#30 tag 24jam
Di Balik Sikap Saudi Merapat ke Rusia, Mengancam Eropa, Ada Apa?
Saudi dan Rusia merupakan dua negara eksportir minyak terbesar di dunia. [636] url asal
#saudi-lawan-eropa #saudi-melawan-eropa #arab-saudi #saudi-ancam-eropa #surat-utang-eropa #saudi-jual-surat-utang #kekuatan-arab-saudi
(Republika - News) 11/07/24 15:01
v/10427993/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Arab Saudi kini tidak lagi bergantung kepada Amerika Serikat dalam percaturan politik dan ekonomi dunia. Sebagai negara yang kaya akan minyak, Saudi berkompromi dengan China dan Rusia sebagai salah satu sekutu barunya.
Sikap Saudi itu dapat terlihat dari keputusan Riyadh bergabung dengan aliansi ekonomi BRIC (Brasil, Rusia, India dan China) pada awal tahun.
Pada akhir Desember 2023, Putra Mahkota Muhammad bin Salman juga bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Riyadh. Saat itu, Putin mengatakan, hubungan Saudi dan Rusia berada dalam posisi yang tidak pernah terjadi sebelumnya “Tidak ada yang bisa menghalangi berkembangnya hubungan persahabatan kita,” kata Putin kepada putra mahkota.
Dalam pertemuan tersebut, tidak hanya kesepakatan dibidang ekonomi, tapi juga di bidang pertahanan keamanan. Di bidang pertahanan dan keamanan, kedua belah pihak sepakat untuk meningkatkan kerja sama pertahanan, dengan cara mendukung dan mencapai kepentingan bersama kedua negara.
Kedua pihak menegaskan keinginan mereka untuk memperkuat kerja sama keamanan dan koordinasi mengenai isu-isu yang menjadi kepentingan bersama, termasuk memerangi kejahatan dalam segala bentukny.
Pun kerja sama soal memerangi terorisme dan ekstremisme serta pendanaannya, dan pertukaran informasi untuk menghadapi organisasi teroris, dengan cara yang mencapai keamanan dan stabilitas di negara-negara tersebut.
Hubungan harmonis Arab Saudi dan Rusia dibuktikan saat Riyadh membela Moskow atas sikap negara-negara maju di G-7. Saudi mengancam akan menjual surat utang negara-negara Eropa yang mereka miliki.
Demikian menurut laporan Bloomberg seperti dilansir MEE, Selasa (9/7/2024).Ancaman itu disampaikan dari Kementerian Keuangan Arab Saudi pada awal tahun ini ke beberapa negara G-7. "Arab Saudi mengisyaratkan utang euro yang diterbitkan oleh Prancis," tulis Bloomberg.
Riyadh telah mengkhawatirkan upaya Barat untuk menyita aset Kremlin selama berbulan-bulan. Pada bulan April, Politico melaporkan bahwa Arab Saudi, bersama dengan Tiongkok dan Indonesia, secara pribadi melobi UE agar tidak melakukan penyitaan.
Ancaman Arab Saudi untuk menjual surat utang negara-negara anggota Uni Eropa menunjukkan langkah Riyadh unjuk kekuatan dalam memanfaatkan daya ekonomi mereka buat mempengaruhi para pembuat kebijakan di negara-negara barat.
Dalam artikel di European Council on Foreign Relations disebutkan bahwa Riyadh kini berada dalam posisi untuk membentuk tren regional dan global menyusul perubahan geopolitik yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina dan penarikan diri Barat dari Timur Tengah dan Afrika Utara.
Dengan memanfaatkan modal energi, finansial, dan politiknya, Arab Saudi telah menjadi kekuatan menengah dengan pengaruh yang sangat besar dalam tatanan dunia multipolar.
Para pemimpin regional dan global telah melakukan perjalanan ke Arab Saudi dengan intensitas baru. Mereka memandang Riyadh sebagai aktor kunci untuk bergerak melampaui perang antara Israel dan Hamas. Riyadh bergerak menuju kerangka keamanan regional yang baru, inklusif, dan berjangka panjang.
Beban geopolitik yang lebih besar ini telah menyebabkan Riyadh bermain di antara para pemain global dan regional yang bersaing dengan tujuan mengamankan kepentingan nasionalnya sendiri. "Kebijakan regional dan internasional yang baru dapat didefinisikan sebagai ‘aksionisme oportunistik’," tulis artikel tersebut.
