NEW YORK, investor.id – Laporan terbaru dari Informa Connect Academy menyebutkan Elon Musk berada di jalur yang tepat untuk menjadi triliuner pertama di dunia pada 2027. Musk adalah yang paling dekat dengan kekayaan dengan angka 13 digit tersebut dan kekayaannya terus bertambah, dibandingkan para miliarder dunia lainnya.
Pada awal 2020, kekayaan Musk sekitar US$ 28,5 miliar, menurut Bloomberg Billionaires Index. Pada akhir tahun yang sama, kekayaannya melonjak ke sekitar US$ 167 miliar. Pada September 2024, kekayaan bersihnya naik nyaris dua kali lipat menjadi sekitar US$ 265 miliar, menurut indeks tersebut.
Pendorong terbesar kekayaan Elon Musk adalah saham Tesla, yang melonjak selama pandemi Covid-19. Saham Tesla berada di sekitar US$ 30 per saham pada Januari 2020. Pada periode yang sama di tahun berikutnya, saham tersebut melonjak hingga hampir US$ 300 per saham.
"Jika Anda melihat daftar orang Amerika terkaya, baik itu Elon Musk atau Jeff Bezos, alasan orang menjadi sangat kaya adalah karena mereka mendirikan perusahaan dan mengembangkan perusahaan itu," kata analis kebijakan ekonomi untuk American Enterprise Institute James Pethokoukis, seperti dikutip CNBC internasional pada Senin (14/10/2024).
"Dan alasan perusahaan itu terus tumbuh dan berkembang adalah karena (perusahaan itu) menghasilkan sesuatu yang berharga yang diinginkan orang," tambahnya.
Orang yang lebih kaya biasanya memiliki sebagian besar aset mereka yang diinvestasikan di pasar saham, sementara rumah tangga berpenghasilan menengah cenderung memiliki lebih banyak kekayaan yang terikat pada real estat.
Sebanyak 1% orang terkaya Amerika Serikat (AS) memiliki hampir 50% dari semua saham AS, sementara 50% orang Amerika terbawah memiliki sekitar 1% dari semua saham, menurut data The Federal Reserve (The Fed) pada pertengahan 2024.
Sekitar 58% keluarga memiliki saham pada 2022, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui investasi pasif seperti rekening pensiun.
“Ketimpangan kekayaan sangat dipengaruhi oleh harga berbagai jenis aset. Salah satu hal yang akan menyebabkan ketimpangan kekayaan meningkat jika diukur dengan konsentrasi kekayaan adalah pasar saham,” papar peneliti di Brookings Institution John Sabelhaus.
Ada juga perdebatan mengenai peran perpajakan dalam berkontribusi terhadap ketimpangan kekayaan.
Sementara itu beberapa pihak, termasuk Pethokoukis, berpendapat paket kompensasi yang besar merupakan imbalan atas keberhasilan menciptakan perusahaan, pihak lain, seperti Sabelhaus, mengatakan celah dalam sistem pajak menciptakan persaingan yang tidak adil.
“Khususnya selama seperempat abad terakhir, perubahan dalam kebijakan pajak telah mempersulit pengenaan pajak kepada orang kaya. Ada lebih banyak pengecualian, lebih banyak cara untuk menghindari pembayaran pajak,” kata Sabelhaus.
Banyak warga Amerika yang memperoleh pendapatan mereka terutama dengan menukar waktu dan keterampilan mereka dengan gaji, yang dikenakan pajak berdasarkan berapa banyak penghasilan individu tersebut.
Di atas kertas, pendapatan orang-orang yang sangat kaya tidak sejelas itu. “Jika kita menganggap pendapatan sebagai peningkatan kemampuan seseorang untuk berbelanja dari waktu ke waktu, Anda dan saya memiliki gaji. Dan gaji tersebut mengukur seberapa banyak yang dapat kita belanjakan,” jelas Sabelhaus.
“Musk ... memiliki paket kompensasi yang sangat besar. Namun, bahkan paket tersebut, hanya sebagian kecilnya yang muncul sebagai pendapatan kena pajak karena sebagian besarnya berupa bonus dan cara lain untuk mendapatkan gaji yang memudahkan untuk menghindari pajak,” tandasnya.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News