KOMPAS.com -Halloween diperingati pada akhir Oktober setiap tahunnya. Tradisi "seram" yang digambarkan lewat pesta, kostum, permen, dan labu ini sudah berlangsung ribuan tahun lamanya.
Perayaan ini populer di negara-negara Barat. Namun, ada saja negara di bagian Timur yang turut merayakan halloween.
Meski tak begitu populer di Indonesia, ada saja tempat-tempat wisata yang dikenal anker karena lokasi maupun sejarah di baliknya.
Tempat wisata horor di Pulau Jawa ini bertempat di beberapa kota dan cocok disambangi ketika halloween tiba.
1. Taman Nasional Alas Purwo di Banyuwangi
Kesan mistis membayangi indahnya pemandangan alam di kawasan hutan tertua di Pulau Jawa Ini.
Taman Nasional Alas Purwo kerap disambangi demi karena keindahan pantai, sabana, sampai sejumlah hutannya, seperti hutan bakau, hutan hujan, dan hutan bambu.
Adapun nuansa mistis Alas Purwo muncul dari keberadaan gua, pura, dan makam tua di kawasan ini.
Ada juga lokasi untuk melakukan napak tilas sejarah Majapahit di Pura Luhur Giri Salaka dan Situs Kawitan yang dipercaya sebagai tanah yang diciptakan pertama kali pada proses penciptaan Pulau Jawa.
Sampai-sampai umat Hindu kerap melakukan upacara keagamaan di lokasi tersebut, yang menurut sebagian orang, terbilang anker dan mistis karena berlokasi di dalam hutan.
2. Pantai Parangtritis di Yogyakarta
Naufal Image/Shutterstock Pantai Parangtritis, YogyakartaCerita mistis Pantai Parangtritis terbilang populer di Indonesia. Konon, wisatawan dilarang menggunakan pakaian berwarna hijau saat masuk ke kawasan pantai ini.
Lokasinya berada di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mitosnya, baju hijau merupakan pakaian kebesaran Nyi Roro Kidul, sang ratu pantai selatan.
Cerita mistis tersebut nyatanya membuahkan larangan memakai baju hijau di Pantai Parangtritis. Namun, bukan karena percaya mistis, melainkan demi keselamatan pengunjung.
Alasan logis dilarang memakai baju berwarna hijau adalah agar lebih mudah dicari saat terseret arus atau tenggelam, seperti disampaikan Widodo Pranowo, Peneliti Madya Bidang Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam berita Kompas.com.
Bila pengunjung pantai menggunakan baju berwarna hijau, warnanya akan menyatu dengan warna air laut sehingga lebih sulit dicari.
3. Lawang Sewu di Semarang
KOMPAS.com/ Sabrina Mutiara Fitri Lawang Sewu yang terletak di tengah kota sebagai simbolik Kota Semarang.
Disebut-sebut anker, Lawang Sewu merupakan gedung peninggalan Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS yang dibangun pada 1904.
Puluhan tahun, bahkan ratusan tahun, gedung ini kosong sehingga meninggalkan kesan mistis dan anker.
Kisah mistis Lawang Sewu juga dimulai ketika bangunan tua ini dijadikan lokasi pertempuran berdarah antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dengan Kempetai dan Kidobutai Jepang.
Dilansir dari Kompas.com, pertempuran tersebut dikenal dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang yang berlangsung pada 14-19 Oktober 1945.
Keberadaan ruang bawah tanah yang pernah dijadikan tempat penyiksaan oleh serdadu tentara Jepang, membuat Lawang Sewu terkesan anker.
Tak heran bila wisatawan sengaja memasuki ruang bawah tanah itu demi "melihat hantu".
4. Gunung Kawi di Malang
Cerita horor Gunung Kawi kental dengan isu pesugihan. Konon, banyak orang sengaja datang ke tempat ini demi mencari pesugihan.
Gunung Sawi sebenarnya tempat makam atau pesarean sejumlah tokoh bangsawan, di antaranya Kanjeng Kyai Zakaria II (wafat 22 Januari 1871) dan Raden Mas Imam Soedjono (wafat 8 Februari 1876).
Nilai-nilai sejarah dan religi erat dengan Gunung Kawi, menjadikan tempat ini sebagai wisata untuk berziarah bagi pengunjung yang datang.
Namun, peziarah yang datang dari berbagai etnis, seperti Madura, Jawa, dan Tionghoa, kerap mendatangi tempat ini untuk meminta pesugihan demi mendapatkan kekayaan berlimpah.
5. Goa Jepang di Bandung
Dok. Shutterstock/Bagus Rahadian Goa Jepang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.Selain disebut Goa Jepang, tempat ini juga dikenal dengan nama Goa Belanda karena Jepang lah yang mengambil alih goa ini dari Belanda.
Dilansir dari Kompas.com, Goa Jepang dibangun pada 1812 dengan total 15 cabang goa dan tiga pintu masuk.
Terdapat kolam penampungan air di atas goa ini, ruang-ruang tempat tahanan, dan radio komunikasi.
Alasan Goa Jepang dikatakan mistis terletak saat pembangunan. Konon, goa ini dibangun dengan sistem romusha atau kerja paksa pribumi yang menelan banyak korban.