Sementara itu, Badan Intelijen AS (CIA) telah menakar kekuatan militer Saudi. Ridayh angkatan bersenjata Saudi memiliki total sekitar 250 ribu tentara aktif. Sekitar 125 ribu di bawah Kementerian Pertahanan (75.000 Angkatan Darat; 15.000 Angkatan Laut, termasuk sekitar 3.000 marinir; 35.000 Angkatan Udara/Pertahanan Udara/Pasukan Rudal Strategis). Kemudian 125 ribu lainnya di Garda Nasional Arab Saudi (SANG)
Pasukan militer Saudi, termasuk SANG, mencakup sebagian besar sistem persenjataan modern dari AS dan Eropa.
Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika telah menjadi pemasok utama persenjataan. Pemasok besar lainnya termasuk Prancis dan Inggris. Arab Saudi adalah salah satu importir senjata terbesar di dunia (2023)
Anggaran belanja pertahanan Saudi pada 2021 dan 2022 ditaksir mencapai 6 persen dari GDP. Jumlah itu lebih kecil dibanding 2020 sebesar 8 persen dari GDP dan 2019 8,8 persen dari GDP.
Ketergantungan Saudi terhadap senjata dari Amerika, membuat Riyadh tidak bisa begitu saja melepaskan hubungan dengan Barat. Mereka akan bermain cantik dengan menjalin hubungan tetapi tetap disegani di tataran global.
Mengapa Saudi Berani Tantang Eropa dan Bela Rusia?
Faktor ekonomi jadi salah satu latar mesranya Saudi dan Rusia. [902] url asal
#saudi-ancam-barat #saudi-ancam-eropa #saudi-bela-rusia #perang-rusia-ukraina #perang-ukraina-rusia #saudi-dan-rusia
(Republika - News) 10/07/24 17:59
v/10334938/
REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Saudi dilaporkan melayangkan gertakan ke negara-negara Eropa bahwa mereka akan menjual sejumlah surat utang negara di Benua Biru itu. Mengapa Saudi mengeluarkan langkah untuk membalas tindakan G-7 yang menyita hampir 300 miliar dolar AS aset Rusia yang dibekukan itu?
Salah satu titik terangnya ada pada Februari lalu. Saat itu, Rusia dan Arab Saudi merayakan peringatan 98 tahun terjalinnya hubungan bilateral. Pada 1926, Uni Soviet menjadi negara pertama yang menjalin hubungan diplomatik penuh dengan Kerajaan Hijaz dan Najd.
Saat ini, dengan Presiden Vladimir Putin yang menegaskan kekuasaannya selama enam tahun ke depan dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman juga ditunjuk sebagai perdana menteri oleh Raja Salman pada tahun 2022, kepemimpinan kedua negara terlihat stabil.
Merujuk tulisan Dr Diana Galeeva dari Universitas Oxford di Arab News, meskipun hubungan antara Rusia modern dan Arab Saudi terjalin pada tahun 1992, hubungan bilateral mencapai tingkat baru pada tahun 2017, di bawah kepemimpinan Raja Salman dan Putin.
Kunjungan pertama raja Saudi ke Moskow diakui secara luas sebagai kunjungan bersejarah. Surat kabar The Guardian menyatakan bahwa hal ini menandakan pergeseran struktur kekuasaan global. Kunjungan tersebut menghasilkan penandatanganan lebih dari 15 perjanjian kerja sama bernilai miliaran dolar yang mencakup bidang militer, minyak, dan eksplorasi ruang angkasa.
Pada saat itu, Kerajaan Arab Saudi ingin membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia, meskipun kesepakatan tersebut belum selesai, karena kemudian mereka membeli sistem Pertahanan Area Ketinggian Tinggi Terminal Amerika seharga 15 miliar dolar AS. Dengan melakukan hal ini, negara ini mengikuti kebijakan keseluruhan “lindung nilai” dan mengembangkan hubungan dengan semua kekuatan.
Meskipun demikian, pengingkaran ini tidak merusak perkembangan positif antara Rusia dan Arab Saudi. Putin mengunjungi Arab Saudi pada 2019 – kunjungan pertamanya sejak 2007. Kunjungan tersebut diakhiri dengan perjanjian minyak. Putin juga mengunjungi UEA dan Arab Saudi pada 2023.
