
"Sekarang, Bung. Sekarang! Nyatakanlah sekarang! Nyatakanlah sekarang!" teriak mereka.
Kemudian, orang-orang mengingatkan bahwa matahari sudah mulai meninggi dan panas. Ketidaksabaran rakyat ini karena ketika itu tentara Jepang masih berkuasa dengan persenjataan amat lengkap.
Mereka khawatir, balatentara Dai Nippon akan menghalang-halangi proklamasi kemerdekaan RI.
Ketika menghadapi desakan massa rakyat, Bung Karno yang masih dalam keadaan deman menyatakan: '"atta tidak ada. Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada."
Menurut Bung Karno, sekalipun kala itu dia dapat memproklamirkan kemerdekaan seorang diri, ia memerlukan Bung Hatta sebagai pendamping. "Karena aku orang Jawa dan dia orang Sumatra. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatra."
Ternyata sejak dulu, Bung Karno ...
Rupanya sejak dulu, Ir Sukarno konsekuen dengan pendiriannya. Ini terbukti ketika detik-detik menjelang pembacaan teks Proklamasi RI di Jakarta, tanggal 17 Agustus 1945. Bertepatan dengan 8 Ramadhan 1364 Hijriah.
Pada hari Jumat itu, Bung Karno dijadwalkan menyampaikan teks yang amat sangat penting tersebut, tepat pukul 10.00 WIB. Tidak sendirian, melainkan bersama Mohammad Hatta.
Orang-orang sudah berkerumun di rumah Bung Karno tempat teks superpenting itu akan dibacakan. Kabar memang sudah beredar dari mulut ke mulut setidaknya sejak 16 Agustus 1945.
Sementara, jarum jam kian mendekati 10.00 WIB.
Hingga ketika didesak oleh dr Mawardi, yang bertindak selaku Kepala Keamanan Barisan Pelopor, Bung Karno pun dengan tegas menjawab, ”Saya tak mau membacakan proklamasi kalau Hatta tidak ada. Jika Mas Mawardi tidak mau menunggu, silakan baca sendiri!”
Hampir waktu bersamaan, terdengar orang-orang berteriak, ”Bung Hatta datang! Bung Hatta datang!”
Tokoh kelahiran tanah Minangkabau ini sejak dahulu memang masyhur sangat disiplin waktu. Lima menit sebelum waktu yang ditetapkan, Bung Hatta datang. Setelah masuk ke kamar Bung Karno, keduanya dengan pakaian putih-putih menuju ruang depan.
Di sini, telah siap mikrofon dengan pengeras suaranya. Maka dibacakanlah teks Proklamasi RI tepat pukul 10 pagi. Inilah peristiwa paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Dan, momen ini hanya berlangsung satu jam, dengan amat sederhana.
Ada sepasukan Barisan Pelopor dari Panjaringan, Jakarta Utara, yang datang terlambat dan meminta agar pembacaan proklamasi diulangi kembali. Tentu saja permintaan ini tidak dikabulkan.
Tapi, Bung Karno yang tidak tega melihat para pemuda yang datang dengan berbaris sejauh kurang lebih 20 km dan telah mandi keringat, meskipun dalam keadaan demam, menjelaskah kembali mengenai proklamasi. Lebih-lebih kebanyakan mereka sedang melaksanakan puasa Ramadhan.
Mereka lalu diberi pengertian. Salinan naskah Proklamasi RI juga diberikan. Semua tampak lega.
Kediaman Bung Karno tempat dibacakannya teks Proklamasi RI tentu sangat bersejarah. Namun, rumah itu telah diratakan dengan tanah pada tahun 1960, yakni saat Pemerintahan Bung Karno sendiri.