JAKARTA, KOMPAS.com - Berbagai jenis burung beterbangan dari arah depan dan belakang pengunjung Taman Burung Jagat Satwa Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Pertunjukkan burung (bird presentation) di TMII ini rutin diadakan setiap hari, gratis untuk pengunjung.
Jadwal pertunjukkan burung ini berbeda. Pada Senin-Jumat, diadakan pukul 10.30 WIB, sedangkan akhir pekan diadakan dua kali pukul 10.30 WIB dan 15.00 WIB.
Areanya tidak jauh dari pintu masuk Taman Burung TMII, tepatnya di Amphitheater Maleo dengan tribun menghadap Resto Bantimurung.
Kompas.com menikmati acara hiburan sekaligus edukasi yang ditampilkan oleh perwakilan staf Taman Burung TMII, yakni Dela dan Akbar, pada Rabu (21/8/2024).
Keduanya memimpin Bird Presentation tepat pukul 15.00 WIB. Sebelum mengenalkan jenis-jenis burung, Dela membacakan peraturan menonton pertunjukkan dalam bahasa Indonesia, sementara Akbar menjelaskannya dalam bahasa Inggris.
Kompas.com/Krisda Tiofani Tempat atraksi burung atau bird presentation di Taman Burung Jagat Satwa Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII)."Tetap duduk di tempat yang kami sediakan dan jangan berdiri atau berpindah-pindah tempat duduk selama pertunjukkan berlangsung," kata Dela.
Selain itu, pengunjung juga dilarang mengangkat tangan dan meraih satwa burung yang akan terbang di sekitar area tersebut, juga tidak diizinkan memotret dengan kilat kamera.
Ragam burung
Terhitung sekitar 10 burung dikenalkan bergantian oleh Dela dan Akbar. Burung datang dengan cara berbeda-beda.
Kompas.com/Krisda Tiofani Pertunjukan burung di Taman Burung Jagat Satwa Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ada yang dibawa langsung oleh penjaga satwa dengan menaruhnya di lengan, ada juga burung yang dihadirkan dengan cara memanggil nama mereka.
Uniknya, tak hanya burung-burung asal Indonesia yang dikenalkan, melainkan dari negara lain, seperti Filipina, Amerika, hingga Australia.
Burung nuri bayan adalah jenis burung yang pertama kali ditampilkan, dibawa oleh penjaga satwa langsung ke hadapan pengunjung.
Kompas.com/Krisda Tiofani Taman Burung Jagat Satwa Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII).Ada juga burung macaw biru kuning yang ditampilkan berikutnya. Burung ini disebut berasal dari Amerika Latin.
Selanjutnya, burung kakatua yang memiliki postur tubuh kecil dan termasuk satwa karnivor asal Australia.
"Biasanya, burung kakatua makan tikus kecil maupun serangga dan punya sifat monogami karena hanya memiliki satu pasangan seumur hidup," ujar Dela.
Asal negara lain, Filipina, burung rangkong, dikenalkan sebagai burung yang menyukai buah-buahan kaya akan lemak dan panggilan unik.
"Sering disebut sebagai petani hutan karena saat makan buah-buahan tersebut, biji buahnya tidak tercerna dengan baik sehingga masih utuh saat mengeluarkan feses, masih terdapat biji-bijian yang akan jatuh ke tanah menjadi tumbuhan baru," jelas Dela.
Jenis burung populer di Indonesia, yang dikenal sebagai lambang negara, juga ada di Taman Burung TMII. Burung garuda dikenal sebagai burung elang jawa yang kini populasinya hampir punah.
Alasannya, burung elang jawa hanya bertelur satu sampai dua butir selama dua tahun dan bila gagal mengerami telurnya, burung ini harus menunggu dua tahun berikutnya untuk menghasilkan telur baru.
"Itu sebabnya, di lembaga konservasi maupun di alamnya sendiri, perkembangbiakan dari burung elang jawa, sangat susah sekali dan suatu kebanggaan juga bagi Jagat Satwa Nusantara dapat mengembangbiakan burung garuda," kata Dela.
Selanjutnya, ada burung elang bonelli yang sebelumnya tidak ada di Indonesia karena berasal dari Eropa. Jenis elang ini baru dibawa ke Indonesia, tepatnya di Nusa Tenggara, pada era penjajahan Belanda.
Kompas.com/Krisda Tiofani Penonton atraksi burung atau bird presentation di Taman Burung Jagat Satwa Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII).Tak kalah menarik, ada burung rajawali yang cukup tenar di Indonesia. Burung ini dikenal sebagai pemburu andal di alam liar.
Burung rajawali atau burung elang brontok memiliki tiga fase warna, yakni fase terang berwarna putih, fase peralihan berwarna coklat, dan fase gelap berwarna hitam.
Terakhir, ada burung elang laut perut putih yang memiliki warna bulu coklat dan pengelihatan tujuh kali lebih tajam daripada manusia.
"Bentangan sayap burung ini sangat lebar. Dapat mencapai dua meter lebarnya, serta kaki yang didesain khusus untuk mencari mangsanya di atas permukaan air," ujar Dela.
Burung elang laut perut putih ini bisa ditemukan di sekitar pesisir pantai di seluruh Indonesia.
Sebagai penutup, keduanya mengingatkan bahwa semua burung yang diperkenalkan, merupakan satwa yang dilindungi.
"Satwa-satwa tersebut dilindungi oleh undang-undang. Kita tidak boleh memiliki dan memeliharanya di rumah," tutup Dela.