Apa manfaat interaksi tersebut bagi kedua negara? Menurut Galeeva kepetingan ekonomi tidak diragukan lagi merupakan faktor pendorong di balik hubungan Saudi-Rusia. Sebagai hasil dari persaingan geopolitiknya saat ini dengan negara-negara Barat, Moskow menganggap Riyadh sebagai mitra penting dalam membentuk sektor energi global dan dengan demikian meningkatkan produk domestik bruto (PDB), yang merupakan hal penting mengingat pembatalan kontrak energi dengan negara-negara Barat dan sanksi yang dikenakan terkait serangan ke Ukraina.
Pada saat yang sama, Saudi telah mengikuti kebijakan luar negeri nasionalis baru, dengan mengutamakan prioritas mereka sendiri, terutama prioritas ekonomi. Hal ini memungkinkan terbentuknya hubungan yang saling menguntungkan dengan Moskow.
Kesepakatan OPEC+, yang dipimpin oleh Rusia, Arab Saudi, dan UEA pada Oktober 2022 serta April dan Juni 2023, telah membantu meningkatkan pendapatan energi. Hasil dari kesepakatan ini – yang landasannya dinegosiasikan selama kunjungan resmi kedua pemimpin – menjadi sangat penting bagi Rusia.
Pada Januari 2023, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyatakan bahwa pendapatan dari minyak dan gas telah meningkat sebesar 28 persen pada 2022. Kompleks bahan bakar dan energi juga mengambil peran utama dalam pembentukan PDB Rusia pada 2023 (lebih dari 27 persen) . PDB Arab Saudi juga meningkat, dari 874 miliar dolar AS pada 2021 menjadi 1,1 miliar dolar AS pada 2022 dan 1,3 miliar dolar AS pada tahun lalu.
Arab Saudi berperan penting dalam diversifikasi ekonomi Rusia di bawah sanksi Barat. Bagi Riyadh, perjanjian tersebut sesuai dengan inisiatif diversifikasinya. Misalnya, ekspor produk pertanian Rusia ke Kerajaan Arab Saudi meningkat sebesar 49 persen pada tahun 2022, mendekati 1 miliar dolar AS.
Arab Saudi telah diundang untuk bergabung dengan kelompok BRICS, di mana Rusia memainkan peran penting bersama dengan Cina, Brasil, India, dan Afrika Selatan. Daripada mempertimbangkan keputusan untuk bergabung dengan blok tersebut sebagai keputusan politis, tampaknya Arab Saudi lebih memprioritaskan keuntungan ekonomi. Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan bahwa BRICS adalah “saluran yang bermanfaat dan penting” untuk memperluas kolaborasi ekonomi.
Para pejabat Rusia pun mengapresiasi posisi ini. Dalam pidatonya di Majelis Federal pada bulan Februari, Putin mencatat: “Negara-negara BRICS, dengan mempertimbangkan negara-negara yang baru-baru ini menjadi anggota asosiasi ini (Argentina, Mesir, Iran, Ethiopia dan UEA), akan menyumbang sekitar 37 persen pendapatan global. PDB (pada tahun 2028), sedangkan angka G7 akan turun di bawah 28 persen.”
Singkatnya, landasan yang dibangun oleh para pemimpin saat ini dalam beberapa tahun terakhir akan membawa dinamika positif lebih lanjut dalam hubungan Saudi-Rusia, dan hal ini akan menimbulkan diversifikasi. Selain hard power, kedua negara juga bisa mendapatkan manfaat dari soft power sebagai mekanisme kolaborasi.
Rusia dapat lebih diintegrasikan ke dalam program diversifikasi ekonomi Saudi yang dikenal sebagai Visi 2030. Misalnya, Rusia dapat menjadi tuan rumah forum bilateral “Rusia dalam Visi Saudi 2030” bagi para pemangku kepentingan bisnis dan investasi, dengan pameran mengenai potensi industri di wilayah Rusia dan Arab Saudi.
Selain itu, penggunaan soft power agama juga bisa berperan. Ini adalah salah satu tujuan Visi 2030 untuk menjadikan dunia Muslim sebagai pusat perhatian. Lebih banyak hal yang bisa dilakukan oleh wilayah Muslim Rusia dalam membangun hubungan. Rusia tahun lalu meluncurkan program percontohan perbankan dan keuangan Islam, sehingga bank-bank Saudi bisa mendapat izin untuk melaksanakan operasi ini.
Demi mencapai tujuannya untuk mendiversifikasi perekonomiannya, Riyadh merasa tidak terlalu terikat dengan Washington melalui perjanjian 'minyak untuk perlindungan' yang dimulai pada 1945, dan pada saat yang sama menuntut pakta bantuan, Jean-Michel Bezat mencatat dalam kolomnya di Le Monde.
