JAKARTA, investor.id – Mata uang rupiah masih drop terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (1/11/2024). The Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan melanjutkan pemotongan biaya pinjaman jangka pendek AS sebesar seperempat poin persentase atau 25 basis poin (bps) pekan depan, sebut Direktur PT. Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi.
Pada perdagangan akhir pekan ini, mata uang rupiah ditutup melemah 34 poin setelah sebelumnya sempat melemah lebih dalam 40 poin ke level Rp 15.732 dari penutupan sebelumnya di level Rp.15.698 per dolar AS.
Data yang dirilis pada Kamis (31/10/2024) menunjukkan belanja konsumen AS naik tipis lebih banyak dari yang diharapkan pada September 2024. Hal ini menempatkan ekonomi pada lintasan pertumbuhan yang lebih tinggi menuju tiga bulan terakhir tahun ini.
“Inflasi menurut ukuran yang ditargetkan The Fed, peningkatan indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) dari tahun ke tahun, mencapai angka 2,1% pada September 2024. Angka ini turun dari 2,3% yang direvisi naik pada Agustus 2024, menurut laporan Departemen Perdagangan AS,” sebut Ibrahim dalam catatatan Jumat.
The Fed kemungkinan akan melanjutkan pemotongan biaya pinjaman jangka pendek AS sebesar 25 bps minggu depan, menurut taruhan para trader pada Kamis. Kontrak berjangka menempatkan peluang pemotongan sebesar 25 bps minggu depan pada 94,7%.
Intelijen Israel mengisyaratkan Iran tengah bersiap menyerang Israel dari wilayah Irak dalam beberapa hari mendatang, mungkin sebelum pemilihan presiden AS pada 5 November 2024, menurut laporan Axios mengutip dua sumber Israel yang tidak disebutkan namanya.
Serangan itu diperkirakan akan dilakukan dari Irak dengan menggunakan sejumlah besar pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik, tambah laporan Axios.
Secara internal, Indonesia mencatat Oktober 2024 inflasi sebesar 1,71 % secara tahunan (YoY) dan 0,08% secara bulanan (MtM), mengakhiri tren deflasi lima bulan beruntun. Secara bulanan, Indonesia pada Oktober 2024 mencatatkan inflasi sebesar 0,08%. Indeks harga konsumen (CPI) naik ke level 106,01 pada Oktober 2024, dari 105,93 pada September 2024.
Adapun kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi sebesar 0,94 % dan memberikan andil inflasi 0,06%. Sementara itu, komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan yang memberikan andil inflasi sebesar 0,06%.
Sebelumnya, berdasarkan konsensus ekonom yang terhimpun Bloomberg meyakini CPI yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) akan mulai mencatatkan inflasi secara bulanan (MtM) maupun tahunan (YoY).
Dari 31 ekonom, nilai tengah proyeksi inflasi tahunan pada Oktober 2024 adalah 1,66% secara YoY. Angka tersebut lebih rendah dari posisi September 2024 yang sebesar 1,84%. Proyeksi terendah inflasi tahunan periode tersebut adalah 1,46% YoY, sedangkan tertinggi sebesar 1,8%.
Dengan demikian, tidak ada satu pun ekonom yang memprediksikan inflasi tahunan lebih tinggi dari bulan sebelumnya.
Melihat secara bulanan, nilai tengah proyeksi CPI Oktober 2024 memang mencatatkan inflasi tipis di angka 0,03% MtM. Meski demikian, terdapat sejumlah ekonom yang tergabung dalam konsensus tersebut meramalkan deflasi masih akan terjadi.
Ibrahim menakar pada perdagangan Senin (4/11/2024), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di kisaran Rp 15.720 sampai dengan Rp 15.790 per dolar AS.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News