JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan, Basuki Tjahaja Purnama, bicara soal Pilkada Jakarta 2024.
Seperti diketahui, nama Ahok belakangan masuk dalam bursa calon gubernur Jakarta. Elektabilitasnya tak terpaut jauh dari mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Anies Baswedan.
Bahkan, sempat beredar kabar Ahok bakal berduet dengan Anies pada Pilkada Jakarta mendatang.
Komunikasi dengan Anies
Ahok membenarkan bahwa dia dan Anies pernah berkomunikasi melalui WhatsApp. Namun, Ahok membantah akrab dengan Anies.
Hal ini disampaikan Ahok menjawab isu duet dirinya dengan Anies di Pilkada Jakarta.
“Aku gini ya, aku jujur aja nih, aku enggak etis tunjukin kalimat WA-nya ya. Saya ketemu Pak Anies setelah saya keluar dari tahanan cuma tiga kali,” kata Ahok usai acara "Ask Ahok Anything" di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Sabtu (3/8/2024).
Mantan Bupati Belitung Timur ini menyebut, usai keluar dari tahanan pada Januari 2019, dirinya bertemu kembali dengan Anies dalam acara pelantikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta pada Oktober 2019.
Setelah itu, keduanya bertemu lagi dalam sebuah acara makan bersama yang digelar oleh kolega mereka. Saat itu, Anies dan Ahok bertemu di toilet dan tidak sempat mengobrol panjang karena sama-sama terburu-buru.
Selanjutnya, Juli 2023, Ahok kembali bertemu dengan Anies dalam sebuah acara pernikahan rekan. Pada pertemuan ketiga itu, keduanya sempat berfoto bersama dan saling bertanya kabar.
“Pak Anies tanya, ‘Nomor teleponnya yang mana nih’. Terus saya kasih nomor ke Pak Anies, dia catat. Waktu saya pulang, saya terima WA, 'Test, Anies,” ujar Ahok.
“Ya terus, saya bilang, 'Ya, terima kasih, Pak, sudah kasih nomor. Kalau ada waktu kita kumpul nih. (Anies jawab) 'Ya, Pak, siap'. Gitu saja," lanjutnya.
Dukungan PDI-P
Nama Anies dan Ahok sama-sama sempat masuk dalam daftar bakal calon gubernur yang diusulkan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) DKI Jakarta untuk Pilkada 2024.
Namun, Ahok menilai, PDI-P sulit untuk mendukung Anies. Pasalnya, menurut dia, PDI-P dan Anies memiliki prinsip yang berbeda.
“Saya kira secara prinsip, sulit PDI Perjuangan untuk mendukung Pak Anies. Secara prinsip ya,” ujar Ahok.
Ahok tak menjelaskan lebih lanjut perbedaan prinsip yang dimaksud. Ia hanya mengutip pernyataan Ketua DPP PDI-P Ganjar Pranowo.
“Saya kira Mas Ganjar sudah menjawab ya. Secara prinsip, PDI Perjuangan itu kalau mau bisnis pakai nurani, kalau mau berpolitik ada prinsip,” katanya.
Meski begitu, Ahok bilang, pernyataannya bisa jadi salah. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan PDI-P mendukung Anies pada Pilkada Jakarta.
“Kita lihat saja dulu, kalau tiba-tiba dukung kan enggak tahu juga. Politik kan,” kata Ahok lagi.
Tak hanya itu, Ahok juga menilai, sulit bagi dia maju di Pilkada Jakarta kendati mengantongi elektabilitas tinggi.
Pasalnya, PDI-P tidak memiliki tiket untuk dapat mengusung calon gubernur dan wakil gubernur DKI sendiri, melainkan harus berkoalisi dengan partai politik lain.
Sebab, ambang batas pencalonan gubernur dan wakil gubernur DKI ialah 22 kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta. Sementara, partai banteng hanya mengantongi 15 kursi pada Pemilu Legislatif (Pileg) DPRD DKI 2024.