Sebagai bagian dari rencana Visi 2030 Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang dikenal sebagai MBS, ambisi ini memerlukan biaya yang sangat tinggi, dan dibiayai oleh sumber daya utamanya. Minyak, yang telah dieksploitasi sejak tahun 1938, menjadi sangat penting. Riyadh akan melakukan segala daya untuk memperluas produksi selama mungkin.
Mengapa Saudi Berani Tantang Barat dan Bela Rusia?
Faktor ekonomi jadi salah satu latar mesranya Saudi dan Rusia. [902] url asal
#saudi-ancam-barat #saudi-ancam-eropa #saudi-bela-rusia #perang-rusia-ukraina #perang-ukraina-rusia #saudi-dan-rusia
(Republika - News) 10/07/24 17:59
v/10329686/
REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Saudi dilaporkan melayangkan gertakan ke negara-negara Eropa bahwa mereka akan menjual sejumlah surat utang negara di Benua Biru itu. Mengapa Saudi mengeluarkan langkah untuk membalas tindakan G-7 yang menyita hampir 300 miliar dolar AS aset Rusia yang dibekukan itu?
Salah satu titik terangnya ada pada Februari lalu. Saat itu, Rusia dan Arab Saudi merayakan peringatan 98 tahun terjalinnya hubungan bilateral. Pada 1926, Uni Soviet menjadi negara pertama yang menjalin hubungan diplomatik penuh dengan Kerajaan Hijaz dan Najd.
Saat ini, dengan Presiden Vladimir Putin yang menegaskan kekuasaannya selama enam tahun ke depan dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman juga ditunjuk sebagai perdana menteri oleh Raja Salman pada tahun 2022, kepemimpinan kedua negara terlihat stabil.
Merujuk tulisan Dr Diana Galeeva dari Universitas Oxford di Arab News, meskipun hubungan antara Rusia modern dan Arab Saudi terjalin pada tahun 1992, hubungan bilateral mencapai tingkat baru pada tahun 2017, di bawah kepemimpinan Raja Salman dan Putin.
Kunjungan pertama raja Saudi ke Moskow diakui secara luas sebagai kunjungan bersejarah. Surat kabar The Guardian menyatakan bahwa hal ini menandakan pergeseran struktur kekuasaan global. Kunjungan tersebut menghasilkan penandatanganan lebih dari 15 perjanjian kerja sama bernilai miliaran dolar yang mencakup bidang militer, minyak, dan eksplorasi ruang angkasa.
Pada saat itu, Kerajaan Arab Saudi ingin membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia, meskipun kesepakatan tersebut belum selesai, karena kemudian mereka membeli sistem Pertahanan Area Ketinggian Tinggi Terminal Amerika seharga 15 miliar dolar AS. Dengan melakukan hal ini, negara ini mengikuti kebijakan keseluruhan “lindung nilai” dan mengembangkan hubungan dengan semua kekuatan.
Meskipun demikian, pengingkaran ini tidak merusak perkembangan positif antara Rusia dan Arab Saudi. Putin mengunjungi Arab Saudi pada 2019 – kunjungan pertamanya sejak 2007. Kunjungan tersebut diakhiri dengan perjanjian minyak. Putin juga mengunjungi UEA dan Arab Saudi pada 2023.
Apa manfaat interaksi tersebut bagi kedua negara? Menurut Galeeva kepetingan ekonomi tidak diragukan lagi merupakan faktor pendorong di balik hubungan Saudi-Rusia. Sebagai hasil dari persaingan geopolitiknya saat ini dengan negara-negara Barat, Moskow menganggap Riyadh sebagai mitra penting dalam membentuk sektor energi global dan dengan demikian meningkatkan produk domestik bruto (PDB), yang merupakan hal penting mengingat pembatalan kontrak energi dengan negara-negara Barat dan sanksi yang dikenakan terkait serangan ke Ukraina.
Pada saat yang sama, Saudi telah mengikuti kebijakan luar negeri nasionalis baru, dengan mengutamakan prioritas mereka sendiri, terutama prioritas ekonomi. Hal ini memungkinkan terbentuknya hubungan yang saling menguntungkan dengan Moskow.
