#30 tag 24jam
Dalih Napoleon Tundukkan Mesir dan Dampaknya bagi Muslim
Napoleon mengeklaim bahwa dirinya bersimpati pada ajaran Islam. [569] url asal
#napoleon-bonaparte #penjajahan-prancis-di-mesir #mesir-dijajah-prancis #revolusi-prancis #modernisme-islam
(Republika - News) 27/08/24 07:28
v/14762572/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada permulaan abad ke-18 M, tiga kerajaan besar Islam di dunia mengalami kemunduran. Di Timur Tengah, Turki Utsmaniyah terpukul kekalahan demi kekalahan saat berupaya meneguhkan pengaruhnya di gelanggang Eropa.
Kemenangan aliansi kerajaan Kristen dalam Perang Lepanto pada 1571 M disebut-sebut mengawali degradasi militer Utsmani. Sementara di dataran Persia Dinasti Safawi kian digerogoti serangan suku-suku Afghan. Adapun kekuasaan Mughal di India semakin lemah karena pelbagai pem berontakan dalam negeri.
Pada 1789 M, Revolusi Prancis mengguncang Eropa. Kemudian, Napoleon Bonaparte naik sebagai pemimpin Prancis. Dalam waktu relatif singkat, perwira yang lahir di Pulau Korsika itu menjadikan negerinya sebagai kekuatan yang sangat disegani di seluruh Benua Biru.
Napoleon sempat menguasai banyak negara di Eropa. Hanya Inggris yang menjadi rival tersisa bagi Prancis. Untuk mengancam kekuasaan Britania Raya di Asia, utamanya India, kaisar Prancis itu menjalankan misi pendudukan atas Mesir pada 1798 M. Dalam rombongannya, ia tidak hanya menyertakan pasukan militer, tetapi juga kelompok ilmuwan.
Saat dikunjungi Napoleon, Kairo berpenduduk sekira 263 ribu orang. Seperti umumnya wilayah Mesir saat itu, kota tersebut secara de facto dipimpin sekelompok elite. Pemerintah pusat Utsmaniyah memang mengangkat seorang gubernur (wali) untuk masyarakat setempat, tetapi kekuasaan wakil Istanbul itu formalitas belaka.
Dalam arti, mereka bisa mempertahankannya apabila suka dan menjatuhkannya kalau wali itu tidak lagi disenangi. Begitu besarnya pengaruh kelompok minoritas ini sehingga mereka cenderung semena-mena terhadap rakyat, baik Muslim maupun non-Muslim.
Napoleon dan pasukannya mendarat di Iskandariyah pada 4 Juli 1798. Balatentara ini membawa persenjataan yang lebih modern dibanding apa-apa yang dimiliki pihak wali Kairo.
Mulanya, kedatangan pasukan Prancis disambut simpati masyarakat lokal sebab, Napoleon telah memaklumkan kepada mereka, Paris berkomitmen membebaskan rakyat Mesir dari segala bentuk penindasan atas prinsip kesetaraan manusia. Ia pun membawa-bawa sentimen agama dengan mengeklaim bahwa dirinya menghormati kitab suci Alquran.
Beberapa pekan kemudian, pasukan Inggris tiba di Teluk Abu Qir, dekat Iskandariyah. Dari London, Pemerintah Britania mengirimkan utusan kepada Istanbul untuk menawarkan kerja sama dalam melawan Napoleon.
Pada 5 Januari 1799, disepakatilah terbentuknya aliansi Inggris- Turki. Demi menyelamatkan reputasinya, kaisar Prancis itu pun meninggalkan Mesir pada 31 Agustus 1801.
Menurut Yayat Suryatna dalam artikelnya di Jurnal Inspirasi (2011), Prancis saat itu memang gagal mencaplok Mesir, tetapi ekspedisi Napoleon menimbulkan dampak yang signifikan, khususnya bagi kaum intelektual Muslim.
Para cendekiawan kian menyadari, betapa tertinggalnya umat Islam dibandingkan dengan bangsa-bangsa Barat, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salah satu inisiatif yang diambil Napoleon adalah mendirikan lembaga ilmiah bernama Institute d'Egypte, yang terdiri atas empat departemen, yakni kajian ilmu pasti, ilmu alam, ekonomi dan politik, serta sastra dan seni.
Bersamaan dengan itu, beberapa percetakan juga disediakannya di Iskandariyah dan Kairo. Walaupun institusi tersebut bubar begitu sang pemimpin militer kembali ke negerinya, itulah untuk pertama kalinya rakyat Mesir mengenal macam-macam produk dunia modern, termasuk publikasi cetak semisal majalah atau surat kabar.
Maka, sejak abad ke-19, muncul arus intelektual Muslim baru yang berpusat di Mesir, khususnya Kairo. Inilah kelak yang melahirkan pemikiran modernisme Islam hingga abad ke-20.
Yudi Latif dalam Genealogi Inteligensia (2013) mengatakan, modernisme Islam merupakan titik tengah antara Islamisme dan sekularisme.
Gerakan ini berasal dari generasi Muslim terpelajar yang terpengaruh Barat untuk menyesuaikan diri dengan peradaban modern, tetapi pada saat yang sama mempertahankan kesetiaan terhadap kebudayaan Islam.
Jamaluddin al- Afghani (1839-1897), Muhammad Abduh (1849- 1905), dan Sayyid Rasyid Ridha (1865-1935) merupakan beberapa tokoh besar yang menyebarkan paham tersebut. Pengaruhnya terasa hingga ke Indonesia di masa kolonial.
