KOMPAS.com -- Jauh sebelum burung dan kelelawar mendominasi udara, ada pterosaurus, reptil terbang yang menguasai angkasa.
Kemampuan terbang pterosaurus ini pun sudah lama menarik perhatian para peneliti.
Beberapa ahli menduga dinosaurus tersebut dapat terbang karena bulu dan tulang berlubang mereka.
Fitur-fitur itu tidak diragukan lagi membantu, namun penelitian baru menunjukkan ada hal lain yang membuat mereka bisa terbang.
Jadi apa yang membantu vertebrata tersebut mampu melakukan penerbangan bertenaga sekitar 215 juta tahun yang lalu?
Seperti dikutip dari Science Alert, Senin (15/7/2024) meski Pterosaurus hidup di zaman dinosaurus namun mereka sebenarnya bukan dinosaurus, melainkan sepupu dekat mereka.
Nah, setelah sekian lama jadi tidak ada gambaran yang jelas, dalam studi baru yang belum ditinjau rekan sejawat ini, peneliti berhasil mengungkap misteri cara pterosaurus terbang.
Penelitian menunjukkan bahwa struktur seperti kisi menghentikan ekor pterosaurus yang berkibar seperti bendera ditiup angin dan menjadi kaku, membantu reptil terbang di langit.
"Mempertahankan kekakuan pada ekor akan sangat penting pada awal penerbangan pterosaurus, namun bagaimana hal itu dicapai masih belum jelas," ungkap Ahli paleontologi Universitas Edinburgh, Natalia Jagielska.
Mempelajari bagaimana pterosaurus terbang sendiri terbilang cukup sulit karena fosil hewan tersebut relatif langka.
Tulang yang tipis dan berlubang membuatnya mudah terdegradasi seiring berjalannya waktu. Sementara jejak jaringan lunak juga jarang ditemukan, kulit, organ dan jaringan ikat hancur lebih cepat dibandingkan tulang.
Dengan tantangan itu, tim peneliti kemudian meneliti 100 fosil pterosaurus yang disimpan di berbagai koleksi museum. Mereka kemudian menemukan empat spesimen yang masih memiliki struktur jaringan lunak terpelihara.
Pencitraan keempat spesimen dengan teknik yang disebut fluoresensi terstimulasi laser mengungkapkan detail anatomi tersembunyi pada baling-baling ekor pterosaurus.
Itu adalah batang tebal dan vertikal yang menonjol keluar dari tulang ekor tengah yang diikat dengan serat tipis untuk menciptakan kisi-kisi saling bertautan untuk mengurangi hambatan dan menstabilkan penerbangan.
“Baling-baling itu diperkuat oleh struktur kisi seperti batang, yang menawarkan stabilisasi dan kontrol lebih besar selama penerbangan,” ahli paleontologi Jamale Ijouiher, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
Namun, baling-baling ekor pada pterosaurus itu sendiri memiliki berbagai ukuran dan penelitian ini hanya menganalisis empat fosil pterosaurus Rhamphorhynchus berekor panjang.
Tetapi peneliti berpendapat spesimen tersebut masih dapat mengungkapkan beberapa rincian tentang bagaimana struktur tersebut berevolusi.
“Informasi jaringan lunak baru ini juga memberikan petunjuk tentang asal mula evolusi baling-baling ekor itu sendiri,” tulis Jagielska dan rekannya.
“Kisi-kisi ikatan silang yang dikenali dalam penelitian ini menunjukkan bahwa baling-baling ekor pterosaurus awal berkembang dari struktur tunggal yang bersebelahan, bukan dari struktur gabungan sisik atau integumen mirip bulu.” tulisnya lagi.
Para peneliti juga menyimpulkan dari pencitraan bahwa baling-baling ekor pterosaurus kemungkinan besar memiliki lipatan berdaging di ujungnya, dan mungkin berkembang mirip dengan cetacea yang membantu paus dan lumba-lumba meluncur di air.
Bagian tubuh lain yang dianggap penting bagi pterosaurus untuk terbang adalah tendon yang disebut propatagium, yang membentang di sepanjang tepi depan sayap.
Bagian itu kemungkinan mengendalikan pterosaurus saat terbang dan mendarat dengan mengubah aliran udara di permukaan atas setiap sayap.
Penelitian ini dipublikasikan di bioRxiv.