JAKARTA, KOMPAS.com – Ada beragam merek ternama dalam industri parfum yang sudah eksis selama bertahun-tahun.
Beberapa di antaranya adalah YSL Libre Intense Eau de Parfum, Giorgio Armany My Way Eeau de Parfum, Jo Malone London English Pear and Freesia Cologne, dan Marc Jacobs Eau de Toilette.
Sebagian besar pencinta parfum biasanya lebih suka membeli parfum berdasarkan merek karena kualitasnya sudah terjamin.
Namun, Co-founder & CEO ritel kosmetik dan skincare Social Bella, Christopher Madiam, mengungkapkan bahwa saat ini ada pergeseran tren pembelian parfum.
“Kalau kita lihat, trennya dulu kan kebanyakan parfum itu brand-centric. Orang beli parfum karena brand tertentu. Per hari ini sudah ke fungsionalitas,” tutur dia di Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (7/8/2024).
Christopher menjelaskan, fungsionalitas mengacu pada apa yang dicari oleh konsumen selain aroma, salah satunya keunikan yang ditawarkan.
Misalnya adalah parfum dengan penamaan aroma yang unik, bisa di-layer, atau menimbulkan perasaan tertentu seperti ketenangan.
Selanjutnya, pembelian parfum jarang dilakukan secara daring, kecuali mereka yang sudah mengetahui wangi dari parfum itu.
Jadi, sebuah parfum juga berpotensi dibeli konsumen apabila mereka mampu menyajikan pengalaman berbelanja yang menarik seperti kemasan.
"Ada pergeseran yang sebelumnya brand-centric, sekarang juga lebih ke experience. Semakin banyak orang yang pada saat pertama kali beli parfum, mereka tidak kepikiran untuk beli parfum,” papar Christopher.
Misalnya, ketika mengunjungi toko parfum, mereka melihat parfum dengan kemasan yang menarik. Pengalaman belanja yang menarik juga bisa datang dari cara penjual menawarkan produk mereka.
“Atau pas lewat, tercium aroma parfumnya enak dan akhirnya dia beli,” pungkas dia.