Tupperware, wadah makanan yang sempat hits di kalangan ibu-ibu kini terancam gulung tikar karena terus merugi. Produsen tempat makan itu dilaporkan mengajukan kebangkrutan.
Berita Tupperware bangkrut cukup membuat kaget karena produk ini banyak digunakan di Indonesia. Namun, ad wadah penyimpanan makanan selain Tupperware. Halaman all [705] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com -Tupperware-- produsen wadah makanan berbahan plastik--yang sudah berdiri sejak 78 tahun resmi bangkrut.
Brand asal Amerika Serikat (AS) ini mengajukan kebangkrutan ke Pengadilan Kepailitan AS untuk Distrik Delaware, AS, Selasa (17/9/2024).
Manajemen Tupperware mengatakan alasan Tupperware bangkrut karena telah mengalami kerugian selama beberapa tahun belakangan akibat terus merosotnya penjualan atau permintaan.
Tupperware menjadi produk penyimpanan makanan dan rumah tangga yang sempat sangat populer di Indonesia selama beberapa tahun, terlebih di kalangan ibu-ibu.
Tupperware memiliki banyak pilihan produk dari lunch box, botol air minum, wadah snack, dan wadah kue. Tupperware terbuat dari material plastik yang kuat, tidak berminyak, aman ringan, bening, dan tidak berbau.
Berita Tupperware bangkrut ini membuat banyak kalangan di Indonesia terkejut, terlebih mereka yang menggunakan produk ini.
Namun, selain Tupperware, sebenarnya ada banyak merek wadah makanan plastik yang tak kalah bagus dan aman di pasaran.
Kompas.com merangkum sejumlah rekomendasi wadah penyimpanan makanan selain Tupperware dilansir dari berbagai sumber, Kamis (19/9/2024).
Lock & Lock
Lock & Lock adalah perusahaan produk rumah tangga yang berkantor pusat di Seoul, Korea Selatan. Sejak didirikan pada 1978, Lock & Lock telah mengekspor produknya ke 119 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Lock & Lock memiliki berbagai kategori produk untuk wadah makanan, peralatan masak, food container, tempat bumbu, gelas dan botol air atau tumbler, dan termos stainless steel.
Semua wadah makanan ini terbuat dari material plastik yang aman untuk makanan, ramah lingkungan, serta kuat.
Tumbler dari Lock & Lock tersedia banyak dengan material berbeda, dari plastik hingga stainless steel.
Produk dari Lock & Lock ini memiliki desain beragam, tampilan lebih simple, tapi elegan, serta warna menarik.
Soal harga, Lock & Lock memiliki harga yang terbilang terjangkau, berkisar mulai Rp50 ribu hingga Rp500 ribu.
Ecentio berfokus pada produk yang sehat, modis, dan harga murah. Ecentio berkomitmen membawa kenyamanan dan kebahagiaan ke kehidupan sehari-hari.
PT Dachin Etech Global ("DACHIN"), ecentio menyasar konsumen Asia Tenggara dan lebih fokus pada pasar Indonesia.
Sejak beroperasi pada 2019, Ecentio telah mengeluarkan banyak produk wadah makanan dan minuman dan kini banyak digunakan masyarakat Indonesia.
Harga produk Ecention ramah dikantong mulai dari Rp40 ribuan sampai Rp300 ribuan.
Sillyco
Wadah makanan berikutnya datang dari brand lokal, Sillyco, yang sudah berdiri dari 2021. Wadah makanan Sillyco terbuat dari material silikon dengan tampilan yang terlihat seperti plastik.
Selain wadah makanan, Sillyco memiliki produk kantong ziplock, container makanan, dan talenan.
Silikon yang dipakai untuk produk di Sillyco menggunakan silikon platinum yang biasa digunakan untuk kebutuhan medis.
Silikon bisa digunakan berulang sehingga aman untuk lingkungan karena tidak menambah limbah sampah di dapur.
Wadah penyimpanan makanan silikon dari Sillyco juga tahan di suhu ekstrem, mulai suhu -40 derajat Celsius sampai 230 derajat Celsius sehingga aman digunakan untuk menyimpan makanan, baik matang, mentah, maupun bahan makanan yang siap diolah.
Wadah makanan silikon dianggap lebih mahal dibanding plastik karena materialnya yang lebih kuat dan aman.
Wadah makanan Sillyco memiliki harga cukup terjangkau dari Rp80 ribuan hingga Rp200 ribuan.
Matougui
Terakhir, wadah penyimpanan makanan selain Tupperware adalah Matougui. Lini prodok Matougui meliputi wadah makanan, botol minum atau tumbler, gelas, food container, dan piring berbahan plastik.
Matougui memiliki desain yang menarik, simple, dan trendi dengan warna yang mendominasi hitam, tapi juga hadir dalam warna pastel, seperti pink, hijau, biru, dan cream.
Produk Matougui terbuat dari bahan ramah lingkungan dan dilengkapi gagang untuk memudahkan dibawa saat bepergian.
