JAKARTA, investor.id – PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) merilis laporan kinerja konsolidasian hingga semester I-2024. Hasilnya, RAAM menorehkan kerugian sebesar Rp 98,37 miliar, dari sebelumnya membukukan laba sebesar Rp 27 miliar.
Kerugian emiten rumah produksi film besutan Raam Punjabi ini sebagai imbas dari merosotnya penjualan perseroan dari Rp 154 miliar pada 30 Juni 2023, menjadi Rp 121 miliar per 30 Juni 2024.
Mesin penjualan RAAM berasal dari lima bisnis utamanya yaitu film, tiket, digital, makanan dan minuman, serta bisnis sinetron.
Penurunan penjualan paling dalam terjadi pada segmen digital RAAM yang drop dari Rp 30 miliar, menjadi Rp 18 miliar. Begitupun dengan penjualan di segmen sinetron yang sebelumnya menghasilkan Rp 59 miliar, ambrol menjadi Rp 4,41 miliar.
Sementara di segmen film, RAAM mengantongi pendapatan sejumlah Rp 63 miliar. Angka tersebut lebih tinggi jika dibanding penjualan film pada tahun sebelumnya sebesar Rp 41 miliar.
Selanjutnya, pendapatan RAAM dari penjualan tiket pada paruh pertama 2024 juga tergolong lebih besar dari sebelumnya Rp 17 miliar, tumbuh menjadi Rp 37 miliar.
Menyusul berikutnya penjualan dari segmen makanan dan minuman, di mana RAAM berhasil membukukan kenaikan dari sebelumnya Rp 5,81 miliar, menjadi Rp 7,41 miliar.
Pada sisi beban penjualan terpantau cukup stagnan di level Rp 64,31 miliar. Angka tersebut tak berbeda jauh bila dikomparasikan dengan beban penjualan perseroan pada tahun sebelumnya Rp 64,91 miliar.
Beban pokok penjualan RAAM paling besar berasal dari segmen film. Sebaliknya, beban pokok paling kecil datang dari segmen makanan dan minuman. Bersamaan dengan itu, maka total beban operasi perseroan membengkak menjadi Rp 48,88 miliar dari sebelumnya Rp 43,56 miliar.
Walhasil, laba kotor RAAM pada semester I-2024 tergerus dari sebelumnya Rp 89,96 miliar, menjadi Rp 57,34 miliar. Menariknya, RAAM mampu mencetak penghasilan dari keuangan yang melejit dari Rp 561 juta menjadi Rp 2,11 miliar.
Peningkatan pendapatan keuangan ini ditopang oleh pendapatan dari bunga. Perseroan juga mampu memangkas biaya keuangan turun menjadi Rp 6,18 miliar dari sebelumnya Rp 9,23 miliar, dan mendongkrak pendapatan lainnya melompat menjadi Rp 130 miliar dari sebelumnya Rp 263 juta.
Pertumbuhan pendapatan lain RAAM dihasilkan dari laba yang diperoleh dari pelepasan aset sebesar Rp 731 juta. Lalu, pendapatan sewa naik dari Rp 385 juta menjadi Rp 442 juta, dan pendapatan lain-lain naik dari Rp 585 juta, menjadi Rp 2,41 miliar.
Kemudian, beban pencadangan penurunan nilai piutang membengkak menjadi Rp 138 miliar, rugi entitas asosiasi juga bertambah menjadi Rp 20 juta. Adapun, dari selisih kurs RAAM mencetak laba tumbuh signifikan menjadi Rp 4,44 miliar dibanding sebelumnya Rp 1,23 miliar.
Alhasil, RAAM membukukan kerugian sebelum pajak penghasilan naik tajam dari Rp 37 miliar menjadi Rp 125 miliar. Diikuti rugi bersih tahun berjalan sebesar Rp 98 miliar, menguat dari sebelumnya Rp 27 miliar.
Hal ini turut membuat rugi per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp 15,88 per saham, dari sebelumnya Rp 5,04 per saham.
Aset RAAM menyusut pada semester I-2024 menjadi Rp 1,38 triliun dari sebelumnya Rp 1,42 triliun. Liabilitas bertambah menjadi Rp 285 miliar dari sebelumnya Rp 202 miliar, dan ekuitas tergerus dari Rp 1,22 triliun, menjadi Rp 1,10 triliun. Dengan demikian, total liabilitas dan ekuitas RAAM berkurang menjadi Rp 1,38 triliun, dari sebelumnya Rp 1,42 triliun.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News