JAKARTA, KOMPAS.com - Wanita lanjut usia (lansia) yang biasa dipanggil Popo tidak lagi ingat dengan anak-anaknya yang kini sudah berkeluarga. Ingatan Popo bermasalah akibat penyakit Alzheimer yang menyerangnya.
Direktur Operasional Kanopi Nursing Home, Benny Handojo mengatakan, kondisi Alzheimer dan demensia yang dialami Popo adalah salah satu yang paling akut dari semua penghuni Kanopi Nursing Home.
Sehari-harinya, lansia berumur 89 tahun ini harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas. Terkadang, Popo terlihat murung dan tidak banyak bicara. Rambutnya yang tadinya sebahu sudah sangat tipis hingga ubun-ubun Popo terlihat jelas.
Ketika diajak bicara oleh Direktur Keperawatan Kanopi, Anna Lidwina, Popo masih meresponsnya.
“Ni Hao? Ni Hao Ma? (halo dan apa kabar dalam Bahasa Mandarin)” ujar Anna Lidwina saat mengajak Popo mengobrol di ruang tamu Kanopi Nursing Home, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin (16/9/2024).
Popo sempat menjawab,” Hao (baik dalam bahasa Mandarin)”. Dalam hitungan detik, Popo tiba-tiba menangis. Suster Anna hanya tersenyum dan memintanya untuk berhenti menangis.
Untuk mengalihkan perhatian Popo, Anna bertanya soal menu sarapan pagi ini. Popo mengaku sarapan dengan bubur kacang hijau. Padahal, tadi pagi perawat memberinya roti.
Tiba-tiba, Popo mengatakan, dia sedang mengurus rumahnya. Ada surat-surat yang perlu dibuat dan usaha salonnya akan segera dibuka. Padahal, Popo sudah tinggal di Kanopi selama kurang lebih tiga tahun.
Ketika anaknya datang berkunjung, Popo kesulitan mengenali keluarganya.
“Sekarang sudah dibayar, dibersihkan rukonya apa…” kata Popo.
Kemudian, Anna menanyakan nama anak-anak Popo. Tak lama, Popo kembali tersedu. Pelan-pelan dia menyebut nama-nama anaknya, Hanhan, Jenjen, Ling Ling.
“Ling Ling sudah SMP ya? Eh, kedokteran dia sudah mulai,” kata Popo lagi.
Dengan suara kecil dan setengah berbisik, Anna memberitahu Kompas.com, ketiga anak Popo sudah menikah semua. Informasi ini sengaja tidak diberitahu secara terang dan jelas kepada Popo karena hal ini dilarang dilakukan kepada penderita Alzheimer.
Siapapun yang sedang berkomunikasi dengan penderita Alzheimer tidak diperbolehkan untuk melakukan koreksi kepada mereka yang mengalami demensia. Pasalnya, ingatan mereka sudah tidak utuh sehingga apa yang menjadi fakta mungkin tidak akan memberikan efek positif pada mereka.
“Penderita demensia itu tidak bisa ingat yang baru-baru, ingatnya hanya yang lama-lama saja,” jelas Anna.
Selanjutnya, Anna bertanya mengenai kondisi anak-anak Popo. Popo menjawab mereka baru saja pulang sekolah. Ketika ditanya siang ini masak apa, Popo bilang, “Restorannya cukup”.
“Namanya restoran pasti banyak makanan ya?” kata Anna yang disambut tawa kecil Popo.
Ketika diminta untuk memanggil anaknya yang bernama Hanhan, Popo tidak kunjung bersuara, dia diam sebentar sebelum mengatakan kalau anaknya ini agak pemalu.
“Saya jadi itu di sini dulu sekolah ya, dia masih mau bantu kasih tahu di sini punya keadaan ya,” ucap Popo.
Suster Anna hanya menjawab singkat dan membiarkan Popo cerita lebih panjang.
“Iya, kalau itu sudah bilang gitu, itu bikin surat jalan,” lanjut Popo.
Suster Anna hanya tertawa kecil ketika Popo tiba-tiba menyebutkan surat jalan. Begitu ditanya untuk apa, Popo mengatakan dia butuh surat jalan untuk membangun rumah.
Saat berbincang-bincang soal rumah, tidak lama datang seorang pendeta yang siang itu akan memimpin ibadah. Suster Anna menyapa pendetanya yang tiba dan memberitahukan kepada Popo.
“Anjing apa kucing ya jalan sana jalan sini,” kata Popo sembari menangis.
Bingung, Anna mengatakan, kalau yang datang bukan kucing, tapi pendeta yang sudah sering datang ke Kanopi. Popo hanya tertawa ketika menyadari kesalahannya.
Ketika Anna meminta Popo menyanyikan sebuah lagu rohani, Popo bisa mengikuti lagu yang ibadah lalu dia dengar.
“Glory Glory Hallelujah, Glory Glory Hallelujah. Hallelujah,” senandung Popo sambil menangis.
Setelah wawancara singkat dengan Kompas.com, Popo melanjutkan aktivitasnya lagi. Dia ikut bergabung dengan penghuni lain yang beragama Kristen Protestan untuk ikut ibadah.