“Kemungkinannya kecil, Jakarta ini kan kursinya (PDI Perjuangan) enggak cukup. Kurang tujuh, kan. Kerja sama dengan yang lain, kerja sama dengan siapa?” lanjut dia.
Singgung KIM Plus
Ahok juga mengomentari wacana Koalisi Indonesia Maju (KIM) membentuk KIM Plus agar hanya ada calon gubernur dan wakil gubernur tunggal yang melawan kotak kosong di Pilkada Jakarta. Ahok yakin, wacana ini tak akan terealisasi.
“Saya berani jamin, kalau KIM Plus itu hanya bikin satu calon pun, mereka tidak akan pernah berani. Ini ucapan saya nih, bukan saya nantang orang,” tegas Ahok.
Ahok memprediksi, jika hanya ada calon tunggal melawan kotak kosong di Pilkada Jakarta, justru kotak kosong yang akan menang.
“Kalau dia berani, saya jamin Jakarta bisa bikin dia kalah dengan kosong. Makanya, akan terjadi mungkin pola ada calon independen yang muncul,” imbuh Ahok.
Nasib Jusuf Hamka
Masih terkait wacana pembentukan KIM Plus, Ahok juga menyinggung peluang pencalonan pengusaha jalan tol sekaligus kader Partai Golkar, Jusuf Hamka.
Kepada Ahok, Jusuf Hamka bilang, dirinya kemungkinan gagal maju Pilkada Jakarta karena Golkar bakal menunjuk mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, untuk diusung KIM Plus.
“Tadi Pak Hamka baru telepon saya. Gue dekat sama Pak Hamka kok, (dia bilang) kayaknya enggak jadi maju nih. Karena sudah KIM Plus kan, tergantung Bung Ridwan Kamil (RK) kan,” kata Ahok.
Jika benar KIM Plus mengusung Ridwan Kamil di Pilkada Jakarta, menurut Ahok, pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang akan jadi calon wakil gubernur, apakah Jusuf Hamka atau Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep.
JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil disebut akan menjadi penantang terberat bagi Anies Baswedan jika turut berkontestasi pada Pilkada Jakarta 2024.
Hal itu terungkap dalam survei Indikator Politik Indonesia terhadap ratusan orang mengenai sosok yang dinilai paling kompeten untuk menjadi gubernur DKI Jakarta periode 2024-2029.
“Berdasarkan hasil survei kami, Ridwan Kamil akan menjadi lawan yang paling kompetitif untuk Anies Baswedan ketimbang Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok,” ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, saat memaparkan hasil survei secara daring, Kamis (25/7/2024).
Burhanuddin mengatakan, Ridwan Kamil menjadi lawan yang kompetitif karena sosoknya bisa menarik basis pendukung lain.
Jika Pilkada Jakarta hanya mempertemukan Anies melawan Ridwan Kamil, basis pendukung Ahok kemungkinan besar akan mengalir ke Emil, demikian sapaan akrab Ridwan Kamil.
“Kalau Ahok tidak masuk dalam simulasi dan kita asumsikan Pilkada Jakarta itu Anies versus Ridwan Kamil, maka pemilih Ahok cenderung lari ke Ridwan Kamil,” tutur dia.
Perpindahan suara dari basis pendukung Ahok, kata Burhanuddin, bisa mendongkrak nama Ridwan Kamil belasan persen.
Jika bertanding melawan Anies dan Ahok, suara Ridwan Kamil diprediksi tak sampai 20 persen. Sementara, jika dipertemukan dengan Anies saja, suara Emil berpotensi langsung melonjak.
“Dalam simulasi tiga nama, elektabilitas Ridwan Kamil 18,9 persen, Ahok 32,1 persen, dan Anies 43,8 persen. Tapi, jika simulasi dua nama saja, elektabilitas Ridwan Kamil tembus 38,8 persen dan Anies 50,1 persen,” ucap dia.