Soal harga, produk Matougui terbilang sangat terjangkau dengan harga mulai Rp40 ribuan hingga Rp100 ribuan.
Tupperware terpukul permintaan yang menurun untuk wadah penyimpanan makanan yang dulunya ikonik dan meningkatnya kerugian finansial. Halaman all?page=all [353] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan yang memproduksi wadah makanan plastik Tupperware Brands dan beberapa anak perusahaannya mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 pada Selasa (17/9/2024) waktu setempat.
Dikutip dari Channel News Asia, Rabu (18/9/2023), permintaan terhadap produk wadah plastik kedap udara Tupperware sempat meningkat selama periode pandemi Covid-19.
WIKIMEDIA COMMONS/MELISSA HIGHTON Ilustrasi wadah makanan Tupperware.
Namun demikian, lonjakan biaya bahan baku pascapandemi seperti resin plastik, serta tenaga kerja dan pengiriman, semakin menekan margin Tupperware.
"Selama beberapa tahun terakhir, posisi keuangan perusahaan telah sangat terpengaruh oleh lingkungan ekonomi makro yang menantang," kata CEO Tupperware Laurie Goldman dalam siaran pers.
"Sebagai hasilnya, kami mengeksplorasi berbagai opsi strategis dan memutuskan bahwa ini adalah jalan terbaik ke depan. Proses ini dimaksudkan untuk memberi kami fleksibilitas penting saat kami mengejar alternatif strategis untuk mendukung transformasi kami menjadi perusahaan yang mengutamakan teknologi digital dan berposisi lebih baik untuk melayani para pemangku kepentingan kami," ujar Goldman.
Tupperware telah berencana untuk mengajukan perlindungan kebangkrutan setelah melanggar ketentuan utangnya dan meminta bantuan penasihat hukum dan keuangan, menurut warta Bloomberg, Senin (16/9/2024).
Tupperware melaporkan estimasi aset sebesar 500 juta hingga 1 miliar dollar AS dan estimasi liabilitas sebesar 1 miliar hingga 10 miliar dollar AS, menurut dokumen pengajuan kebangkrutan di Pengadilan Kepailitan AS di Distrik Delaware, yang menunjukkan jumlah kreditur antara 50.001 dan 100.000.
Tupperware terpukul permintaan yang menurun untuk wadah penyimpanan makanan yang dulunya ikonik dan meningkatnya kerugian finansial. Halaman all [441] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan yang memproduksi wadah makanan plastik Tupperware Brands dan beberapa anak perusahaannya mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 pada Selasa (17/9/2024) waktu setempat.
Dikutip dari Channel News Asia, Rabu (18/9/2023), permintaan terhadap produk wadah plastik kedap udara Tupperware sempat meningkat selama periode pandemi Covid-19.
WIKIMEDIA COMMONS/MELISSA HIGHTON Ilustrasi wadah makanan Tupperware.
Namun demikian, lonjakan biaya bahan baku pascapandemi seperti resin plastik, serta tenaga kerja dan pengiriman, semakin menekan margin Tupperware.
"Selama beberapa tahun terakhir, posisi keuangan perusahaan telah sangat terpengaruh oleh lingkungan ekonomi makro yang menantang," kata CEO Tupperware Laurie Goldman dalam siaran pers.
"Sebagai hasilnya, kami mengeksplorasi berbagai opsi strategis dan memutuskan bahwa ini adalah jalan terbaik ke depan. Proses ini dimaksudkan untuk memberi kami fleksibilitas penting saat kami mengejar alternatif strategis untuk mendukung transformasi kami menjadi perusahaan yang mengutamakan teknologi digital dan berposisi lebih baik untuk melayani para pemangku kepentingan kami," ujar Goldman.
Tupperware telah berencana untuk mengajukan perlindungan kebangkrutan setelah melanggar ketentuan utangnya dan meminta bantuan penasihat hukum dan keuangan, menurut warta Bloomberg, Senin (16/9/2024).
Tupperware melaporkan estimasi aset sebesar 500 juta hingga 1 miliar dollar AS dan estimasi liabilitas sebesar 1 miliar hingga 10 miliar dollar AS, menurut dokumen pengajuan kebangkrutan di Pengadilan Kepailitan AS di Distrik Delaware, yang menunjukkan jumlah kreditur antara 50.001 dan 100.000.
Tupperware telah berusaha membalikkan keadaan bisnis selama sekitar empat tahun setelah melaporkan penurunan penjualan selama enam kuartal berturut-turut sejak kuartal III 2021, karena inflasi yang tinggi terus menghambat basis konsumen berpenghasilan rendah dan menengahnya.
Pada tahun 2023,Tupperware menyelesaikan perjanjian dengan pemberi pinjaman untuk merestrukturisasi kewajiban utangnya dan menandatangani bank investasi Moelis & Co untuk membantu mengeksplorasi alternatif strategis.
Adapun sejarah Tupperware berawal dari tahun 1946, ketika ahli kimia Earl Tupper mendapat inspirasi saat membuat cetakan di pabrik plastik tak lama setelah Depresi Besar, menurut situs web Tupperware.