Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) akan memberikan insentif bagi pelaku usaha yang ingin membuka siaran di wilayah tertinggal dan terluar (3T). [296] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) akan memberikan insentif bagi pelaku usaha yang ingin membuka siaran di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Direktur Jenderal Penyelenggara Pos dan Informatika (PPI) Kemenkominfo, Wayan Toni Supriyanto mengatakan, saat ini program analog switch-off atau ASO sudah berjalan dengan baik.
Maka dari itu, Komdigi kata Wayan bakal melanjutkan program tersebut dengan program Digital Broadcasting System (DBS). DBS merupakan program untuk meningkatkan kualitas siaran TVRI dan standar penyiaran publik. Program ini bertujuan untuk membuat semua siaran TV di Indonesia menjadi digital pada tahun 2024.
“Komdigi akan melanjutkan digitalisasi dengan program DBS untuk memperkuat jangkauan siaran di 139 wilayah layanan,” kata Wayan dalam agenda Digitalisasi Penyiaran 2025-2029, Rabu (6/11/2024).
Tak sampai situ, guna menambah jangkauan siaran ke seluruh Indonesia, Komdigi bakal memberikan insentif biaya izin kepada pelaku usaha untuk membuka siaran di daerah 3T.
Komdigi, kata Wayan telah mengeluarkan surat kepada masyarakat apabila ingin menjadi penyelenggara program siaaran TV di daerah 3T.
“Kami juga telah membuat insentif biaya izin bagi pelaku usaha yang berminat untuk bersiaran di wilayah 3T,” ucap Wayan.
Diberitakan sebelumnya, siaran TV analog di sejumlah wilayah termasuk Jabodetabek resmi dimatikan mulai 2 November 2022 pukul 24.00 WIB. Proses yang disebut analog switch off (ASO) ini dinilai sebagai sejarah baru pertelevisian Indonesia.
"Malam ini kita dapat memulai hal yang baru di dalam sejarah dan perjalanan pertelevisian nasional kita. Dengan ASO akan menandai sejarah baru digital televisi Indonesia," kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate dalam acara hitung mundur ASO, Rabu (2/11/2022) dini hari.
Johnny menyebut, proses ASO ini tidaklah mudah dan telah melalui perjalanan panjang yang sangat berliku. Meski terjadi silang pendapat, adanya pro dan kontra, tetapi tujuannya adalah sama untuk menjaga dan mengawal industri penyiaran agar lebih baik.
Infrastruktur internet hadir lebih cepat dari literasi di wilayah tertinggal. Penggunaan internet masih sebatas hiburan, padahal potensi di balik itu besar [789] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Literasi digital yang digaungkan oleh perusahaan swasta dan pemerintah di wilayah tertinggal masih perlu ditingkatkan. Banyak masyarakat yang belum merasakan pelatihan yang dihadirkan. Masyarakat berharap program literasi digital terus dilaksanakan.
Dalam Survei Penetrasi Internet di Daerah Tertinggal Tahun 2024, disebutkan bahwa dari 8,1 juta jiwa pengguna internet di wilayah tertinggal, hanya 18,3% yang pernah merasakan pelatihan digital. Sisanya sebanyak 81,7% belum pernah merasakan pelatihan.
Warga di desa mengaku pelatihan digital pernah diikuti di antaranya seputar pelatihan dasar penggunaan komputer (32,5%), pelatihan keterampilan digital untuk UMKM (20%) pelatihan dasar penggunaan internet (17,5%) pelatihan e-commerce (12,5%) dan program literasi digital untuk pelajar dan guru 7,5%.
Mengenai efektivitas program literasi digital, mayoritas responden (63,6%) mengaku bahwa hadirnya program-program tersebut cukup berdampak pada peningkatan keterampilan digital masyarakat di desa.
Kemudian, 45,5% cukup sering mengikuti pelatihan digelar oleh pemerintah dan pihak swasta.
Riset APJII juga mengungkapkan meski masyarakat desa tertinggal antusias untuk ikut pelatihan, mereka memiliki sejumlah kendala seperti sinyal internet yang tidak stabil (33,2%), biaya internet tinggi (14,4%), kurangnya perangkat memadai (18,8%), hingga kurangnya pengetahuan tentang penggunaan internet (11,2%).
Dalam Survei Penetrasi Internet di Daerah Tertinggal Tahun 2024, APJII melibatkan 1.950 responden yang tersebar di 64 kabupaten di 17 provinsi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 899 responden (46%) berada di wilayah Papua, kemudian 414 responden (21%) berada di Nusa Tenggara Timur, dan 181 responden (9%) berada di Maluku.
Layananan yang digunakan setelah ada Bakti/APJII
Melihat literasi digital masyarakat di daerah tertinggal yang belum optimal, perusahaan telekomunikasi dan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) pun bahu membahu dalam meningkatkan literasi masyarat dalam menggunakan internet.