Di lain sisi, jika yang bertarung adalah Anies melawan Ahok, massa pendukung Ridwan Kamil tak serta-merta mendukung keduanya.
Dalam situasi demikian, suara Ahok hanya meningkat 10 persen dibandingkan dengan simulasi tiga nama.
“Kalau simulasi tiga nama, Ahok meraih 32,1 persen. Kalau dua nama dan berduel dengan Anies, Ahok meraih 42 persen saja. Jadi bisa disimpulkan Ridwan Kamil menjadi sosok yang mampu menyerap suara tokoh lain,” ungkap Burhanuddin.
Adapun Ahok dinilai sulit meningkatkan elektabilitas karena pernah tersandung kasus penistaan agama.
Akibatnya, kelompok muslim di Jakarta cenderung memberikan dukungan terhadap Anies jika harus berduel dengan Ahok.
"Jawabannya karena Ahok punya riwayat terkait kejadian 2016-2017 dan itu yang membuat suara Ahok flat dan tidak mampu menarik basis pemilih muslim atau konservatif di Jakarta,” imbuh Burhanuddin.
Berikut ini hasil survei berdasarkan berbagai simulasi yang dilakukan Indikator Politik Indonesia:
Simulasi terbuka atau top of mind:
Anies Baswedan: 39,7 persen
Ahok: 23,8 persen
Ridwan Kamil: 16,1 persen
Simulasi semi terbuka atau 40 nama:
Anies Baswedan: 41,7 persen
Ahok: 27 persen
Ridwan Kamil: 15,4 persen
Simulasi 16 nama:
Anies Baswedan: 41,9 persen
Ahok: 27,9 persen
Ridwan Kamil:17,3 persen
Simulasi 11 nama:
Anies Baswedan: 42,1 persen
Ahok: 28,6 persen
Ridwan Kamil: 17 persen
Simulasi 9 nama:
Anies Baswedan: 42,7 persen
Ahok: 29,2 persen
Ridwan Kamil: 18,3 persen
Simulasi 4 nama:
Anies Baswedan: 43,5 persen
Ahok: 30,5 persen
Ridwan Kamil: 13,5 persen
Simulasi 3 nama:
Anies Baswedan: 43,8 persen
Ahok: 32,1 persen
Ridwan Kamil: 18,9 persen
Simulasi 2 nama, Anies vs Ahok:
Anies Baswedan: 52 persen
Ahok: 42 persen
Simulasi 2 nama, Anies vs Ridwan Kamil:
Anies Baswedan: 50,1 persen
Ridwan Kamil: 38,8 persen
Sebagai informasi, survei ini dilakukan Indikator Politik Indonesia pada 18-26 Juni 2024.
Penarikan sampel dalam survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan 800 responden berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah.
Margin of error survei sebesar 3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Anies Baswedan digadang akan mengungguli Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok andai mereka kembali bertarung di Pilkada Jakarta 2024. Halaman all [438] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Anies Baswedan digadang akan mengungguli Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok andai mereka kembali bertarung di Pilkada Jakarta 2024.
Prediksi ini mengemuka setelah Indikator Politik Indonesia melakukan survei secara acak pada ratusan orang berkait siapa sosok yang kompeten untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2024-2029.
“Ketika simulasi ini kami buat, dengan asumsi terjadi rematch (Anies melawan Ahok), Anies masih unggul,” ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi saat memaparkan hasil survei lembaganya secara daring, Kamis (25/7/2024).
Dari 800 responden, kata Burhanuddin, lebih dari setengahnya memilih Anies untuk kembali memimpin Jakarta.
Hanya ada 6 persen responden yang tidak tahu atau belum bisa menjawab perihal pertanyaan ini.
“Jika head to head, Anies memiliki elektabilitas 52 persen. Sementara, Ahok elektabilitasnya 42 persen. Jadi selisihnya lumayan ya, 10 persen,” tutur dia.
