#30 tag 24jam
Dolar Stabil, Yen Menuju Penurunan Mingguan Pertama Dalam 6 Pekan
Dolar Amerika Serikat (AS) mendekati level tertinggi dalam satu minggu terhadap mata uang utama lainnya pada hari Jumat (9/8). [495] url asal
#dolar #euro #valuta-asing #yen-jepang #dolar-as #indeks-dolar #kurs-dollar-as-yen #us-dollar-vs-yen #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #valuta
(Kontan-Investasi) 09/08/24 19:30
v/13946203/
Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Dolar Amerika Serikat (AS) mendekati level tertinggi dalam satu minggu terhadap mata uang utama lainnya pada hari Jumat (9/8). Penguatan dolar AS disokong oleh penurunan terbesar dalam klaim pengangguran AS dalam hampir satu tahun yang meredakan kekhawatiran akan penurunan ekonomi yang mengancam.
Mata uang AS stabil terhadap yen Jepang setelah rebound tiga hari. Data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan pada hari Kamis mendorong pengurangan taruhan untuk pemotongan suku bunga Federal Reserve akhir tahun ini.
Yen dan franc Swiss, mata uang safe haven lainnya, bertahan di dekat level terendah satu minggu. Sementara pasar saham utama naik dan imbal hasil US Treasury turun.
Pasar mengalami minggu yang penuh gejolak yang sebagian besar dipicu oleh angka penggajian AS yang secara mengejutkan lemah seminggu lalu yang menyebabkan saham global jatuh. Permintaan akan aset aman seperti yen dan franc menyebabkan mata uang tersebut melonjak ke level tertinggi sejak awal tahun pada hari Senin.
"Perkiraan kami lebih konservatif pada USD/JPY dan EUR/CHF," kata ahli strategi FX UBS Yvan Berthoux kepada Reuters. Dia memperkirakan, pelemahan tidak akan berlanjut signifikan.
Dolar melemah tipis 0,2% menjadi 146,96 yen pada pukul 18.33 WIB, menuju kenaikan sekitar 0,3% minggu ini. Ini adalah kenaikan mingguan pertama dolar AS terhadap yen dalam enam pekan terakhir.
Terhadap franc Swiss, dolar AS melemah 0,3% menjadi 0,8644 franc tetapi masih berada di jalur kenaikan mingguan 0,8%.
Data pada hari Kamis menunjukkan jumlah warga Amerika yang mengajukan aplikasi baru untuk tunjangan pengangguran turun lebih dari yang diharapkan minggu lalu. Penurunan klaim ini meredakan kekhawatiran pemburukan pasar tenaga kerja dan memperkuat bahwa penurunan suku bunga bertahap masih akan terjadi.
Peluang Fed memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuan kebijakan berikutnya pada 17-18 September turun menjadi 55%, dari 69% sehari sebelumnya. Ada peluang 46% untuk pemangkasan suku bunga 25 basis poin, menurut FedWatch Tool dari CME Group.
Yen telah melesat lebih tinggi bulan ini, mencapai level terkuat sejak 2 Januari di 141,675 per dolar pada hari Senin karena penghentian posisi short membesar. Penguatan yen terjadi menyusul kenaikan suku bunga yang mengejutkan oleh Bank of Japan di tengah melemahnya indikator ekonomi AS.
Indeks dolar, yang mengukur mata uang dolar AS terhadap enam mata uang lainnya, hampir datar pada 103,20 setelah tiga hari kenaikan.
Euro sedikit lebih rendah pada US$ 1,0917, tetapi sedikit berubah dibandingkan dengan minggu lalu. Pada hari Senin, mata uang tersebut naik setinggi US$ 1,1009 untuk pertama kalinya sejak 2 Januari.
Sterling merosot ke US$ 1,2743, setelah reli 0,5% semalam yang menariknya kembali dari level terendah lebih dari satu bulan. Namun, mata uang tersebut tetap berada di jalur penurunan untuk minggu keempat berturut-turut.
Aussie merosot 0,3% menjadi US$ 0,6572, sebelum naik ke level terkuatnya sejak 24 Juli di awal sesi. Sementara dolar Selandia Baru mencapai level tertinggi tiga minggu di US$ 0,6035 sebelum datar di US$ 0,6013.
