KOMPAS.com - Permak, alias memperbaiki pakaian, adalah hal yang akrab dalam budaya kita. Kehadiran para penjahit keliling yang menawarkan perbaikan baju dan celana bukan hal asing dalam hidup sehari-hari.
Nah, "kearifan lokal" inilah yang menjadi gaya utama brand lokal Future Loundry dalam memproduksi koleksi busananya.
Menurut pendirinya, seniman Ican Harem, sejak dibentuk tahun 2019 di Bali, brand ini menawarkan produk upcycled yang terinspirasi oleh budaya permak alias vermak di Indonesia.
Bersama pasangannya, Manda Pinky, Ican memanfaatkan barang bekas dan reject yang banyak dijual di Pasar Kreneng, Denpasar. Mereka kemudian mengolahnya menjadi busana yang berbeda.
"Sekitar 70 persen kami memakai barang bekas, berupa dead stock dan lainnya. Pada dasarnya kami mengalihfungsikan beberapa barang yang dianggap tidak layak pakai untuk dibuat busana baru," ujar Ican yang juga seorang musisi itu.
Maka jangan heran bila di celana gombrong (brand ini menyebutnya kombor) yang dirilis, masih ada logo merek Alpinestar, atau Fox misalnya, karena bahannya diambil dari jaket merek tersebut.
Robbie Suharlim Brand streetwear asal Bali, Future Loundry, mempersembahkan koleksi _Deepscroll Healing_ pada malam terakhir JF3 Fashion Festival 2024, Minggu (4_8_2024) di Salsa Fashion Tent, Summarecon Mall Serpong. (4)Walau berasal dari barang bekas, namun produk hasil permak ini justru laku di pasar luar negeri, terutama Tokyo, Amsterdam, Singapura, dan Berlin. Bahkan selebriti seperti Rich Brian dan Greentea Peng ikut memakainya.
Baru setelah meraih kesuksesan di luar, Future Loundry menggelar peragaan busana pertamanya di Indonesia, di hari terakhir JF3, Minggu (4/8/2024) di Salsa Fashion Tent Summarecon Mall Serpong (SMS), Tangerang.
Fashion show ini dibuka dengan kehadiran dua penjahit keliling yang menaiki sepeda lengkap dengan perlengkapan jahit di runway. Musik elektronik yang bernuansa dark dan lampu temaram menggenapi atmosfer tenda raksasa yang dipakai sebagai arena pertunjukan.
Sebanyak 53 koleksi bertajuk Deep Scroll Healing dipamerkan, semuanya adalah daur ulang bahan bekas menjadi busana baru, dengan potongan yang seolah seperti layering, penuh "tabrakan" antara logo dengan cetakan (print), atau tabrakan antara bahan-bahan berbeda, hingga dalam perpaduan warna yang gempita.
Maka hasil desain yang diusung pun menjadi unik karena merupakan campuran antara gaya sporty dari busana olahraga --utamanya pakaian outdoor dan biker-- serta gaya metal, tribal, hingga anime.
Robbie Suharlim Brand streetwear asal Bali, Future Loundry, mempersembahkan koleksi _Deepscroll Healing_ pada malam terakhir JF3 Fashion Festival 2024, Minggu (4_8_2024) di Salsa Fashion Tent, Summarecon Mall Serpong.Ican sendiri tidak menampik bila ada yang menyebut gaya ini sebagai alay, istilah yang dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang norak atau kampungan. "Alay adalah salah satu sub kultur kita, dan di situlah letak ke-Indonesia-an koleksi ini."
Satu hal lain yang menunjukkan udaya Indonesia dalam koleksi Future Loundry ini, seperti sudah disebut di atas, adalah konsep daur ulang yang sebenarnya sudah kita lakukan sejak dulu.
"Sustainabilityadalah hal yang sudah kita lakukan sejak lama tanpa kita sadari. Budaya permak pakaian itulah sustainability yang sebenarnya," ujar Ican.