Kesepakatan OPEC+, yang dipimpin oleh Rusia, Arab Saudi, dan UEA pada Oktober 2022 serta April dan Juni 2023, telah membantu meningkatkan pendapatan energi. Hasil dari kesepakatan ini – yang landasannya dinegosiasikan selama kunjungan resmi kedua pemimpin – menjadi sangat penting bagi Rusia.
Pada Januari 2023, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyatakan bahwa pendapatan dari minyak dan gas telah meningkat sebesar 28 persen pada 2022. Kompleks bahan bakar dan energi juga mengambil peran utama dalam pembentukan PDB Rusia pada 2023 (lebih dari 27 persen) . PDB Arab Saudi juga meningkat, dari 874 miliar dolar AS pada 2021 menjadi 1,1 miliar dolar AS pada 2022 dan 1,3 miliar dolar AS pada tahun lalu.
Arab Saudi berperan penting dalam diversifikasi ekonomi Rusia di bawah sanksi Barat. Bagi Riyadh, perjanjian tersebut sesuai dengan inisiatif diversifikasinya. Misalnya, ekspor produk pertanian Rusia ke Kerajaan Arab Saudi meningkat sebesar 49 persen pada tahun 2022, mendekati 1 miliar dolar AS.
Arab Saudi telah diundang untuk bergabung dengan kelompok BRICS, di mana Rusia memainkan peran penting bersama dengan Cina, Brasil, India, dan Afrika Selatan. Daripada mempertimbangkan keputusan untuk bergabung dengan blok tersebut sebagai keputusan politis, tampaknya Arab Saudi lebih memprioritaskan keuntungan ekonomi. Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan bahwa BRICS adalah “saluran yang bermanfaat dan penting” untuk memperluas kolaborasi ekonomi.
Para pejabat Rusia pun mengapresiasi posisi ini. Dalam pidatonya di Majelis Federal pada bulan Februari, Putin mencatat: “Negara-negara BRICS, dengan mempertimbangkan negara-negara yang baru-baru ini menjadi anggota asosiasi ini (Argentina, Mesir, Iran, Ethiopia dan UEA), akan menyumbang sekitar 37 persen pendapatan global. PDB (pada tahun 2028), sedangkan angka G7 akan turun di bawah 28 persen.”
Singkatnya, landasan yang dibangun oleh para pemimpin saat ini dalam beberapa tahun terakhir akan membawa dinamika positif lebih lanjut dalam hubungan Saudi-Rusia, dan hal ini akan menimbulkan diversifikasi. Selain hard power, kedua negara juga bisa mendapatkan manfaat dari soft power sebagai mekanisme kolaborasi.
Rusia dapat lebih diintegrasikan ke dalam program diversifikasi ekonomi Saudi yang dikenal sebagai Visi 2030. Misalnya, Rusia dapat menjadi tuan rumah forum bilateral “Rusia dalam Visi Saudi 2030” bagi para pemangku kepentingan bisnis dan investasi, dengan pameran mengenai potensi industri di wilayah Rusia dan Arab Saudi.
Selain itu, penggunaan soft power agama juga bisa berperan. Ini adalah salah satu tujuan Visi 2030 untuk menjadikan dunia Muslim sebagai pusat perhatian. Lebih banyak hal yang bisa dilakukan oleh wilayah Muslim Rusia dalam membangun hubungan. Rusia tahun lalu meluncurkan program percontohan perbankan dan keuangan Islam, sehingga bank-bank Saudi bisa mendapat izin untuk melaksanakan operasi ini.
Demi mencapai tujuannya untuk mendiversifikasi perekonomiannya, Riyadh merasa tidak terlalu terikat dengan Washington melalui perjanjian 'minyak untuk perlindungan' yang dimulai pada 1945, dan pada saat yang sama menuntut pakta bantuan, Jean-Michel Bezat mencatat dalam kolomnya di Le Monde.
Sebagai bagian dari rencana Visi 2030 Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang dikenal sebagai MBS, ambisi ini memerlukan biaya yang sangat tinggi, dan dibiayai oleh sumber daya utamanya. Minyak, yang telah dieksploitasi sejak tahun 1938, menjadi sangat penting. Riyadh akan melakukan segala daya untuk memperluas produksi selama mungkin.
Arab Saudi Ancam Eropa, Ini Sejarah Gertakan ke Barat
Bukan kali ini saja Arab Saudi 'mengancam' negara-negara Barat. [535] url asal
#arab-saudi #arab-saudi-ancam-eropa #sejarah-arab-saudi #boikot-minyak
(Republika - Khazanah) 10/07/24 11:51
v/10296093/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kerajaan Arab Saudi memberi peringatan kepada negara-negara Barat anggota G-7. Riyadh dilaporkan tidak akan ragu untuk menjual sejumlah surat utang Eropa. Hal itu sebagai pembalasan atas tindakan G-7 yang menyita hampir 300 miliar dolar AS aset Rusia yang dibekukan.
