JAKARTA, investor.id - Saham PT Green Power Group Tbk (LABA) menjadi sorotan pelaku pasar modal setelah mencatat lonjakan spektakuler sebesar 910% sepanjang tahun ini dari level gocap ke posisi Rp 550 pada Selasa siang (1/10/2024).
Kenaikan dramatis itu menimbulkan pertanyaan di kalangan investor mengenai prospek keberlanjutan kenaikan harga saham Green Power Group dan bagaimana kinerja fundamentalnya dapat mendukung momentum tersebut.
Founder Stocknow, Hendra Wardana menilai bahwa meski kenaikan saham LABA sangat mengesankan, upaya mempertahankan momentum ini akan bergantung pada kinerja fundamental yang solid dan optimisme pasar yang tetap terjaga.
Menurut dia, ekspansi Green Power Group ke sektor baterai kendaraan listrik (EV) merupakan langkah strategis yang dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan pendapatan pada 2024. Terutama jika mampu memanfaatkan sumber daya nikel dan teknologi inovatif dengan efektif, perseroan bisa mendapatkan keunggulan kompetitif di pasar yang berkembang pesat.
"Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, memiliki posisi strategis dalam rantai pasokan baterai EV. Ini memberikan Green Power Group (LABA) peluang emas untuk menjadi pemain utama dalam industri ini, baik secara domestik maupun global," jelas Hendra kepada Investor Daily, baru-baru ini.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Namun, di balik optimisme tersebut, ada juga risiko yang perlu diperhatikan. Analis dari Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer mengatakan pandangan yang lebih hati-hati terkait saham LABA. Ia mencatat bahwa setelah lonjakan harga yang luar biasa, saham ini rawan aksi profit taking dalam jangka pendek.
"Kenaikan harga saham LABA sejauh ini sudah banyak dipengaruhi oleh sentimen positif terkait ekspansi perusahaan ke industri EV. Namun, saya kira pergerakan ini sudah price-in, sehingga aksi ekspansi mungkin tidak akan serta merta mendorong kenaikan harga lebih lanjut," jelas Miftahul.
Dia juga menyoroti tantangan yang dihadapi industri baterai EV, terutama di Indonesia. Meskipun prospeknya menjanjikan, permintaan kendaraan listrik domestik masih tergolong rendah dan membutuhkan waktu beberapa tahun untuk mencapai skala yang lebih signifikan. Konsumen juga masih mempertimbangkan aspek kelebihan dan kekurangan dari kendaraan listrik sebelum memutuskan untuk beralih.
Karena itu, Miftahul merekomendasikan strategi trading sell dengan target harga Rp 484 dan Rp 450, serta memperingatkan adanya kemungkinan penurunan harga akibat aksi ambil untung.
Sedangkan Hendra Wardana merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham LABA, dengan level harga beli di Rp 500 dan target take profit Rp 680. Hal itu seiring prospek cerah di sektor baterai EV.
Potensi Pasar Baterai EV
Sementara itu, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan Bisman Bakhtiar mengungkapkan bahwa meskipun industri baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia dan Asia Tenggara masih memiliki potensi pasar yang cukup besar, ekspektasi terhadap bahan baku nikel mungkin harus disesuaikan. Hal ini disebabkan oleh munculnya teknologi alternatif yang mulai menggeser dominasi nikel dalam produksi baterai EV.
"Permintaan kendaraan listrik di Asia Tenggara terus bertumbuh, membuka ceruk pasar yang besar bagi industri baterai EV," jelas Bisman.
Namun, bahan baku nikel yang sempat diharapkan menjadi tumpuan utama industri baterai kini harus bersaing dengan teknologi baru yang lebih efisien.
Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, sebelumnya dianggap akan memainkan peran kunci dalam rantai pasokan global baterai EV. Namun, dengan munculnya inovasi seperti baterai berbasis lithium iron phosphate (LFP), yang lebih murah dan lebih ramah lingkungan, prospek nikel kini harus dihadapkan pada persaingan teknologi yang semakin intensif.
"Meskipun nikel masih memiliki ceruk pasar, namun tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya. Teknologi alternatif seperti baterai LFP, yang lebih terjangkau dan stabil, kini semakin diminati oleh produsen kendaraan listrik global," tambah dia.
Menurut Bisman, ini menandakan bahwa pemain di industri baterai, khususnya di Indonesia, perlu bersikap adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mempertimbangkan diversifikasi bahan baku untuk tetap relevan dalam persaingan global.
Editor: Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News