JAKARTA, investor.id – Yayasan Kids Biennale Indonesia (YKBI) menggelar pameran seni karya anak berkebutuhan khusus (ABK) di Creativite Indonesia, Cilandak Tengah, Jakarta, pada 20 Juli-10 Agustus 2024. Pameran bertema Speak Up 2: On Bullying and Intolerance itu juga menyuarakan stop kekerasan dan perundungan pada anak-anak.
“Kekerasan, termasuk kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi menjadi isu yang penting di Indonesia. Hal ini telah menjadi masalah sosial yang meresahkan, terutama di kalangan anak dan remaja,” kata Ketua Yayasan Kids Biennale dan Kurator, Gie Sanjaya di Jakarta, Sabtu (20/7/2024).
Gie Sanjaya berharap, melalui pameran seni, anak-anak belajar menghargai perbedaan dan mengembangkan empati.
“Seni adalah investasi untuk masa depan Indonesia yang lebih kreatif, inklusif, dan berbudaya. Melalui seni sebagai jendela, anak-anak melihat dunia dengan cara yang baru dan berbeda. Melalui seni, mereka belajar menghargai keindahan, memahami emosi, mengembangkan empati, dan menjadi agen perubahan,” lanjut Gie Sanjaya .
Hal senada dikatakan Ketua Komnas Perlindungan Anak DKI Jakarta Cornelia Agatha, SH, MH. “Saya percaya bahwa seni dan kasih sayang mempunyai kekuatan yang besar untuk perubahan. Oleh karena itu saya berharap Kids Biennale Indonesia dapat menjadi platform untuk perubahan bersama serta menjadi wadah bagi anak-anak dan remaja untuk menemukan suara mereka, mengekspresikan diri dengan bebas, dan tumbuh menjadi individu yang kreatif, percaya diri, dan berempati penuh cinta kasih,” harap Cornelia.
Pameran ini dikhususkan untuk karya seni hasil anak dan remaja berkebutuhan khusus, difabel, dan neurodiversity yang berusia 6-17 tahun.
Karya seni yang dipamerkan berupa karya lukis, video, dan game. Sebagian dari peserta (pameris) merupakan penyintas perundungan (bullying) dan intolerance.
Terkait itu, Perencana Ahli Madya Pada Asdep Perlindungan Khusus Anak dari Kekerasan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, FB Didiek Santosa mengatakan, “Seni dan budaya adalah alat ampuh untuk perlindungan anak di Indonesia. Melalui ekspresi kreatif, mereka dapat menemukan suara mereka, mengatasi trauma, dan membangun masa depan yang lebih cerah,” ujar Didiek yang menyebut jumlah kekerasan pada anak mencapai 20 ribu kasus per tahun.
“Ada 20 ribu kasus kekerasan. Ini darurat kekerasan, terutama kekerasan seksual sehingga butuh perlindungan untuk anak-anak. Ini fenomena gunung es,” miris Didiek.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News