SVP Corporate Communications PT Indosat Tbk. (ISAT) Steve Saerang mengatakan perusahaan mengambil peran besar dalam memberdayakan talenta digital di seluruh negeri, hingga ke daerah pedesaan dan 3T.
Sebagai bagian dari misi untuk mempercepat transformasi digital nasional, Indosat bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Indosat terlibat dalam program Digital Talent Scholarship (DTS).
Literasi Digital
Program ini memberikan akses pelatihan keamanan siber daring yang menjangkau hingga wilayah-wilayah terpencil, sehingga masyarakat di sana dapat meningkatkan keterampilan digital mereka dan siap bersaing dalam ekonomi digital global.
Selain program DTS, Indosat juga meluncurkan inisiatif program Generasi Terkoneksi (GenSi). Bekerja sama dengan BPPTIK Kominfo dan Cisco, GenSi merupakan pelatihan keterampilan digital yang menyasar generasi muda di daerah pedesaan.
“Pada Maret 2024, GenSi berhasil melatih 550 peserta di Minahasa Utara, membantu menutup kesenjangan digital di wilayah tersebut dan memberdayakan para peserta dengan keterampilan digital yang relevan,” kata Steve kepada Bisnis, Jumat (20/9/2024).
Selain Indosat, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) juga menggelar pelatihan untuk meningkatkan literasi digital masyarakat. Salah satunya melalui SPA Talent Development.
Telkomsel dan Huawei berkomitmen memperkuat kepemimpinan digital melalui penguatan talenta dengan wawasan ekspansi pasar, pengalaman jaringan, transformasi digital, dan inovasi layanan guna semakin meningkatkan kinerja dan ketangkasan di tengah industri digital yang semakin kompetitif
Sementara itu Bakti Kemenkominfo menegaskan perannya sebagai enabler tidak hanya membangun infrastruktur, juga memberdayakan masyarakat di desa-desa tertinggal dengan pelatihan digital. Batki berharap infrastruktur internet yang dihadirkan dapat meningkatkan produktivitas, menggerakan perekonomian hingga membuka wawasan masyarakat di wilayah tertinggal dengan hal-hal positif.
Kepala Divisi Perencanaan dan Strategis Bakti Kemenkominfo Gumala Warman mengatakan Bakti memiliki tujuan untuk melakukan pemberdayaan kepada masyarakat agar melek digital.
Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui program literasi digital Empowern3T, Embrace the Digital age Lead the Change.
“Maka kami menyambut baik kegiatan ini dan yakin bahwa akan banyak manfaat yang bisa dipetik untuk bekal mendapat manfaat dari ruang digital,” tutup Gumala.
Literasi Digital Empowernet, Embrace the Digital age Lead the Change digelar di Auditorium Universitas Pattimura pada Selasa, 17 September 2024 dan di Universitas Lambung Mangkurat pada 28 Agustus 2024.
EmpowerN3T merupakan sebuah program yang berfokus pada pemberdayaan, inovasi, dan konektivitas khususnya pada daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
EmpowerN3T menawarkan pengalaman baru bagi generasi muda untuk dapat merasakan dan menikmati kemudahan akses inovasi teknologi, melalui berbagai rangkaian kegiatan mulai dari Digitalk, Digiclass, Experience Booth, dan Entertainment.
Bakti juga membangun kapabilitas pelajar dan guru bekerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya Ruangguru.
Dilansir dari laman Ruangguru, keduanya mengembangkan program Indonesia Teaching Fellowship (ITF) untuk meningkatkan kualitas pendidikan di berbagai daerah di Indonesia, Yayasan Ruangguru bersama Bakti Kemenkominfo memberdayakan para alumni-alumni dari program ITF BAKTI Kominfo periode 2019 – 2022 dalam program terbaru yaitu Program Pemberdayaan Guru Berdampak (PPGB).
PPGB berfokus pada pengembangan kompetensi guru dan menjadi agen perpanjangan dampak program melalui rancangan program pengembangan guru dan proses pembelajaran siswa.
Sejalan dengan literasi digital yang dilakukan, indeks keterampilan dan kecakapan masyarakat dalam memanfaatkan internet meningkat. Namun belum maksimal.
Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) pada 2024 memiliki skor sebesar 43,34 atau naik melandai sebesar 16 basis points (bps) dibandingkan dengan 2023 yang sebesar 43,18.
Bisnis.com, JAKARTA - Masyarakat di daerah tertinggal merasa merasa puas dengan kehadiran internet Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kemenkominfo. Infrastruktur telekomunikasi yang dibangun Bakti juga telah membuat masyarakat di 3T makin terpapar dengan internet.
Dari total 8,1 juta masyarakat di daerah tertinggal yang telah terhubung internet, sebanyak 73% merasa puas dengan kehadiran internet Bakti. Sementara itu 21,90% kurang puas.
Diketahui, penetrasi internet di wilayah tertinggal menembus 82,6% pada September 2024. Artinya masih ada 17,4% masyarakat yang belum mendapat akses internet.
