Bisnis.com, JAKARTA — Gurita Bisnis Tancorp Grup besutan Konglomerat Hermanto Tanoko telah menjalin kemitraan strategis dengan distributor resmi Lock&Lock, PT Feelbuy Indonesia. Hermanto Tanoko pun ingin membuka jalan Feelbuy untuk melantai di bursa alias IPO.
Lewat Instagram-nya, Hermanto menjelaskan bahwa Tancorp telah menjadi strategic partner Feelbuy. Dalam kemitraan strategisnya itu, Feelbuy menghadirkan produk dari Korea Selatan, Lock&Lock untuk membuka store pertama kali di Surabaya, atau outlet yang ke-436 Feelbuy.
Menurutnya, join venture Tancorp dengan Feelbuy pun telah berjalan lancar.
"Dalam waktu sebelum 2030, kami akan meng-IPO-kan Feelbuy," ujar Hermanto di akun Instagram-nya pada beberapa waktu lalu.
Feelbuy Indonesia sendiri merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang distribusi perkakas rumah tangga di Indonesia. Feelbuy mendistribusikan produk Lock&Lock yang merupakan produk perkakas global.
Adapun, Tancorp Grup besutan Hermanto Tanoko saat ini memiliki 46 unit bisnis dan 8 subholding. Dalam catatan Bisnis, gurita bisnis Crazy Rich Surabaya ini telah mengelola lebih dari 300 merek di berbagai sektor industri.
Perusahaan-perusahaan di Tancorp bergerak di industri-industri seperti manufaktur, distribusi, properti, perhotelan, makanan & minuman, kesehatan & kecantikan, jaringan bisnis, dan kafe & restoran.
Dari unit bisnis tersebut, terdapat delapan perusahaan yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia, di antaranya PT Avia Avian Tbk. (AVIA), PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO), PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE), PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk. (CAKK), PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk. (DEPO), PT Mega Perintis Tbk. (ZONE), PT Penta Valent Tbk. (PEVE) dan yang terbaru PT Superior Prima Sukses Tbk. (BLES) melantai di bursa pada Juli 2024.
__________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Hermanto Tanoko menyebut terdapat anomali pada pergerakan harga saham sejumlah portofolio miliknya. Tak Sejalan antara Fundamental dengan harga sahamnya. [596] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Crazy Rich Surabaya Hermanto Tanoko menyebut terdapat anomali pada pergerakan harga saham sejumlah saham portofolio miliknya. Menurut Bos Cat Avian tersebut, harga saham tidak menggambarkan kondisi fundamental emiten.
CEO Grup Tancorp tersebut memang bermanuver di berapa sektor pasar modal. Setidaknya terdapat 8 emiten yang sahamnya masuk portofolio Hermanto.
Hermanto Tanoko mengatakan di pasar saham Indonesia, kinerja saham dan kinerja fundamental terkadang akan bergerak berlawanan. Anomali ini disebut juga terjadi di saham-saham Tanoko.
“Kamu lihat harga saham dan fundamental, kadang-kadang anomali, AVIA sejak IPO sampai sekarang secara profit naik terus tapi sahamnya justru turun terus,” kata Hermanto, dikutip Selasa (9/7/2024).
PT Avia Avian Tbk. (AVIA) memang saat ini berada di level Rp515 per saham. Harga ini jauh dari harga saat IPO Desember 2021 lalu yang berada di posisi Rp930 per saham.
Menurut Tanoko, jatuhnya saham AVIA tidak lepas dari hilangnya investor-investor asing. Tanoko mengklaim awalnya 93% saham AVIA dipegang oleh asing, namun karena asing melihat beberapa peluang di sektor lain seperti energi maka mereka mulai mengurangi kepemilikan saham di AVIA.
“Sehingga mereka [investor asing] akhirnya melepas dan membeli saham pilihan mereka. Begitu lepas, harga terjun dan banyak orang cut los,” jelas Tanoko.
Meski demikian, Tanoko menyebutkan harga AVIA yang saat ini berada di bawah membuatnya menarik untuk kembali dikoleksi. Menurutnya kondisi keuangan yang meningkat terus serta pembagian dividen yang rutin menjadi tanda fundamental perusahaan yang bagus.
“Tentu [harga sekarang] sangat menarik sekali ya, di bawah harga IPO. Padahal pas IPO duku kita oversubscribe hampir 3,8 kali lipat,” jelasnya.
Hermanto Tanoko saat IPO PT Avia Avian Tbk. (AVIA)
Berdasarkan catatan Bisnis, dari 8 emiten Tanoko, sebanyak 3 emiten mencatatkan penurunan saham secara year to date pada perdagangan hari ini, Selasa (9/8/2024).
Saham yang paling melemah sepanjang tahun adalah PT Mega Perintis Tbk. (ZONE). Emiten peritel fesyen ini terpantau turun 9,01% year to date ke posisi Rp1.010 per saham. Kapitalisasi pasar ZONE berada di level Rp878,87 miliar.
Kemudian saham yang turun adalah PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk. (DEPO) dan PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk. (CAKK) yang masing-masing sebesar 5,79% dan 4,86% secara year to date. DEPO tercatat sebesar Rp360 per saham dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp358 miliar sementara CAKK di level Rp175 per saham dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp210,78 miliar.
Sementara itu, saham yang mampu naik secara year to date adalah PT Penta Valent Tbk. (PEVE), PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE), PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO), PT Avia Avian Tbk. (AVIA), dan Superior Prima Sukses Tbk. (BLES).
PEVE berada di level Rp234 per saham dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp413,16 miliar. PEVE naik 37,65% secara year to date. Kemudian saham RISE yang berada di level Rp985 per saham atau naik 7,07% secara year to date dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp10,78 triliun.
Kemudian AVIA berada di level Rp510 per saham, harga ini naik 2% secara year to date dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp31,60 triliun. Harga saham AVIA saat ini berada di bawah harga IPO.
Terakhir saham BLES dan CLEO yang masing-masing berada di level Rp306 dan Rp1.270 per saham. BLES baru saja tercatat di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan kemarin, Senin (8/7/2024) sementara CLEO naik 78,87% dengan kapitalisasi pasar Rp15,24 triliun.