Dolar Menguat, Yen Melemah Untuk Hari Pertama di Bulan Ini
Dolar AS terakhir berada pada ¥ 144,75 per dolar AS, menguat 0,6% pada hari Selasa (6/8). [528] url asal
#dolar #dolar-menguat #yen-jepang #dolar-as #dolar-australia #pelemahan-yen #kurs-dollar-as-yen #us-dollar-vs-yen #japanese-yen #mata-uang-yen-jepang #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan
(Kontan) 06/08/24 19:40
v/13545524/
Sumber: Reuters | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Yen Jepang stabil pada hari Selasa dan dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sebagian besar mata uang. Pergerakan yang paling mencolok dalam beberapa hari terakhir agak berbalik dan sedikit ketenangan kembali ke pasar.
Dolar AS terakhir berada pada ¥ 144,75 per dolar AS, menguat 0,6% pada hari Selasa (6/8). Ini adalah hari pertama dolar diperdagangkan menguat terhadap yen pada bulan Agustus. Tetapi dolar masih melemah sekitar ¥ 9 dalam seminggu terakhir.
Penilaian ulang juga terjadi di seluruh pasar saham. Indeks acuan Nikkei Jepang naik 10% pada hari Selasa (6/8) setelah jatuh 12% pada hari sebelumnya. Sementara saham-saham di Eropa juga mencoba untuk pulih.
"Pandangan kami adalah bahwa pasar menjadi sedikit terburu-buru dan mereka baru menyadarinya pagi ini, dan itulah sebabnya kami melihat dolar menguat dan USD/JPY menguat kembali," kata Nick Rees, analis mata uang di Monex Europe kepada Reuters.
Penguatan yen baru-baru ini didorong oleh peningkatan volatilitas yang menyebabkan investor keluar dari carry trade yang dulu populer. Yen turut diperkuat oleh Bank of Japan (BOJ) yang menaikkan suku bunga pada hari Jumat pekan lalu.
Hal itu dikombinasikan dengan data pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan. Selain itu, laba yang mengecewakan dari perusahaan teknologi besar memicu aksi jual pasar saham global, yang selanjutnya memperkuat pelepasan carry trade.
Nilai tukar Franc Swiss melemah pada hari Selasa dan dolar naik 0,25% pada 0,8541 franc per dolar AS.
Seperti yen, franc adalah mata uang pendanaan yang disukai untuk carry trade. Franc telah menguat tajam sejak pertengahan Juli, dengan kenaikan yang diperkuat oleh arus safe haven pada hari Senin.
Dolar juga mendapatkan kembali kekuatannya terhadap euro dan pound. EUR/USD melemah 0,4% pada US$ 1,09108 per euro, setelah mencapai level tertinggi tujuh bulan di US$ 1,1009 selama kekacauan hari Senin.
"Dolar tidak bertindak sebagai mata uang safe haven pada hari Senin, dan Anda tidak dapat memasukkan semuanya ke dalam franc atau yen, dan mata uang berikutnya dalam daftar itu biasanya adalah euro," kata Rees.
Sterling turun 0,66% pada US$ 1,269 per poundsterling, terendah dalam lima minggu. Pemangkasan suku bunga Bank of England minggu lalu melemahkan salah satu pilar kekuatannya di awal tahun.
Yang juga mendukung pergerakan pasar mata uang adalah upaya para pedagang untuk memperkirakan kebijakan Federal Reserve AS dalam pertemuan mendatang.
Para trader sekarang mengharapkan pelonggaran sebesar 110 basis poin (bps) tahun ini dari Fed. Para pelaku pasar memperkirakan sekitar 70% peluang pemangkasan sebesar 50 bps pada bulan September. Para pedagang telah sepenuhnya memperkirakan pemangkasan sebesar 50 bps pada hari Senin.
Para pembuat kebijakan bank sentral AS menolak anggapan bahwa data pekerjaan bulan Juli yang lebih lemah dari yang diharapkan berarti ekonomi sedang dalam resesi. Tetapi, para pejabat The Fed tetapi juga memperingatkan bahwa Fed perlu memangkas suku bunga untuk menghindari resesi.
Dolar Australia terakhir turun 0,25% pada US$ 0,6479, setelah sebelumnya naik setelah komentar dari Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Michele Bullock menyatakan pemotongan suku bunga masih jauh.