Simak Sejarah Hari Bastille di Negara Prancis
Bastille Saint-Antoine merupakan benteng abad pertengahan yang berubah fungsi menjadi penjara sejak 1657. [569] url asal
#sejarah-hari-ini #prancis #hari-bastille #sejarah-hari-bastille #revolusi-prancis #kepentingan-politik
(Bisnis.Com) 15/07/24 16:14
v/10858559/
Bisnis.com, JAKARTA – Tanggal 14 Juli 1789 menjadi peringatan Hari Bastille di Prancis. Hari nasional tersebut memiliki sejarah penting bagi warga di negara tersebut.
Dilansir dari Britannica dan Hindustan Times, peristiwa jatuhnya Bastille adalah simbol patriotisme bagi orang Prancis. Peristiwa tersebut juga sering dipadukan dengan slogan revolusi “Liberté, égalité, fraternité” (kebebasan, kesetaraan, persaudaraan). Slogan ini kemudian menjadi motto nasional Prancis.
Hari Bastille terjadi ketika penjara Bastille diserbu oleh rakyat, menandakan dimulainya Revolusi Prancis. Peristiwa ini memunculkan perasaan bahwa revolusi dapat dilakukan oleh orang biasa, sesuatu yang dirasakan secara universal.
Pentingnya hari ini perlu dipahami dalam sejarahnya. Berikut penjelasan mengenai peristiwa Bastille, 14 Juli 1789.
Fakta dan Anggapan Prancis tentang Penjara Bastille
Bastille Saint-Antoine merupakan benteng abad pertengahan yang berubah fungsi menjadi penjara sejak 1657. Namun, mendekati peristiwa penyerbuan Bastille, saat itu hanya ada tujuh tahanan yang tidak memiliki kepentingan politik.
Jadi, kenapa warga Prancis menyerbu penjara kosong dan hal ini menjadi peristiwa signifikan?
Mengutip Britannica, Bastille merupakan “penggambaran” dari kekuasaan kerajaan. Bagi orang-orang Prancis, kejahatan kerajaan terburuk terjadi di sel-sel penjara Bastille. Kebanyakan dari kejahatan ini merupakan peristiwa yang dilebih-lebihkan, tapi saat itu warga Prancis tidak mengetahuinya.
Saat rakyat jelata menjatuhkan Bastille, mereka juga memberi pemahaman untuk orang Prancis; bahwa kekuasaan kejam raja juga bisa dijatuhkan. Dengan menyerbu Bastille, rakyat jelata juga berhasil memantik Revolusi Prancis.
Sejarah Penyerbuan Bastille
Pada 17 Juni 1789, rakyat jelata membentuk badan perwakilan National Assembly untuk membantu membentuk konstitusi di Prancis. Warga–terutama warga Paris–memberi dukungan besar untuk badan tersebut.
Pada awalnya, sang Raja Louis XVI menolak National Assembly, tetapi terpaksa menyetujuinya. Sebagai perlawanan, sang raja memecat menteri keuangan Jacques Necker–yang mendukung pihak National Assembly.
Berita ini membuat rakyat jelata Prancis ketakutan, kesempatan mereka untuk berkontribusi untuk negara bisa hilang. Muncullah berbagai demonstrasi mendukung National Assembly.
Demonstrasi ini juga termasuk keramaian di depan benteng/penjara Bastille. Menurut Britannica, 900 orang berkumpul untuk menyita bubuk mesiu dan meriam yang berada di dalam benteng tersebut.
Ketika situasi memanas, terjadi tembak-menembak antara rakyat berpistol dengan pasukan Raja. Rakyat jelata lainnya mendobrak masuk dan mengambil bubuk mesiu, 7 tahanan, dan melucuti senjata pasukan lawan.
Dua hari kemudian, Raja Louis XVI mengembalikan posisi menteri keuangannya. Namun, peristiwa penyerbuan Bastille telah menjadi salah satu fondasi revolusi Prancis.
Karena sejarah penjajahannya, Prancis memiliki pengaruh besar dalam berbagai belahan dunia. Prancis serta negara berpopulasi Prancis lain memperingati Hari Bastille dengan caranya yang unik.
Selebrasi Hari Bastille di Seluruh Dunia
Secara resmi, Hari Bastille di Prancis dikenal sebagai “Fête nationale française” (Perayaan Nasional Prancis) atau “le quatorze juillet” (The Fourteenth of July/Empat Belas Juli).
Prancis merayakan Hari Bastille setiap tahun sejak 1790. Slogan “Vive le 14 juillet!” (“Hidup Empat Belas Juli!) dikaitkan dengan perayaan Hari Bastille di Prancis.
Bagian dari selebrasi antara lain pidato politisi, parade militer, hingga kembang api menjadikan hari ini meriah.
Di sisi lain dunia, Polinesia Prancis (French Polynesia) sebagai negara bagian Prancis–dan bekas jajahannya–merayakan Hari Bastille dengan budayanya sendiri. Pada masa kolonial, masyarakat melaksanakan kompetisi menari, menyanyi, dan olahraga tradisional sehari dalam setahun.
Seiring berjalannya waktu, perayaan ini mengalami percampuran budaya dengan festival tradisional Polinesia Prancis, “Heiva i Tahiti”. Festival ini pun dilaksanakan dengan meriah sepanjang bulan Juli.
Di negara-negara lain, terutama negara dengan jumlah penutur bahasa Prancis yang tinggi, biasanya Hari Bastille diselenggarakan di konsulat/kedutaan Prancis. Contohnya adalah di Belgia, Kanada, dan Hungaria. Biasanya terdapat makanan khas Prancis, nyanyian dan tarian, hingga kembang api meriah. (Ilma Rayhana)