Kehadiran internet membantu mereka dalam mengakses informasi dari sosial media (47,60%) mengakses hiburan (12,5%) hingga memba
Riset yang sama juga mengungkapkan bahwa sebelum Bakti membangun akses internet di desa, tinggkat penggunaan internet di desa berada pada rentang sedang hingga rendah (64,1%). Mereka sulit mendapat akses internet, jika pun ada, kecepatan internet yang hadir terbatas.
Kemudian sebanyak 16,7% responden mengaku tidak mendapat akses internet sama sekali.
Hanya 17,5% responden yang merasa mendapat internet dengan kualitas cukup baik sebelum Bakti hadir.
Adapun setelah infrastruktur internet Bakti hadir, masyarakat mulai merasakan dampak dari layanan internet.
Sebanyak 33,63% responden mengaku internet Bakti membantu mereka untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman menggunakan aplikasi atau pesan sosial media. Sebanyak 18% responden menggunakan untuk mendengarkan musik secara streaming, 14,80% menggunakan untuk mengakses informasi terbaru secara daring, dan 9% untuk mencari informasi tentang peluang kerja dan pendidikan.
Internet Bakti juga digunakan untuk meningkatkan skil (6,3%) dan bertransaksi secara online (7%).
Dalam Survei Penetrasi Internet di Daerah Tertinggal Tahun 2024, APJII melibatkan 1.950 responden yang tersebar di 64 kabupaten di 17 provinsi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 899 responden (46%) berada di wilayah Papua, kemudian 414 responden (21%) berada di Nusa Tenggara Timur, dan 181 responden (9%) berada di Maluku.
Lebih lanjut mayoritas sampel responden (60%) berusia 12-43 tahun, dengan tiga pekerjaan teratas adalah Petani (18,8%), Ibu Rumah Tangga (19,5%) Pelajar/Mahasiswa (15%), Wiraswasta (8,3%) dan lain sebagainya.
Riset dilaksanakan selama periode Juli - September 2024, dengan menggunakan metode probability sampling.
Sebelumnya, Kepala Divisi Pengadaan BAKTI Kominfo Gumala Warman mengatakan upaya memangkas kesenjangan digital di daerah rural dilakukan melalui pembangunan infrastruktur seperti BTS 4G, jaringan serat optik, dan satelit.
Bakti telah membangun infrastruktur base transceiver station (BTS) di 1.665 lokasi menggunakan kontribusi Universal Service Obligation (USO), serta di 4.995 lokasi menggunakan bauran pembiayaan. Keseluruhan pemancar sinyal tersebut dibangun di daerah 3T.
Bakti, kata Gumala, juga membangun dan menyediakan layanan internet berbasis serat optik, satelit dan radio link yang terdapat di 18.697 titik layanan publik di seluruh Indonesia.
“Kemudian, jaringan fiber optik juga sepanjang 12.229 km yang dinamakan Palapa Ring merupakan proyek telekomunikasi pemerintah pertama yang menggunakan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha,” kata Gumala Warman dalam literasi digital Empowern3T, Embrace the Digital age Lead the Change di Auditorium Universitas Pattimura, Selasa (17/2024).
Untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau serat optik dan radio link, Bakti mengoptimalkan Satelit High Throughput Satellite (HTS) Satria yang dinamakan Satria 1 dengan kapasitas sebesar 150 Gbps.
Peluncuran Satelit Satria
Satria, kata Gumala, telah diluncurkan pada 19 Juni 2023 dan beroperasi pada 2 Januari 2024.
Dalam pemaparannya, Gumala mengungkapkan masih banyaknya kendala atau tantangan dibalik masifnya pembangunan akses telekomunikasi di daerah 3T.
Kondisi geografis, kata Gumala menjadi kendala utama dalam mengembangkan akses telekomunikasi. Sebab, daerah 3T seringkali memiliki medan yang berat, seperti pegunungan, hutan belantara, pulau-pulau kecil terpencil.
“Kondisi ini membuat pembangunan telekomunikasi menjadi lebih sulit dan mahal. Selain itu, keterbatasan infrastruktur pendukung seperti jalan, listrik, dan SDM juga menjadi penghambat banyak daerah 3T yang belum memiliki akses listrik dan jalan yang memadai,” ucap Gumala.
Selain membangun infrastruktur telekomunikasi, BAKTI Kemenkominfo juga memiliki tujuan untuk melakukan pemberdayaan kepada masyarakat agar melek digital.
Melalui program literasi digital Empowern3T, Embrace the Digital age Lead the Change, Bakti berupaya untuk turut terlibat dalam memberdayakan masyarakat, tidak hanya membangun infrastruktur telekomunikasi.
“Maka kami menyambut baik kegiatan ini dan yakin bahwa akan banyak manfaat yang bisa dipetik untuk bekal mendapat manfaat dari ruang digital. Terima kasih pada para mitra, penyelenggara, panitia, harian Bisnis Indonesia, dan juga Universitas Pattimura,” tutup Gumala.