Burhanuddin menjelaskan, Anies tak hanya unggul dalam simulasi head to head, dia selalu lebih unggul dibandingkan Ahok dalam berbagai simulasi yang dilakukan Indikator Politik Indonesia.
Dengan demikian, menurut Burhanuddin, Anies boleh dibilang sudah memiliki pemilih tetap atau strong voters.
“Jadi Anies ini boleh dikatakan telah memiliki strong voters ya,” imbuh dia.
Berikut hasil survei berdasarkan berbagai simulasi yang dilakukan Indikator Politik Indonesia:
Simulasi terbuka atau top of mind:
Anies Baswedan 39,7 persen
Ahok 23,8 persen
Simulasi semi terbuka atau 40 nama:
Anies Baswedan 41,7 persen
Ahok 27 persen
Simulasi 16 nama:
Anies Baswedan 41,9 persen
Ahok 27,9 persen
Simulasi 11 nama:
Anies Baswedan 42,1 persen
Ahok 28,6 persen
Simulasi 9 nama:
Anies Baswedan 42,7 persen
Ahok 29,2 persen
Simulasi 4 nama:
Anies Baswedan 43,5 persen
Ahok 30,5 persen
Simulasi 3 nama:
Anies Baswedan 43,8 persen
Ahok 32,1 persen
Simulasi head to head:
Anies Baswedan 52 persen
Ahok 42 persen
Sebagai informasi, survei ini dilakukan Indikator Politik Indonesia pada 18-26 Juni 2024.
Penarikan sampel dalam survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan 800 responden berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah.
Margin of error survei sebesar 3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Isu rematch disebut bisa menjadi pemicu PDI-P dukung Ahok pada Pilkada Jakarta. Hingga kini, PDI-P belum menentukan arah dukungannya. Halaman all [395] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti ahli utama Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Firman Noor mengatakan, isu pertandingan ulang atau rematch dengan Anies Baswedan menjadi trigger PDI Perjuangan mendukung Basuki Tjahja Purnama alias Ahok pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024.
"Rematch ini saya kira memang salah satu trigger untuk menjadi pertimbangan di pimpinan PDI-P untuk apakah memang pada akhirnya memutuskan Ahok untuk maju di Jakarta, ketimbang Sumatera Utara (Sumut)," kata Firman dalam Obrolan Newsroom Kompas.com, Senin (22/2024).
Anies saat ini sudah mendapat dukungan dari dua partai politik (parpol) yakni dari Nasional Demokrat (Nasdem) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk menjadi bakal calon orang nomor satu di Jakarta.
Firman menilai, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga diprediksi akan merapat untuk mendukung mantan calon presiden itu agar kembali ikut dalam kontestasi politik di Jakarta.
"Sementara PDI-P masih lihat situasi. Karena biar bagaimana pun Ahok adalah salah seorang elite di partai itu. Ya tentu saja mau tidak mau kalau harus terjadi rematch, PDI-P akan ada di belakang Ahok," kata Firman.
Meski sempat mempersiapkan Ahok untuk bertarung di Pilkada Sumut, Firman menilai, tidak menutup kemungkinan PDI Perjuangan akan melakukan manuver politiknya. Salah satunya mendukung Ahok di Jakarta.
"Apalagi Ahok kelihatannya rasanyanya lebih nyaman di DKI. Dia juga sudah pernah menjadi gubernur. Dia juga sudah tahu banyak kalangan di sana, juga punya jaringan dan mungkin tinggal dihidupkan kembali," kata Ahok.
Namun demikian, meski tetap berambisi mendorong Ahok bertarung pada Pilkada Sumut 2024, PDI Perjuangan disebut akan mengeluarkan segalanya dan mengerahkan semua.
"Sumut kan salah satu basis penting dari PDI-P yang juga ketika dia punya calon itu bukan sesuatu yang tidak bisa diremehkan. Punya peluang besar juga sebetulnya di Sumut itu," kata Firman.