Bank sentral Australia mempertahankan suku bunga tetap pada hari Selasa seperti yang diharapkan. RBA menegaskan kembali bahwa mereka tidak akan mengeluarkan keputusan apa pun untuk mengendalikan inflasi.
Dolar AS Melemah Tajam, Ini Mata Uang yang Layak Dipantau
Indeks dolar AS melemah dan membuat sejumlah mata uang perkasa [1,016] url asal
#valas #yen #yen-jepang #mata-uang-asia #pasar-valas #dolar-as #indeks-dolar #us-dollar-vs-yen #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #valuta
(Kontan) 05/08/24 19:29
v/13405281/
Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dolar Amerika Serikat (AS) terjun bebas di perdagangan awal pekan ini. Kekhawatiran resesi yang meningkat dan semakin dekatnya pemangkasan suku bunga menekan the Greenback.
Mengutip Tradingeconomics, Indeks dolar turun ke 102,6 pada hari Senin (5/8), mencapai level terendah sejak pertengahan Januari dan memperpanjang penurunan lebih dari 1% dalam periode sepekan.
Sekeranjang mata uang utama terpantau menguat di hadapan dolar AS. Mengutip Bloomberg pukul 19.06 WIB, yen menguat paling tinggi hingga 3,06% setelah berada di level 142,18 per dolar AS.
Euro (EUR) juga terlihat menguat 1,32% dalam sepekan dan mendekati level tertingginya dalam tujuh bulan terakhir. Sejalan, Franc Swiss (CHF) menguat sekitar 4,44% dalam sepekan ke level 0,84962.
Kemudian ada Yuan China yang menguat 0,73% di hari ini atau sekitar 2,12% dalam sepekan.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menjelaskan, laporan data AS yang lebih lemah telah mendorong ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bungaThe Fed sebesar 100bps di tahun ini. Di mana, total pemotongan 50bps dan dua pemotongan 25bps dalam tiga keputusan tersisa tahun ini.
Laporan penggajian nonpertanian (NFP) bulanan AS menunjukkan pertumbuhan pekerjaan turun menjadi 114.000 pada Juli dari 179.000 pada Juni. Sementara, tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,3% yang menunjukkan kerentanan terhadap resesi.
Indeks dolar juga tertekan oleh kenaikan suku bunga yang tidak terduga oleh Bank of Japan (BoJ), yang mendorong Yen (JPY) menguat 5% terhadap dolar AS sejak Jumat (2/8) lalu. Dan adanya pengalihan carry trade karena prospek kenaikan suku bunga BOJ yang akan datang, turut memberikan tekanan pada pergerakan dolar.
“Data AS yang lebih lemah akan menyebabkan Fed memangkas suku bunga pada bulan September, sesuai dengan perkiraan pasar,” kata Sutopo kepada Kontan.co.id, Senin (5/8).
Namun demikian, perkembangan politik di zona euro dan AS, serta siklus pelonggaran dari bank sentral lain, kemungkinan akan menghalangi penurunan dolar secara luas. The Greenback dipandang masih kuat daripada sekeranjang mata uang lainnya di tengah prospek pemangkasan bunga acuan.
Menurut Sutopo, pelemahan dolar saat ini belum tentu akan menjadi kesempatan menguatnya mata uang rival seperti Euro (EUR) ataupun Poundsterling (GBP). Hal itu karena kedua mata uang tersebut bank sentral-nya yakni European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BOE) juga tengah dalam persiapan untuk menurunkan level suku bunga.
Sementara itu, Jepang dinilai cerdik memanfaatkan momentum dovish dari The Fed dan penantian mereka tidak sia-sia untuk mengerek bunga acuan, setelah data AS pada kuartal ketiga menunjukkan pertumbuhan yang mendingin.
Hanya saja, penguatan Yen kemungkinan sementara dan akan mulai terbatas karena bagaimanapun level suku bunga bank sentral Jepang masih terpaut jauh dari bank sentral lainnya.
Yuan dan Swiss Franc nampaknya punya prospek lebih bagus, namun perlu menunggu sejumlah koreksi terlebih dahulu. Supoto menuturkan, hal itu karena biasanya pasar selalu bergerak mendahului isu fundamental.
