KOMPAS.com – Puncak Bogor, Jawa Barat, termasuk daerah tujuan wisata yang masih diminati wisatawan, meskipun jalan menuju daerah tersebut kerap dilanda kemacetan lalu lintas.
Misalnya, pada long weekend (libur panjang) Maulid Nabi beberapa waktu lalu, dari Sabtu (14/09/2024) sampai Senin (16/09/2024), terjadi kemacetan panjang hingga 17 jam.
Dilaporkan Kompas.com, Senin (16/9/2024), rata-rata kendaraan yang melewati Jalur Puncak mencapai 2.800 unit dari pukul 06.00 WIB sampai 07.00 WIB.
Adapun ambang batas Jalur Puncak dalam satu jam sejatinya dilewati oleh 2.000 atau 1.500 kendaraan roda dua, roda empat, dan roda enam.
Menurut Research Coordinator for Tourism, Transportation, and Logistics Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (BRIN), Addin Maulana, kemacetan di Puncak Bogor beberapa waktu lalu termasuk bentuk overtourism (kelebihan wisatawan).
"Jika melihat libur panjang kemarin, kalau menurut saya ini salah satu bentuk overtourism dan fenomena ini memang selalu berulang di Puncak Bogor," ucap Addin saat dihubungi melalui telepon, Rabu (18/09/2024).
Lantas, kenapa masih banyak wisatawan yang berminat ke Puncak Bogor meskipun sering macet?
Pergeseran perilaku wisatawan
Dok. Agrowisata Gunung Mas. Aktivitas di kawasan Agrowisata Gunung Mas.Pengamat Pariwisata Azril Azahari menjelaskan, fenomena wisatawan yang tetap pergi ke Puncak Bogor saat liburan meskipun menghadapi kemacetan itu dipengaruhi oleh pergeseran perilaku wisatawan (tourist behavior).
Menurut Azril, saat ini wisatawan cenderung menyukai jenis wisata yang lebih personal.
Mereka lebih memilih berwisata di lokasi yang sama dengan jumlah orang yang lebih sedikit dan mengutamakan aktivitas yang mempererat rasa kekeluargaan, seperti mengadakan acara kumpul keluarga dan kumpul komunitas.
"Liburan ke Puncak Bogor itu termasuk kedalam green healing yang artinya pergi ke tempat hijau atau alam yang masih natural untuk melepas penat," kata Azril saat dihubungi melalui telepon, Rabu (18/09/2024).
Dok. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ilustrasi lalu lintas di Jalan Raya Puncak, Jawa Barat.Azril menyampaikan, Puncak Bogor dinilai memang selalu menjadi daerah tujuan wisata masyarakat perkotaan.
Hal ini khususnya bila mereka mencari udara sejuk dengan suasana alam yang masih natural dan pemandangan yang indah.
"Kalau yang dari saya amati, kemacetan yang terjadi di Puncak Bogor itu hanya terjadi libur panjang saja dibandingkan dengan hari libur biasa," kata Azril.
Sementara itu, Addin menuturkan, kemacetan akan selalu terjadi di Puncak Bogor meskipun sudah ada rekayasa lalu lintas.
"Karena banyaknya wisatawan yang ingin berlibur ke Puncak Bogor, kemacetan akan selalu terjadi walaupun sudah menerapkan alur rekayasa lalu lintas," ucap Addin.
Menurut dia, sistem alur rekayasa lalu lintas yang sudah diterapkan seperti ganjil-genap, one-way atau satu jalur, dan buka-tutup tidak akan terlalu berguna, dan tetap akan terjadi kemacetan jika wisatawan yang berlibur ke Puncak Bogor sangat banyak.
Biaya wisata di Puncak Bogor dinilai relatif murah
SHUTTERSTOCK/RIZKY RAEHAN DZULKARNAEN Suasana kebun teh di Puncak Bogor, Jawa Barat.Berlibur ke Puncak Bogor, menurut Azril, kerap dipilih masyaraka. Sebab, mereka hanya mengeluarkan biaya yang relatif murah, jika dibandingkan dengan berwisata ke daerah lain atau tempat wisata lain yang dikelola oleh pihak swasta.
"Pergi ke Puncak itu murah meriah dibandingkan pergi ke Raja Ampat, Bali, Labuan Bajo, dan tempat wisata yang dikelola swasta yang wisatanya lebih mahal," ucap Azril.
Di Puncak Bogor, tambah dia, harganya relatif lebih murah. Misalnya dari segi biaya makan, tiket masuk tempat wisata, dan akomodasi.