Sesungguhnya, bukan kali ini saja Arab Saudi "menggertak" negara-negara Barat. Bahkan, pada masa pemerintahan raja Faisal bin Abdul Aziz dahulu, gertakan itu tidak sekadar retorika, melainkan aksi nyata. Akibatnya, negara-negara yang mendukung zionisme-Israel dihantam krisis energi atau bahan bakar minyak (BBM).
Faisal bin Abdul Aziz mulai menjadi raja Arab Saudi sejak 2 November 1964. Masa kekuasaannya dikenang sebagai awal modernisasi negara tersebut.
Raja Faisal membuka keran kebebasan berpendapat, yang lebih progresif daripada era pendahulunya. Dalam bidang ekonomi, ia mencanangkan pembangunan industri dan pertanian. Visinya sudah menjangkau jauh agar Saudi tidak melulu bergantung pada pemasukan dari sektor pertambangan minyak dan gas bumi.
Dalam konteks regional Timur Tengah, ia terdepan dalam mengimbau kerja sama negara-negara Arab, termasuk dalam memerangi Zionis-Israel.
Yang luar biasa adalah manuver diplomatiknya di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Raja Faisal berhasil mewujudkan embargo minyak agar dilakukan negara-negara Arab anggota OPEC terhadap Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat pro-Israel. Embargo itu terjadi pada Oktober 1973, ketika konflik terjadi lagi antara entitas Zionis itu dan Palestina—serta sekutu Arab.
Kebijakannya itu akhirnya mampu menaikkan harga minyak dunia sehingga menguntungkan negara-negara Timur Tengah dan negara-negara OPEC pada umumnya, termasuk Indonesia. Alhasil, inilah pertama kalinya Indonesia mengalami masa kejayaan minyak dan gas bumi (oil boom).
Adapun oil boom kedua yang dialami RI ialah ketika revolusi pecah di Iran pada 1979 yang menyebabkan terganggunya pasokan migas dan, pada akhirnya, melonjakkan harga minyak dunia.
Bagaimanapun, bagi Raja Faisal, langkah caturnya di OPEC bukan demi bertambahnya profit itu sendiri, melainkan tujuan yang lebih luhur, yakni menekan AS dan sekutu-sekutu Barat yang pro-Israel. Ia pun mendukung perjuangan Palestina dengan menerjunkan pasukan ke medan perang dalam melawan Israel.
Di palagan yang terjadi di perbatasan Yordania-Israel serta dataran tinggi Golan dan Sinai, bala tentara Saudi diterjunkan. Berkat ketegasannya itu, Raja Faisal menjadi pemimpin yang paling berpengaruh di dunia Arab dan Islam. Tokoh ini dipandang sebagai pemersatu negara-negara Arab.
Pengaruhnya di tataran global memang diakui luas. Majalah Time menganugerahinya sebagai “Man of the Year” pada 1974. Namun, usianya kian dekat di ujung.
Meninggal dibunuh ....
Pada 25 Maret 1975, Raja Arab Saudi Faisal ditembak mati oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal Ibn Musaed. Alasan pembunuhan tersebut masih tidak jelas kala itu. Seperti dilansir laman BBC History, Raja Faisal sempat dilarikan ke rumah sakit sesaat setelah ditembak dan dinyatakan masih hidup. Dokter kemudian mengejutkan jantungnya dan memberinya transfusi darah, tetapi nahas, para dokter tidak dapat menyelamatkannya.
Pangeran Faisal Ibu Musaed diduga menembakkan tiga peluru ke arahnya dengan pistol dari jarak dekat selama audiensi kerajaan. Menurut saksi mata, Pangeran Musaed sedang menunggu di ruang antre dan berbicara dengan utusan Kuwait yang sedang menunggu untuk bertemu dengan raja.
Raja Faisal telah membungkuk ke depan mencium memohon untuk jangan menembak, tetapi Pangeran Musaed dilaporkan telah mengeluarkan pistol dan menembaknya di bawah dagu dan kemudian melalui telinga. Salah satu pengawal raja memukul pangeran dengan pedangnya, meskipun pedang masih dalam keadaan terbungkus.