Franc diproyeksi dapat menguat hingga ke level US$0.8000. Sementara yuan harus bisa menguat di bawah 7,10000 per dolar AS, jika gagal maka dalam waktu dekat dapat melemah kembali ke 7,20000 atau bahkan ke 7,30000 per dolar AS.
“CHF mungkin lebih menarik dibandingkan Yuan karena prospek pertumbuhan Tiongkok belum membaik,” ucap Sutopo.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Lukman Leong memandang, kondisi saat ini merupakan sebuah anomali atau keanehan di pasar keuangan. Di mana, pasar malah tertekan di tengah ekspektasi pemangkasan suku bunga semakin dekat.
Sentimen risk off di pasar akibat data tenaga kerja AS yang mengecewakan saat ini sangat kuat yang tercermin dari ambruknya pasar ekuitas, imbal hasil obligasi AS turun tajam, serta harga minyak global anjlok parah. Padahal sebelumnya kondisi market turun senantiasa ditanggapi positif oleh investor yang berharap pemangkasan suku bunga The Fed semakin dekat.
Kekhawatiran di pasar akibat perlambatan ekonomi global menyusul rentetan data ekonomi, baik dari AS, China maupun regional Asia yang sangat lemah. Meningkatnya tensi di timur tengah juga sedikit banyak mendukung sentimen risk off.
“Jadi terus terang, sell off kali ini adalah tanda tanya besar, dan yang lebih membingungkan adalah dolar AS yang ikut melemah tajam di tengah sentimen risk off. Hal ini tidaklah biasa,” kata Lukman kepada Kontan.co.id, Senin (5/8).
Lukman menambahkan, penguatan signifikan mata uang Yen juga memberikan andil besar pada penurunan indeks dolar saat ini. Hal tersebut terjadi setelah meningkatnya harapan investor pada Bank sentral Jepang untuk mengerek suku bunga acuan.
Oleh karena itu, Lukman menyarankan agar investor wait and see terlebih dahulu khususnya di pasar valuta asing (valas) setidaknya sampai pemangkasan bunga di September mendatang.
“Walau saya sendiri merasa dolar AS masih akan lebih kuat daripada mata uang utama dunia lainnya seperti EUR, AUD dan GBP, namun terlalu spekulatif apabila menarik kesimpulan saat ini,” tutur Lukman.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin sebelumnya mengatakan, perihal pemangkasan suku bunga menjadi hal yang kurang baik terhadap pergerakan mata uang terkait, dalam hal ini dolar. Dolar AS akan melemah seiring dengan makin dekatnya potensi pemangkasan bunga acuan.
Setelah data NFP yang melambat dan angka pengangguran meningkat, investor akan memastikan angka inflasi AS, apakah semakin dekati target di bawah 3,0% dengan target utama 2,0%.
Sehingga, dolar AS diperkirakan akan terus mengalami pelemahan yang terancam kembali menguji area 100.70, dan harus melewati beberapa titik support lainnya di 103.17 dan 102.25.
“Pasar akan terfokus soal suku bunga karena suku bunga terus menopang penguatan dolar AS. Dengan semakin dekat tenggat waktu pemangkasan bunga, maka pasar melakukan antisipasi dan reaksi terhadap kebijakan tersebut dengan cara melepas dolar,” ujar Nanang kepada Kontan.co.id, Rabu (31/7).
Nanang mencermati, antisipasi investor ini pun telah terlihat dengan penguatan berbagai mata uang rival dolar AS. Yen sendiri terus menguat dan mendekati 150.00 per dolar AS, terlebih lagi didukung kebijakan BoJ yang mengerek suku bunga menjadi 0,25%.
Yen bahkan tidak menutup kemungkinan bisa berada di bawah level 145, jika The Fed sudah memangkas suku bunga acuannya.
Sementara, Poundsterling (GBP) masih mendapat sokongan dari inflasi dan beberapa fundamental ekonomi yang baik. Namun ruang pemangkasan yang akan terjadi dapat menahan laju mata uang Inggris tersebut.
“Secara jangka menengah hingga akhir tahun, ada ruang kenaikan poundsterling untuk kembali membuka zona range atas baru 1,3000,” imbuh Nanang.